Berdiri di atas dua batang bambu bukan perkara mudah. Tubuh harus tegak, tangan menjaga pegangan, dan kaki bergerak mengikuti pijakan kecil yang berada jauh dari tanah.
Satu langkah yang terlalu cepat dapat membuat pemain kehilangan keseimbangan. Namun, ketika keterampilan itu dikuasai, berjalan di atas egrang menjadi tontonan yang mengundang perhatian.
Di Indonesia, egrang lekat dengan permainan tradisional yang kerap hadir dalam perlombaan dan perayaan kemerdekaan. Anak-anak dan orang dewasa mencoba berjalan atau berlari di atas bambu, berlomba mencapai garis akhir tanpa terjatuh.
Suasana biasanya ramai oleh sorakan penonton yang menunggu siapa yang paling cepat dan siapa yang kehilangan keseimbangan lebih dahulu.Akan tetapi, cerita tentang manusia yang berjalan lebih tinggi dari tanah tidak berhenti di Nusantara.
Di Belgia, permainan egrang pernah berkembang menjadi pertarungan antarkelompok. Di Meksiko, berjalan di atas egrang hadir dalam tradisi tari.
Sementara itu, Moko Jumbies dikenal sebagai figur berkaki tinggi yang tampil dalam karnaval di kawasan Karibia dan memiliki kaitan dengan warisan budaya Afrika.
Perbandingan tersebut dibahas Kendall Malik dalam artikel ilmiah Perbedaan Nilai (Value) dan Makna (Meaning) Budaya Permainan Egrang di Empat Negara, yang diterbitkan dalam Gorga: Jurnal Seni Rupa pada 2019.
Kajian tersebut mengulas Indonesia, Belgia, Meksiko, serta tradisi Moko yang dikaitkan dengan Nigeria dan Kongo. Meski menggunakan alat yang serupa, setiap tradisi memiliki latar dan makna yang tidak selalu sama.
Jejak Egrang di Nusantara
Egrang memiliki bentuk yang sederhana. Sepasang batang bambu atau kayu diberi pijakan untuk kaki, sehingga pemain dapat berdiri lebih tinggi dan melangkah dengan bantuan alat tersebut.
Kesederhanaan bentuknya tidak berarti mudah dimainkan. Pemain perlu melatih koordinasi tangan dan kaki, mengatur berat badan, serta memperkirakan jarak setiap langkah.
Sejarah awal egrang di Indonesia belum diketahui secara pasti. Salah satu petunjuk tertulis muncul dalam Baoesastra Djawa, kamus karya W.J.S. Poerwadarminta yang terbit pada 1939.
Istilah egrang-egrangan tercatat sebagai permainan menggunakan alat berupa bambu atau kayu yang diberi pijakan untuk berjalan.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa permainan egrang telah dikenal sebelum Indonesia merdeka, tetapi tidak menjelaskan kapan dan di mana permainan itu pertama kali muncul.
Di berbagai daerah, egrang dikenal dengan nama berbeda. Masyarakat Sunda mengenal istilah jajangkungan, yang berhubungan dengan kata jangkung, bermakna tinggi.
Di Sulawesi Tengah, permainan sejenis disebut tilako. Sementara itu, sejumlah sumber mencatat nama tengkak-tengkak di Sumatera Barat, ingkau di Bengkulu, dan batungkau di wilayah Kalimantan.
Perbedaan nama tersebut memperlihatkan bagaimana permainan tradisional hidup dalam lingkungan bahasa dan kebudayaan setempat.
Bentuk alatnya dapat serupa, tetapi istilah, cara bermain, dan konteks penggunaannya berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat masing-masing.
Egrang juga tidak hanya dimainkan untuk mengisi waktu luang. Dalam perkembangannya, permainan ini menjadi bagian dari perlombaan dan perayaan masyarakat.
Peserta berlomba berjalan atau berlari menuju garis akhir. Di beberapa bentuk permainan, pemain beradu ketangkasan untuk mempertahankan posisi di atas egrang.
Keterampilan menjaga keseimbangan menjadi inti permainan. Pemain harus mampu mengendalikan tubuh sekaligus menyesuaikan langkah dengan gerakan alat.
Karena itu, egrang membutuhkan latihan, ketekunan, keberanian, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut juga menjadi perhatian Kendall Malik dalam kajiannya tentang permainan egrang di empat negara.
Dari Pertarungan hingga Tarian
Di Belgia, tradisi egrang di kota Namur memperlihatkan sisi yang berbeda.
Dalam kajian Kendall Malik, permainan tersebut digambarkan sebagai pertarungan antara dua kelompok yang saling berusaha menjatuhkan lawan. Para pemain menggunakan egrang dalam pertandingan yang melibatkan gerakan cepat, strategi, dan ketangkasan.
Artikel itu juga memuat legenda lokal yang menghubungkan tradisi tersebut dengan sejarah Namur. Kisah tersebut perlu dipahami sebagai legenda yang dicatat dalam sumber, bukan sebagai bukti sejarah yang telah dipastikan secara independen.
Keberadaan tradisi pertarungan egrang ini menunjukkan bahwa alat yang sama dapat berkembang menjadi permainan kompetitif dengan aturan dan identitas kelompok tersendiri.
Di Zaachila, Meksiko, kajian yang sama membahas tradisi menari di atas egrang. Penulis menghubungkannya dengan kisah mengenai San Pedro dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam hal ini, egrang tidak semata-mata digunakan untuk berlomba. Gerakan di atas tongkat menjadi bagian dari pertunjukan yang berhubungan dengan cerita dan perayaan masyarakat.
Perbedaan tersebut menarik untuk dicermati. Di satu tempat, pemain berusaha mencapai garis akhir atau mengalahkan lawan. Di tempat lain, keterampilan berjalan di atas egrang menjadi bagian dari koreografi dan pertunjukan.
Alat yang mengangkat tubuh dari tanah dapat mendukung berbagai bentuk ekspresi budaya, bergantung pada lingkungan tempat tradisi itu berkembang.
Kemiripan penggunaan egrang tidak membuktikan bahwa tradisi Indonesia, Belgia, dan Meksiko memiliki asal-usul yang sama.
Sumber yang tersedia memperlihatkan perbandingan bentuk dan fungsi, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan sejarah di antara tradisi-tradisi tersebut.
Moko Jumbies dan Warisan Afrika
Pembahasan egrang lintas budaya juga membawa kita ke tradisi Moko Jumbies. Figur ini dikenal dalam karnaval di kawasan Karibia, terutama Trinidad dan Tobago, dengan penampilan yang menjulang di atas egrang.
Para penampil bergerak di tengah keramaian, membuat tubuh mereka tampak jauh lebih tinggi daripada orang-orang di sekelilingnya.
Dalam artikel Kendall Malik, Moko Jumbies dikaitkan dengan Moko, figur yang memiliki hubungan dengan tradisi Afrika, termasuk Nigeria dan Kongo.
Penulis menggambarkan Moko sebagai sosok tinggi yang dalam kisah tradisional dihubungkan dengan kemampuan menjaga masyarakat dari bahaya. Artikel itu juga menampilkan Moko Jumbies dalam konteks karnaval.
Keterangan tersebut membuka pintu untuk memahami bagaimana praktik berjalan di atas egrang dapat melampaui fungsi permainan.
Dalam tradisi pertunjukan, ketinggian tubuh menjadi bagian penting dari penampilan. Pemain tidak sekadar menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan, tetapi juga menghadirkan sosok yang berbeda dari manusia dalam keseharian.
Hubungan antara tradisi Afrika dan Moko Jumbies di Karibia memiliki sejarah tersendiri yang tidak dapat diringkas sebagai satu kisah tunggal. Istilah Moko Jumbie juga tidak dapat digunakan untuk menyebut semua tradisi egrang di Afrika.
Karena itu, pembahasan ini lebih tepat ditempatkan sebagai contoh tradisi pertunjukan yang memiliki hubungan budaya tertentu, bukan sebagai bukti bahwa semua permainan egrang di dunia berasal dari Afrika.
Hal yang dapat dibandingkan adalah cara masyarakat memberi makna pada keterampilan yang serupa. Di Indonesia, egrang dikenal sebagai permainan dan bagian dari perayaan.
Di Belgia, sumber yang dikaji menggambarkan pertandingan antarkelompok. Di Meksiko, egrang hadir dalam tarian. Dalam tradisi Moko Jumbies, tubuh yang menjulang menjadi unsur utama pertunjukan karnaval.
Dua Batang Penyangga, Banyak Cerita
Berjalan di atas egrang mengharuskan seseorang mengubah cara tubuh bergerak. Kaki tidak lagi langsung menapak tanah. Setiap langkah bergantung pada pijakan yang sempit, sementara tangan dan tubuh bekerja bersama untuk mempertahankan keseimbangan.
Bagi pemain pemula, gerakan sederhana itu dapat menjadi tantangan tersendiri. Dalam permainan tradisional, tantangan tersebut menciptakan ruang untuk belajar dan berinteraksi.
Anak-anak berlatih, mencoba kembali setelah terjatuh, lalu mengukur kemampuan bersama teman-temannya. Ketika egrang dimainkan dalam perlombaan, keterampilan individu bertemu dengan semangat persaingan dan dukungan penonton.
Kendall Malik menyoroti nilai kerja keras, keuletan, keseimbangan, dan sportivitas dalam permainan egrang. Nilai-nilai tersebut merupakan pembacaan terhadap praktik permainan yang dikaji, bukan makna tunggal yang harus berlaku bagi semua masyarakat pengguna egrang.
Setiap komunitas dapat menempatkan permainan atau pertunjukan ini dalam konteks sosial yang berbeda.
Perjalanan egrang dari permainan bambu di Nusantara hingga berbagai tradisi pertunjukan di negara lain memperlihatkan bahwa alat sederhana dapat memperoleh banyak fungsi.
Kesamaan bentuk pun tidak menghapus perbedaan sejarah. Justru dari perbedaan itulah cerita budaya menjadi menarik.
Dari atas egrang, manusia memang terlihat lebih tinggi. Akan tetapi, hal yang lebih penting bukanlah seberapa jauh tubuh terangkat dari tanah, melainkan bagaimana sebuah masyarakat mengolah keterampilan menjadi permainan, pertunjukan, dan bagian dari kehidupan bersama.
Dua batang penyangga itu mungkin tampak sederhana. Di baliknya, tersimpan beragam cara manusia bermain, merayakan, dan memberi makna pada kebudayaannya.





