Di Dusun Giyanti, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Lengger tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kesenian ini tidak hanya hadir ketika ada hajatan atau perayaan desa, tetapi juga diteruskan melalui latihan, kelompok seni, dan orang-orang yang memilih untuk tetap menekuninya.
Lengger Wonosobo dikenal melalui perpaduan gerak tari, iringan gamelan, tembang, dan penggunaan topeng dalam pertunjukannya. Bentuk yang dikenal sekarang merupakan hasil perjalanan panjang, termasuk perubahan penari dan cara pementasan dari masa ke masa.
Berawal dari Dusun Giyanti
Sejumlah sumber kebudayaan menempatkan Giyanti sebagai tempat penting dalam perkembangan Lengger Wonosobo. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo mencatat bahwa kesenian ini dirintis oleh Gondowinangun pada 1910, sebelum kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Ki Hadi Soewarno pada dekade 1960-an.
Namun, tahun awal tersebut tidak seragam dalam seluruh sumber. Sebuah penelitian mengenai kesenian Lengger di Wonosobo menyebut tahun 1932 sebagai awal perintisannya oleh Gondhowinangun. Perbedaan catatan ini perlu disampaikan secara terbuka karena belum cukup alasan untuk menetapkan satu tahun sebagai tanggal lahir yang pasti.
Ada pula penuturan masyarakat yang menghubungkan kata Lengger dengan ungkapan Jawa “elinga ngger”, yang berarti “ingatlah, Nak”. Ungkapan tersebut dimaknai sebagai nasihat agar manusia mengingat Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Penjelasan ini dikenal dalam tradisi tutur setempat, tetapi lebih tepat dipahami sebagai salah satu penafsiran asal nama, bukan etimologi yang sudah dipastikan secara ilmiah.
Dari Lengger Lanang ke Lengger Putri
Dalam perkembangan awalnya, Lengger di sejumlah lingkungan dimainkan oleh laki-laki yang membawakan peran perempuan. Bentuk ini dikenal sebagai Lengger Lanang. Seiring perubahan kehidupan masyarakat, penari perempuan kemudian semakin menonjol dalam pertunjukan Lengger Wonosobo.
Kajian mengenai Tari Topeng Lengger di Giyanti mencatat perubahan penyajian, termasuk peralihan peran penari dan perkembangan kelompok seni. Perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu waktu yang sama di semua kelompok, sehingga riwayat setiap kelompok perlu dibaca berdasarkan sumbernya masing-masing.
Ki Hadi Soewarno memiliki peran penting dalam pengembangan Lengger di Wonosobo. Ia mengembangkan penyajian tari dan membina penari, termasuk generasi penari perempuan yang kemudian dikenal luas. Melalui proses tersebut, Lengger semakin dikenal sebagai kesenian yang dapat ditampilkan dalam berbagai acara masyarakat.
Perubahan ini tidak berarti seluruh bentuk lama menghilang. Tradisi pertunjukan dapat bertahan melalui unsur tertentu, sementara penari, susunan tari, dan cara penyajiannya menyesuaikan keadaan zaman.
Topeng dan Iringan yang Membentuk Pertunjukan
Salah satu ciri Lengger Wonosobo ialah penggunaan topeng dalam rangkaian tari. Penari Lengger dan penari topeng tampil berpasangan, dengan gerak serta karakter yang mengikuti bagian pertunjukan. Topeng menjadi unsur penting yang membedakan bentuk penyajian ini dari sejumlah kesenian Lengger di daerah lain.
Kajian tentang Topeng Lengger mencatat beberapa karakter topeng, antara lain alusan, gagahan, gecul, dan kasar. Perbedaan karakter terlihat pada bentuk wajah topeng serta pembawaan penarinya. Namun, urutan tari dan tokoh yang ditampilkan dapat berbeda menurut kelompok maupun jenis pementasan.
Iringan gamelan dan tembang yang dibawakan sinden juga membentuk suasana pertunjukan. Dalam perkembangannya, Lengger dapat disandingkan dengan kesenian lain, seperti kuda kepang atau Emblek, sesuai kebiasaan kelompok yang menyajikannya.
Unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Penari, pemusik, pembuat topeng, dan orang yang mengatur pementasan memiliki peran masing-masing dalam menjaga jalannya pertunjukan. Keterampilan mereka dipelajari melalui latihan dan pengalaman, bukan hanya dari pengetahuan tertulis.
Dari Panggung Desa ke Generasi Berikutnya
Lengger kini dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan, mulai dari hajatan keluarga hingga perayaan desa dan agenda kebudayaan. Perubahan fungsi dari pertunjukan yang berkaitan dengan ritual menjadi hiburan masyarakat juga menjadi bagian dari perjalanan kesenian ini.
Di Giyanti, kelompok-kelompok Lengger menjadi tempat keterampilan tari dan musik diteruskan. Pengetahuan mengenai gerak, tembang, karakter topeng, dan susunan pementasan membutuhkan proses belajar yang panjang agar dapat dipahami oleh penari baru.
Perjalanan Lengger Wonosobo memperlihatkan bahwa kesenian rakyat tidak bertahan hanya karena usianya panjang. Ada seniman yang mengembangkan bentuk pertunjukan, ada kelompok yang melatih generasi muda, dan ada masyarakat yang terus memberi ruang bagi kesenian tersebut.
Mencatat sejarah Lengger berarti juga mencatat perubahan dan perbedaan yang ada di dalamnya. Dari Giyanti, perjalanan kesenian ini dapat ditelusuri melalui para pelaku dan kelompok yang membawanya, tanpa menganggap satu bentuk pertunjukan mewakili seluruh Lengger di Wonosobo.






