Manokwari dikenal luas melalui Pulau Mansinam dan sejarah masuknya agama Kristen di Papua pada 5 Februari 1855. Namun, sejarah kawasan di pesisir utara Papua Barat ini memiliki lapisan yang lebih panjang.
Jauh sebelum tanggal tersebut, perairan di sekitar Manokwari telah menjadi ruang kehidupan masyarakat pesisir sekaligus tempat pertemuan dengan pelaut dan pedagang dari luar Papua.
Catatan perjalanan Thomas Forrest pada 1775 dan ekspedisi Alfred Russel Wallace pada 1858 memperlihatkan dua sisi penting sejarah Manokwari.
Forrest datang dalam konteks pelayaran dan perdagangan, sedangkan Wallace melakukan perjalanan untuk mengumpulkan spesimen alam. Keduanya meninggalkan catatan yang membantu kita memahami bagaimana kawasan ini dikenal oleh dunia luar.
Namun, kisah Manokwari bukan semata-mata tentang orang asing yang datang dan mencatat apa yang mereka lihat. Di balik catatan pelayaran dan penelitian tersebut terdapat masyarakat Papua yang telah membangun kehidupan pesisir, memanfaatkan sumber daya alam, dan menjalin hubungan dengan kelompok lain.
Sejarah Manokwari menjadi lebih utuh ketika pengalaman para penjelajah dibaca bersama kehidupan masyarakat yang mereka temui.
Teluk Doreri dalam Jaringan Pelayaran
Teluk Doreri menjadi pintu masuk untuk memahami posisi Manokwari dalam sejarah maritim Papua. Kawasan pesisir ini menyediakan ruang bagi kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut dan sumber daya sekitarnya.
Perairan menghubungkan kampung-kampung pesisir dengan pulau-pulau di sekitarnya, sementara kegiatan pertukaran memungkinkan barang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain.
Sejarah resmi pariwisata Manokwari menyebutkan bahwa sebelum kedatangan para penjelajah Eropa, pedagang Tionghoa telah melakukan barter dengan masyarakat pesisir Papua.
Barang yang dipertukarkan antara lain hasil laut dan kulit kayu untuk keperluan obat-obatan dengan piring, manik-manik, dan guci.
Kehadiran benda-benda dari luar dalam kehidupan masyarakat setempat juga menunjukkan bahwa hubungan antarkelompok tidak selalu berlangsung melalui penaklukan atau pemerintahan.
Pertukaran barang dapat menjadi bagian dari hubungan sosial dan ekonomi yang berkembang dalam jangka panjang.
Dalam hal inilah perjalanan Kapten Thomas Forrest pada 1775 menjadi penting. Forrest mengunjungi Pelabuhan Dory, nama yang digunakan dalam sejumlah catatan lama untuk kawasan yang kini dikenal sebagai Manokwari.
Buku perjalanannya, A Voyage to New Guinea, and the Moluccas, from Balambangan, diterbitkan pada 1779 dan merekam pengalamannya menjelajahi perairan kawasan tersebut.
Catatan Forrest menempatkan Dory dalam sejarah pelayaran yang menghubungkan berbagai wilayah kepulauan. Kunjungan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Manokwari merupakan pusat perdagangan dunia.
Bukti yang tersedia lebih menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi bagian dari jalur pertemuan maritim yang menarik perhatian pelaut dari luar Papua.
Laut, dengan demikian, bukan sekadar bentang alam di hadapan Manokwari. Laut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus jalur yang mempertemukan kepentingan perdagangan, perjalanan, dan hubungan antarkelompok.
Forrest dan Wallace: Dua Perjalanan, Dua Kepentingan
Thomas Forrest dan Alfred Russel Wallace datang ke Dory pada masa yang berbeda dengan tujuan yang tidak sama. Catatan mereka membantu memperlihatkan perubahan kepentingan orang luar terhadap kawasan pesisir Papua.
Forrest datang pada 1775 dalam konteks pelayaran dan perdagangan. Buku A Voyage to New Guinea, and the Moluccas, from Balambangan merekam perjalanan yang berkaitan dengan kepentingan maritim Inggris di kawasan Asia Tenggara.
Catatannya menjadi salah satu sumber untuk menelusuri bagaimana pelaut asing berinteraksi dengan masyarakat di pesisir Papua pada abad ke-18.
Delapan puluh tiga tahun kemudian, Alfred Russel Wallace tiba di kawasan Dorey pada April 1858. Naturalis Inggris tersebut sedang menjalani perjalanan panjang di Kepulauan Melayu untuk mengumpulkan spesimen sejarah alam bagi penelitian dan koleksi.
Dalam bab New Guinea—Dorey di bukunya, The Malay Archipelago, Wallace menjelaskan tujuan perjalanan dan pengalaman ekspedisinya di kawasan tersebut.
Penelitian Janet Owen yang terbit dalam Journal of the History of Collections pada 2020 mengulas secara khusus perjalanan pengumpulan spesimen Wallace di Dorey.
Selama sekitar tiga bulan, anggota ekspedisinya mengumpulkan ribuan spesimen serangga dan burung. Wallace juga memperoleh sejumlah ukiran kayu dari masyarakat Papua setempat. Benda-benda tersebut kini tersimpan di British Museum di London.
Catatan tersebut memperlihatkan perubahan cara kawasan ini hadir dalam perjalanan orang luar. Jika perjalanan Forrest berkaitan erat dengan pelayaran dan perdagangan, kunjungan Wallace membawa Dorey ke dalam kegiatan pengumpulan dan pengkajian alam yang berkembang di Eropa pada abad ke-19.
Kedua perjalanan itu pun tidak seharusnya dipahami sebagai awal sejarah Manokwari. Keduanya merupakan bagian dari sejarah yang lebih panjang, ketika masyarakat setempat telah hidup dengan pengetahuan, tradisi, dan hubungan sosialnya sendiri.
Pengetahuan Papua di Balik Catatan Penjelajah
Ekspedisi Wallace memberikan ruang untuk melihat sisi sejarah yang sering terlewatkan: peran orang-orang yang membantu perjalanan dan pengumpulan spesimen.
Dalam The Malay Archipelago, Wallace menyebut sejumlah orang yang menyertainya ke Dorey, antara lain Ali, Jumaat, Lahagi, dan Loisa. Mereka memiliki tugas berbeda, mulai dari membantu pengumpulan spesimen hingga mengurus kebutuhan sehari-hari.
Catatan ini menunjukkan bahwa perjalanan ilmiah Wallace bergantung pada tenaga dan keterampilan orang lain, bukan hanya kemampuan pengamatan sang naturalis.
Keterlibatan tersebut mengajak kita membaca sejarah ilmu pengetahuan dengan lebih kritis. Spesimen yang kemudian dipelajari dan disimpan dalam koleksi di luar Papua tidak diperoleh tanpa kerja lapangan.
Pengumpulan, pengangkutan, dan penyiapan spesimen memerlukan bantuan orang-orang yang mengenal lingkungan setempat atau memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam perjalanan.
Di sisi lain, ukiran kayu yang diperoleh Wallace memperlihatkan bahwa ekspedisi juga membawa benda budaya Papua ke dalam koleksi museum di Eropa.
Perpindahan benda-benda tersebut menjadi bagian dari sejarah hubungan antara masyarakat setempat dan lembaga pengetahuan di luar wilayahnya.
Untuk memahami makna ukiran tersebut bagi pembuat dan masyarakat asalnya, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai konteks budaya serta sejarah koleksinya.
Kisah ini penting karena penjelajah sering menjadi tokoh utama dalam catatan sejarah, sementara orang-orang yang membantu mereka hanya muncul sekilas. Padahal, pengetahuan yang dibawa keluar dari Papua turut terbentuk melalui interaksi dan kerja bersama di lapangan.
Masyarakat Papua bukan sekadar objek yang diamati. Mereka adalah bagian dari lingkungan sosial yang memungkinkan perjalanan dan penelitian berlangsung.
Namun, catatan Wallace tidak cukup untuk mewakili keseluruhan pengetahuan masyarakat Papua tentang laut, hutan, satwa, maupun hubungan antarkelompok.
Untuk memahami kehidupan maritim secara lebih luas, catatan perjalanan perlu dibaca bersama penelitian arkeologi dan kajian kebudayaan pesisir utara Papua.
Penelitian tentang budaya maritim Papua menunjukkan bahwa laut berperan sebagai sumber pangan sekaligus ruang mobilitas dan hubungan dengan dunia luar. Pengetahuan mengenai lingkungan, pemanfaatan sumber daya, dan peralatan hidup menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.
Catatan Forrest dan Wallace itu kemudian dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah Manokwari, tetapi bukan satu-satunya sumber untuk menjelaskan kebudayaan masyarakat Papua.
Dari Dorey Menuju Kota Manokwari
Sejarah Manokwari kemudian memasuki babak lain melalui kedatangan misionaris, pembentukan pemerintahan kolonial, dan pergolakan politik pada abad ke-20.
Pada 5 Februari 1855, Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler tiba di Pulau Mansinam. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah penyebaran agama Kristen di Papua dan melahirkan julukan Manokwari sebagai Kota Injil.
Mansinam kemudian berkembang sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan di Papua.
Pada 8 November 1898, pemerintah kolonial Belanda membuka pos pemerintahan di Manokwari. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Manokwari melalui Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 1995, sebagaimana dicatat dalam sejarah resmi pariwisata Manokwari.
Perubahan berikutnya berlangsung melalui pendudukan Jepang pada Perang Dunia II dan perkembangan politik Papua setelah perang.
Manokwari tidak hanya menjadi bagian dari sejarah pelayaran dan penelitian alam, tetapi juga mengalami perubahan kekuasaan yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan perkembangan kawasan tersebut.
Berbagai peristiwa itu menunjukkan bahwa sejarah Manokwari tidak dapat diringkas melalui satu julukan atau satu tanggal.
Teluk Doreri, perjalanan Forrest, ekspedisi Wallace, peristiwa di Mansinam, dan pembentukan pemerintahan kolonial merupakan lapisan sejarah yang berbeda, tetapi bersama-sama membantu menjelaskan perjalanan kawasan ini.
Manokwari tidak harus disebut sebagai pusat perdagangan dunia untuk dianggap penting dalam sejarah maritim. Catatan yang tersedia menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi tempat pertemuan masyarakat pesisir dengan pelaut, pedagang, peneliti, dan pendatang dari luar Papua.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam konteks dan kepentingan yang berbeda, sementara kehidupan masyarakat setempat terus menjadi bagian dari sejarah kawasan.
Membaca Manokwari melalui jejak penjelajahan dunia berarti mengembalikan perhatian kepada masyarakat yang telah lama hidup di pesisir Papua.
Mereka bukan sekadar bagian dari pemandangan yang dicatat oleh penjelajah, melainkan pelaku sejarah dengan pengetahuan dan kebudayaan sendiri.
Dari Teluk Doreri, kita melihat bahwa sejarah dunia tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang berlayar jauh dan menulis catatan perjalanan.
Sejarah juga tumbuh melalui perjumpaan di pesisir, pertukaran barang, bantuan dalam ekspedisi, serta pengetahuan masyarakat yang tidak seluruhnya tercatat. Jejak-jejak itu menjadi bagian penting dalam memahami sejarah Manokwari.








