Sastra tidak selalu berhenti pada halaman buku. Dalam kebudayaan Sunda, puisi dapat menemukan kehidupan baru melalui kawih, cerita dapat hadir di panggung, dan bahasa menjadi bagian dari pertunjukan yang dinikmati bersama.
Perjalanan Wahyu Wibisana memperlihatkan hubungan antara beragam bentuk ekspresi tersebut. Wahyu dikenal sebagai sastrawan Sunda yang menulis puisi, cerita pendek, esai, dan naskah drama.
Karya-karyanya berkembang dalam lingkungan sastra yang menggunakan bahasa Sunda sebagai medium pengungkapan gagasan, pengalaman manusia, dan kehidupan masyarakat.
Sebagian puisinya kemudian digubah menjadi lagu oleh komponis karawitan Sunda, Koko Koswara, yang lebih dikenal sebagai Mang Koko.
Karya Wahyu juga menjangkau seni pertunjukan. Bersama Mang Koko, Wahyu mengembangkan gending karesmén, bentuk pertunjukan yang memadukan musik, sastra, dan seni peran.
Di luar kegiatan penciptaan, Wahyu terlibat dalam perkembangan media berbahasa Sunda dan berbagai organisasi kebudayaan.
Perjalanan tersebut menempatkan Wahyu bukan sekadar sebagai penulis yang menghasilkan buku. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana sastra Sunda dapat bergerak di antara tulisan, suara, panggung, dan kehidupan masyarakat.
Penyair yang Tumbuh dari Tradisi Sunda
Wahyu Wibisana lahir di Cisayong, Tasikmalaya, pada 19 Januari 1935. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Guru Bawah, Wahyu mengajar di sekolah dasar di Singaparna.
Perjalanan berikutnya membawanya ke Bogor, sebelum kemudian menetap dan melanjutkan pendidikan di Bandung.
Di Bandung, Wahyu bekerja di lingkungan Jawatan Kebudayaan sambil meneruskan pendidikan pada bidang Bahasa dan Sastra Sunda di IKIP Bandung.
Pengalaman sebagai guru, pelajar sastra, dan pekerja kebudayaan mempertemukannya dengan berbagai lingkungan yang membentuk perjalanan kepengarangannya.
Wahyu mulai dikenal melalui puisi dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karya-karyanya memperlihatkan perhatian terhadap kehidupan manusia dan nilai yang tumbuh dalam masyarakat.
Bahasa Sunda bukan sekadar alat penyampaian cerita, melainkan medium untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pemikiran.
Karya-karya Wahyu kemudian terbit dalam berbagai bentuk. Beberapa di antaranya ialah Geber-geber Hihid Aing (1976), Mundinglaya di Kusumah, Akar Dangse, Urang Naon di Cinaon, Kembang Katiga, Riring-riring Ciawaking, Kumpulan Carita Pondok Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, Dehem dan Anaking Jimat Awaking.
Ragam karya tersebut memperlihatkan keluasan wilayah kreatif Wahyu. Dia menulis puisi, prosa lirik, cerita pendek, dan karya lain yang berakar pada bahasa serta kebudayaan Sunda.
Kepenyairannya mendapat pengakuan melalui penghargaan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jawa Barat pada 2012 dalam kategori Penulis Buku Berbahasa Sunda.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap konsistensinya berkarya dalam bahasa Sunda. Pada 2013, Wahyu juga menerima Anugerah Rumawat Padjadjaran bidang kebudayaan dari Universitas Padjadjaran atas kiprahnya dalam pengembangan kebudayaan Sunda.
Ketika Puisi Menjadi Kawih
Salah satu sisi menarik dari perjalanan Wahyu Wibisana adalah hubungan antara puisi dan musik. Sejumlah puisinya digubah menjadi lagu oleh Mang Koko, seniman karawitan yang berperan penting dalam perkembangan musik Sunda modern.
Kolaborasi tersebut melahirkan karya-karya yang dikenal melalui pertunjukan dan rekaman musik Sunda. Beberapa di antaranya ialah Samoja, Bungur Jalan ka Cianjur (Dicetak Ulang Dunia Pustaka Jaya tahun 2007), dan Di Langit Bandung, Bulan Keur Mayung.
Buku tersebut mempertemukan puisi Wahyu dengan bentuk musikal yang berkembang melalui gubahan Mang Koko, termasuk dengan menyertakan notasi untuk memperlihatkan hubungan antara teks dan lagu.
Salah satu karya yang memperlihatkan kedalaman penghayatan Wahyu adalah kawih Kembang Tanjung Panineungan, yang diaransemen Mang Koko berdasarkan syair ciptaannya.
Karya ini mengisahkan seorang istri yang tengah mengandung ketika suaminya pergi menjalankan tugas dalam masa pergolakan di Jawa Barat. Sang suami kemudian gugur, meninggalkan keluarga yang menanti kepulangannya.
Kisah tersebut mempertemukan pengalaman sejarah dengan tema kasih sayang, kesetiaan, dan pengorbanan keluarga. Melalui syairnya, Wahyu menghadirkan pengalaman kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Wahyu juga dikenal melalui kemampuannya mengolah tema asmara dalam karya-karya lain. Kawih Malati di Gunung Guntur dan lagu panambih dalam tembang Sunda Bungur Jalan ka Cianjur menjadi contoh bagaimana liriknya menghadirkan suasana perasaan melalui ungkapan bahasa Sunda.
Perubahan puisi menjadi kawih memperluas cara masyarakat menikmati karya sastra. Puisi yang dibaca melalui halaman buku dapat pula didengar melalui suara penyanyi, ditafsirkan oleh musisi, dan dihadirkan kembali dalam pertunjukan.
Hubungan tersebut tidak menghapus kedudukan puisi sebagai karya sastra. Musik justru membuka ruang penafsiran lain terhadap teks yang ditulis Wahyu.
Pilihan kata, suasana, dan irama bahasa memperoleh dimensi baru ketika bertemu dengan melodi serta karakter musikal Mang Koko. Kolaborasi keduanya memperlihatkan hubungan kreatif antara penyair dan komponis.
Karya sastra menjadi bahan pengolahan musikal, sementara musik membantu memperluas jangkauan karya kepada pendengar yang mungkin tidak mengenalnya melalui buku.
Di sinilah kepenyairan Wahyu memiliki arti penting dalam perjalanan sastra Sunda. Karyanya tidak hanya beredar di lingkungan pembaca, tetapi juga hidup melalui tradisi kawih yang dekat dengan masyarakat.
Mengolah Tradisi Menjadi Pertunjukan
Keterlibatan Wahyu Wibisana dalam seni pertunjukan memperlihatkan sisi lain dari kreativitasnya. Bersama Mang Koko, Wahyu mengembangkan gending karesmén, bentuk pertunjukan yang menggabungkan unsur karawitan, cerita, sastra, dan seni peran.
Salah satu karya yang dikenal dari kolaborasi tersebut adalah Si Kabayan jeung Raja Jimbul. Dalam proses penciptaannya, Wahyu menyusun naskah dan mengembangkan cerita, sedangkan Mang Koko mengolah unsur musikal untuk membentuk pertunjukan.
Kajian mengenai gending karesmén menunjukkan bahwa karya semacam ini dibangun melalui hubungan antarmedium.
Cerita tidak disampaikan melalui dialog saja, tetapi juga melalui musik dan gerak panggung. Setiap unsur berkontribusi membentuk pengalaman pertunjukan yang utuh.
Wahyu juga dikenal melalui gagasan upacara karesmén, yakni penyajian upacara adat Sunda dalam bentuk pertunjukan yang memadukan berbagai unsur budaya.
Bentuk penyajian tersebut berkembang dan digunakan dalam acara penyambutan, termasuk dalam rangkaian pernikahan adat Sunda.
Gagasan upacara karesmén memperlihatkan perhatian Wahyu terhadap cara tradisi Sunda dihadirkan melalui seni pertunjukan.
Unsur tata cara adat, musik, bahasa, dan penampilan dirangkai menjadi sebuah penyajian yang dapat dinikmati bersama. Bentuk ini kemudian dikenal dalam berbagai acara budaya dan penyambutan, termasuk rangkaian pernikahan adat Sunda.
Melalui pengolahan tersebut, Wahyu mempertemukan tradisi dengan kreativitas pertunjukan. Unsur budaya yang telah hidup dalam masyarakat memperoleh bentuk penyajian yang memungkinkan nilai dan kekayaannya dikenal melalui pengalaman seni.
Monumen dalam Sastra dan Bahasa Sunda
Selain menulis dan mengembangkan pertunjukan, Wahyu Wibisana ikut merintis majalah berbahasa Sunda Manglé di Bogor pada 1957.
Majalah tersebut menjadi salah satu ruang penerbitan yang mendukung keberlangsungan tulisan berbahasa Sunda. Kehadiran media berbahasa daerah penting bagi perkembangan sastra.
Penulis membutuhkan ruang untuk menerbitkan karya, pembaca membutuhkan akses terhadap bacaan, dan bahasa membutuhkan penggunaan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Media seperti Manglé mempertemukan kebutuhan tersebut dalam satu lingkungan penerbitan.
Wahyu juga terlibat dalam sejumlah organisasi yang berkaitan dengan bahasa dan kebudayaan Sunda, termasuk Paguyuban Pasundan dan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda. Keterlibatan ini berjalan berdampingan dengan aktivitasnya sebagai penulis dan pendidik.
Perhatian Wahyu terhadap perkembangan kesenian juga terlihat dalam hubungannya dengan para sastrawan dan seniman muda.
Wahyu Wibisana meninggal dunia di Bandung pada 13 Oktober 2014, dalam usia 79 tahun. Kepergiannya meninggalkan karya yang tersebar dalam puisi, cerita pendek, naskah pertunjukan, dan tulisan berbahasa Sunda.
Dalam tulisan Cecep Burdansyah berjudul Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana, yang diterbitkan Tribun Jabar pada 14 Oktober 2014, Wahyu digambarkan sebagai sosok berwibawa dan tegas dalam menjaga disiplin berkesenian.
Di balik ketegasannya, Wahyu dikenal memiliki perhatian kepada orang-orang yang berada di lingkungan kesenian. Dia bersedia ngaping, istilah Sunda yang berarti membimbing atau mengasuh, tanpa membedakan latar belakang orang yang datang kepadanya.
Orang-orang yang pernah bekerja bersama Wahyu mengenal sikap disiplin tersebut. Teguran dan kemarahannya dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pekerjaan agar menghasilkan karya yang baik. Bagi Wahyu, berkesenian membutuhkan kesungguhan dan tanggung jawab.
Hubungannya dengan sejumlah seniman, termasuk Godi Suwarna, Hadi AKS, dan Darpan, memperlihatkan perannya dalam lingkungan kesusastraan Sunda.
Kehadiran seorang sastrawan tidak hanya diukur dari karya yang dihasilkan, tetapi juga dari pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Kedudukan Wahyu dalam kehidupan sastra Sunda mendapat pengakuan dari kalangan intelektual dan budayawan. Darpan, sastrawan yang mengenal dekat Wahyu, menyampaikan ungkapan yang menarik mengenai posisi Wahyu dalam kebudayaan Sunda.
Darpan mengutip pandangan Yus Rusyana yang menempatkan Ajip Rosidi sebagai sosok dengan visi dan misi Sunda. Darpan kemudian menyampaikan ungkapan, "Hati orang Sunda ada di Wahyu Wibisana."
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana karya Wahyu mampu menyentuh sisi emosional masyarakat.
Melalui puisi, cerita pendek, drama, dan kawih, dia mengolah pengalaman manusia menjadi ungkapan yang terasa dekat dengan kehidupan orang Sunda.
Pandangan serupa disampaikan Hawe Setiawan, doktor seni lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hawe menyebut Wahyu sebagai monumen dalam sastra dan bahasa Sunda yang sampai saat itu belum tertandingi. Menurut Hawe, melalui karya Wahyu, orang Sunda menemukan daya ungkap yang tepat.
Hawe juga mengaitkan karya Wahyu dengan prinsip Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih: saling mencerdaskan, membimbing, dan menyayangi.
Ketiga nilai tersebut merupakan bagian penting dari pandangan hidup masyarakat Sunda. Dalam karya Wahyu, nilai-nilai itu hadir melalui bahasa dan pengalaman manusia, bukan sekadar sebagai semboyan.
Perjalanan Wahyu memperlihatkan bahwa sastra dapat hadir melalui lebih dari satu medium. Puisi bisa menjadi kawih, cerita dapat berkembang menjadi pertunjukan, dan bahasa daerah dapat memperoleh ruang melalui penerbitan serta pendidikan.
Bagi sastra Sunda, jejak Wahyu tidak hanya terletak pada jumlah karya yang ditulis, tetapi juga pada hubungan yang dibangun antara tulisan, musik, panggung, dan kehidupan masyarakat.
Karya-karyanya memperlihatkan bahwa bahasa Sunda memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, mengolah tradisi, dan menghadirkan pengalaman manusia melalui beragam bentuk seni.
Sastra yang ditulis Wahyu tidak berhenti di halaman buku. Sebagian menemukan kehidupan melalui melodi, sebagian hadir di panggung, dan sebagian lainnya terus dibaca sebagai bagian dari perjalanan kesusastraan Sunda.








