Kuliner

Jejak Rasa dan Tradisi Temerodok dari Sakra

Temerodok bukan sekadar jajanan manis dari Sakra, NTT. Di balik bentuknya tersimpan jejak pertemuan budaya, tradisi sosial, dan keterampilan perajin yang kini diakui sebagai warisan budaya Indonesia.

Oleh Ridwan

Temerodok, jajanan tradisional khas Sakra, Lombok Timur
Temerodok, jajanan tradisional dari Sakra, Lombok Timur, dibuat secara manual dengan keterampilan tangan para perajin.
Diterbitkan

Di Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ada jajanan tradisional yang dikenal melalui bentuknya yang khas dan rasa manis berlapis gula. Namanya Temerodok. 

Terbuat dari tepung ketan dan telur, panganan ini dibuat melalui keterampilan tangan yang membutuhkan ketelatenan. Bentuknya menyerupai bulan sabit dengan bagian tengah berongga, lalu dilapisi gula setelah digoreng.

Temerodok bukan sekadar makanan ringan yang dijual sebagai oleh-oleh. Dalam kehidupan masyarakat Sakra, jajanan ini hadir dalam sejumlah kegiatan sosial, mulai dari hajatan keluarga hingga penyambutan tamu. 

Kehadirannya juga menyimpan cerita tentang hubungan antarkelompok masyarakat dan perjalanan sebuah keterampilan kuliner yang berkembang di lingkungan setempat.

Kini, Temerodok semakin dikenal di luar daerah asalnya. Pada September 2026, jajanan khas Sakra ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan. 

Pengakuan tersebut memberi perhatian baru terhadap pengetahuan lokal yang selama ini dipertahankan para pembuatnya.

Jejak Pertemuan Budaya di Sakra

Asal-usul Temerodok memiliki sejumlah cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu penjelasan menyebutkan bahwa jajanan ini berkaitan dengan pengaruh kuliner Bugis-Makassar yang masuk ke wilayah Sakra melalui kawasan Tanjung Luar.

Berdasarkan kajian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur yang dikutip Inside Lombok pada September 2026, Temerodok memiliki hubungan dengan kue se’ro-se’ro dari Bugis-Makassar. 

Kue tersebut diperkirakan dibawa oleh masyarakat pendatang dari Tanjung Luar sekitar dekade 1920-an. Dalam perkembangannya, masyarakat Sakra mengolah dan menyesuaikan resep serta bentuknya hingga menjadi jajanan yang dikenal sekarang.

Cerita yang disampaikan dalam wawancara di kanal YouTube Bidang Kebudayaan Lotim bersama Plt. Kepala Desa Sakra, Zainul Arifin, S.Pt., pada 2025 juga menghubungkan keterampilan membuat Temerodok dengan kedatangan masyarakat Bugis dari Tanjung Luar.

Dalam bagian lain wawancara tersebut, Sariwiti menuturkan bahwa seorang leluhur perempuan di Sakra mempelajari cara membuat jajanan itu dari pendatang Bugis.

Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan lisan masyarakat mengenai perjalanan Temerodok, meskipun detail sejarahnya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Dalam kajian yang sama, nama Temerodok dikaitkan dengan bentuk jajanan yang menyerupai bagian tenggorokan atau jakun. Istilah lokal yang disebut dalam sejumlah sumber adalah temeroko atau tameroko. 

Penyebutan tersebut kemudian berkembang menjadi Temerodok. Ensiklopedi Produk Pangan Indonesia Jilid 2 juga mencatat hubungan antara nama jajanan dan bentuk fisiknya.

Pada masa awal perkembangannya, Temerodok disebut pernah dikenal sebagai kue timba karena bentuknya menyerupai alat tersebut. Jajanan ini juga dikaitkan dengan kegiatan besar atau gawe sultan yang diselenggarakan pemekel adat di Dusun Dalem Lauk. 

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Temerodok tidak hanya berkaitan dengan perubahan resep, tetapi juga dengan lingkungan sosial tempat makanan ini tumbuh.

Hadir dalam Kehidupan Sosial Masyarakat

Keterangan Zainul Arifin dalam wawancara DikbudLotim itu telah memberikan gambaran mengenai tempat Temerodok dalam tradisi masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan rangkaian perkawinan adat Sasak, termasuk proses sejati selabar dan nyongkolan.

Dalam prosesi nyongkolan, rombongan pengantin laki-laki datang menuju keluarga pengantin perempuan dengan membawa berbagai panganan. 

Temerodok disebutkan sebagai salah satu jajanan yang dapat dibawa bersama tekel. Panganan tersebut memiliki makna dalam hubungan antarkeluarga dan penghormatan terhadap pihak pengantin perempuan.

Meski demikian, Temerodok bukan satu-satunya makanan yang memiliki tempat dalam rangkaian adat. Kuliner ini berbeda perannya dengan tekel, jajanan berbahan ketan yang dibungkus janur, diikat menggunakan tali bambu, kemudian dikukus. 

Dalam sejumlah kegiatan adat, tekel justru lebih sering disebut sebagai panganan yang harus tersedia. Temerodok dapat disajikan, tetapi kehadirannya tidak selalu menjadi keharusan.

Di luar perkawinan, Temerodok juga disuguhkan ketika masyarakat menerima tamu kehormatan dari luar desa atau mengadakan hajatan. 

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa jajanan ini memiliki fungsi sosial sebagai bagian dari sajian untuk tamu dan keluarga yang berkumpul.

Dahulu, menurut keterangan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur Abdul Hayyi yang dimuat Inside Lombok, penyajian Temerodok lebih terbatas pada kalangan bangsawan dan tokoh adat dalam kegiatan adat maupun keagamaan.

Seiring waktu, jajanan ini semakin mudah dijumpai dan berkembang sebagai produk yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Keterampilan Tangan di Balik Temerodok

Pembuatan Temerodok memperlihatkan pengetahuan kuliner yang tidak hanya bergantung pada komposisi bahan. Keterampilan membentuk adonan menjadi bagian penting untuk menghasilkan rupa yang khas.

Dalam video DikbudLotim tahun 2025, perajin asal Sakra, Baiq Rita Hayati, memperlihatkan tahapan pembuatan Temerodok. Bahan yang digunakan antara lain tepung ketan, telur, gula, minyak goreng, dan vanili. 

Tepung ketan disangrai terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan bahan lainnya. Adonan kemudian diuleni sampai mencapai tekstur yang dapat dibulatkan.

Setelah siap, adonan dibentuk menjadi bulatan kecil. Perajin menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk menekan serta membentuk bagian tengahnya. Gerakan tangan dilakukan berulang hingga menghasilkan bentuk yang serupa. Ukuran jajanan dapat disesuaikan, mulai dari kecil, sedang, hingga besar.

Tahap berikutnya adalah penggorengan. Minyak tidak boleh terlalu panas ketika adonan dimasukkan agar bentuknya tidak pecah dan dapat mengembang. 

Temerodok yang telah digoreng ditiriskan sebelum dilapisi gula cair yang dimasak bersama air dan vanili hingga mengental. Foto: Ist

Setelah matang, Temerodok ditiriskan. Gula kemudian dimasak bersama air dan sedikit vanili hingga mengental. Jajanan yang telah digoreng dimasukkan ke dalam larutan tersebut dan diaduk sampai lapisan gula mengering.

Proses itu memperlihatkan bahwa resep saja belum cukup untuk menghasilkan Temerodok dengan bentuk yang baik. Ketepatan tekstur adonan, tekanan jari, serta pengaturan suhu minyak diperoleh melalui pengalaman dan latihan. 

ANTARA dalam laporannya pada 6 November 2026 juga mencatat bahwa sejumlah perajin di Sakra masih mempertahankan proses manual dan melakukan penggorengan dua kali sebelum memberikan lapisan gula.

Perubahan zaman turut memengaruhi tampilan produk. Zainul Arifin menyebutkan munculnya berbagai variasi ukuran, warna, dan rasa, termasuk Temerodok berukuran mini. 

Bahan dan cara dasar pembuatannya tetap dipertahankan, sementara variasi produk menjadi salah satu upaya mengikuti kebutuhan pasar.

Dari Warisan Lokal Menuju Pengakuan Nasional

Keberlanjutan Temerodok bergantung pada orang-orang yang masih memiliki keterampilan membuatnya. Para perajin rumahan menjadi bagian penting dalam menjaga pengetahuan tersebut tetap hidup. 

Di Sakra, pemerintah desa juga pernah mendorong pembentukan kelompok produksi, pelatihan bagi generasi muda, serta pengenalan Temerodok kepada anak-anak melalui kegiatan yang melibatkan perpustakaan desa dan pihak luar.

Upaya tersebut relevan karena pengetahuan mengenai sejarah dan teknik pembuatan Temerodok belum seluruhnya terdokumentasi. Kesulitannya yakni menemukan keterangan lengkap dari para sesepuh yang dahulu membuat jajanan tersebut. 

Sebagian pembuat generasi awal sudah tidak ada, sehingga cerita mengenai asal-usul dan perkembangannya lebih banyak tersimpan dalam memori dan cerita masyarakat.

Di sisi lain, para perajin menghadapi perubahan dalam kegiatan usaha. Laporan NTBSatu pada September 2026 mengangkat pengalaman Qamariyah, penjual Temerodok di Sakra yang telah menjalankan usaha lebih dari dua dekade. 

Laporan tersebut menggambarkan penjualan yang tidak selalu ramai dan kenaikan harga bahan baku yang memengaruhi keuntungan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan jajanan tradisional juga berkaitan dengan kemampuan para pembuatnya mempertahankan usaha.

Pada September 2026, Kementerian Kebudayaan menetapkan Temerodok Sakra sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. 

Penetapan tersebut melalui proses pengusulan, kajian, dan verifikasi yang melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat. Pengakuan nasional ini menempatkan Temerodok sebagai salah satu warisan kuliner Lombok Timur yang perlu terus lestari dan dirawat.

Status warisan budaya tidak dengan sendirinya menjamin keterampilan membuat Temerodok akan bertahan. Pengetahuan tersebut tetap membutuhkan penerus, ruang belajar, dokumentasi, dan keberlangsungan usaha para perajin. 

Cerita mengenai asal-usul, fungsi sosial, serta cara pembuatannya perlu dicatat agar tidak hanya tersimpan dalam ingatan generasi yang lebih tua.

Dari Sakra, Temerodok membawa lebih dari rasa manis dan bentuk yang mudah dikenali. Jajanan ini merekam pertemuan budaya, kebiasaan masyarakat, dan keterampilan tangan yang tumbuh melalui pengalaman. 

Pengakuan sebagai warisan budaya menjadi kesempatan untuk memastikan cerita dan pengetahuan di balik Temerodok terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Kuliner

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →