Tradisi

Cara Perempuan Mentawai Temukan Jati Diri Melalui Kerik Gigi

Perempuan di suku Mentawai memiliki cara yang berbeda ketika ingin terlihat cantik yakni dengan kerik gigi untuk meruncingkan gigi. Masyarakat suku Mentawai percaya mengerik gigi dapat menambah aura kecantikan. Suku Mentawai adalah suku asli yang mendiami Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Suku ini dikenal sebagai salah satu suku tertua di Indonesia. Tradisi kerik gigi ini bisa […]

Oleh Achmad Aristyan

Cara Perempuan Mentawai Temukan Jati Diri Melalui Kerik Gigi
Foto: Pinterest/ 1001indonesia.net
Diterbitkan

Perempuan di suku Mentawai memiliki cara yang berbeda ketika ingin terlihat cantik yakni dengan kerik gigi untuk  meruncingkan gigi. Masyarakat suku Mentawai percaya mengerik gigi dapat menambah aura kecantikan.

Suku Mentawai adalah suku asli yang mendiami Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Suku ini dikenal sebagai salah satu suku tertua di Indonesia.

Tradisi kerik gigi ini bisa jadi lahir dari filosofi masyarakat Mentawai yang percaya bila manusia memiliki dua wujud, yaitu arwah dan tubuh yang tidak akan binasa.

Bila mereka tidak puas dengan penampilan fisiknya, mereka akan terkena penyakit dan ditarik ke dunia lain.

Dari hal inilah membuat suku Mentawai menghias tubuh mereka dengan tato dan mengubah bentuk gigi. Agar jiwa mereka selalu mendapatkan kebahagiaan dan panjang umur.

Proses Meruncingkan Gigi

Proses kerik gigi wanita suku Mentawai dilakukan secara manual. Selama proses berlangsung, mereka juga tidak dibius, sehingga harus menahan rasa sakit.

Caranya menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah mereka asah hingga tajam. Gigi mereka diruncingkan dengan alat tadi, tidak hanya satu gigi namun semuanya.

Pengerikan gigi ini juga memakan waktu yang cukup lama. Setelah proses peruncingan selesai, biasanya mereka menggigit pisang hijau untuk mengurangi rasa sakitnya. 

Makna Tradisi Meruncingkan Gigi

Tradisi kerik gigi merupakan salah satu perjuangan para wanita suku Mentawai dalam menemukan jati dirinya. Mereka percaya bahwa mengerik gigi dapat menambah aura kecantikan dan melambangkan kedewasaan seorang wanita. 

Bagi suku Mentawai, seorang wanita dapat dikatakan cantik bila telah memenuhi tiga kriteria yaitu memiliki telinga yang panjang, tubuh berhias tato, dan gigi runcing.

Tradisi kerik gigi juga memiliki makna mendalam bagi suku Mentawai. Tradisi ini adalah bagian dari sikap mengendalikan diri dari enam sifat buruk manusia. Sifat ini disebut sebagai Sad Ripu. 

Keenam sifat ini yaitu terdiri atas hawa nafsu (Kama), tamak (Lobha), marah (krodha), mabuk (Maba), iri hati (Matsarya), dan bingung (Moha). Namun, saat ini tidak banyak lagi perempuan di Suku Mentawai melakukan tradisi kerik gigi. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi10 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan