Sebuah himne tidak hanya hadir sebagai rangkaian nada dan lirik. Di lingkungan pendidikan, lagu semacam ini menjadi bagian dari identitas lembaga, dinyanyikan dalam berbagai kesempatan, dan menghubungkan generasi yang berbeda.
Di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), salah satu karya yang menjalankan peran tersebut adalah Himne UPI, dengan melodi ciptaan Dana Setia.
Bagi Dana Setia, musik bukan satu-satunya ruang pengabdian. Kiprahnya juga bersentuhan dengan pendidikan, pengembangan seniman, dan pengelolaan kebudayaan di Jawa Barat.
Berbagai kesaksian yang dihimpun setelah kepergiannya pada 2013 menggambarkan sosok yang bergerak di antara dunia seni dan birokrasi, sekaligus memberi perhatian pada keberlangsungan kebudayaan Sunda.
Melodi yang Menjadi Identitas Kampus
Himne UPI menjadi salah satu karya yang membuat nama Dana Setia tetap dikenal hingga saat ini.
Kredit penciptaan dalam Statuta UPI menempatkan namanya pada bagian melodi, berdampingan dengan Wahyu Wibisana sebagai penulis lirik dan Hesty Moeradi sebagai pengaransemen.
Pembagian kredit ini memperlihatkan kontribusi masing-masing seniman dalam membentuk sebuah karya yang menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Karya tersebut lahir dari lingkungan pendidikan yang memiliki sejarah panjang. Sebelum dikenal sebagai UPI, lembaga ini bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.
Perubahan nama dan perkembangan kelembagaan tidak menghapus jejak para seniman yang turut membangun identitas musikalnya.
Himne memiliki kedudukan berbeda dari lagu yang semata-mata ditujukan untuk hiburan. Melalui musik dan lirik, sebuah himne menyampaikan nilai, cita-cita, serta identitas lembaga.
Karya tersebut terus memperoleh makna ketika dinyanyikan oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan alumni dalam berbagai kegiatan akademik.
Kehadiran nama Dana Setia dalam dokumen resmi UPI memberi landasan untuk mengenali kontribusinya.
Karya itu juga menjadi pintu masuk untuk menelusuri peran Dana Setia di luar penciptaan lagu, terutama keterlibatannya dalam pendidikan musik dan kehidupan kesenian di Bandung.
Pendukung Pendidikan Musik
Sejarah Program Studi Pendidikan Seni Musik UPI mencatat Dana Setia sebagai salah satu seniman Bandung yang mendukung pendirian Jurusan Musik pada 1981.
Inisiatif tersebut dipelopori Rektor IKIP Bandung saat itu, Prof. Nu'man Soemantri, M.Sc., dengan dukungan Agam Ngadimin dan Harry Roesli.
Jurusan Musik resmi berdiri di bawah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Bandung.
Jurusan Musik didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar musik profesional di sekolah umum, terutama tingkat SMP dan SMU.
Pendidikan awalnya dibuka melalui jenjang D-1 pada 1981, kemudian D-2 pada 1982 dan D-3 pada 1985.
Pada 1985, Jurusan Musik berubah menjadi Program Studi Pendidikan Seni Musik. Jenjang S-1 mulai dibuka pada 1992.
Seniman dalam Kebudayaan Jawa Barat
Dana Setia juga dikenal melalui kiprahnya di lingkungan pemerintahan dan kebudayaan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat.
Jabatan tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan pendidikan sekaligus memberinya ruang untuk berhubungan dengan seniman dan budayawan.
Dalam berita obituari yang diterbitkan pada 7 Februari 2013, INILAH.com mengutip kesaksian sejumlah tokoh mengenai perhatian Dana Setia terhadap pendidikan, seni, dan budaya.
Wali Kota Bandung saat itu, Dada Rosada, mengenang kontribusinya dalam merumuskan persoalan pendidikan di Kota Bandung. Dari sekitar 400 persoalan yang teridentifikasi, Dana Setia membantu merangkumnya menjadi 11 masalah utama yang perlu ditangani.
Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Dana Setia terhadap pendidikan tidak berhenti pada urusan kelembagaan.
Persoalan kesejahteraan guru, kondisi keluarga peserta didik, anak yang putus sekolah, serta fasilitas pendidikan termasuk dalam isu yang menjadi perhatian pada masa itu.
Kedekatannya dengan lingkungan seni juga dikenang oleh Nunung Sobari, yang ketika itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Menurut kesaksiannya, Dana Setia merupakan birokrat yang dekat dengan seniman dan budayawan, termasuk mereka yang lebih muda.
Dana Setia pernah terlibat dalam Kalang Budaya, lingkungan kegiatan seni yang dibentuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.
Di sana, ia berinteraksi dengan sejumlah seniman dan budayawan, antara lain Nano S dan Hidayat Suryalaga. Pemikiran serta keterlibatannya disebut membantu keberlangsungan program kebudayaan di Jawa Barat.
Testimoni tersebut memberi gambaran tentang peran Dana Setia di luar panggung musik.
Kebudayaan membutuhkan seniman yang menghasilkan karya, tetapi juga memerlukan orang yang mampu membuka ruang pertemuan, mendukung program kesenian, dan mempertemukan gagasan dengan kebijakan publik.
Salah satu gagasan Dana Setia yang dikenang dalam berita tersebut adalah pemanfaatan kembali Gedung Palaguna di Bandung untuk kegiatan seni dan budaya setelah tidak lagi digunakan sebagai pusat perbelanjaan.
Gagasan itu memperlihatkan perhatiannya pada kebutuhan ruang bagi kegiatan kebudayaan di perkotaan.
Jejak yang Melampaui Sebuah Lagu
Dana Setia wafat pada 7 Februari 2013 di Bandung. Berita mengenai kepergiannya tidak hanya menyoroti karya musik, tetapi juga perhatian dan sumbangsihnya bagi pendidikan serta kehidupan seni-budaya Jawa Barat.
Kesaksian para tokoh yang mengenalnya menunjukkan bahwa kiprah Dana Setia berlangsung melalui beberapa jalur.
Ia menciptakan melodi Himne UPI, mendukung perkembangan pendidikan musik, terlibat dalam kegiatan kebudayaan, dan bekerja di lingkungan birokrasi pendidikan.
Berbagai peran itu tidak dapat diringkas hanya melalui satu karya.
Himne UPI memang menjadi jejak musikal yang mudah dikenali, tetapi dokumentasi mengenai keterlibatannya dalam pendidikan dan kebudayaan memperlihatkan cakupan pengabdian yang lebih luas.
Perjalanan Dana Setia juga mengingatkan bahwa kehidupan budaya tidak hanya dibentuk oleh karya yang tampil di hadapan publik.
Peran pendukung, pengelola, pendidik, dan penghubung antara seniman dengan lembaga turut menentukan ruang bagi kesenian untuk tumbuh.
Nama Dana Setia tercatat abadi dalam sejarah musik UPI dan dikenang oleh sejumlah tokoh pendidikan serta kebudayaan Jawa Barat.
Dari melodi sebuah himne hingga keterlibatannya dalam kehidupan seni, jejak tersebut memperlihatkan hubungan erat antara musik, pendidikan, dan upaya menjaga keberlangsungan budaya Sunda.








