Profil

Ki Empu Djeno Harumbrodjo, Menjaga Warisan Keris dari Besalen di Sleman

Denting palu yang menghantam besi panas menjadi bagian dari perjalanan panjang Ki Empu Djeno Harumbrodjo dalam menjaga tradisi pembuatan keris Jawa. Lahir di Sleman pada 1929, Djeno tumbuh dalam keluarga empu dan menghabiskan sebagian besar kehidupannya untuk menempa, merawat, sekaligus meneruskan pengetahuan mengenai keris kepada generasi berikutnya. Ayahnya, Ki Supowinangun, merupakan empu keris yang menjadi […]

Oleh Narendra

Ki Empu Djeno Harumbrodjo, Menjaga Warisan Keris dari Besalen di Sleman
Ki Empu Djeno Harumbrodjo dikenal sebagai salah satu empu yang mempertahankan tradisi pembuatan keris Jawa dan meneruskan pengetahuan keempuannya kepada generasi berikutnya.
Diterbitkan

Denting palu yang menghantam besi panas menjadi bagian dari perjalanan panjang Ki Empu Djeno Harumbrodjo dalam menjaga tradisi pembuatan keris Jawa. Lahir di Sleman pada 1929, Djeno tumbuh dalam keluarga empu dan menghabiskan sebagian besar kehidupannya untuk menempa, merawat, sekaligus meneruskan pengetahuan mengenai keris kepada generasi berikutnya.

Ayahnya, Ki Supowinangun, merupakan empu keris yang menjadi abdi dalem Kepatihan Yogyakarta. Dari lingkungan keluarga itulah Djeno mengenal pekerjaan seorang empu sejak muda dengan membantu proses pembuatan keris sepulang sekolah.

Jejak keluarganya disebut terhubung dengan garis panjang keluarga empu yang diwariskan secara turun-temurun. Namun menjadi empu bagi Djeno bukan sekadar perkara silsilah, karena keterampilan tersebut dibentuk melalui proses belajar dan pengalaman panjang di tempat penempaan.

Belajar Keris dari Lingkungan Keluarga

Kedekatan Djeno dengan keris tumbuh ketika ia membantu pekerjaan ayahnya dan mengenal berbagai tahapan pembuatannya. Pengalaman tersebut perlahan membentuk pengetahuan mengenai material, bentuk, pamor, hingga tata kerja yang menyertai tradisi pembuatan keris Jawa.

Setelah Ki Supowinangun meninggal pada 1963, perjalanan Djeno sebagai pembuat keris memasuki babak baru. Pada 1970 ia bersama keluarganya mulai menekuni kembali pembuatan keris di kawasan Sumberagung, Moyudan, Sleman.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan seorang empu tidak terbentuk dalam waktu singkat. Kemampuan mengolah logam harus berjalan bersama pemahaman mengenai bentuk keris dan tradisi yang berkembang di lingkungan kebudayaan Jawa.

Keris Dibentuk melalui Proses Panjang

Pembuatan keris yang dilakukan Djeno membutuhkan tahapan penempaan dan pelipatan logam berulang kali. Besi, nikel dan bahan lain diolah melalui pemanasan sebelum perlahan dibentuk menjadi bilah dengan karakter yang telah ditentukan.

Dalam praktiknya, Djeno juga menjalankan persiapan spiritual seperti puasa, doa dan laku tertentu sebelum maupun selama proses pengerjaan. Praktik tersebut merupakan bagian dari keyakinan dan tradisi yang dijalankan Djeno dalam keempuannya, bukan fakta ilmiah mengenai adanya kekuatan supernatural pada keris.

Proses pengerjaan yang panjang membuat produksi keris tidak dapat dilakukan secara massal. Sumber yang mendokumentasikan kehidupannya menyebut Djeno hanya mampu menyelesaikan sekitar dua keris dalam satu tahun ketika menjalankan proses pembuatan secara tradisional.

Beragam dapur keris pernah dihasilkan dari besalennya, antara lain Jangkung, Jalak, Pendowo Luk Gangsal, Sempono Luk Pitu, Penimbal Luk Songo dan Sabuk Inten Luk Sewelas. Karya-karyanya kemudian diperkenalkan melalui berbagai pameran di Yogyakarta maupun daerah lain.

Dari Besalen Menuju Ruang Pamer

Karya Djeno pernah tampil dalam pameran di Keraton Yogyakarta pada 1984 hingga 1988 dan Museum Sonobudoyo pada 1987. Ia juga tercatat mengikuti kegiatan di lingkungan Institut Seni Indonesia Yogyakarta serta Pekan Raya Jakarta.

Kehadirannya dalam berbagai pameran membawa pekerjaan yang biasanya berlangsung di sekitar tungku dan landasan tempa menuju ruang publik. Masyarakat kemudian dapat melihat keris bukan hanya sebagai benda koleksi, tetapi sebagai hasil keterampilan yang membutuhkan penguasaan teknik dan pengetahuan tradisional.

Pengabdiannya memperoleh sejumlah penghargaan, termasuk Piagam Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada 1985 dan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sleman pada 1988. Djeno juga tercatat menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2003 atas kontribusinya di bidang kebudayaan.

Pengakuan tersebut menempatkan perjalanan Djeno dalam konteks yang lebih luas daripada pekerjaan seorang pembuat senjata tradisional. Keris telah berkembang sebagai bagian dari warisan budaya, sementara seorang empu memegang pengetahuan mengenai teknik pembuatannya.

Pengetahuan yang Harus Diteruskan

Di tengah semakin langkanya pembuat keris tradisional, Djeno memberikan perhatian besar terhadap pewarisan keterampilan. Ia mengajarkan pembuatan keris kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk anggota keluarga dan generasi muda yang ingin mempelajari proses tersebut.

Pengetahuan itu juga dibawa ke lingkungan pendidikan melalui pelajaran praktik di Institut Seni Indonesia serta program kebudayaan di televisi. Langkah tersebut membuat pengetahuan yang sebelumnya banyak diwariskan melalui hubungan keluarga memperoleh ruang untuk dipelajari oleh kalangan yang lebih luas.

Menjelang akhir kehidupannya, keterampilan tersebut diteruskan kepada putranya, Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. Pewarisan ini menjadi penting karena keberlangsungan tradisi keris bergantung pada orang-orang yang masih menguasai proses pembuatannya secara langsung.

Menjaga Api Besalen Tetap Menyala

Ki Empu Djeno Harumbrodjo meninggal pada 2006 setelah puluhan tahun menjalani kehidupan bersama keris. Jejaknya tersimpan bukan hanya pada bilah-bilah yang pernah ditempa, tetapi juga pada pengetahuan yang diteruskan kepada keluarga dan generasi setelahnya.

Perjalanan Djeno memperlihatkan bahwa keberlangsungan sebuah warisan budaya membutuhkan proses pewarisan yang nyata. Pengetahuan mengenai suhu pembakaran, penempaan logam, pembentukan bilah, pamor hingga pemahaman terhadap tradisi tidak dapat bertahan hanya melalui dokumentasi apabila tidak lagi ada orang yang mempraktikkannya.

Di sebuah besalen, sebuah keris lahir melalui api, logam, tenaga, waktu dan pengetahuan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Melalui kehidupan Ki Empu Djeno Harumbrodjo, tradisi tersebut memperoleh satu mata rantai penting sebelum kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT