Profil

Erika Richardo dan Seni yang Keluar dari Kanvas

Erika Richardo memperluas ruang seni melalui konten digital, pesawat, kereta, dan eksplorasi lukisan gua prasejarah. Perjalanannya menunjukkan cara baru mendekatkan seni kepada publik.

Oleh Ridwan

Erika Richardo dan Seni yang Keluar dari Kanvas
Erika Richardo, kreator seni yang memperluas ruang berkarya melalui konten digital dan eksplorasi berbagai medium. Foto: Instagram Erika Ricardo
Diterbitkan

Bagi Erika Richardo, seni tidak harus dimulai dari sebuah galeri. Ia bisa hadir di benda-benda yang ditemui sehari-hari, melekat pada badan kereta, menghiasi pesawat, atau menjadi pintu masuk untuk mengenali peninggalan manusia prasejarah. 

Nama Erika dikenal luas melalui konten melukis di media sosial. Bagi kreator muda ini, seni punya banyak kemungkinan untuk dijelajahi dan diperkenalkan kepada publik

Ia tidak hanya memperlihatkan hasil akhir sebuah karya, tetapi juga proses kreatif yang membuat orang dapat mengikuti bagaimana sebuah gambar terbentuk. Dalam perkembangannya, kegiatan itu membawanya ke berbagai medium, dari benda sehari-hari hingga ruang publik.

Perjalanan tersebut tumbuh bersama pilihannya memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mengenalkan seni kepada lebih banyak orang.

 Erika merupakan lulusan Universitas Prasetiya Mulya. Di luar kegiatan membuat konten, ia juga mengembangkan inisiatif sosial melalui Rumah Lukis Erika. 

Namun, yang menarik dari perjalanan Erika bukan semata-mata skala atau keunikan media yang digunakannya. Ada upaya untuk mendekatkan seni kepada orang-orang yang mungkin belum terbiasa mengunjungi galeri, mengenal istilah seni rupa, atau memahami sebuah karya melalui pendekatan akademis.

Seni yang Berangkat dari Benda Sehari-hari

Dalam perbincangannya di podcast Malaka, Erika menjelaskan kecenderungannya untuk memperkenalkan seni melalui sesuatu yang akrab bagi audiens. Ia tidak ingin seni terasa jauh atau hanya diperuntukkan bagi orang yang sudah memiliki pengetahuan tentangnya.

Latar belakang keluarga turut membentuk kepekaannya terhadap kreativitas. Erika bercerita tentang kakeknya yang terbiasa mengolah barang lama menjadi benda berguna, serta ibunya yang kreatif memanfaatkan benda-benda di sekitar. 

Pengalaman semacam itu memperlihatkan bahwa kreativitas tidak selalu harus berangkat dari bahan khusus atau ruang kerja seorang seniman.

Cara pandang tersebut berhubungan dengan pilihan Erika dalam membuat konten. Benda yang biasa ditemui orang dapat menjadi titik awal untuk memperlihatkan proses berkarya. Penonton tidak harus memahami teori seni terlebih dahulu untuk menikmati sebuah karya atau mengikuti proses pembuatannya.

Media sosial kemudian menjadi ruang untuk menguji cara penyampaian itu. Erika mengamati kreator lain, mencoba format yang berbeda, lalu memperhatikan respons audiens. 

Pada awal perjalanannya, ia bahkan pernah mengunggah empat hingga lima video dalam sehari. Konsistensi dan eksperimen menjadi bagian dari prosesnya menemukan bentuk konten yang sesuai.

Di sini, melukis dan membuat konten tidak berdiri sebagai dua kegiatan yang terpisah. Keduanya bertemu dalam upaya memperlihatkan proses kreatif kepada orang yang lebih luas. Seni bukan hanya sesuatu yang selesai dibuat, melainkan juga pengalaman yang dapat diikuti oleh penonton.

Pesawat dan Kereta sebagai Ruang Publik

Pilihan medium Erika semakin beragam ketika ia mulai melukis pada benda berukuran besar. Salah satu proyek penting dalam perjalanan tersebut adalah karya pada badan pesawat Boeing 737-800NG milik Garuda Indonesia. 

Karya itu diluncurkan pada 17 Agustus 2025, dengan unsur visual yang merepresentasikan sejumlah daerah di Indonesia. 

Erika Richardo mengamati karyanya pada badan pesawat Garuda Indonesia, membawa seni keluar dari kanvas menuju ruang publik. Foto: ekraf.go.id

Kesempatan itu tidak datang seketika. Dalam wawancara yang dimuat Kementerian Ekonomi Kreatif pada April 2026, Erika menceritakan bahwa proses memperoleh persetujuan untuk melukis pesawat memerlukan waktu sekitar tiga tahun. Sebelum sampai ke sana, ia sudah mencoba melukis pada medium lain, termasuk mobil. 

Proyek tersebut memperlihatkan bahwa karya seni dapat berpindah dari ruang yang biasanya dikaitkan dengan seni rupa menuju benda yang digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. 

Pesawat tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga medium visual yang membawa karya melintasi berbagai tempat.

Eksplorasi itu berlanjut pada kereta api. Pada April 2026, Erika terlibat dalam kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif dan PT Kereta Api Indonesia untuk menghadirkan karya seni pada rangkaian kereta relasi Jakarta–Surabaya dalam rangka memperingati Hari Kartini. 

Kereta dan pesawat memiliki karakter berbeda dari kanvas. Ukurannya besar, pengerjaannya menuntut penyesuaian teknis, dan prosesnya harus mempertimbangkan kebutuhan operasional. Dalam proyek semacam ini, gagasan artistik perlu berjalan bersama koordinasi dan keterbatasan waktu.

Namun, justru di situlah kemungkinan baru terbuka. Karya tidak lagi hanya menunggu orang datang untuk melihatnya. Ia bergerak bersama benda yang menjadi mediumnya dan menjumpai publik dalam perjalanan mereka.

Dari Konten Seni ke Lukisan Gua Prasejarah

Perjalanan Erika tidak berhenti pada eksplorasi medium. Ia juga menggunakan konten digital untuk memperkenalkan sejarah seni yang tumbuh jauh sebelum hadirnya galeri, museum, maupun media sosial.

Salah satu pengalaman yang menonjol adalah kunjungannya ke kawasan gua prasejarah di Sulawesi Selatan. Di Leang Tedongnge, Kabupaten Pangkep, terdapat lukisan figur babi yang diperkirakan berusia setidaknya 45.500 tahun. Temuan itu menjadi bagian penting dari penelitian tentang sejarah awal seni figuratif manusia. 

Bagi Erika, pengalaman mengenal lukisan gua tersebut memperlihatkan betapa kayanya jejak seni di Indonesia. Ia juga menyadari bahwa pengetahuan tentang peninggalan semacam ini belum tentu sampai kepada orang-orang di sekitarnya.

Di titik itu, media sosial dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat menampilkan hasil karya. Konten bisa mengarahkan perhatian publik kepada lokasi, temuan, dan penelitian yang sebelumnya tidak banyak mereka ketahui. 

Tentu saja, konten populer bukan pengganti penelitian arkeologi. Namun, ia dapat menjadi pintu masuk bagi orang yang ingin mengenal lebih jauh sejarah dan kebudayaan.

Pilihan Erika untuk membawa topik tersebut kepada audiensnya memperluas pengertian tentang apa yang bisa dilakukan seorang kreator seni. Ia tidak hanya mengajak orang melihat gambar, tetapi juga menelusuri cerita dan pengetahuan di baliknya.

Seni Tidak Harus Langsung Dipahami

Dalam podcast Malaka juga, Erika juga membicarakan cara mengenalkan seni kepada orang yang belum terbiasa berhadapan dengan karya seni. Ia mengibaratkannya dengan proses belajar matematika: seseorang mempelajari penjumlahan sebelum beranjak ke aljabar.

Perumpamaan itu menunjukkan pentingnya tahapan dalam membangun kedekatan dengan seni. Orang tidak harus langsung memahami karya abstrak atau mengenali berbagai aliran seni untuk mulai tertarik.

Pengalaman sederhana—melihat proses melukis, mengenali warna, atau menyaksikan benda sehari-hari berubah menjadi karya—dapat menjadi awal.

Pandangan ini juga menjelaskan mengapa konten seni di media sosial memiliki ruang tersendiri. Format video memungkinkan proses yang biasanya hanya terlihat oleh pembuat karya dibagikan kepada audiens.

Penonton dapat melihat percobaan, perubahan, dan keputusan yang berlangsung selama proses kreatif. Meski demikian, tidak semua karya harus menjadi konten. 

Erika Richardo melukis pada rangkaian kereta api dalam kolaborasi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan PT KAI untuk merayakan Hari Kartini 2026. Foto: Ekraf.go.id

Erika bercerita bahwa ia juga memiliki karya abstrak-ekspresionis yang belum ingin ditampilkan sebagai bagian dari citra publiknya. Pilihan itu memperlihatkan adanya batas antara karya yang dibagikan kepada audiens dan ruang personal yang tetap ia simpan.

Bagi seorang kreator yang dikenal melalui media sosial, keputusan tersebut penting. Tidak semua pengalaman kreatif harus dijelaskan atau diperlihatkan kepada publik. Ada ruang untuk bereksperimen tanpa harus segera mengubahnya menjadi tontonan.

Kesempatan untuk Mengenal Kemungkinan

Perhatian Erika terhadap seni juga bersinggungan dengan persoalan akses pendidikan. Dalam perbincangannya di podcast Malaka, ia menyinggung pengalaman terkait pendidikan anak usia dini dan ketimpangan kesempatan yang dimiliki anak-anak. 

Menurut pandangannya, lingkungan dan keadaan seseorang turut memengaruhi sejauh mana ia dapat membayangkan masa depannya.

Persoalan itu berhubungan dengan gagasan yang lebih luas tentang seni. Kesempatan untuk mengenal seni bukan hanya perkara memiliki alat gambar atau ruang untuk melukis. Anak-anak juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka mencoba, berimajinasi, dan menemukan kemampuan yang belum mereka sadari.

Kegiatan sosial melalui Rumah Lukis Erika menjadi salah satu bentuk upayanya membawa aktivitas melukis kepada kelompok masyarakat yang berbeda. 

Kegiatan Rumah Lukis Erika memperluas keterlibatannya di luar pembuatan konten. Melalui kegiatan melukis bersama anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang menjalani pengobatan kanker, dan lansia, Erika membawa aktivitas seni ke ruang yang berbeda dari proyek-proyek besarnya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari perjalanannya sebagai kreator seni. Melukis tidak hanya menjadi kegiatan yang ia bagikan melalui media sosial atau medium untuk proyek berskala besar, tetapi juga aktivitas yang mempertemukannya dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Karya yang Melampaui Medium

Perjalanan Erika Richardo memperlihatkan bagaimana seni dapat menemukan jalannya melalui berbagai medium. 

Kanvas tetap menjadi bagian dari praktik melukis, tetapi bukan satu-satunya tempat karya bisa hadir. Mobil, pesawat, kereta, dan konten digital membuka cara lain bagi masyarakat untuk berjumpa dengan seni.

Di sisi lain, eksplorasinya terhadap lukisan gua prasejarah dan kegiatan sosial menunjukkan bahwa perhatian terhadap seni juga dapat membawa orang kepada sejarah, pendidikan, dan pengalaman bersama. 

Karya menjadi titik awal untuk mengenal hal-hal yang lebih luas daripada bentuk visualnya sendiri. Media sosial memberi Erika jangkauan untuk memperkenalkan kemungkinan tersebut. 

Tantangannya adalah memastikan bahwa perhatian publik tidak berhenti pada keunikan medium atau popularitas pembuatnya, tetapi juga membuka ruang untuk memahami proses, konteks, dan pengetahuan di balik karya.

Pada akhirnya, Erika Richardo memperlihatkan bahwa seni tidak harus berhenti di kanvas. Melalui konten digital, pesawat, kereta, hingga kegiatan melukis bersama berbagai kelompok masyarakat, ia terus mencari cara agar seni hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Bagi Erika, medium boleh berubah, tetapi ruang untuk berkarya dan memperkenalkan seni kepada lebih banyak orang selalu terbuka.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Profil

Lihat semua →
Rock in Peace, Doddy Katamsi

Rock in Peace, Doddy Katamsi

Musisi yang dikenal lewat Elpamas dan formasi awal Voodoo ini membimbing penyanyi lintas generasi, dari Ari Lasso dan Ariel NOAH hingga Pamungkas dan Nadin Amizah.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Mencari Raja Ampat di Luar Lautnya

Mencari Raja Ampat di Luar Lautnya

Raja Ampat, Papua Barat menawarkan pengalaman wisata dari terumbu karang dan pulau karst hingga hutan tropis, burung cenderawasih, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Ridwan
Ikan arwana Super Red asal Kalimantan Barat yang dikenal dari kawasan Kapuas Hulu dan Danau Sentarum.

Kearifan Lokal Menjaga Arwana Super Red Kalbar

Arwana Super Red Kalimantan Barat dikenal di pasar ikan hias internasional. Di sekitar Danau Sentarum, pengetahuan dan keterlibatan masyarakat berperan menjaga kelestarian ikan kebanggaan daerah ini.

Ridwan