Menonton kuda lumping di satu desa belum tentu memberi gambaran tentang pertunjukan di desa lain. Ada kelompok yang dikenal lewat gerak tarinya, ada yang punya susunan musik dan atraksi tersendiri, sementara kelompok lain mempertahankan bentuk pertunjukan yang sudah lama mereka kenal.
Di Jawa Tengah, keragaman itu bisa ditelusuri melalui nama Ebeg di Banyumas dan jaran kepang di sejumlah wilayah lain. Di Temanggung, penelitian bahkan menemukan beberapa variasi gerak dalam kesenian kuda lumping di satu kecamatan. Cerita seperti ini menunjukkan bahwa kesenian rakyat tumbuh bersama masyarakat yang merawatnya.
Nama yang Akrab di Daerahnya
Bagi masyarakat Banyumas, Ebeg bukan sekadar nama lain untuk kuda lumping. Kesenian ini berkembang dengan ciri penyajian yang dekat dengan lingkungan setempat, termasuk penggunaan bahasa Jawa Banyumasan dan iringan musik yang menjadi bagian dari pertunjukan.
Buku Bentuk Penyajian dan Pengembangan Kesenian Ebeg Banyumas, Jawa Tengah, terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta pada 2021, mendokumentasikan bentuk penyajian serta perkembangan kesenian tersebut. Catatan ini memperlihatkan bahwa Ebeg memiliki perjalanan dan karakter yang perlu dipahami dari konteks Banyumas, bukan hanya dari kemiripannya dengan pertunjukan berkuda tiruan di daerah lain.
Di wilayah lain, masyarakat menggunakan sebutan jaran kepang atau jathilan. Pemakaian nama dapat berbeda menurut daerah dan kelompok, sehingga tidak tepat menganggap semua istilah itu selalu menunjuk pada bentuk pertunjukan yang persis sama. Untuk mengenali ciri sebuah kelompok, riwayat, perlengkapan, musik, dan keterangan para pelakunya perlu diperiksa bersama.
Satu Kecamatan, Beberapa Bentuk
Temanggung memberikan contoh menarik tentang perubahan dan keragaman kuda lumping. Penelitian Florentinus Galih Adi Utama, J.B. Judha Jiwangga, dan Eko Hari Parmadi yang terbit dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha pada 2025 membahas perkembangan kesenian ini di Kecamatan Bejen pada periode 1965–1998.
Penelitian tersebut mencatat tiga variasi gerak yang dikenal di Bejen: bentuk klasik-religius, bentuk yang berkaitan dengan kesepakatan kebudayaan daerah pada 1972, dan bentuk yang berorientasi pada pertunjukan massal. Ketiganya bahkan dapat muncul dalam satu rangkaian pementasan.
Temuan itu penting karena menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu berhenti pada batas kabupaten. Dalam satu kecamatan saja, perjalanan sejarah dan pilihan penyajian dapat melahirkan beberapa bentuk yang hidup berdampingan. Namun, temuan Bejen tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh kecamatan di Jawa Tengah mempunyai pola serupa.
Penelitian lain mengenai kelompok Satrio Wibowo di Desa Sanggrahan, Temanggung, juga mencatat susunan pertunjukan yang mencakup kuda lumping, tari Bali, serta pertunjukan Leak dan Barongan Bali. Contoh ini memperlihatkan adanya pilihan pengembangan pertunjukan yang khas pada kelompok tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan bentuk perlu dicatat sesuai tempat dan pelakunya.
Musik, Gerak, dan Pilihan Kelompok
Perbedaan sebuah pertunjukan dapat terlihat dari banyak unsur. Gerak penari, iringan musik, busana, properti kuda, urutan atraksi, hingga cara kelompok menyusun satu pementasan dapat membentuk karakter yang mudah dikenali oleh penonton setempat.
Tidak semua perbedaan harus dianggap sebagai penyimpangan dari bentuk lama. Sebagian kelompok mungkin mempertahankan pola yang diwariskan, sedangkan kelompok lain menambahkan unsur baru untuk menjawab selera penonton atau kebutuhan pementasan. Riwayat perubahan itu perlu dilihat melalui keterangan pelaku dan dokumentasi, bukan dinilai hanya dari penampilan sesaat.
Di sinilah peran para penari, pemusik, pembuat perlengkapan, dan orang-orang yang mengurus kelompok menjadi penting. Mereka bukan sekadar pelengkap pertunjukan, melainkan orang-orang yang menyimpan pengetahuan mengenai latihan, repertoar, dan kebiasaan yang belum tentu tercatat dalam buku.
Mencatat Cerita dari Desa ke Desa
Keragaman kuda lumping di Jawa Tengah masih menyisakan ruang penelitian yang luas. Catatan tentang Ebeg Banyumas dan kelompok-kelompok di Temanggung memberi titik awal, tetapi belum cukup untuk menggambarkan seluruh kabupaten, apalagi setiap kecamatan dan desa.
Pekerjaan berikutnya adalah mendatangi kelompok-kelompok yang belum banyak terdokumentasi. Nama paguyuban, lokasi asal, riwayat berdiri, tokoh yang mengajar, musik pengiring, serta perubahan bentuk pertunjukan dapat dicatat agar perbedaan antarkelompok tidak hilang dalam penyebutan yang terlalu umum.
Bagi EMMANUS, cerita kuda lumping menarik justru ketika kita mendekat kepada orang-orang yang menjaganya. Dari desa ke desa, kesenian ini dapat memperlihatkan bagaimana masyarakat merawat kebiasaan, mengambil keputusan artistik, dan meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya.






