Tradisi

Barong Kemiren, Kesenian Tradisi Suku Osing Banyuwangi

Barong Kemiren, kesenian dari Banyuwangi yang memiliki arti kebersamaan. Dulunya kesenian ini disakralkan dan hanya ditampilkan saat bersih desa yang bertujuan sebagai penolak bala. Namun sekarang kesenian ini dijadikan sebagai hiburan yang digelar pada saat pernikahan atau pagelaran budaya lainnya. Menurut sejarah ada beberapa versi mengenai asal-usul kesenian Barongan ini. Dilansir dari situs kemiren.com, Andi, […]

Oleh Anisa Kurniawati

Barong Kemiren, Kesenian Tradisi Suku Osing Banyuwangi
Foto: wikimedia commons/ Paco Pater
Diterbitkan

Barong Kemiren, kesenian dari Banyuwangi yang memiliki arti kebersamaan. Dulunya kesenian ini disakralkan dan hanya ditampilkan saat bersih desa yang bertujuan sebagai penolak bala. Namun sekarang kesenian ini dijadikan sebagai hiburan yang digelar pada saat pernikahan atau pagelaran budaya lainnya. 

Menurut sejarah ada beberapa versi mengenai asal-usul kesenian Barongan ini. Dilansir dari situs kemiren.com, Andi, budayawan asli kemiren menuturkan bahwa kesenina ini hasil ciptaan asli warga Kemiren kuno bernama Sanimah abad ke-16 yang kemudian diwariskan kepada anaknya Tompo. 

Selama masa penjajahan Belanda, Tompo mengungsi ke kota dan bertemu pengrajin barong. Pertemuan tersebut melahirkan barong baru yang kemudian dibawa pulang kembali ke desa Kemiren dan diwariskan kepada Surtaman dan Samsuri.

Sedangkan menurut Sucipto, barong Kemiren lahir sekitar tahun 1647. Pada saat itu mbah Tompo bermimpi diminta untuk membuat barong. Bersama temannya mbah Soeb, keduanya melaksanakan perintah tersebut. 

Konon menurut cerita lain, di desa Kemiren sedang mengadakan pertunjukan seblang yang dimainkan mbah Sapua. Ketika penari seblang kesurupan, terjadilah dialog agar pementasan seblang di pindah ke desa Ole- Olean (Olehsari), sedangkan di desa Kemiren di pentaskan seni barong. 

Ada yang mengisahkan, barong Kemiren bermula dari pertempuran dua bangsawan sakti dari Bali dan Blambangan. Meraka, adalahMinak Bedawang dan Alit Sawung. Mereka bertarung  menggunakan wujud seekor harimau dan seekor burung garuda. 

Ketika bertarung tiba-tiba muncul suara dari langit mengingatkan agar mereka berhenti bertarung. Akhirnya, kedua wujud yang menyeramkan tersebut menyatu. Dari situlah masyarakat osing memiliki wujud barong sebagai simbol kebersamaan.

Dari Seni Tolak Bala hingga Hiburan

Dulunya Barong Kemiren hanya akan digelar pada saat-saat tertentu, seperti saat bersih desa. Tujuannya adalah untuk tolak bala penyakit. Ritual tersebut dilaksanakan setiap tanggal 2 syawal yaitu pada ritual ider bumi. 

Dalam upacara ider bumi terdapat empat jenis train barong yang ditampilkan. Kempat barong tersebut adalah barong tua, barong remaja, barong anak-anak, barongsai. Akan tetapi, sekarang Barong Kemiren sudah tidak disakralkan. 

Saat ini kesenian barong juga digelar di setiap ada acara seperti pernikahan, khitanan, dan pagelaran-pagelaran kesenian lainnya. Kesenian barong Kemiren biasanya diiringi oleh beberapa alat musik seperti, kendang, kecrek, gong, dan kethuk. 

Biasanya dimainkan oleh dua penari barong dan dua penari yang berbentuk ayam. Tari barong Kemireen diakhiri dengan tarian ayam yang bertarung yang digunakan sebagai simbol kemenangan. 

Makna Topeng Barong Kemiren

Dilansir dari laman timesindonesia.com, ketua adat Desa Kemiren mengatakan bahwa Barong di Kemiren hanya boleh menggunakan lima warna yaitu hitam, putih, hijau, merah, kuning yang memiliki makna berbeda. 

Bagian mulut Barong yang menganga lebar dengan simbol warna hitam yang berarti Aluamah atau sifat serakah. Kedua, bagian mata yang melotot memiliki simbol warna merah yang maknanya amarah. 

Fisik yang ketiga adalah sayap dengan simbol warna kuning dengan sifat Subyah atau Puji, yang menjelaskan manusia senang akan pujian dan suka memuji. Lalu bagian keempat adalah Mahkota Barong yang bersimbol warna putih yang memilik arti Suci.

Lalu simbol terakhir warna hijau pada fisik badan Barong yang melambangkan diri sendiri. Keempat elemen fisik dari Barong tersebut menyatu dalam badan Barong, yang menjelaskan sifat melekat pada manusia. (Sumber: kemiren.com dan sumber lainnya)

TopikTradisi
Tradisi31 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati