Tradisi

Buka Egek, Tradisi Suku Moi Papua dalam Menjaga Alam

Buka Egek, tradisi melestarikan yang dilakukan Suku Moi di Papua. Tradisi ini biasanya diawali dengan proses peluncuran perahu dan kembali membawa hasil bumi. Esensi dari tradisi adalah mengambil dari alam secukupnya. Papua dikenal akan keberagaman suku dan budaya. Salah satu adalah Suku Moi yang dinilai memiliki budaya cukup tinggi, bahkan sangat bersahabat dengan lingkungannya. Berada […]

Oleh Anisa Kurniawati

Suku Moi Papua Menjaga Alam Menjaga Alam
Tetua adat Suku Moi membacakan doa-doa saat upacara adat egek di Distrik Makbon, Sorong, Papua Barat Foto: Indonesia.go.id
Diterbitkan

Buka Egek, tradisi melestarikan yang dilakukan Suku Moi di Papua. Tradisi ini biasanya diawali dengan proses peluncuran perahu dan kembali membawa hasil bumi. Esensi dari tradisi adalah mengambil dari alam secukupnya. 

Papua dikenal akan keberagaman suku dan budaya. Salah satu adalah Suku Moi yang dinilai memiliki budaya cukup tinggi, bahkan sangat bersahabat dengan lingkungannya. Berada di daerah bagian pesisir utara di dataran Papua, Suku Moi kini banyak ditemui di sebagian daerah Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. 

Sejak zaman dahulu suku Moi merupakan suku yang terbiasa melaut. Kini pun, Suku Moi dan perahu tidak bisa dipisahkan. Perahu dalam bahasa Moi disebut ‘kama’. Cirinya yaitu adanya susung (bangunan seperti rumah) yang berfungsi sebagai tempat melindungi diri dan barang. 

Perahu khas suku Moi dibuat dari kayu selawaku yang merupakan kayu yang berasal dari tanah Moi. Perahu tersebut biasanya digunakan untuk balobe atau ‘mencari’ ikan saku. 

Baca Juga: Noken, Warisan Budaya Papua Menanti Sentuhan Generasi Muda

Disamping itu, Suku Moi dikenal selalu menerapkan tradisi egek, yang merupakan tradisi menjaga alam dengan mengambil secukupnya dari alam. Itu pulalah sebabnya, suku Moi lebih senang menggunakan perahu adat, ketimbang perahu bermesin. 

Esensi dari tradisi egek sendiri adalah mengambil secukupnya dan tidak mengeksploitasi kekayaan alam secara berlebihan. Contohnya, bila masyarakat adat suku Moi memiliki hajat tertentu, seperti membangun fasilitas umum yang membutuhkan dana besar, mereka akan berembuk dan mengadakan acara ‘buka egek’.

Buka egek merupakan waktu bagi Suku Moi untuk melaut, mengambil hasil bumi untuk dipergunakan jika terdapat kebutuhan tertentu. Selain itu, buka egek juga berlaku untuk sumber daya alam lainnya, seperti tanah dan hutan yang masih masuk wilayah suku Moi.

Biasanya anggota dari masing-masaing marga akan menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Hal tersebut disampaikan kepada seluruh anggota adat. Saat sudah menemui kesepakatan, maka diambil untuk membuka atau menutup egek untuk hasil laut atau hutan. 

Baca Juga: Café Dangdut New York, Perkenalkan Rasa dan Ritme Indonesia

Nantinya, hasil dari pembukaan egek dijual dan hasilnya dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan bersama. Hasil egek bukan untuk dimakan bersama. Egek diibaratkan seperti deposito dari alam yang dijaga untuk diambil manfaatnya. 

Berkat kegigihan Suku Moi dalam mempertahankan egek sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup, suku itu diakui sebagai kelompok MHA oleh Pemerintah Kabupaten Sorong pada 2017. Oleh karena itu, MHA Suku Moi berhak atas wilayah kelola yang dilindungi oleh hukum seluas sekitar 4.000 hektare di perairan dan 16.000 hektare di daratan. (Anisa Kurniawati- Sumber: Indonesia.go.id)

TopikTradisi
Tradisi27 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati