Di tengah aktivitas perkotaan yang serba cepat, Baca Di Tebet menawarkan cara berbeda untuk memanfaatkan waktu. Pengunjung datang untuk membaca buku, bekerja, mengikuti diskusi, atau bertemu orang-orang dengan minat yang sama.
Perpustakaan ini tidak hanya menyediakan koleksi bacaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat dalam kegiatan belajar dan berkarya.
Berlokasi di Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 29, Jakarta Selatan, Baca Di Tebet atau BDT dikembangkan oleh Wien Muldian dan Kanti W. Janis.
Berawal dari koleksi buku pribadi, tempat ini kemudian dibuka untuk publik sebagai pusat pengetahuan dan ruang pertemuan bagi berbagai kalangan. Dalam penjelasan resminya, BDT menyebut diri sebagai alternatif dari ruang publik yang bersifat konsumeristik.
Perpustakaan fisik dipilih sebagai tempat bagi masyarakat untuk kembali menjalani proses membaca, berinteraksi secara langsung, dan mengembangkan pengetahuan.
Pilihan tersebut menjadi menarik di tengah kehidupan digital yang memungkinkan informasi diperoleh dalam hitungan detik. Bagi BDT, akses terhadap informasi saja tidak cukup.
Masyarakat juga membutuhkan waktu untuk memahami, mengolah, dan menghubungkan informasi dengan pengalaman serta pengetahuan yang telah dimiliki.
Dari Koleksi Pribadi Menjadi Perpustakaan Publik
Baca Di Tebet bermula dari keinginan memanfaatkan koleksi buku pribadi agar dapat diakses lebih banyak orang.
Dalam wawancara yang dimuat Kementerian Ekonomi Kreatif pada 10 Agustus 2026, Wien Muldian menjelaskan bahwa koleksi buku yang sebelumnya tersimpan di rumah kemudian dikembangkan menjadi pusat pengetahuan dan tempat orang bertemu untuk saling belajar.
"Secara sederhana, kami punya banyak sekali buku pribadi," ujarnya.
Bersama Kanti W. Janis, Wien membangun perpustakaan yang tidak membatasi aktivitas pengunjung pada membaca buku. BDT juga memberi kesempatan kepada komunitas untuk menyelenggarakan diskusi, peluncuran buku, kelas belajar, lokakarya, dan kegiatan tematik lainnya.
Pengunjung yang datang memiliki kebutuhan beragam. Mahasiswa dapat mencari referensi untuk tugas akademik, penulis mengembangkan riset, sedangkan pekerja kreatif memanfaatkan tempat tersebut untuk bekerja dan bertukar pikiran. Masyarakat umum juga dapat mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat masing-masing.
Beragam aktivitas itu membuat perpustakaan memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Buku menjadi salah satu sumber pengetahuan, sementara pertemuan antarpengunjung membuka kesempatan untuk menemukan sudut pandang yang berbeda.
Menurut Wien, salah satu hal yang membahagiakan dari pengelolaan BDT adalah munculnya proyek, komunitas, dan karya baru melalui interaksi para pengunjung. Pertemuan yang pada awalnya berlangsung sederhana dapat berkembang menjadi kolaborasi yang berkelanjutan.
"Titik bahagia kami ada di situ," tuturnya saat menyadari betapa banyaknya proyek kreatif dan ide segar yang menetas dari obrolan antarpengunjung di Baca DI Tebet.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perpustakaan dapat berperan sebagai tempat bertemunya pengetahuan dan pengalaman.
Buku menyediakan bahan untuk dipelajari, sedangkan diskusi membantu pembaca menguji pemahaman dan menemukan hubungan dengan persoalan lain.
Membaca Membutuhkan Proses
Filosofi Baca Di Tebet tertuang dalam bagian Salam Daya Baca di situs resminya. Melalui bagian ini, BDT mengajak masyarakat melihat membaca buku sebagai proses untuk memahami pengetahuan, bukan sekadar mengumpulkan informasi.
Pengelola menggunakan contoh sederhana: nasi yang tersaji di piring melewati perjalanan panjang, mulai dari menanam padi hingga memasaknya. Membaca buku pun membutuhkan proses. Pembaca mengikuti kata demi kata, merangkai informasi, lalu memahami gagasan yang disampaikan penulis.
Prinsip ini juga relevan ketika orang mencari informasi secara digital. Hasil pencarian dapat memberi jawaban dengan cepat, tetapi informasi tersebut tetap perlu dibaca, diperiksa, dan dibandingkan dengan sumber lain sebelum dijadikan dasar kesimpulan.
Teknologi digital menyediakan akses luas terhadap buku, jurnal, arsip, dan berbagai sumber pengetahuan. Kemudahan akses itu akan lebih bermanfaat jika disertai kebiasaan membaca secara cermat dan menilai informasi secara kritis.
Dalam artikel Kementerian Ekonomi Kreatif mengenai BDT, Kanti W. Janis juga menyoroti pentingnya kemampuan memahami dan mengolah informasi. Bagi seorang kreator, membaca menjadi bagian dari proses memperkaya referensi sebelum menghasilkan karya.
Pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan dapat membantu penulis membangun cerita, ilustrator mencari referensi visual, atau pengembang gim menyusun dunia dan karakter.
Proses kreatif tidak berlangsung dalam ruang kosong. Setiap karya berhubungan dengan pengalaman, pengamatan, riset, dan pengetahuan yang dikumpulkan sebelumnya.
Karena itu, membaca bukan sekadar aktivitas untuk menambah jumlah buku yang telah diselesaikan. Nilainya juga terletak pada kemampuan pembaca memahami isi bacaan, mempertanyakan informasi, dan menghubungkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi.
### Ruang Pertemuan untuk Mengembangkan Pengetahuan
Salah satu ciri Baca Di Tebet adalah keberadaan ruang yang mendukung kegiatan dengan kebutuhan berbeda.
Berdasarkan informasi di situs resminya, BDT menyediakan ruang baca dan ruang pikir untuk kegiatan yang membutuhkan ketenangan, ruang temu untuk interaksi, serta ruang karya yang dapat digunakan melalui pengaturan terlebih dahulu.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan literasi tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang sama. Ada saat ketika seseorang membutuhkan suasana hening untuk membaca dan menyusun pemikiran.
Pada kesempatan lain, pengetahuan berkembang melalui percakapan, diskusi, atau kegiatan bersama.
BDT juga membuka fasilitasnya untuk berbagai kegiatan, termasuk bedah buku, lokakarya, seminar, kelompok belajar, pameran, dan pertemuan komunitas.
Perpustakaan pun dapat digunakan sebagai tempat belajar sekaligus lokasi bagi masyarakat untuk berbagi pengalaman dan memperkenalkan karya.
Pertemuan semacam itu penting bagi perkembangan komunitas kreatif. Seorang penulis, misalnya, dapat memperoleh perspektif baru melalui diskusi dengan pembaca atau peneliti. Seniman dapat menemukan kemungkinan kolaborasi dengan orang dari bidang berbeda.
Pertukaran pengetahuan juga memungkinkan sebuah ide berkembang melampaui rencana awal pembuatnya.

Perpustakaan menyediakan tempat dan sumber pengetahuan, sedangkan pengunjung bersama komunitas membangun aktivitas yang menghidupkannya.
Bagi Baca Di Tebet, fungsi perpustakaan karena itu tidak berhenti pada penyimpanan dan peminjaman buku.
Dalam filosofi yang disampaikan melalui situs resminya, BDT menempatkan kegiatan menyimpan, merawat, dan mengembangkan pengetahuan sebagai bagian penting dari keberadaannya.
Literasi sebagai Bagian Ekosistem Kreatif
Kementerian Ekonomi Kreatif melihat Baca Di Tebet sebagai contoh inisiatif literasi yang mendukung perkembangan ekosistem kreatif.
Dalam pemberitaan Agustus 2026, kementerian menyoroti hubungan antara ruang baca, pertukaran pengetahuan, dan proses lahirnya karya.
Sebelum sebuah karya diproduksi, kreator membutuhkan referensi, riset, dan ruang untuk menguji gagasan.
Proses belajar ini menunjukkan bahwa ekosistem kreatif tidak hanya bertumpu pada produksi dan pemasaran, tetapi juga pada akses terhadap pengetahuan dan kesempatan bertukar pikiran.
Perpustakaan publik dapat mendukung proses tersebut melalui koleksi bacaan, diskusi, dan pertemuan lintas latar belakang.
Perannya bukan menjamin lahirnya karya, melainkan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk belajar, memperluas perspektif, dan mengembangkan gagasan.
Baca Di Tebet memperlihatkan bagaimana koleksi buku pribadi dapat berkembang menjadi perpustakaan sekaligus ruang pertemuan berbagai kalangan.
Melalui kegiatan membaca, diskusi, dan kolaborasi, Baca Di Tebet menjadi contoh bagaimana ruang literasi dapat mempertemukan pengetahuan, interaksi, dan proses kreatif.








