Berwisata ke desa wisata selalu memberikan pengalaman yang unik. Selain menikmati suasana berlibur, wisatawan juga dapat mengenal lebih dekat budaya dan kekhasan masing-masing desa.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menyatakan bahwa desa wisata akan menjadi pemenang di era pascapandemi COVID-19, seiring perubahan tren pariwisata.
Dengan kata lain, wisatawan cenderung memilih destinasi yang menekankan aspek keamanan, kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan, serta mendukung keberlanjutan lingkungan. Tak mengherankan jika desa wisata kini menjadi salah satu program unggulan untuk membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia selama pandemi COVID-19.
Salah satu desa wisata yang bisa dijadikan pilihan adalah Desa Wisata Lerep di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Desa ini telah memperoleh sertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sehingga tak heran menjadi favorit para wisatawan.
Keistimewaan Desa Lerep terlihat dari adanya pasar kuliner tradisional yang bernama Pasar Djadjanan Ndeso Tempo Doeloe Lerep, atau lebih dikenal dengan Pasar Jadul Lerep. Pasar ini sudah berjalan selama tiga tahun dan menawarkan makanan lokal khas yang disajikan dengan konsep berbeda dibandingkan pasar lainnya.
Pengalaman Kembali ke Masa Lalu di Pasar Lerep
Berlokasi di Kompleks Embung Sebligo, Pasar Lerep membawa pengunjung seolah masuk ke dalam suasana masa lalu. Berbeda dari pasar biasa, para penjual di pasar ini mengenakan pakaian tradisional Jawa. Mereka mengenakan baju lurik cokelat atau hijau dengan bawahan kain batik. Beberapa di antaranya bahkan memakai kebaya saat melayani pengunjung. Keunikan lain dari pasar ini adalah jadwal operasionalnya yang hanya buka setiap Minggu Pon.
Makanan yang dijajakan di Pasar Lerep juga cukup langka dan sulit ditemukan di pasar-pasar modern. Beberapa di antaranya adalah pecel, bubur tumpang, kerupuk gendar, nasi iriban, dawet nganten, bubur suwek, lodhek, serabi caonan, dan banyak makanan lainnya yang lezat.
Hal yang menarik, semua makanan dan minuman yang dijual menggunakan bahan-bahan organik. Sebagai bentuk daya tarik lain, sistem transaksi di Pasar Lerep menggunakan koin kayu. Pengunjung menukarkan uang tunai dengan koin tersebut di pintu masuk, dengan nilai koin yang setara dengan Rupiah. Ada koin dengan pecahan Rp1.000, Rp5.000, dan Rp10.000. Jika koin masih tersisa setelah berbelanja, pengunjung bisa menukarnya kembali dengan uang tunai saat meninggalkan pasar.
Pasar Ramah Lingkungan
Pasar Lerep juga menerapkan konsep ramah lingkungan dengan menghilangkan penggunaan kemasan plastik. Sebagai gantinya, makanan dihidangkan dengan wadah dari bahan alami seperti daun jati, daun pisang, daun aren, batok kelapa, atau mangkuk tanah liat. Bahkan sendok yang digunakan pun terbuat dari kayu.
Untuk melengkapi suasana zaman dulu, alunan musik gamelan turut mengiringi aktivitas di pasar, memberikan pengalaman yang semakin otentik. Diiringi musik tradisional, sambil menikmati kuliner khas dengan latar pemandangan Embung Sebligo dan Gunung Ungaran, menjadikan kunjungan ke Pasar Lerep sesuatu yang sangat berkesan.
Tertarik berkunjung ke Pasar Lerep di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah? (Achmad Aristyan- Sumber: kemenparekraf.go.id)