Gim digital dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kebudayaan melalui pengalaman bermain. Pendekatan itu dikembangkan U-Lika Studio lewat Kenupi, sebuah gim berbasis seni piksel (pixel art) yang membawa pemain menjelajahi dunia yang terinspirasi dari budaya Dayak Kenyah.
Dalam gim ini, pemain memasuki sebuah desa virtual bernama Kenupi. Di sana, petualangan tidak hanya berpusat pada penjelajahan lingkungan, tetapi juga melibatkan unsur budaya yang menjadi bagian dari cerita dan aktivitas permainan.
Kenupi dikembangkan sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah. Melalui cerita, karakter, dan lingkungan virtual, gim ini mengajak pemain mengenal tradisi yang mungkin belum banyak mereka ketahui.
Ide tersebut berangkat dari upaya U-Lika Studio mencari medium yang dekat dengan generasi muda. Gim dipilih bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai sarana untuk mempertemukan pemain dengan kebudayaan melalui pengalaman yang interaktif.
Memasuki Desa Virtual Kenupi
Cerita Kenupi bermula dari seorang tokoh utama yang merupakan pelajar sekolah menengah atas. Setelah tertidur, tokoh tersebut tiba-tiba terbangun di sebuah desa misterius bernama Kenupi.
Desa virtual itu menjadi ruang utama bagi pemain untuk menjelajahi dunia yang merepresentasikan budaya Dayak Kenyah.
Salah satu misi yang dihadirkan adalah memulihkan Grand Lamin, rumah adat tradisional yang menjadi bagian penting dalam petualangan.
Pemain juga dapat berinteraksi dengan sejumlah karakter yang terinspirasi dari ukiran tradisional dan mitologi lokal. Karakter tersebut meliputi Temengang yang merepresentasikan burung enggang, Aso sebagai anjing, Lengunan sebagai naga, dan Lenjau sebagai harimau.
Unsur-unsur tersebut ditempatkan dalam cerita dan mekanisme permainan. Dengan pendekatan ini, budaya tidak hanya hadir sebagai gambar yang menghiasi layar, tetapi menjadi bagian dari dunia yang dijelajahi pemain.
Pilihan seni piksel memberikan Kenupi tampilan visual khas gim digital. Melalui bentuk visual tersebut, U-Lika Studio membangun lingkungan permainan yang menjadi pintu masuk untuk mengenal unsur budaya Dayak Kenyah.
Gagasan Anak Muda di Balik Kenupi
Kenupi dikembangkan oleh U-Lika Studio, sebuah studio gim independen yang berupaya mengangkat cerita dan kearifan lokal Nusantara melalui medium digital.
Gagasan ini lahir dari kolaborasi Annisa Rivaldawati, yang dikenal sebagai Riva dan menjabat Studio Head/CEO U-Lika Studio dari President University, bersama Dian Fatikha Rizki Aminoto atau Ian. Ian merupakan Managing Director PT Mahakarya Aminoto Rizgata, perusahaan yang menaungi studio tersebut, dari Institut Teknologi Kalimantan.

Bagi keduanya, gim memiliki peluang untuk mendekatkan generasi muda dengan kebudayaan melalui medium yang akrab dengan kehidupan mereka.
Riva menjelaskan bahwa tim ingin memanfaatkan platform yang dekat dengan anak muda untuk memperkenalkan komunitas budaya dan kehidupan masyarakat Dayak kepada khalayak yang lebih luas.
Gagasan tersebut menjadi landasan pengembangan Kenupi.
Unsur budaya diolah menjadi bagian dari pengalaman bermain, sementara cerita dan karakter membantu pemain mengenal dunia masyarakat Dayak melalui interaksi di dalam gim.
Upaya tersebut juga membawa Kenupi ke ranah kompetisi dan forum ekonomi kreatif. Pada 24 September 2026, Ian meraih Juara 1 Klaster Desain Komunikasi Visual (DKV), kategori Student Start-Up, dalam Creative Consortium Summit & Innovation Challenge (CCSIC) 2026 yang berlangsung di Design Centre, Gedung CADL, Institut Teknologi Bandung.
Ajang yang diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif itu mempertemukan potensi akademisi dengan kebutuhan industri kreatif. Pencapaian tersebut menjadi salah satu langkah U-Lika Studio dalam mengembangkan kekayaan intelektual berbasis budaya lokal.
Kenupi kemudian mendapat kesempatan diperkenalkan dalam rangkaian Creative Consortium Summit pada The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Gim ini tampil dalam sesi diskusi bertajuk Rethinking Creative Education: From Classroom to Creative Economy, yang membahas hubungan pendidikan kreatif dan pengembangan industri.
Dari Manik-Manik hingga Respons Audiens
Perhatian terhadap Kenupi juga terlihat dari respons audiens terhadap materi promosinya. Berdasarkan data keterlibatan digital U-Lika Studio yang dikutip Kementerian Ekonomi Kreatif, trailer perdana gim ini, yang diiringi lagu tradisional Leleng, memperoleh lebih dari 9.000 tanda suka.
Unggahan tersebut mendapat respons dari sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Tiongkok. Riva mengungkapkan kegembiraannya melihat audiens internasional tertarik pada budaya Kalimantan yang diangkat melalui Kenupi.
Respons itu menjadi salah satu dorongan bagi tim untuk melanjutkan pengembangan gim. Perhatian audiens dari luar Indonesia juga membuka peluang untuk memperkenalkan budaya lokal melalui medium yang dapat menjangkau pengguna lintas wilayah.
Kenupi sendiri telah memiliki demo publik yang dapat diuji coba secara terbatas melalui perangkat ponsel pintar.
Dalam versi tersebut, pemain dapat mencoba aktivitas meracik objek-objek tradisional, termasuk kerajinan manik-manik khas Dayak.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman bermain yang dirancang U-Lika Studio tidak hanya berkaitan dengan penjelajahan desa dan interaksi dengan karakter.
Pemain juga diberi kesempatan mencoba aktivitas yang terinspirasi dari unsur budaya yang diangkat dalam gim.
Pengembangan Kenupi kini masih berlanjut. U-Lika Studio menargetkan peluncuran penuh pada 2030. Setelah itu, tim merencanakan kampanye edukasi ke sekolah-sekolah dan institusi resmi pada 2031–2032.
Pengembangan ke medium lain, seperti komik digital dan animasi, direncanakan pada 2033–2034.
Kenupi dan Rencana Perjalanan Berikutnya
Bagi U-Lika Studio, Kenupi merupakan bagian dari upaya mengembangkan kekayaan intelektual yang berangkat dari budaya lokal. Rencana jangka panjang tersebut tidak berhenti pada satu gim.
Tim juga berencana mengangkat rumpun suku Dayak lainnya dalam karya-karya mendatang.
Rencana itu memperlihatkan arah pengembangan yang ingin ditempuh studio: membawa cerita dan kearifan lokal ke dalam produk kreatif digital, lalu menjajaki medium lain untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Melalui Kenupi, budaya Dayak Kenyah menjadi sumber inspirasi bagi sebuah pengalaman bermain yang menggabungkan cerita, karakter, lingkungan virtual, dan aktivitas interaktif.
Perjalanan pemain di desa Kenupi sekaligus menjadi cara yang ditawarkan pengembang untuk memperkenalkan unsur budaya melalui gim.
Perjalanan Kenupi masih panjang. Peluncuran penuh, program edukasi, serta pengembangan ke komik digital dan animasi masih menjadi bagian dari rencana tim.
Demo yang tersedia secara terbatas saat ini menjadi gambaran awal arah pengembangan Kenupi.
Melalui gim ini, U-Lika Studio berupaya memperkenalkan budaya Dayak Kenyah kepada khalayak yang lebih luas sekaligus mengembangkan cerita Nusantara sebagai sumber inspirasi bagi industri kreatif digital.
Kenupi memperlihatkan bagaimana generasi muda dapat mengolah kekayaan budaya lokal menjadi karya interaktif yang dekat dengan perkembangan tekno








