Tradisi

Mbah Goleyo di Balik Tradisi Larung Hasil Bumi

Sedekah Bumi Mbah Goleyo di Bandungrejo memadukan ritual syukur, larung hasil bumi, dan penelusuran sejarah leluhur desa.

Oleh Ridwan

Warga mengarak hasil bumi dalam prosesi Sedekah Bumi Mbah Goleyo di Bandungrejo, Tuban.
Warga membawa hasil bumi dalam prosesi Sedekah Bumi Mbah Goleyo di tepian Bengawan Solo, Desa Bandungrejo, Tuban. (Foto: MC Tuban/InfoPublik)
Diterbitkan

Di tepian Bengawan Solo, warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, membawa hasil bumi dalam sebuah prosesi yang menjadi bagian dari Sedekah Bumi Mbah Goleyo. Hasil bumi itu ditata menyerupai gunungan kecil, kemudian dibawa menuju sungai sebagai simbol rasa syukur atas hasil pertanian dan sumber penghidupan dari alam.

Namun, sedekah bumi tahun ini tidak berhenti pada ritual. Warga juga diajak menelusuri kembali sosok Mbah Goleyo, leluhur yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Bandungrejo. Melalui pembahasan sejarah yang diselenggarakan bersamaan dengan tradisi tersebut, masyarakat mendapat ruang untuk mengenali kembali cerita tentang asal-usul desa mereka.

Pemerintah Desa Bandungrejo bersama Komunitas Sabhyanadipala menggelar Sedekah Bumi Mbah Goleyo pada 19 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan memadukan doa bersama, larung hasil bumi, dan diskusi sejarah lokal. Perpaduan itu memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi desa dapat menjadi ruang pertemuan antara praktik adat yang diwariskan dan upaya memahami kisah di baliknya.

Doa dan Larung sebagai Wujud Syukur

Sedekah Bumi Mbah Goleyo diawali dengan tahlil dan doa bersama untuk mendoakan para leluhur, khususnya Mbah Goleyo. Warga mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang memiliki tempat dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Bandungrejo.

Setelah doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan larung hasil bumi di Bengawan Solo. Hasil pertanian yang disusun menyerupai gunungan kecil dibawa ke tepi sungai. Dalam kegiatan ini, hasil bumi menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas sumber penghidupan yang diberikan alam.

Kedua prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian sedekah bumi. Doa bersama menempatkan penghormatan kepada leluhur sebagai bagian dari pelaksanaan tradisi, sedangkan larung hasil bumi menghadirkan ungkapan syukur melalui simbol hasil pertanian.

Kepala Desa Bandungrejo, Slamet, dilansir dari InfoPublik.id mengatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini dikembangkan dengan menambah unsur kegiatan tanpa menghilangkan ritual yang telah diwariskan.

Menurut dia, tahlil tetap dilaksanakan sebagaimana tradisi sebelumnya. Pengembangan kegiatan dilakukan melalui penambahan agenda yang memperkaya pelaksanaan sedekah bumi, bukan dengan mengganti rangkaian adat yang sudah ada.

Menelusuri Sosok Mbah Goleyo

Di balik nama yang melekat pada tradisi tersebut, terdapat kisah tentang asal-usul tokoh yang dihormati masyarakat Bandungrejo.

Dalam sesi bedah sejarah, pemerhati sejarah dari Komunitas Sabhyanadipala, Ali Suyono, memaparkan hasil penelusuran literatur mengenai sosok Mbah Goleyo. Berdasarkan penelusuran yang disampaikannya, nama tersebut merujuk pada Raden Mas Haryo Pringgoloyo, yang disebut sebagai ahli strategi perang gerilya sekaligus bagian dari laskar Pangeran Diponegoro.

Ali menjelaskan bahwa tokoh tersebut dikisahkan menyusuri Bengawan Solo ke arah timur untuk menghilangkan jejak agar tidak terdeteksi oleh pihak Belanda.

Keterangan itu memberikan konteks sejarah bagi nama yang selama ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Bengawan Solo, yang menjadi lokasi prosesi larung hasil bumi, juga muncul dalam cerita perjalanan tokoh yang diidentifikasi sebagai Mbah Goleyo tersebut.

Meski demikian, pemaparan dalam kegiatan itu merupakan hasil penelusuran literatur yang disampaikan oleh Ali Suyono. Identifikasi tokoh dan kisah perjalanannya menjadi bagian dari materi sejarah yang diperkenalkan kepada warga, bukan alasan untuk mengabaikan pentingnya sumber dan bukti dalam memahami masa lalu.

Melalui diskusi tersebut, tokoh masyarakat dan budayawan lokal turut membahas kisah perjuangan serta nilai-nilai yang dikaitkan dengan leluhur Bandungrejo. Pembahasan sejarah menjadi bagian dari upaya mengenali latar belakang tradisi yang masih dijalankan masyarakat.

Tradisi sebagai Ruang Pewarisan Pengetahuan

Penambahan sesi bedah sejarah memperluas ruang kegiatan Sedekah Bumi Mbah Goleyo. Warga tidak hanya mengikuti prosesi adat, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengenali cerita yang berkaitan dengan tokoh yang dihormati dalam tradisi desa.

Camat Plumpang, Saefiyudin, mengapresiasi inisiatif pemerintah desa dan masyarakat yang memadukan kegiatan adat dengan edukasi sejarah. Menurut dia, pemahaman terhadap sejarah leluhur dapat membantu generasi muda mengenali akar budaya di lingkungan tempat mereka tumbuh.

Keterlibatan generasi muda menjadi penting karena keberlanjutan tradisi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual secara berkala. Pengetahuan mengenai alasan sebuah tradisi dijalankan, tokoh yang dihormati, serta cerita yang menyertainya juga perlu diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks Bandungrejo, bedah sejarah menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pengetahuan tersebut. Cerita mengenai Mbah Goleyo dibahas bersama prosesi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sehingga tradisi dan penelusuran sejarah memperoleh ruang dalam kegiatan yang sama.

Upaya ini juga memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat dilakukan dengan membuka ruang bagi pembelajaran. Ritual tetap dijalankan, sementara pemahaman mengenai asal-usulnya terus ditelusuri melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Sedekah Bumi Mbah Goleyo pada akhirnya mempertemukan dua bentuk pewarisan. Larung hasil bumi dan doa bersama meneruskan praktik adat, sedangkan bedah sejarah membuka kesempatan untuk mengenali kembali kisah yang melekat pada tradisi tersebut. Di tepian Bengawan Solo, hasil bumi menjadi simbol rasa syukur, sementara cerita Mbah Goleyo mengajak warga menelusuri lebih jauh asal-usul desa yang mereka warisi.


Catatan Redaksi

Sedekah Bumi Mbah Goleyo merupakan tradisi masyarakat Desa Bandungrejo yang memadukan doa bersama, larung hasil bumi, dan penghormatan kepada leluhur. Dalam artikel ini, prosesi tersebut dipahami sebagai praktik budaya yang memiliki makna bagi masyarakat pelaksananya. Sementara itu, identifikasi Mbah Goleyo sebagai Raden Mas Haryo Pringgoloyo serta keterkaitannya dengan laskar Pangeran Diponegoro merujuk pada hasil penelusuran literatur yang dipaparkan Ali Suyono dari Komunitas Sabhyanadipala, sebagaimana diberitakan InfoPublik. Keterangan tersebut disajikan sesuai atribusi sumber dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan sejarah yang telah terverifikasi secara independen.

EMMANUS membedakan praktik tradisi yang dilaksanakan masyarakat, makna yang dilekatkan kepadanya, dan klaim sejarah mengenai tokoh yang berkaitan dengannya. Penghormatan kepada leluhur dan simbolisme larung hasil bumi ditempatkan dalam konteks kebudayaan masyarakat setempat, tanpa menggeneralisasi keyakinan seluruh warga atau menghakimi praktik yang dijalankan. Penelusuran sejarah tetap terbuka terhadap pemeriksaan sumber dan bukti yang relevan.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Kawasan kota Singkawang di Kalimantan Barat.

Singkawang Tumbuh dari Jalan Persinggahan

Singkawang berkembang melalui jalur perdagangan emas, kedatangan pendatang, dan perubahan tata pemerintahan hingga membentuk kota dengan identitas sejarah dan budaya yang khas.

Ridwan