Tradisi

Menjaga Suara Bambu dan Rasa Syukur Petani di Sedekah Bumi Sobontoro

Di bawah naungan pepohonan rindang di sekitar Sumur Mojo, riuh suara warga Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, terdengar begitu hangat, akhir Agustus 2026 lalu. Langkah kaki warga beriringan mengarak gunungan tinggi menjulang yang dipenuhi tumpukan cabai merah, tomat segar, kacang-kacangan, hingga pelbagai komoditas hijau. Bagi masyarakat setempat, gunungan ini bukan sekadar arak-arakan visual, […]

Oleh Ridwan

Menjaga Suara Bambu dan Rasa Syukur Petani di Sedekah Bumi Sobontoro
Caption: Warga Desa Sobontoro mengarak gunungan hasil bumi mengiringi pertunjukan Seni Oklik pada tradisi Sedekah Bumi di Sumur Mojo, Balen, Bojonegoro, Jawa Timur. Foto: InfoPublik
Diterbitkan

Di bawah naungan pepohonan rindang di sekitar Sumur Mojo, riuh suara warga Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, terdengar begitu hangat, akhir Agustus 2026 lalu.

Langkah kaki warga beriringan mengarak gunungan tinggi menjulang yang dipenuhi tumpukan cabai merah, tomat segar, kacang-kacangan, hingga pelbagai komoditas hijau.

Bagi masyarakat setempat, gunungan ini bukan sekadar arak-arakan visual, melainkan wujud tulus rasa syukur atas tanah yang terus memberi kehidupan.

Tradisi tahunan ini menjadi ruang bersua dan mengikat kembali tali persaudaraan antarwarga.

Di tanah pelosok Jawa Timur ini, sedekah bumi dirawat bukan sekadar sebagai ritus kuno, melainkan napas kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Arak-Arakan Hasil Bumi dan Napas Kehidupan Petani

Lambaian hasil pertanian di atas gunungan menjadi bukti betapa suburnya tanah Sobontoro.

Para petani yang sehari-hari bergelut dengan lumpur dan terik matahari menumpahkan rasa sukacita mereka dalam perayaan ini.

Setiap komoditas yang diarak memuat cerita tentang ketekunan, doa, dan harapan agar musim tanam berikutnya membawa keberkahan dan kesehatan bagi seluruh warga.

Prosesi di Sumur Mojo—sumber mata air bersejarah bagi desa—semakin mempertegas ikatan batin warga dengan alam sekitar.

Di tempat inilah doa bersama dipanjatkan, memohon keselamatan, panjang umur, serta keharmonisan desa.

Alunan Seni Oklik yang Mendunia dari Pelosok Desa

Kemeriahan sedekah bumi kian hidup saat alunan musik dari instrumen bambu bertabuh.

Seni Oklik, kesenian khas Bojonegoro yang renyah dan ritmis, bergema mengiringi langkah para pemuda dan tetua desa.

Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga penanda identitas kultural yang kian kokoh.

Keberadaan Seni Oklik di Sobontoro memiliki nilai historis dan kebanggaan tersendiri.

Kesenian bambu yang dahulu digunakan sebagai penanda waktu atau penggugah semangat ini kini telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan.

“Seni Oklik merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat. Kesenian ini bahkan telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Kementerian Kebudayaan. Ini bukan hanya menjadi kebanggaan Desa Sobontoro, tetapi juga Kabupaten Bojonegoro secara keseluruhan,” tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina.

Merawat Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang

Di tengah gempuran tren modern dan hiburan digital, bertahannya tradisi sedekah bumi dan Seni Oklik menjadi benteng pertahanan budaya di Bojonegoro.

Anak-anak kecil yang ikut menyaksikan arak-arakan diajak mengenal akar budayanya sejak dini, belajar menghargai setiap bulir hasil tani dan ketukan instrumen bambu tradisinya.

Upaya pelestarian ini membuktikan bahwa tradisi lokal tak harus redup oleh zaman.

Selama tanah Sobontoro terus dipijak dan bambu Oklik terus ditabuh dengan penuh cinta, rasa syukur dan kebersamaan warga akan tetap abadi membumi. (Diolah dari InfoPublik)

Tentang Penulis

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait