Berwisata tidak selalu harus dimulai dari pantai, pegunungan, atau bangunan bersejarah. Ada pengalaman lain yang bisa membawa wisatawan mengenal sebuah kota lebih dekat, yakni berjalan menyusuri pasar tradisional sambil mencicipi jajanan khas daerah.
Aktivitas ini dikenal dengan istilah snackpacking, perpaduan antara perjalanan wisata dan kegiatan berburu makanan ringan lokal. Pasar tradisional menjadi tujuan utama, bukan sekadar tempat singgah untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Tren ini semakin menarik perhatian generasi muda, terutama Gen Z, yang menyukai pengalaman perjalanan autentik.
Mereka tidak hanya mencari makanan yang menarik untuk dicicipi atau difoto, tetapi juga suasana lokal, interaksi dengan pedagang, dan cerita di balik kuliner yang ditemukan.
Kementerian Pariwisata memperkenalkan sejumlah pasar tradisional di Indonesia yang dapat menjadi tujuan wisata snackpacking. Lima di antaranya berada di Palembang, Jakarta, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Jayapura.
Setiap pasar memiliki karakter berbeda. Ada yang tumbuh di tengah kehidupan kota tepian sungai, berkembang menjadi ruang kreatif anak muda, hingga mempertahankan tradisi perdagangan yang berlangsung di atas perahu.
Pasar 16 Ilir, Menikmati Jajanan di Kota Palembang
Palembang memiliki hubungan panjang dengan Sungai Musi. Kehidupan perdagangan, transportasi, dan aktivitas masyarakat sejak dahulu berkembang mengikuti jalur sungai tersebut.
Suasana kota ini dapat dirasakan ketika mengunjungi Pasar 16 Ilir. Pasar yang berada di kawasan pusat perdagangan Palembang ini menawarkan pengalaman menjelajahi kehidupan masyarakat setempat.
Sejak pagi, aktivitas jual beli berlangsung di antara deretan kios yang menjual kebutuhan sehari-hari, pakaian, kain, aksesori, hingga makanan tradisional.
Bagi pencinta kuliner, Pasar 16 Ilir menjadi tempat untuk mengenal beragam makanan khas Palembang. Pempek kapal selam mini menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dicoba.

Olahan ikan dan tepung sagu tersebut disajikan bersama kuah cuko bercita rasa asam, manis, dan pedas. Pilihan lainnya adalah tekwan dan model, dua hidangan berkuah yang sama-sama menggunakan olahan ikan sebagai bahan utama.
Wisatawan juga dapat mencari kue maksuba dan lapis kojo yang dikenal sebagai bagian dari tradisi kuliner Palembang. Kerupuk dan kemplang menjadi pilihan lain untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.
Perjalanan dapat dilanjutkan menuju kawasan Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Dari kawasan ini, wisatawan bisa melihat sisi lain Palembang yang tumbuh bersama aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat tepian sungai.
Pasar Santa, Menemukan Kreativitas Kuliner Jakarta
Jakarta memiliki wajah pasar yang berbeda. Pasar Santa di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dikenal sebagai ruang pertemuan antara aktivitas perdagangan, kuliner, dan komunitas kreatif.
Pasar ini menawarkan suasana yang lebih dekat dengan gaya hidup perkotaan. Lorong-lorongnya mempertemukan pengunjung dengan kios makanan, minuman, barang koleksi, serta produk komunitas lokal.
Kue cubit dengan berbagai pilihan topping menjadi salah satu jajanan yang dapat dicari. Pengunjung juga bisa menikmati kopi dari kedai kecil atau mencoba makanan dengan perpaduan cita rasa lokal dan pengolahan modern.

Keunikan Pasar Santa tidak berhenti pada urusan makanan. Beberapa sudutnya juga menawarkan piringan hitam, buku, majalah lama, aksesori, dan berbagai produk kreatif.
Bagi generasi muda, suasana tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari pusat perbelanjaan modern. Berburu makanan dapat dilanjutkan dengan menjelajahi koleksi barang yang memiliki cerita tersendiri.
Pasar Santa memperlihatkan bagaimana pasar tradisional dapat berkembang mengikuti perubahan selera masyarakat kota.
Ruang perdagangan tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara kreativitas komunitas memberikan warna baru bagi aktivitas di dalamnya.
Lok Baintan, Menikmati Kuliner di Atas Sungai
Perjalanan menuju Banjarmasin menawarkan pengalaman snackpacking yang berbeda. Di Kalimantan Selatan, wisatawan dapat mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar.
Aktivitas perdagangan di pasar ini berlangsung di atas Sungai Martapura. Para pedagang menggunakan jukung atau perahu tradisional untuk membawa hasil kebun, buah-buahan, sayuran, makanan, dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Suasana pasar mulai ramai sejak pagi. Perahu-perahu pedagang saling mendekat untuk menawarkan barang dagangan dan melakukan transaksi.
Pemandangan tersebut memperlihatkan hubungan erat masyarakat Banjar dengan sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Wisatawan dapat menemukan berbagai kuliner khas Kalimantan Selatan, seperti kue bingka yang memiliki tekstur lembut dan rasa manis.
Ada pula lontong orari dengan kuah khas Banjar serta aneka kue tradisional, termasuk apam Barabai.
Pengalaman memilih jajanan dari atas perahu menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga menyaksikan cara masyarakat melakukan perdagangan di lingkungan sungai.
Waktu terbaik untuk datang adalah pagi hari ketika aktivitas pasar masih berlangsung. Pasar terapung ini umumnya mulai ramai sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WITA.
Lok Baintan memperlihatkan bahwa pasar bukan sekadar tempat pertukaran barang. Tradisi perdagangan, hubungan antarpedagang, dan pemanfaatan sungai menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar.
Pasar Ngasem, Menjelajahi Rasa Yogyakarta
Yogyakarta menawarkan perjalanan kuliner yang dapat dipadukan dengan wisata sejarah. Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah Pasar Ngasem di kawasan Keraton Yogyakarta.
Pasar ini memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat setempat. Dahulu, Pasar Ngasem dikenal sebagai pasar burung.
Seiring perkembangan kota dan perubahan fungsi kawasan, pasar tersebut semakin dikenal sebagai salah satu tujuan kuliner tradisional. Wisatawan dapat menemukan berbagai jajanan pasar, makanan khas, dan minuman tradisional.
Gudeg menjadi salah satu hidangan yang patut dicoba. Olahan nangka muda dengan santan dan bumbu tradisional tersebut merupakan bagian penting dari identitas kuliner Yogyakarta.
Pilihan lainnya adalah aneka jajanan pasar serta wedang, minuman tradisional yang dapat dinikmati setelah berjalan menyusuri pasar.
Lokasi Pasar Ngasem juga menjadi keunggulan tersendiri. Tidak jauh dari pasar terdapat Taman Sari, kompleks bersejarah yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan Keraton Yogyakarta.

Wisatawan dapat mengawali perjalanan dengan mencicipi kuliner lokal, kemudian melanjutkan penjelajahan ke kawasan Taman Sari untuk mengenal peninggalan sejarah dan arsitektur Kesultanan Yogyakarta.
Perpaduan pengalaman tersebut membuat perjalanan kuliner terasa lebih lengkap. Makanan menjadi pintu masuk untuk mengenal kehidupan masyarakat, sementara kawasan bersejarah memberikan pemahaman tentang perjalanan kota.
Pasar Hamadi, Mengenal Cita Rasa Papua
Di Pasar Terapung Lok Baintanujung timur Indonesia, Pasar Hamadi menjadi salah satu tempat untuk mengenal kehidupan masyarakat Jayapura, Papua.
Pasar ini dikenal sebagai pusat perdagangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Sejak pagi, pedagang mulai menata hasil laut, sayuran, buah-buahan, rempah, serta berbagai kebutuhan rumah tangga.
Suasana pasar memperlihatkan kekayaan bahan pangan lokal Papua. Hasil laut dan aneka olahan sagu menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang dapat ditemukan di kawasan ini.
Wisatawan yang ingin mencoba jajanan khas Papua dapat mencari kue sagu bakar, papeda mini, dan kue bagea. Ketiganya memperlihatkan penggunaan bahan pangan lokal yang memiliki karakter rasa dan tekstur berbeda.

Sagu memiliki kedudukan penting dalam tradisi pangan masyarakat Papua. Bahan tersebut diolah menjadi berbagai makanan, mulai dari hidangan utama hingga camilan.
Kue sagu bakar menawarkan tekstur renyah dengan aroma khas, sedangkan bagea dikenal memiliki tekstur lebih padat.
Menjelajahi Pasar Hamadi juga memberikan kesempatan untuk mengenal produk kerajinan lokal. Noken, tas tradisional Papua yang dibuat melalui teknik merajut atau menganyam, menjadi salah satu produk budaya yang menarik perhatian.
Pasar ini memperlihatkan bahwa perjalanan kuliner dapat berkembang menjadi pengalaman mengenal kehidupan masyarakat pesisir, kekayaan pangan, dan keterampilan tradisional Papua.
Pasar Tradisional sebagai Destinasi Wisata Budaya
Lima pasar tersebut memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memperkenalkan kekayaan kulinernya
Pempek dan kue tradisional Palembang, jajanan kreatif Jakarta, makanan khas Banjar, kuliner Yogyakarta, hingga olahan sagu Papua menghadirkan pengalaman yang tidak sama.
Tren snackpacking juga membuka peluang bagi pedagang kecil dan pelaku usaha kuliner lokal.
Ketika pasar tradisional semakin dikenal sebagai tujuan wisata, produk makanan rumahan dan jajanan daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk diperkenalkan kepada pengunjung.
Interaksi langsung dengan pedagang menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Wisatawan dapat mengetahui bahan yang digunakan, cara pengolahan, asal-usul makanan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menikmati kuliner tertentu.
Bagi generasi muda, pengalaman semacam ini juga dapat menjadi cara baru mengenal kekayaan budaya Indonesia. Pasar tradisional menawarkan suasana yang tidak selalu ditemukan di pusat perbelanjaan modern atau restoran.
Perjalanan snackpacking pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak makanan yang berhasil dicicipi.
Ada kehidupan masyarakat, tradisi perdagangan, pengetahuan pangan, dan identitas daerah yang dapat ditemukan di balik setiap jajanan.
Dari Pasar 16 Ilir hingga Pasar Hamadi, perjalanan menjelajahi pasar tradisional memberikan cara sederhana untuk mengenal Indonesia: melalui rasa, perjumpaan, dan cerita yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.








