Profil

Dinasti Sunarya Hidupkan Panggung Wayang Golek Sunda

Keluarga keturunan Abah Sunarya meneruskan tradisi pedalangan Padepokan Pusaka Giri Harja melalui pewarisan keterampilan, pembaruan pertunjukan, dan perluasan jangkauan penonton.

Oleh Ridwan

keluarga Sunarya, Giri Harja, wayang golek Sunda, Asep Sunandar Sunarya, Abah Sunarya, Jelekong, pedalangan, seni tradisi, budaya Sunda
Keluarga Sunarya melahirkan sejumlah dalang yang meneruskan tradisi pedalangan Giri Harja melalui kelompok masing-masing. Foto: Tangkapan Layar YT Giriharja Dua Putu
Diterbitkan

Di Jelekong, Kabupaten Bandung, wayang golek bukan hanya seni pertunjukan yang hadir ketika sebuah panggung didirikan. Kesenian ini tumbuh bersama keluarga-keluarga yang menekuni pedalangan, membuat wayang, memainkan gamelan, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Salah satu nama yang menonjol dalam perjalanan tersebut adalah keluarga Sunarya melalui tradisi Giri Harja.

Nama Giri Harja lekat dengan Abah Sunarya, dalang yang mengembangkan lingkungan pedalangan sekaligus membuka ruang belajar bagi orang-orang yang ingin menekuni wayang golek purwa. 

Dari lingkungan ini lahir sejumlah dalang yang kemudian dikenal melalui kelompok masing-masing. Di antara mereka, Asep Sunandar Sunarya menjadi salah satu tokoh yang membawa nama Giri Harja semakin dikenal luas.

Keberlanjutan tradisi itu kemudian tidak berhenti pada ketenaran seorang dalang. Setelah para tokoh pendahulu tiada, pekerjaan berikutnya adalah meneruskan keterampilan, menjaga kualitas pertunjukan, dan menemukan cara agar wayang golek tetap dapat menjangkau penonton yang berubah.

Dari Pusaka Giri Harja ke Generasi Dalang

Jejak keluarga Sunarya dalam pedalangan berpusat di Jelekong, wilayah yang dikenal sebagai salah satu lingkungan seni di Kabupaten Bandung.

Abah Sunarya mendirikan Padepokan Pusaka Giri Harja pada 1957 sebagai tempat belajar pedalangan wayang golek purwa. Anak-anaknya tumbuh di tengah kegiatan tersebut, menyaksikan proses persiapan pertunjukan dan berinteraksi dengan dunia wayang sejak usia muda.

Penelitian mengenai pewarisan keterampilan mendalang dalam keluarga Abah Sunarya memperlihatkan bahwa lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan seorang dalang. 

Pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui pengajaran formal, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari, pengamatan terhadap pertunjukan, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan pedalangan.

Sejumlah putra Abah Sunarya kemudian dikenal melalui kelompok masing-masing. Ade Kosasih Sunarya dikaitkan dengan Giri Harja 2, Asep Sunandar Sunarya dengan Giri Harja 3, Ugan Sunagar Sunarya dengan Giri Harja 4, dan Iden Subasrana Sunarya dengan Giri Harja 5. 

Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa tradisi pedalangan keluarga ini berkembang melalui beberapa jalur, bukan hanya satu kelompok. Giri Harja pun perlu dipahami sebagai tradisi pedalangan yang memiliki perjalanan dan penerus beragam. 

Pusaka Giri Harja merupakan nama padepokan yang dirintis Abah Sunarya, sedangkan sebutan Giri Harja 2, Giri Harja 3, dan kelompok lainnya merujuk pada jalur kelompok pedalangan yang berkembang dalam lingkungan keluarga tersebut.

Pewarisan ini juga tidak berlangsung hanya melalui hubungan darah. Padepokan menjadi tempat orang lain belajar, berlatih, dan mendalami keterampilan.

Keberlanjutan wayang golek pun bergantung pada kemampuan keluarga menjaga pengetahuan sekaligus memberi ruang bagi orang-orang yang ingin mempelajarinya.

Tokoh Cepot di atas panggung menjadi bagian dari perjalanan Giriharja dalam menjaga eksistensi wayang golek Sunda lintas generasi. Foto: Ist

Asep Sunandar Sunarya dan Keberanian Berkreasi

Di antara generasi keluarga Sunarya, Asep Sunandar Sunarya dikenal luas melalui Giri Harja 3. Ia meneruskan tradisi yang dibangun ayahnya, tetapi tidak berhenti pada pengulangan bentuk pertunjukan yang telah ada.

Kreativitas menjadi bagian penting dari kiprahnya sebagai dalang. Dalam wayang golek, seorang dalang bukan hanya menggerakkan boneka kayu dan menyampaikan cerita. 

Sang Dalang mengatur jalannya lakon, membawakan karakter, mengolah dialog, serta membangun hubungan dengan penonton. Keterampilan tersebut menuntut penguasaan cerita sekaligus kemampuan membaca suasana pertunjukan.

Asep dikenal karena kepiawaiannya menghidupkan karakter wayang, termasuk tokoh-tokoh punakawan. Kemampuannya mengolah humor dan menghadirkan permainan yang ekspresif membuat pertunjukannya memiliki daya tarik tersendiri. 

Asep menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap berakar pada pakem pedalangan sambil memberi ruang bagi kreativitas seorang dalang.

Kesaksian Ugan Rahayu, yang dikenal sebagai Aki Ugan dalam podcast Rana Channel memberikan gambaran tentang kerja kolektif di balik perjalanan Asep. 

Dalam wawancara itu, Ugan menceritakan pengalamannya terlibat dalam kelompok Asep sebagai penabuh kendang setelah sebelumnya menjadi pemain gong dalam kelompok sandiwara. 

Ia juga mengenang perjalanan pertunjukan dan orang-orang yang ikut berperan dalam perkembangan karier Asep. Kesaksian tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan seorang dalang tidak dibangun sendirian. 

Pertunjukan wayang golek melibatkan pemain gamelan, pendukung panggung, pembuat wayang, dan berbagai orang yang bekerja bersama. Keahlian mereka turut menentukan bagaimana sebuah pertunjukan berlangsung dan diterima penonton.

Asep meninggal pada 2014, tetapi nama dan pengaruhnya tetap hadir dalam perjalanan Giri Harja 3. Putranya, Dadan Sunandar Sunarya, melanjutkan kiprah pedalangan melalui kelompok tersebut. 

Generasi berikutnya menghadapi tantangan yang berbeda: mempertahankan keterampilan yang diwariskan sekaligus memastikan pertunjukan tetap menemukan penontonnya.

Keterampilan Diteruskan, Bentuk Diperbarui

Pewarisan tradisi wayang golek tidak cukup dilakukan dengan menghafal cerita atau mengikuti cara mendalang generasi sebelumnya. Keterampilan harus terus diasah melalui latihan dan pengalaman di panggung. 

Di lingkungan pedalangan, proses belajar berlangsung berulang, dari menguasai gerak wayang hingga membangun komunikasi dengan penonton.

Dalam perbincangan mengenai pedalangan dan pembaruan pertunjukan di podcast SL Media, Ki Bhatara Sena Sunandar Sunarya menekankan pentingnya latihan sebelum tampil. Ia menggambarkan pertunjukan sebagai bagian akhir dari proses latihan. 

Pandangan itu memperlihatkan bahwa keberanian bereksperimen tetap membutuhkan penguasaan keterampilan dasar. Pembaruan juga dapat muncul melalui bentuk pertunjukan yang berbeda. 

Dalam sebuah perbincangan bersama Dadan Sunandar Sunarya, dibahas eksperimen bernama wayang comot yang dikemas dalam program Wayang Update di SL Media. Bentuk ini menggunakan boneka dengan cara pengoperasian yang berbeda dari wayang golek konvensional, sehingga geraknya dapat dibuat lebih luwes.

Dadan menyambut kolaborasi tersebut sebagai kesempatan untuk kembali bereksperimen dengan bentuk pertunjukan yang lebih ringkas dan sesuai dengan perkembangan media. 

Upaya membawa wayang golek menjangkau penonton di luar panggung sebenarnya telah berlangsung sejak lama.

Sejak era 1980-an, rekaman pertunjukan dalam kaset pita telah menjadi salah satu medium untuk memperluas jangkauan wayang golek. Pada era 2000-an, VCD turut membuka cara lain bagi penggemar untuk menikmati pertunjukan.

VCD wayang golek dalang Asep Sunandar Sunarya menjadi bukti adaptasi seni pedalangan ke media rekaman untuk menjangkau penonton lebih luas. Foto: Ilustrasi

Perjalanan dari kaset pita ke VCD, lalu ke format digital, memperlihatkan bahwa wayang golek terus beradaptasi mengikuti perubahan media dan kebiasaan penonton. 

Eksperimen terbaru ini bukan berarti menggantikan pertunjukan tradisional, melainkan melanjutkan upaya memperkenalkan seni pedalangan melalui format yang berbeda. 

Tantangannya tetap sama: menemukan cara penyajian yang dapat menjangkau penonton baru tanpa mengabaikan keterampilan dan kekuatan artistik yang menjadi dasar wayang golek.

Di sisi lain, pemanfaatan media digital membuka jalur lain bagi pertunjukan wayang golek. Rekaman pementasan dan kanal YouTube memungkinkan pertunjukan menjangkau orang yang tidak hadir langsung di lokasi. 

Bagi Giriharja, media digital membuka peluang untuk tetap terhubung dengan penonton di luar pertunjukan langsung. 

Rekaman membuat lakon yang telah dimainkan dapat ditonton kembali sekaligus memperkenalkan dalang dan karakter wayang kepada generasi penonton baru.

Meski tidak menggantikan pengalaman menyaksikan wayang golek secara langsung, media digital memperluas jangkauan pertunjukan dan membantu menjaga eksistensi wayang golek Sunda di tengah perubahan kebiasaan menonton.

Menjaga Padepokan, Menjaga Masa Depan

Keberlanjutan Giri Harja juga berkaitan dengan tempat belajar dan berlatih. Padepokan bukan sekadar bangunan untuk menyimpan wayang atau menggelar pertunjukan, melainkan ruang bagi pengetahuan pedalangan untuk diteruskan. 

Di sana, keterampilan dapat dipelajari, generasi baru berlatih, dan masyarakat mengenal proses di balik sebuah pementasan.

Dalam kunjungan ke Padepokan Seni Giri Harja pada 24 Oktober 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya regenerasi dalang dan pembuat wayang. 

Perhatian tersebut mencakup rangkaian kerja yang lebih luas, mulai dari pemilihan kayu dan pembuatan wayang hingga penyelenggaraan pertunjukan. 

Pemerintah juga membicarakan dukungan bagi kegiatan seni, festival, dan perbaikan sarana padepokan. Rencana dukungan tersebut masih perlu dibedakan dari pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.

Perhatian pemerintah dapat membantu, tetapi keberlanjutan tradisi tidak dapat bergantung pada kunjungan atau program sesaat. 

Regenerasi memerlukan kesempatan belajar yang berkesinambungan, ruang tampil, dukungan bagi para pelaku seni, dan penonton yang terus tumbuh.

Perjalanan keluarga Sunarya memperlihatkan bahwa pewarisan budaya tidak selalu berarti mempertahankan semua hal dalam bentuk yang sama. Ada keterampilan yang harus dikuasai, nilai yang perlu dipahami, dan ruang yang dapat diisi dengan gagasan baru. 

Abah Sunarya membangun lingkungan pedalangan, Asep Sunandar Sunarya memperlihatkan daya cipta seorang dalang, sedangkan generasi penerus meneruskan pekerjaan itu melalui panggung, latihan, dan media baru.

Nama Giri Harja bertahan karena tradisi tersebut terus dikerjakan oleh manusia yang hidup di dalamnya. 

Selama pengetahuan pedalangan dipelajari, pertunjukan diberi ruang, dan generasi baru bersedia mengembangkan keterampilannya, wayang golek Sunda memiliki kesempatan untuk terus hadir di tengah perubahan zaman.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Profil

Lihat semua →
Rock in Peace, Doddy Katamsi

Rock in Peace, Doddy Katamsi

Musisi yang dikenal lewat Elpamas dan formasi awal Voodoo ini membimbing penyanyi lintas generasi, dari Ari Lasso dan Ariel NOAH hingga Pamungkas dan Nadin Amizah.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →