Pariwisata

Gema Wisata Indonesia dari Konser Dunia

Dari Coldplay hingga Kanye West, konser musisi internasional membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan wisata musik dan menggerakkan ekonomi pariwisata.

Oleh Ridwan

Konser musik internasional di Jakarta sebagai daya tarik wisata musik Indonesia.
Konser internasional membuka peluang bagi Jakarta untuk menarik pengunjung lintas negara dan menggerakkan aktivitas ekonomi pariwisata. Foto: Dok.Kemenpar
Diterbitkan

Konser musik internasional dapat membawa lebih banyak orang ke sebuah kota daripada sekadar penonton yang memenuhi arena pertunjukan. Penggemar dari luar negeri membutuhkan penerbangan, hotel, transportasi lokal, makanan, dan berbagai layanan lain selama berada di destinasi.

Ketika kunjungan berlangsung beberapa hari, aktivitas tersebut membuka peluang ekonomi bagi sektor pariwisata dan usaha setempat.

Jakarta mendapatkan momentum itu melalui konser Ye alias Kanye West di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026. Penampilan musisi asal Amerika Serikat tersebut menarik perhatian penggemar dari berbagai negara. 

Kementerian Pariwisata menyoroti kedatangan penonton asing sebagai salah satu indikator meningkatnya daya tarik Indonesia di panggung musik internasional.

Direktorat Jenderal Imigrasi mencatat sekitar 25.000 kedatangan atau perlintasan warga negara asing pada 21–24 Oktober 2026, bertepatan dengan periode menjelang hingga berlangsungnya konser. 

Angka ini menunjukkan peningkatan mobilitas internasional, meskipun tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kedatangan tersebut merupakan penonton konser. 

Data itu tetap memberi gambaran tentang besarnya aktivitas perjalanan yang menyertai sebuah acara berskala internasional. Momentum Ye mengingatkan Indonesia pada konser Coldplay di Jakarta pada November 2023. 

Kedua peristiwa tersebut memperlihatkan peluang yang sama: musik dapat menjadi alasan orang bepergian, sementara kehadiran pengunjung membuka ruang bagi berbagai sektor ekonomi untuk ikut bergerak.

Dari Panggung ke Perputaran Ekonomi

Konser musik internasional tidak hanya menghadirkan musisi ternama ke sebuah kota. Kehadiran ribuan penonton juga membuka aktivitas ekonomi di luar arena pertunjukan, mulai dari transportasi dan penginapan hingga kuliner serta pusat perbelanjaan. 

Bagi kota tuan rumah, konser dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata yang mempertemukan hiburan, perjalanan, dan belanja dalam satu kesempatan.

Potensi tersebut terlihat dari konser Ye Live in Jakarta 2026 yang berlangsung pada 24 Oktober 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut konser musisi yang dikenal sebagai Kanye West itu memberikan dampak ekonomi sekitar Rp450 miliar bagi Jakarta.

Jika digabungkan dengan Jakarta Running Festival 2026 yang berlangsung pada 24–25 Oktober, estimasi dampak ekonomi kedua acara tersebut mencapai Rp625 miliar. Rinciannya, sekitar Rp175 miliar berasal dari Jakarta Running Festival.

Menurut Pramono, penjualan tiket konser Ye mencapai sekitar Rp328 miliar. Aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan acara itu juga mencakup kegiatan sebelum dan sesudah konser, termasuk pengeluaran pengunjung di hotel dan pusat perbelanjaan. 

Pada Jakarta Running Festival, keterlibatan 49 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta 130 merek dalam race expo turut menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang ditimbulkan oleh acara tersebut.

Angka Rp625 miliar itu merupakan estimasi dampak ekonomi yang disampaikan pemerintah daerah, bukan keuntungan bersih penyelenggara maupun jumlah uang yang seluruhnya diterima sektor pariwisata. 

Angka tersebut memperlihatkan skala aktivitas yang dapat muncul ketika acara besar menarik pengunjung dan mendorong belanja di berbagai sektor.

Bagi pariwisata, peluangnya tidak berhenti pada jumlah tiket yang terjual atau ramainya arena konser. Pengaruh yang lebih luas dapat dilihat dari keputusan penonton untuk menginap, mencoba kuliner setempat, berbelanja, atau mengunjungi destinasi lain sebelum pulang. 

Semakin banyak pengunjung yang memperpanjang masa tinggal dan menggunakan jasa usaha lokal, semakin besar pula peluang manfaat acara menjangkau sektor ekonomi di luar penyelenggaraan konser.

Karena itu, tantangan bagi kota tuan rumah bukan hanya mendatangkan musisi dunia, melainkan menghubungkan pertunjukan dengan pengalaman wisata yang lebih luas. 

Konser dapat menjadi pintu masuk, tetapi manfaatnya bagi pariwisata bergantung pada kemudahan transportasi, pilihan akomodasi, akses ke destinasi, serta kesiapan pelaku usaha lokal menyambut pengunjung.

Pelajaran dari Coldplay

Pengalaman Coldplay memberikan gambaran mengenai besarnya potensi ekonomi konser internasional. Grup musik asal Inggris itu tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 15 November 2023. 

Berdasarkan kajian LPEM FEB UI yang dipublikasikan pada 2024 dan diberitakan kembali oleh Datasatu pada Juni 2026, konser tersebut diperkirakan menghasilkan dampak terhadap aktivitas ekonomi sekitar Rp843,29 miliar.

Konser Coldplay di Jakarta pada November 2023 menunjukkan bagaimana musik dapat menarik pengunjung lintas negara sekaligus membuka peluang bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Foto: Ist

Perkiraan itu tidak hanya memperhitungkan penjualan tiket. Model perhitungannya juga memasukkan asumsi pengeluaran untuk merchandise, akomodasi, transportasi udara, serta makanan dan minuman. 

Konser pun dipandang sebagai aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai sektor, bukan semata-mata industri hiburan.

Kajian LPEM FEB UI yang diterbitkan pada Maret 2026 memperluas pembahasan tersebut dengan membandingkan konser Coldplay di Indonesia dan Singapura serta konser Taylor Swift di Singapura. 

Penelitian ini menggunakan kerangka input-output untuk memperkirakan dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan dari pengeluaran terkait konser.

Dalam kajian perbandingan itu, konser Coldplay satu hari di Indonesia diperkirakan menghasilkan dampak terhadap total output ekonomi sekitar US$53,34 juta. Nilainya sedikit lebih tinggi daripada estimasi untuk satu hari konser Coldplay di Singapura, yakni sekitar US$51,50 juta. 

Namun, ketika dihitung per penonton, dampak output ekonomi di Singapura mencapai sekitar US$1.030, sedangkan Indonesia sekitar US$680.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa konser Taylor Swift di Singapura menghasilkan estimasi output ekonomi per penonton yang lebih tinggi. 

Temuan ini menunjukkan bahwa besarnya jumlah penonton bukan satu-satunya faktor penentu manfaat ekonomi sebuah acara. Komposisi pengunjung, keterhubungan dengan sektor pariwisata, mobilitas internasional, infrastruktur, dan koordinasi kebijakan turut berpengaruh.

Angka Rp843,29 miliar dari kajian yang diberitakan Datasatu dan angka dalam penelitian perbandingan 2026 tidak sebaiknya diperlakukan sebagai ukuran yang identik. Keduanya berasal dari kajian dan penyajian estimasi yang berbeda. 

Perbandingan yang lebih bermakna justru terletak pada pesan besarnya: konser internasional memiliki dampak ekonomi lintas sektor, tetapi cara dampak itu terbentuk perlu dipahami secara cermat.

Membangun Ekosistem Wisata Musik

Bagi Indonesia, peluang berikutnya adalah mengubah keberhasilan mendatangkan musisi dunia menjadi bagian dari strategi pariwisata yang berkelanjutan. 

Konser Ye memperlihatkan daya tarik Jakarta bagi penggemar internasional, sedangkan pengalaman Coldplay memberi bahan untuk memahami bagaimana pengeluaran pengunjung dapat menyebar ke berbagai sektor.

Upaya itu membutuhkan lebih dari arena pertunjukan berkapasitas besar. Akses penerbangan, transportasi dari bandara ke pusat kota, ketersediaan akomodasi, keamanan, kemudahan informasi, dan pengalaman pengunjung ikut menentukan kualitas perjalanan. 

Koordinasi antara pemerintah, promotor, pengelola destinasi, pelaku usaha, serta penyedia transportasi menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.

Kalender acara internasional yang terencana juga dapat memberi manfaat lebih panjang. Wisatawan yang datang untuk konser berpeluang mengenal kuliner, ruang budaya, museum, kawasan bersejarah, dan destinasi lain di kota penyelenggara. 

Peluang ini tidak terjadi secara otomatis. Informasi wisata, paket perjalanan, konektivitas, dan promosi perlu dirancang agar pengunjung memiliki alasan untuk memperpanjang masa tinggal.

Di sisi lain, keberhasilan wisata musik tidak cukup diukur dari jumlah tiket terjual atau besarnya estimasi dampak ekonomi. Lama tinggal, pengeluaran wisatawan, tingkat hunian hotel, keterlibatan usaha lokal, serta kepuasan pengunjung dapat membantu menilai manfaat yang lebih nyata.

Pengukuran yang transparan juga memungkinkan pemerintah dan pelaku industri menentukan kebijakan berdasarkan hasil, bukan hanya antusiasme terhadap sebuah acara.

Konser dunia membuka pintu bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi acara internasional. 

Peluang itu akan lebih berarti jika penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, melainkan juga memperoleh pengalaman perjalanan yang membuat mereka ingin mengenal Indonesia lebih jauh.

Dari Coldplay hingga Ye, panggung musik memperlihatkan kemungkinan baru bagi pariwisata Indonesia. 

Tantangan selanjutnya adalah memastikan gema dari panggung tersebut tidak berhenti setelah lampu pertunjukan padam, tetapi berlanjut menjadi kunjungan, aktivitas ekonomi, dan manfaat yang dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →
Mencari Raja Ampat di Luar Lautnya

Mencari Raja Ampat di Luar Lautnya

Raja Ampat, Papua Barat menawarkan pengalaman wisata dari terumbu karang dan pulau karst hingga hutan tropis, burung cenderawasih, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →