Bagi wisatawan mancanegara, perjalanan ke Jawa Barat kini bisa dimulai dengan pengalaman menaiki Kereta Cepat Whoosh. Dari Jakarta, mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju Bandung dan berbagai destinasi di sekitarnya dalam waktu yang lebih singkat, sehingga perjalanan dengan Whoosh perlahan menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Data Badan Pusat Statistik Jawa Barat menunjukkan geliat tersebut. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 127.885 kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Barat tercatat mendapat sokongan dari layanan Whoosh. Pada Agustus 2026 saja, jumlahnya mencapai 22.189 kunjungan, meningkat 13,58 persen dibandingkan Juli dan tumbuh 23,65 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Angka tersebut memperlihatkan lebih dari sekadar pertumbuhan penggunaan kereta cepat. Whoosh mulai ikut mengubah cara wisatawan menyusun perjalanan, terutama ketika Jakarta dan berbagai destinasi di Jawa Barat dapat ditempatkan dalam satu rangkaian kunjungan.
Dari Stasiun Menuju Destinasi
Sebagian besar wisatawan mancanegara yang menggunakan Whoosh pada Agustus 2026 turun di Stasiun Tegalluar. Porsinya mencapai 87,85 persen, disusul Stasiun Padalarang sebesar 10,65 persen dan Stasiun Karawang sebesar 1,50 persen.
Pilihan stasiun tersebut bukan semata-mata persoalan transportasi. Dari titik-titik itu, perjalanan wisatawan dapat berlanjut menuju Bandung dan berbagai destinasi di kawasan sekitarnya. Stasiun Tegalluar menjadi salah satu pintu dari sisi timur Bandung, sementara Padalarang membuka akses menuju Bandung Barat dan kawasan lain di sekitar Bandung.
Dengan demikian, Whoosh menciptakan koridor perjalanan baru: Jakarta sebagai gerbang metropolitan, kemudian Jawa Barat sebagai ruang eksplorasi yang dapat dijangkau dengan waktu tempuh lebih singkat.
Geliat tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya mobilitas wisatawan domestik. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara di Jawa Barat mencapai 149,69 juta perjalanan, tumbuh 5,78 persen secara tahunan sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak 2021.
Kota Bogor menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi dengan porsi 16,05 persen, disusul Kota Bandung dengan 10,95 persen dan kawasan megapolitan di sekitarnya.
Di tengah arus perjalanan tersebut, wisatawan mancanegara membawa cerita yang berbeda. Mereka datang dengan waktu liburan yang terbatas dan membutuhkan konektivitas yang memungkinkan beberapa tujuan dirangkai dalam satu perjalanan.
Whoosh kemudian mengisi ruang tersebut.
Wisatawan Asing Jadikan Whoosh Bagian Perjalanan
Kereta Cepat Whoosh semakin diminati wisatawan mancanegara. Sejak beroperasi secara komersial pada akhir 2023 hingga Agustus 2026, sebanyak 944.087 penumpang warga negara asing telah menggunakan layanan tersebut.
Wisatawan Malaysia menjadi kelompok terbesar. Secara kumulatif, 403.626 penumpang asal Malaysia telah menggunakan Whoosh hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut mencapai 42,8 persen dari seluruh penumpang warga negara asing dalam periode yang sama.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KCIC mencatat 105.095 penumpang asal Malaysia menggunakan Whoosh. Angka tersebut mencapai sekitar 40 persen dari total 262.369 penumpang warga negara asing yang menggunakan Whoosh pada periode tersebut.
Minat wisatawan Malaysia juga terlihat dari penjualan tiket pada awal September 2026. Sebanyak 2.300 tiket dibeli wisatawan Malaysia, dengan rata-rata mencapai 1.150 tiket per hari.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan tingginya minat wisatawan Malaysia menunjukkan bahwa Whoosh telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan mereka selama berada di Indonesia. Whoosh juga memudahkan wisatawan menggabungkan agenda wisata di Jakarta, Bandung, dan berbagai destinasi di Jawa Barat dalam satu perjalanan.
Pernyataan tersebut memberi konteks yang lebih luas terhadap angka-angka penumpang. Whoosh tidak hanya digunakan untuk berpindah dari Jakarta menuju Bandung, tetapi mulai masuk ke dalam cara wisatawan merancang pengalaman selama berada di Indonesia.
Perjalanan dengan kereta cepat bahkan dapat menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dicoba.

Dari Jakarta Lanjut Bandung
Bagi sebagian wisatawan Malaysia, perjalanan ke Indonesia dapat dirangkai dengan pola yang sederhana: menikmati Jakarta, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Whoosh menuju Bandung dan menjelajahi destinasi di Jawa Barat.
Jakarta menawarkan pengalaman kota dengan pusat kuliner, belanja, dan kehidupan urban. Bandung menghadirkan pengalaman berbeda melalui kuliner, belanja, udara pegunungan, serta destinasi ikonik seperti Kawah Putih, Gedung Sate, Jalan Braga, dan kawasan Lembang.
Bagi wisatawan Malaysia, Bandung juga menawarkan suasana yang berbeda dari Jakarta, dengan pilihan wisata alam, kuliner, dan ruang kota yang dapat dirangkai dalam satu perjalanan.
Whoosh membuat dua pengalaman tersebut lebih mudah dirangkai.
Bagi wisatawan dengan waktu liburan terbatas, perjalanan yang lebih singkat berarti lebih banyak ruang untuk menikmati destinasi. Waktu yang sebelumnya habis dalam perjalanan dapat dialihkan untuk makan, berbelanja, mengunjungi tempat wisata, atau sekadar menikmati suasana kota.
Di titik ini, kecepatan berubah menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Wisatawan bukan hanya tiba lebih cepat di tujuan. Mereka mendapatkan kemungkinan untuk menyusun perjalanan yang sebelumnya terasa terlalu jauh atau membutuhkan waktu lebih panjang.
Jakarta dan Bandung pun tidak lagi harus diperlakukan sebagai dua tujuan yang berdiri sendiri. Keduanya dapat menjadi bagian dari satu rangkaian perjalanan.
Naik Whoosh Menjadi Pengalaman Wisata
Perubahan tersebut menarik karena pariwisata tidak hanya bergantung pada daya tarik sebuah destinasi. Cara wisatawan mencapai destinasi juga ikut menentukan apakah sebuah perjalanan terasa mudah, mungkin, atau justru terlalu merepotkan.
Whoosh bekerja pada bagian itu.
Bagi wisatawan asing yang datang ke Indonesia dengan waktu terbatas, perjalanan menggunakan kereta cepat dapat menjadi pengalaman tersendiri. Kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam, pengalaman menaiki kereta cepat pertama di Asia Tenggara, serta perjalanan langsung menuju kawasan Bandung memberi dimensi lain dalam perjalanan.
Karena itu, Whoosh tidak berhenti sebagai sarana transportasi.
Kereta cepat mulai menjadi bagian dari itinerary, sama seperti pilihan tempat makan, hotel, atau destinasi yang akan dikunjungi. Perjalanan dari satu kota ke kota lain bukan lagi sekadar jeda sebelum tiba di tempat tujuan, tetapi dapat menjadi bagian dari cerita perjalanan itu sendiri.
Pergeseran kecil semacam ini penting dalam melihat hubungan antara transportasi dan pariwisata. Ketika akses menjadi lebih mudah, sebuah wilayah tidak hanya semakin dekat secara geografis, tetapi juga semakin mungkin dimasukkan ke dalam rencana perjalanan.
Dari TikTok hingga Meja Pameran
Perubahan pola perjalanan tersebut juga berlangsung di ruang digital.
Konten perjalanan di TikTok dan berbagai platform media sosial ikut memperkenalkan pengalaman menggunakan Whoosh kepada calon wisatawan Malaysia. Bagi sebagian pelancong, kereta cepat bukan hanya sarana mencapai Bandung, tetapi pengalaman yang ingin dicoba ketika berada di Indonesia.
KCIC membaca perubahan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat pasar wisatawan Malaysia. Perusahaan menggandeng biro perjalanan lintas negara dan melakukan promosi melalui berbagai ajang pariwisata, termasuk MATTA Fair di Kuala Lumpur dan sales mission di Penang.
Sasarannya beragam, mulai dari solo traveler dan keluarga hingga kelompok wisata kecil.
Promosi tersebut tidak hanya menawarkan tiket kereta, tetapi mencoba memperkenalkan sebuah rangkaian pengalaman: datang ke Jakarta, menikmati kehidupan kota, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan Whoosh dan menjelajahi destinasi di Jawa Barat.
Di sini transportasi, teknologi digital, promosi, dan destinasi bertemu dalam satu perjalanan.
Sebuah destinasi ditemukan melalui video pendek. Pengalaman menggunakan kereta cepat menjadi bahan percakapan di media sosial. Perjalanan kemudian dirancang melalui agen atau platform wisata. Setelah tiba di Indonesia, Whoosh membawa wisatawan dari satu kota menuju pengalaman berikutnya.
Kecepatan Mengubah Peta Perjalanan
Fenomena Whoosh menunjukkan bahwa pembangunan transportasi dapat membawa konsekuensi yang lebih luas bagi pariwisata. Infrastruktur tidak hanya memindahkan manusia dari satu titik ke titik lain, tetapi juga dapat mengubah kemungkinan sebuah perjalanan.
Jawa Barat memiliki banyak ruang untuk dieksplorasi. Bandung menawarkan kehidupan kota dan kuliner, kawasan pegunungan menghadirkan lanskap berbeda, sementara berbagai daerah lain memiliki daya tarik alam, budaya, dan pengalaman lokal masing-masing.
Yang berubah adalah cara wisatawan mencapai semua kemungkinan tersebut.
Bagi wisatawan asing, terutama mereka yang datang dengan durasi liburan terbatas, waktu menjadi bagian penting dari keputusan perjalanan. Ketika waktu tempuh dapat dipangkas, lebih banyak destinasi dapat dimasukkan ke dalam satu itinerary.
Karena itu, pertumbuhan penggunaan Whoosh oleh wisatawan asing tidak hanya dapat dibaca sebagai cerita tentang transportasi. Angka tersebut juga memperlihatkan bagaimana aksesibilitas perlahan ikut membentuk peta perjalanan wisata di Jawa Barat.
Bikin Jarak Terasa Lebih Dekat
Pada akhirnya, cerita tentang Whoosh bukan hanya tentang kecepatan menghubungkan Jakarta dan Bandung, tetapi tentang apa yang terjadi ketika perjalanan menjadi lebih mudah dirangkai.
Dari stasiun, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi, mencicipi kuliner, berbelanja, menginap, atau menjelajahi ruang-ruang Jawa Barat yang sebelumnya terasa lebih jauh.
Whoosh membawa penumpang sampai ke stasiun, tetapi perjalanan wisata justru dimulai lagi setelah pintu kereta terbuka. Kecepatan kemudian menemukan maknanya ketika semakin banyak pengalaman Jawa Barat masuk ke dalam jangkauan perjalanan wisatawan.
Di situlah “Wisata Jabar Makin Dekat” terasa: bukan hanya karena waktu tempuh yang lebih singkat, melainkan karena semakin banyak desitnasi wisata di Jawa Barat yang bisa dijangkau dalam satu perjalanan.






