Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Di kota ini, Sungai Martapura menjadi bagian penting dari lanskap perkotaan, berdampingan dengan jalan raya, kawasan perdagangan, permukiman, dan berbagai tujuan wisata.
Pasar terapung, Masjid Sultan Suriansyah, Museum Wasaka, serta kawasan Siring Martapura memperlihatkan beragam sisi kota yang menyimpan kekayaan sejarah dan budaya.
Di tengah perkembangan kehidupan modern, sungai tetap menjadi salah satu penanda yang membedakan Banjarmasin dari kota-kota lain di Indonesia.
Kota ini juga memiliki semboyan Kayuh Baimbai, yang berarti mendayung bersama-sama. Ungkapan tersebut membawa pesan kebersamaan yang selaras dengan kehidupan masyarakat di wilayah yang sejak lama bergantung pada sungai sebagai jalur perhubungan dan perdagangan.
Wajah Banjarmasin hari ini terbentuk melalui perjalanan panjang yang melibatkan perpindahan pusat kekuasaan, perdagangan antardaerah, penyebaran Islam, dan pergulatan menghadapi kolonialisme.
Jauh sebelum jalan raya dan bangunan modern membentuk wajahnya, Banjarmasin tumbuh dari permukiman di tepian sungai yang kemudian menjadi pusat Kesultanan Banjar.
Untuk memahami kota ini hari ini, sejarahnya perlu ditelusuri kembali ke kawasan Kuin, ketika sungai bukan sekadar bagian dari pemandangan, melainkan jalur kehidupan yang turut menentukan arah pertumbuhannya.
Kuin dan Awal Banjarmasih
Sejarah Banjarmasin bermula dari kawasan Kuin, di sekitar pertemuan aliran sungai yang terhubung dengan Sungai Barito. Wilayah ini menjadi tempat tumbuhnya permukiman yang dikenal dengan nama Banjarmasih.
Pemerintah Kota Banjarmasin menghubungkan nama tersebut dengan istilah Oloh Masih, yang berarti orang Melayu dalam penjelasan sejarah setempat.
Permukiman itu dipimpin seorang kepala kampung bergelar Patih Masih. Nama aslinya tidak diketahui secara pasti. Bersama sejumlah pemimpin kampung lainnya, Patih Masih kemudian berperan dalam perubahan politik yang melahirkan pemerintahan baru di kawasan hilir.
Perubahan tersebut berkaitan dengan perselisihan di lingkungan Kerajaan Negara Daha, yang berpusat di pedalaman Kalimantan Selatan. Pangeran Samudera, cucu Maharaja Sukarama, menghadapi ancaman dari pamannya, Pangeran Tumenggung, dalam perebutan kekuasaan.
Menurut tradisi sejarah yang dihimpun pemerintah kota, Pangeran Samudera kemudian meninggalkan pusat kerajaan dan mencari perlindungan di kawasan hilir.
Patih Masih dan para pemimpin kampung mendukung Pangeran Samudera. Dukungan itu menjadi bagian penting dari terbentuknya kekuatan politik baru yang berpusat di Banjarmasih.
Kawasan tersebut juga berkembang sebagai pusat perdagangan setelah jalur niaga yang sebelumnya berada di Muara Bahan beralih ke wilayah Banjarmasih.
Letak geografis memberikan keuntungan bagi perkembangan permukiman ini. Sungai menghubungkan kawasan pesisir dengan pedalaman, memungkinkan pergerakan orang dan barang melalui jalur air.
Hasil bumi, termasuk lada, menjadi bagian dari perdagangan yang menghubungkan kawasan Banjar dengan wilayah lain di Nusantara.
Banjarmasih pun tidak tumbuh hanya sebagai tempat tinggal. Kawasan ini berkembang menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan yang kedudukannya semakin penting di Kalimantan bagian selatan.
Dari sinilah perjalanan Kesultanan Banjar memperoleh pijakan awalnya.
Pangeran Samudera dan Lahirnya Kesultanan Banjar
Dukungan para pemimpin kampung kepada Pangeran Samudera membawa Banjarmasih ke dalam konflik terbuka dengan Negara Daha.
Kekuatan Pangeran Tumenggung yang lebih mapan membuat persaingan tersebut tidak mudah diselesaikan. Pangeran Samudera kemudian mencari bantuan dari sejumlah wilayah lain, termasuk Kesultanan Demak di Jawa.
Dalam kronologi yang digunakan Pemerintah Kota Banjarmasin, bantuan Demak berkaitan dengan kesediaan Pangeran Samudera memeluk Islam.
Pasukan Demak dikisahkan datang bersama Khatib Dayan, tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di lingkungan kerajaan. Dengan dukungan tersebut, Pangeran Samudera akhirnya berhasil mengalahkan lawannya dan memperkuat kedudukan pemerintahannya.
Pada 24 September 1526, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Banjarmasin.
Pemerintahan Sultan Suriansyah menjadi tonggak penting dalam sejarah Kesultanan Banjar, yang berkembang dengan Banjarmasih sebagai pusat awalnya.
Sultan Suriansyah membangun pusat pemerintahan di kawasan Kuin. Masjid Sultan Suriansyah, yang dikenal sebagai salah satu peninggalan penting masa awal Kesultanan Banjar, menjadi bagian dari warisan sejarah kawasan tersebut.
Kehadiran masjid memperlihatkan hubungan antara perkembangan kekuasaan kerajaan dan penyebaran Islam di wilayah Banjar.
Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh para penerus Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar berkembang sebagai kekuatan politik yang berhubungan dengan berbagai wilayah melalui perdagangan.
Posisi sungai tetap penting karena memungkinkan hubungan antara pusat pemerintahan, kawasan permukiman, pelabuhan, dan daerah penghasil komoditas.
Bandar Dagang di Tengah Perebutan Kuasa
Perdagangan menjadi salah satu alasan kawasan Banjarmasih menarik perhatian bangsa Eropa. Lada dari wilayah Banjar merupakan komoditas penting yang diperdagangkan ke berbagai tempat.
Hubungan niaga tersebut membawa Banjarmasin ke dalam jaringan perdagangan yang semakin luas, sekaligus mempertemukannya dengan kepentingan perusahaan dagang Eropa.
Catatan sejarah pemerintah kota menyebutkan bahwa pada 1596, Belanda merampas dua jung lada dari Banjarmasin yang sedang berdagang di Kesultanan Banten.
Ekspedisi Belanda kemudian tiba di Banjarmasin pada 1607. Persaingan perdagangan dan ketegangan politik itu berlanjut hingga serangan Belanda pada 1612.
Dalam serangan tersebut, kawasan Banjar Lama di Kuin, termasuk lingkungan keraton, mengalami kehancuran. Pusat pemerintahan Kesultanan Banjar kemudian dipindahkan ke Martapura.
Perpindahan ini mengubah kedudukan Kuin sebagai pusat kekuasaan, tetapi tidak serta-merta mengakhiri aktivitas perdagangan di Banjarmasin.
Seiring waktu, kawasan Pulau Tatas berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial. Benteng Tatas menjadi salah satu penanda kehadiran kekuasaan Belanda di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Banjarmasin modern.
Perubahan pusat pemerintahan tersebut turut membentuk susunan ruang kota, termasuk kawasan perdagangan, permukiman, dan fasilitas pemerintahan.
Kesultanan Banjar masih bertahan di Martapura, tetapi tekanan kolonial terus meningkat. Pada abad ke-19, konflik antara Kesultanan Banjar dan Belanda berkembang menjadi Perang Banjar.
Perselisihan mengenai kekuasaan, campur tangan kolonial, dan persoalan suksesi kerajaan menjadi bagian dari latar belakang perlawanan tersebut.
Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada 1860. Meski demikian, perlawanan tidak langsung berakhir. Pangeran Antasari menjadi salah satu tokoh utama perjuangan rakyat Banjar.
Perlawanan di kawasan pedalaman Barito berlanjut hingga awal abad ke-20, ketika Sultan Muhammad Seman gugur pada 1905 menurut kronologi yang dicatat pemerintah kota.
Berakhirnya kesultanan menandai perubahan besar dalam sejarah politik Banjar. Banjarmasin semakin berkembang sebagai pusat pemerintahan kolonial, sementara kehidupan masyarakatnya terus bergerak di tengah perubahan ekonomi, sosial, dan budaya.
Kota yang Terus Berubah
Memasuki abad ke-20, Banjarmasin mengalami perubahan dalam tata pemerintahan dan kehidupan perkotaan. Pada 1918, kota ini memperoleh Gemeente-Raad, disusul berlakunya dewan kota pada 1 Juli 1919.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pembentukan administrasi perkotaan pada masa Hindia Belanda, meskipun ruang partisipasi dan kepentingan masyarakat ketika itu masih dipengaruhi struktur kolonial.
Perubahan politik terus berlangsung hingga masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, Banjarmasin menjadi bagian penting dari pemerintahan di Kalimantan.
Kota ini juga berkembang sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan kebudayaan di Kalimantan Selatan.
Warisan sejarahnya masih dapat dijumpai dalam sejumlah tempat. Masjid Sultan Suriansyah mengingatkan pada masa awal Kesultanan Banjar, sedangkan Museum Wasaka menyimpan berbagai benda dan kisah yang berkaitan dengan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.
Di sisi lain, Sungai Martapura tetap menjadi salah satu unsur yang membentuk karakter kota.
Pasar terapung dan tradisi menggunakan jukung memperlihatkan hubungan panjang masyarakat Banjar dengan sungai. Meski transportasi darat dan kehidupan perkotaan modern semakin berkembang, sungai masih memiliki tempat dalam identitas Banjarmasin.
Pasar terapung yang dikenal wisatawan juga menjadi pengingat bahwa perdagangan di atas air pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan ini.
Banjarmasin hari ini tentu berbeda dari Banjarmasih pada abad ke-16.
Pusat kekuasaan telah berganti, wilayah kota berkembang, dan cara masyarakat beraktivitas berubah mengikuti zaman. Namun, sejarahnya memperlihatkan bahwa sungai, perdagangan, dan pertemuan berbagai kebudayaan berperan besar dalam membentuk kota tersebut.
Dari kawasan Kuin hingga pusat kota modern, Banjarmasin tumbuh melalui perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan mulus.
Sungai Martapura kini berbagi ruang dengan jalan raya, bangunan, dan kawasan perdagangan, tetapi perannya dalam sejarah tetap penting untuk memahami identitas kota.
Banjarmasin bukan hanya kota yang memiliki banyak sungai; ia juga merupakan kota yang sejarah pertumbuhannya tidak dapat dilepaskan dari sungai-sungai tersebut.








