Profil

Cut Meutia, Pahlawan Perempuan Ahli Strategi Perang dari Aceh

Cut Meutia atau Tjut Meutia, yang dikenal juga dengan nama Cut Nyak Meutia, merupakan salah satu tokoh perempuan pejuang asal Aceh yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Lahir pada tahun 1870 sebagai putri Teuku Ben Wawud, seorang uleebalang dari Perak, Aceh, Cut Meutia telah menunjukkan keteguhan hati dan keberaniannya sejak usia muda. Melawan Belanda […]

Oleh Achmad Aristyan

Cut Meutia, Pahlawan Perempuan Ahli Strategi Perang dari Aceh
Pahlawan Nasional Cut Meutia (kiri) yang wajahnya diabadikan dalam uang pecahan Rp 1.000 sejak 2016 (kanan). Foto: Wikimedia Commons
Diterbitkan

Cut Meutia atau Tjut Meutia, yang dikenal juga dengan nama Cut Nyak Meutia, merupakan salah satu tokoh perempuan pejuang asal Aceh yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Lahir pada tahun 1870 sebagai putri Teuku Ben Wawud, seorang uleebalang dari Perak, Aceh, Cut Meutia telah menunjukkan keteguhan hati dan keberaniannya sejak usia muda.

Melawan Belanda

Dilansir dari Perpustakaan Museum Pergerakan Wanita Indonesia, ketika mencapai usia dewasa Meutia dijodohkan dengan Teuku Syam Sareh. Namun, pernikahan yang diatur tanpa persetujuan keduanya itu tidak berjalan baik, dan akhirnya mereka berpisah.

Kemudian, Cut Meutia menikah dengan adik Teuku Syam Sareh, yakni Teuku Cut Muhammad atau Teuku Cik Tunong. Bersama suaminya, Cut Meutia memulai perjuangan melawan Belanda.

Teuku Cik Tunong tidak tunduk pada perjanjian pendek yang ditandatangani kakaknya dengan Belanda. Sebagai pemimpin yang berkomitmen pada perjuangan rakyat Aceh, ia mengorganisir 12 pria tangguh untuk bergabung dengan pasukan Sultan Aceh.

Bersama mereka, ia melakukan sabotase terhadap infrastruktur Belanda, termasuk merusak rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut pasukan kolonial.

Baca juga: Dewi Sartika Pelopor Pendidikan Perempuan di Tanah Sunda

Ahli Strategi Perang

Cut Meutia selalu berada di sisi suaminya dalam perjuangan bersenjata. Semangat perlawanan terus berkobar, meski kondisi pejuang muslimin melemah akibat tekanan kolonial semakin kuat.

Setelah Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan dihukum mati, Cut Meutia harus melanjutkan perjuangan seorang diri. Dalam kondisi fisik yang lemah akibat kekurangan gizi dan perawatan, ia tetap gigih melawan penjajahan.

Setelah melahirkan anak kembar yang meninggal tak lama setelah lahir, ia kembali memimpin pasukan muslimin. Dengan keberanian dan keahliannya dalam strategi perang, ia memimpin kaum perempuan dan melindungi mereka dari ancaman musuh. Saat perang, ia menerapkan taktik serang dan mundur dan prajuritnya memata-matai gerak gerik pasukan lawan.

Baca juga: Tugu Ali Anyang, Monumen Perjuangan Pahlawan Dayak

Pahlawan Nasional  

26 September 1910, saat pasukannya beristirahat di Alue Kurieng, mereka diserang mendadak pasukan Belanda pimpinan Christoffel. Dalam pertempuran ini, sang pejuang terluka parah.

Meski kakinya tertembak parah, ia tetap memegang pedang di tangannya hingga gugur. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia berpesan agar putranya, Teuku Raja Sabi, diselamatkan.

Perjuangannya pun dikenang sebagai simbol keberanian dan pengorbanan. Pemerintah Indonesia, melalui Keputusan Presiden No. 107 Tahun 1964, menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Cut Meutia atas jasa-jasanya dalam melawan penjajahan.  (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil14 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan