Pada sebuah sesi Craft Talk dalam INACRAFT Oktober 2026, Anne Avantie berbicara tentang sesuatu yang lebih luas daripada dunia mode. Setelah puluhan tahun dikenal melalui kebaya, perancang busana itu mulai menaruh perhatian pada pertanyaan lain: apa yang dapat dilakukan seseorang ketika namanya sudah dikenal dan kariernya mencapai puncak?
Anne tidak sedang mengumumkan kepergian dari dunia fesyen.
Pembicaraannya justru memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap keberhasilan. Anne mengatakan, “Satu-satunya adalah tidak bermimpi, tetapi merencanakan bagaimana kehidupan saya yang terbatas ini bermanfaat bagi banyak orang dan sesama.”
Pernyataan itu menjadi pintu masuk untuk membaca perjalanan Anne Avantie.
Di balik kebaya yang dikenakan di panggung-panggung penting, ada proses panjang membangun keterampilan, menemukan ciri khas, menghadapi kesalahan, dan mengembangkan usaha.
Perjalanan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengalaman dan sumber daya yang terkumpul selama bertahun-tahun dapat digunakan untuk membantu orang lain.
Dari Hiasan Rambut ke Rumah Mode
Anne Avantie lahir di Semarang pada 20 Mei 1965 dan menghabiskan masa kecil di Surakarta, Jawa Tengah. Ayahnya, Hari Alexander, menjalankan usaha variasi mobil, sedangkan ibunya, Amie Indriati, mengelola salon. Lingkungan keluarga itu mempertemukan Anne sejak kecil dengan keterampilan tangan, penampilan, dan dunia kecantikan.
Ketertarikan Anne pada mode muncul sejak usia muda. Anne membuat hiasan rambut dan terlibat dalam pembuatan kostum untuk kelompok tari maupun grup vokal.
Namun, perjalanan menuju dunia fesyen profesional tidak berlangsung melalui jalur pendidikan desain formal. Anne belajar dengan mengandalkan pengalaman, percobaan, dan kemauan untuk terus bekerja.
Pada 1989, Anne memulai usaha busana bernama Griya Busana Permatasari dengan dua mesin jahit sederhana.
Perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Dalam sebuah sesi inspirasi di Institut Teknologi Bandung pada 2019, Anne bercerita bahwa dirinya hanya lulusan SMP dan berasal dari keluarga yang mengalami perpecahan. Anne menjadikan keadaan tersebut sebagai dorongan untuk membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan.
Dari usaha sederhana itu, Anne mengembangkan desain untuk berbagai jenis pakaian, termasuk busana panggung, gaun malam, busana pengantin, dan kebaya.
Seiring waktu, kebaya menjadi karya yang paling lekat dengan namanya, terutama setelah Anne menemukan cara mengolah bentuk tradisional menjadi rancangan yang berbeda.
Kesalahan yang Menjadi Ciri Khas
Salah satu titik penting dalam perjalanan Anne terjadi pada 1998. Saat mengerjakan kebaya, bagian leher busana yang dibuatnya mengalami kesalahan potong sehingga menghasilkan bentuk asimetris.
Kesalahan itu justru berkembang menjadi ciri desain yang dikenal publik.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak selalu bergerak dari rencana yang sempurna menuju hasil akhir. Sesuatu yang tidak disengaja kadang membuka kemungkinan baru, selama pembuatnya bersedia melihat dan mengolahnya.
Kebaya asimetris kemudian menjadi bagian dari identitas desain Anne Avantie, yang turut membedakan karyanya dari rancangan kebaya lainnya.
Dalam kelas inspirasi di ITB itu, Anne juga membicarakan pentingnya branding. Menurutnya, identitas perlu memiliki karakter yang dapat dikenali sekaligus membedakan seseorang dari orang lain.
Anne mencontohkan kebaya rancangannya, konde besar, serta bunga kamboja di sisi kanan rambut sebagai unsur yang membuat dirinya mudah dikenali. Namun, pembentukan identitas tidak berhenti pada penampilan. Karakter juga tumbuh dari karya, konsistensi, dan cara seseorang menjalani profesinya.
Anne mengolah berbagai bahan, motif, dan unsur tradisi Indonesia untuk menghasilkan busana yang dapat hadir di panggung modern tanpa kehilangan rujukan budayanya.
Anne juga dipercaya merancang kebaya bagi para finalis Puteri Indonesia dan Miss Universe. Melalui karya-karya tersebut, kebaya mendapat tempat dalam peragaan kontemporer sekaligus membawa unsur tradisi Indonesia ke hadapan khalayak yang lebih luas.
Perjalanan Anne memperoleh pengakuan dari berbagai lembaga.
Anne menerima Kartini Award pada periode 2004–2005 dan kembali memperoleh penghargaan pada 2008. Pada tahun yang sama, Anne menerima penghargaan Wanita Indonesia Bisa atau Indonesian Woman Able dari Meutia Hatta, yang saat itu menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.
Pada 2011, Anne terpilih dalam program Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women, yang memberikan pengakuan dan dukungan kepada pengusaha perempuan dengan potensi pertumbuhan usaha.
Pada 2021, pengakuan lain hadir melalui program Barbie Role Model dari Mattel. Anne menerima boneka One of A Kind yang dibuat khusus menyerupai dirinya. Boneka tersebut menjadi penanda pengakuan terhadap perjalanan Anne sebagai perancang busana sekaligus perempuan yang kisah kariernya dapat menginspirasi orang lain.
Mengembangkan Usaha bagi Produk Lokal
Seiring berkembangnya nama Anne, usahanya juga meluas.
Pada 2010, Anne membuka butik di Mall Kelapa Gading, Jakarta, serta Roémah Pengantén di Grand Indonesia. Perkembangan ini menandai perjalanan dari usaha yang dirintis dengan peralatan sederhana menuju bisnis fesyen yang menjangkau pasar lebih luas.
Anne juga mengembangkan Pendopo dengan merangkul pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gagasan memasarkan produk Indonesia dengan harga terjangkau memperlihatkan perhatiannya terhadap pelaku usaha di luar label fesyen miliknya sendiri.
Produk lokal tidak hanya menjadi unsur yang dapat digunakan dalam rancangan busana, tetapi juga memperoleh ruang untuk dipasarkan dan ditemukan oleh konsumen.
Dalam peringatan 20 tahun berkarya pada 2010, Anne menggelar peragaan bertajuk Damai Negriku dengan menampilkan 100 rancangan.
Koleksi itu merangkum beragam eksplorasi busana yang pernah dikerjakannya, mulai dari gaun malam dan kebaya klasik hingga kebaya kontemporer yang mengolah berbagai kain tradisional.
Salah satu karya penutupnya, Jubah Dewi Sri, dibuat dari sisa kain yang berasal dari busana awal dan akhir dalam perjalanan perancangannya.
Anne menyampaikan pemikirannya tentang karya tersebut melalui kalimat, “Untuk menghargai yang tersisa, menyatukan yang berbeda, dengan sabar, cinta, dan harapan, akan menjadi suatu karya yang indah.”
Kalimat itu berbicara tentang bahan dan proses kreatif, tetapi juga dapat dibaca sebagai gambaran cara seseorang mengolah pengalaman. Sesuatu yang tersisa tidak selalu kehilangan nilai; perbedaan pun dapat disatukan menjadi karya baru.
Ketika Pandemi Mengubah Arah Produksi
Pada 2020, pandemi Covid-19 menghantam industri fesyen.
Peragaan busana dan kegiatan produksi kebaya mengalami gangguan, sementara kebutuhan alat pelindung diri bagi tenaga medis meningkat. Dalam situasi itu, Anne menghentikan sementara produksi busana dan mengalihkan tenaga penjahit di rumah produksinya untuk membuat alat pelindung diri (APD).
APD tersebut dibuat untuk disumbangkan kepada tenaga medis yang menangani Covid-19, bukan untuk dijual. Langkah itu menjadi salah satu bentuk respons Anne terhadap keadaan darurat kesehatan, sekaligus cara memanfaatkan keterampilan menjahit dan tenaga kerja yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Pandemi juga mendorong Anne mencari jalan usaha lain. Ketika kegiatan fesyen menghadapi keterbatasan, Anne merintis usaha kuliner yang kemudian berkembang menjadi D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso di Semarang.

Konsep “Nostalgia Rasa” menghadirkan masakan rumahan dengan perhatian pada penyajian dan cerita di balik hidangan. Usaha kuliner itu menjadi bagian dari upaya mempertahankan kegiatan kerja sekaligus membuka ruang baru di luar bisnis fesyen.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan dan sumber daya yang sudah dimiliki dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan baru.
Di tengah situasi yang menghambat kegiatan fesyen, kemampuan menjahit membantu Anne dan para pekerjanya mengambil bagian dalam upaya mendukung tenaga medis. Sementara itu, usaha kuliner membuka kemungkinan untuk melanjutkan kegiatan bisnis melalui bidang yang berbeda.
Memaknai Nama Setelah Berada di Puncak
Dalam Craft Talk di INACRAFT October 2026, Anne membagikan pandangannya tentang etika berbisnis. Ia bercerita pernah memilih mundur dari proses tender seragam sebuah bank setelah berkonsultasi dengan ibunya.
Anne berada pada tahap akhir bersama dua desainer senior, Samuel Wattimena dan Musa Widyatmodjo. Ibunya mengingatkan agar Anne tidak berkompetisi dengan orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Pesan itu disampaikan melalui ungkapan Jawa, “ojo ngragas”, yang berarti jangan serakah.
Dalam forum yang sama, Anne mengingatkan pelaku UMKM agar tidak menghabiskan energi ketika mantan pegawai membangun usaha serupa. “Mantapkan, lepaskan! Jangan membuang energi memikirkan mereka, jalan saja terus,” demikian pesannya.
Pandangan tersebut sejalan dengan metafora “pohon kehidupan” yang disampaikan Anne. Ia membayangkan pohon dengan batang besar dan ribuan daun yang dapat memberi perlindungan kepada banyak orang.
“Saya ingin turun ketika berada di atas. Supaya orang mengingat saya ketika saya di puncak karier saya,” kata Anne.
Setelah perjalanan panjang melalui kebaya, pengembangan usaha, berbagai penghargaan, dan pengalaman menghadapi pandemi, Anne memperluas ukuran keberhasilan yang ingin ditinggalkan.
Nama besar tetap memiliki arti, tetapi nama itu juga membawa tanggung jawab tentang bagaimana pengalaman, kesempatan, dan sumber daya yang terkumpul selama bertahun-tahun dapat membantu orang lain bertumbuh.
Mungkin di situlah arti sebuah nama tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa luas nama itu dikenal. Maknanya juga tumbuh dari apa yang dapat diteruskan kepada orang-orang yang datang setelahnya.






