By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Cenning Rara, Mantra Pemikat Hati Wanita
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Tradisi > Cenning Rara, Mantra Pemikat Hati Wanita
Tradisi

Cenning Rara, Mantra Pemikat Hati Wanita

Achmad Aristyan
Last updated: 07/11/2024 01:57
Achmad Aristyan
Share
Ilustrasi mantra Cenning Rara khas suku Bugis untuk memikat wanita. Foto: Instagram/@budayamaraja
SHARE

Cenning Rara tidak sekedar mantra pencari pasangan hidup yang melibatkan keyakinan, usaha dan pemahaman mendalam terhadap kebudayaan.

Di Sulawesi Selatan terdapat tradisi lisan yang dikenal dengan sebutan “Pappaseng”. Pappaseng  menjadi tradisi yang umum dijumpai di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar. Pappaseng mencakup berbagai bentuk sastra berisi ajaran moral dan wasiat hidup, yang sering kali disampaikan melalui “mantra” atau doa. 

Melansir dari infopublik.id, salah satu mantra yang dikenal luas di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar adalah “Cenning rara”, yang berfungsi untuk memikat lawan jenis, khususnya wanita. “Cenning rara” dalam bahasa Bugis berarti “wajah manis”. 

Kata “cenning” sendiri mengacu pada “manis,” sementara “rara” berasal dari kata “cendra” atau “cendrara”, yang berarti cahaya, seperti bulan atau matahari. Secara umum “cenning rara” dapat diartikan sebagai “wajah manis” atau “cahaya yang menawan.”

Mantra “Cenning rara” telah dikenal di kalangan pria Bugis dan Makassar sebagai salah satu cara memikat hati perempuan yang mereka cintai. Mantra ini biasanya digunakan setelah seorang pria merasa dipermalukan atau cintanya ditolak seorang gadis. “Cenning rara” dipercaya memiliki kekuatan menarik perhatian seseorang, atau bahkan membuat seseorang awet muda.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kata-kata yang diucapkan dengan keyakinan kuat dapat mempengaruhi jiwa baik pembaca maupun orang yang menjadi target mantra tersebut. Meski demikian, tidak ada jaminan, mantra ini selalu berhasil, karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar mantra ini efektif.  Keberhasilan mantra “Cenning rara” sangat bergantung pada beberapa faktor utama:

  1. Keyakinan

Setiap usaha yang dilakukan tanpa keyakinan yang kuat akan berisiko gagal. Mantra ini juga melibatkan sugesti diri agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

  1. Transfer Energi

Ketika seorang guru mengajarkan mantra ini, tidak hanya teks yang diajarkan, tetapi juga energi atau “berkah” yang ditransfer melalui kontak fisik atau tatapan mata. Proses ini disebut sebagai transfer energi yang dipercaya dapat mengaktifkan kekuatan mantra.

  1. Kondisi Target

Keberhasilan mantra juga sangat bergantung pada kondisi mental dan spiritual dari target, yaitu sang gadis. Jika kondisi emosional atau jiwa gadis tersebut lemah, mantra ini lebih mudah berfungsi. Namun, jika jiwa sang gadis kuat, mantra ini kemungkinan besar tidak akan berpengaruh.

  1. Usaha

Selain mengucapkan mantra, tindakan fisik yang dilakukan juga penting. Ini bisa berupa gerakan-gerakan seperti meminyaki rambut, bercermin, atau mengenakan pakaian tertentu, yang diyakini dapat memperkuat mantra tersebut.

Dalam praktiknya,  mantra ini sering kali dilakukan dengan menggunakan media tertentu, seperti minyak kelapa yang ditanak, telur rebus, atau beras yang digunakan sebagai bedak. Semua bahan ini diharapkan dapat menyalurkan energi positif yang diperlukan untuk mengaktifkan mantra tersebut.

“Cenning rara” bukan hanya sekedar mantra pencari pasangan hidup, tetapi juga  melibatkan keyakinan, usaha, dan pemahaman mendalam terhadap kebudayaan serta kepercayaan lokal. Mantra ini adalah contoh dari kekayaan tradisi lisan yang terus hidup dalam budaya masyarakat Bugis dan Makassar hingga saat ini.

You Might Also Like

Hama Tikus Ancam Panen, Gropyok Massal Digelar di Wonokerto Wonosobo

5 Kebudayaan Unik Suku Mentawai di Sumatera Barat

Menyaksikan Manten Kucing, Tradisi Yang Mulai Ditinggalkan

Peran Sentral Perempuan dalam Kenduri Sko Suku Kerinci

Setonan, Tradisi Pengajian Setiap Sabtu di Masjid Al-Manshur

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Achmad Aristyan
Content Writer
Previous Article Kerbau Sakti Tolelembunga, Legenda Masyarakat Sulawesi Tengah
Next Article Indonesia Ikuti Bursa Pariwisata Terbesar di Amerika Utara
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?