Di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pantun tidak hanya hidup dalam percakapan atau kegiatan adat. Tradisi sastra lisan tersebut berkembang menjadi sebuah pertunjukan yang memadukan lantunan kata dan irama musik.
Kesenian itu dikenal dengan nama Tundang, singkatan dari Pantun Gendang. Sosok yang memiliki peran penting dalam pengembangannya adalah Edi Ibrahim bin H. Ahmad, yang dikenal luas sebagai Edi Tundang atau Usu Yem.
Edi merupakan seniman yang mengembangkan Tundang menjadi bentuk pertunjukan khas masyarakat Melayu Kalimantan Barat.
Kegemarannya terhadap pantun sejak masa remaja menjadi awal perjalanan kreatif yang kemudian membawanya membangun kelompok kesenian, membina pemain, dan memperkenalkan Tundang ke berbagai daerah.
Dalam sejumlah pemberitaan, nama Edi juga ditulis sebagai Eddy Ibrahim. Karya dan pengabdiannya menjadikan Edi salah satu tokoh penting dalam perjalanan seni pantun bergendang di Kalimantan Barat.
Kegemaran Berpantun yang Menjadi Karya
Tundang berawal dari kegemaran Edi berpantun dan berkelakar.
Dalam wawancara bersama TVRI Kalimantan Barat yang dikutip Pontianak Post, Edi menceritakan bahwa pantun lucu sering membuat teman-temannya tertawa. Pengalaman sederhana itu menumbuhkan kesenangannya mengolah kata dan menyampaikan pesan melalui pantun.
“Saya menciptakan Tundang dari hobi. Karena saya senang pantun, berkelakar, mengejek teman dengan pantun lucu. Apalagi kalau pantun saya dibumbui humor, teman-teman tertawa. Dari situ saya senang,” tuturnya.
Ketertarikan Edi pada pantun dan syair juga terlihat dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube Bu Risna pada 21 September 2021.
Dalam percakapan tersebut, Edi menceritakan kebiasaannya mendengarkan sandiwara radio yang menggunakan syair. Bagian syair yang panjang terkadang membuat pendengar harus menunggu cukup lama untuk mengetahui kelanjutan cerita.
Pengalaman itu ikut menginspirasi gagasannya menghadirkan bentuk penyampaian yang lebih ringkas melalui perpaduan pantun dan musik.
Edi kemudian mengembangkan pertunjukan dengan iringan gendang dan irama dendang khas. Nama Tundang dipilih untuk menggambarkan bentuk kesenian tersebut, yakni pantun yang disampaikan sambil bergendang.
Bagi Edi, Tundang bukan sekadar hiburan. Pantun dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang santun dan menghibur.
Dalam pemberitaan Pontianak Post, Edi menjelaskan bahwa materi pantunnya banyak memuat kritik. Gagasan tersebut menjadi salah satu alasan penggunaan iringan gendang dalam pertunjukannya.
Sejumlah sumber menyebut 1992 sebagai masa penting pengenalan dan pengembangan Tundang oleh Edi.
Sementara itu, kajian Dewi Juliastuty dalam prosiding Seminar Internasional LAMAS 7 pada 2017 mencatat adanya penampilan Tundang pada 1985 dan pengembangan lebih lanjut pada 1992.
Perbedaan catatan tersebut menunjukkan perlunya membedakan riwayat awal pertunjukan dengan proses pengembangan Tundang yang dilakukan Edi.
Sanggar Pusaka dan Perjalanan Tundang
Pengembangan Tundang membutuhkan ruang untuk berlatih, berkumpul, dan melibatkan pemain baru. Edi kemudian mendirikan Sanggar Pusaka di Desa Sungai Burung, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah.
Sanggar tersebut berdiri pada 17 Januari 2000 dan menjadi wadah pengembangan Grup Kesenian Tundang Mayang.
Melalui Sanggar Pusaka, Tundang tidak berhenti sebagai pertunjukan yang bergantung pada kemampuan Edi seorang.
Kesenian ini berkembang melalui keterlibatan anggota kelompok yang mempelajari cara melantunkan pantun, mengikuti irama, dan memainkan alat musik pengiring.
Bentuk pertunjukannya juga mengalami perkembangan. Pada awalnya, Tundang menggunakan satu atau dua gendang. Edi kemudian menambahkan instrumen lain seperti beduk, biola, dan akordeon.
Dalam kesempatan tertentu, kelompoknya bahkan pernah menggunakan tujuh beduk sekaligus. Penambahan alat musik tersebut memperkaya bunyi pertunjukan tanpa menghilangkan pantun sebagai unsur utamanya.
Sanggar Pusaka juga membina kesenian tradisional lain, seperti hadrah, kasidah, dan syair. Kegiatan tersebut memperlihatkan perhatian Edi terhadap pengembangan seni Melayu yang lebih luas, tidak terbatas pada Tundang.
Perjalanan Grup Kesenian Tundang Mayang kemudian menjangkau berbagai panggung. Kelompok ini pernah meraih Juara 1 Nasional Apresiasi Media Pertunjukan Rakyat di Bali.
Selain tampil di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, Edi juga membawa Tundang ke Taman Mini Indonesia Indah dan ajang Borneo Exfloor Exotika di Jakarta.
Pementasan Tundang turut menjangkau Malaysia dan Singapura. Perjalanan tersebut memperkenalkan bentuk ekspresi seni Melayu dari Mempawah kepada penonton di luar Kalimantan Barat.
Pantun sebagai Media Kritik dan Pendidikan Budaya
Salah satu ciri penting Tundang terletak pada kemampuannya mengolah persoalan sosial menjadi materi pertunjukan.
Pantun dapat digunakan untuk menyampaikan nasihat, kritik, humor, dan pengetahuan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Edi juga menggunakan Tundang untuk mengangkat tema sejarah.
Pemerhati sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, mengenal Edi sekitar 2015 ketika keduanya beberapa kali bertemu dalam kegiatan di TVRI Kalbar.
Dalam pertemuan tersebut, Edi pernah meminta masukan untuk membuat pantun bertema sejarah, salah satunya mengenai Peristiwa Mandor 1944.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana Edi mengembangkan Tundang sebagai media penyampaian pengetahuan.
Sejarah tidak hanya disajikan melalui uraian, tetapi dapat diolah menjadi pantun dan pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Kajian Sri Kusnita dan Muhammad Lahir berjudul Fungsi Pantun dalam Kesenian Tundang pada Masyarakat Melayu di Kabupaten Mempawah (2022) juga mengidentifikasi fungsi pendidikan, adat, hiburan, dan kritik sosial dalam kesenian ini.
Pantun dapat menyampaikan nilai rasa syukur, kerja sama, persatuan, serta perilaku baik. Dalam kegiatan adat, pantun turut berkaitan dengan kehidupan masyarakat Melayu, termasuk penyelenggaraan perkawinan.
Fungsi tersebut memperlihatkan bahwa Tundang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial masyarakat.
Pertunjukan menjadi ruang untuk menyampaikan pesan sekaligus mempertahankan penggunaan pantun dalam kehidupan budaya.
Dikenang sebagai Pekerja Seni Sejati
Perjalanan Edi Ibrahim tidak hanya meninggalkan catatan tentang perkembangan Tundang.
Bagi sejumlah kolega, Edi juga dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka terhadap pengetahuan, dan terus bersemangat mengembangkan seni tradisi.
Syafaruddin Daeng Usman mengenang Edi sebagai sosok bersahaja dengan pengetahuan luas. Pertemuan mereka di TVRI Kalbar sering menjadi kesempatan untuk berbincang mengenai berbagai hal, termasuk kebudayaan daerah.
Syafaruddin juga mengingat Edi sebagai seniman yang tidak berhenti belajar dan terbuka terhadap masukan.
“Dia bukan orang yang merasa paling bisa, sebaliknya selalu ingin banyak belajar. Kita kehilangan seorang pekerja seni, seorang senior Tundang, seorang budayawan otodidak,” tulis Syafaruddin dalam catatan kenangan berjudul Selamat Jalan Bang Yem, sebagaimana dikutip Pontianak Post.
Penulis dan Ketua Satupena Kalimantan Barat, Rosadi Jamani, juga mengenang Edi sebagai seniman yang meninggalkan warisan penting bagi kebudayaan Melayu.
Dalam catatannya berjudul Tundang Terakhir Seorang Maestro, Rosadi menggambarkan Tundang sebagai karya yang mampu menyampaikan pendidikan budaya melalui seni.
“Ia menciptakan seni yang mengajarkan tanpa menggurui, menasihati tanpa menyakiti,” tulis Rosadi dalam kesan kenangannya yang dimuat Pontianak Post.
Kesaksian kedua kolega tersebut melengkapi gambaran Edi sebagai pekerja seni yang tidak hanya mengembangkan pertunjukan, tetapi juga membangun hubungan dengan sesama pelaku budaya dan masyarakat.
Warisan yang Ditinggalkan Edi Tundang
Kontribusi Edi terhadap kesenian Melayu Kalimantan Barat memperoleh pengakuan melalui pencatatan hak cipta. Pada 2013, Edi Ibrahim tercatat sebagai pemegang hak cipta resmi Tundang oleh Kementerian Hukum dan HAM RI.
Pada 2025, nama Eddy Ibrahim juga tercantum sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam kategori Pelopor bidang Kesenian Tundang.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas kiprahnya dalam mengembangkan kesenian daerah.
Edi Ibrahim bin H. Ahmad berpulang pada Sabtu, 25 Oktober 2025, di Kabupaten Mempawah. Kepergiannya meninggalkan kehilangan bagi keluarga, kolega, dan masyarakat seni Kalimantan Barat.
Kesenian yang dikembangkan Edi Ibrahim tetap memiliki ruang untuk diteruskan. Sanggar, kelompok pemain, kegiatan pendidikan, dan dokumentasi pertunjukan menjadi bagian penting dalam menjaga pengetahuan tentang pantun, syair, irama, serta cara penyajian Tundang.
Perjalanan Edi memperlihatkan bagaimana kegemaran sederhana terhadap pantun dapat berkembang menjadi karya seni yang memiliki identitas dan pengaruh bagi masyarakat.
Dari kelakar bersama teman hingga pertunjukan di berbagai panggung, Edi mengolah tradisi lisan menjadi bentuk ekspresi yang dapat dinikmati sekaligus menyampaikan pesan.
Edi Tundang telah berpulang, tetapi pantun bergendang yang dikembangkannya masih memiliki kesempatan untuk terus hidup melalui para pelestari dan generasi penerus. Warisan tersebut menjadi bagian dari perjalanan seni Melayu Kalimantan Barat.








