Pariwisata

Menjelajahi Kediri, Menyusuri Jejak Masa Lampau

Dari relief candi hingga arca penjaga raksasa, Kabupaten Kediri menawarkan perjalanan wisata yang mempertemukan keindahan situs bersejarah dengan kisah peradaban Jawa.

Oleh Ridwan

Menjelajahi Kediri, Menyusuri Jejak Masa Lampau
Panel Relief Panji Gambyok di Kabupaten Kediri menjadi salah satu tujuan wisata budaya untuk mengenal kisah Panji melalui seni pahat. Foto: Pusakakediri.com
Diterbitkan

Kediri, Jawa Timur memiliki banyak alasan untuk dikunjungi. Bentang alamnya menawarkan tujuan wisata yang beragam, sementara peninggalan sejarahnya mengajak pengunjung mengenal perjalanan panjang peradaban Jawa. 

Di sejumlah desa, candi dan arca berdiri sebagai saksi masa lampau yang masih dapat dijumpai di tengah kehidupan masyarakat sekarang.

Perjalanan menelusuri warisan budaya Kediri bisa dimulai dari beberapa situs yang menyimpan cerita berbeda. 

Ada candi dengan relief yang menggambarkan kisah sastra kuno, bangunan suci peninggalan Majapahit, hingga arca batu berukuran besar yang lekat dengan cerita rakyat setempat.

Kali ini, perjalanan berpusat di Kabupaten Kediri, bukan Kota Kediri yang merupakan wilayah administrasi berbeda. Sejumlah situs berada di desa-desa yang tersebar di beberapa kecamatan. 

Perjalanan pun akan lebih nyaman jika direncanakan dengan melihat lokasi setiap tujuan terlebih dahulu.

Candi Tegowangi dan Relief Cerita Sudhamala

Perjalanan dapat dimulai dari Candi Tegowangi, yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan. 

Candi ini merupakan peninggalan masa Majapahit yang berkaitan dengan penghormatan kepada Bhre Matahun, kerabat Raja Hayam Wuruk yang wafat pada 1388 Masehi.

Bagian bangunan yang masih bertahan memperlihatkan susunan batu andesit dengan detail pahatan pada permukaannya. 

Meski tidak lagi utuh, Candi Tegowangi tetap menarik untuk diamati dari dekat, terutama pada relief yang menghiasi bagian kaki dan tubuh bangunannya.

Candi Tegowangi di Kabupaten Kediri, salah satu peninggalan sejarah yang dapat dikunjungi dalam perjalanan wisata budaya.
Candi Tegowangi menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Kabupaten Kediri dengan relief yang menyimpan kisah dari tradisi sastra Jawa Kuno. Foto: pusakakediri.com

Salah satu bagian pentingnya adalah rangkaian relief Sudhamala. Kisah ini berhubungan dengan penyucian Dewi Durga oleh Sadewa, salah satu tokoh Pandawa dalam tradisi cerita Mahabharata. 

Relief tersebut memperlihatkan bahwa candi bukan hanya bangunan keagamaan, tetapi juga ruang tempat kisah dan ajaran disampaikan melalui seni pahat.

Pengunjung dapat meluangkan waktu untuk mengamati detail relief tanpa harus terburu-buru berpindah ke tujuan berikutnya. Perhatikan bentuk tokoh, susunan panel, dan ragam hias yang menyertainya. 

Pengalaman berkunjung akan terasa lebih kaya ketika kita tidak hanya mengambil foto, tetapi juga mencoba memahami cerita yang dipahatkan pada batu.

Informasi mengenai sejarah dan unsur bangunan Candi Tegowangi dapat ditelusuri melalui Pusaka Kediri, sistem informasi warisan budaya yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Candi Surowono, Cerita yang Terpahat pada Batu

Dari Tegowangi, perjalanan dapat dilanjutkan ke Candi Surowono di Desa Canggu, Kecamatan Badas. Situs ini juga merupakan peninggalan masa Majapahit dan berkaitan dengan penghormatan kepada Bhre Wengker.

Kondisi bangunannya tidak lagi utuh. Bagian kaki dan sebagian tubuh candi menjadi unsur yang masih dapat diamati. 

Keterbatasan bentuk yang tersisa tidak menghilangkan daya tariknya. Justru pada bagian-bagian tersebut, pengunjung dapat memperhatikan detail arsitektur dan relief yang menyimpan cerita.

Relief Candi Surowono memuat beberapa kisah dari tradisi sastra Jawa Kuno, di antaranya Arjunawiwaha, Bubhuksah dan Gagangaking, serta Sri Tanjung. 

Candi Surowono di Desa Canggu, Kabupaten Kediri, merupakan peninggalan era Majapahit yang menyimpan jejak arsitektur dan relief dari masa lalu. Foto: pusakakediri.com

Nama-nama itu menunjukkan bahwa kisah yang dipahatkan pada candi tidak terbatas pada satu cerita atau satu jenis pesan.

Bagi pengunjung yang menyukai seni dan sastra, relief tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal cara masyarakat pada masa lalu menyampaikan cerita melalui bangunan suci. 

Pahatan batu dapat diamati sebagai karya seni sekaligus sumber untuk mempelajari tradisi dan kehidupan spiritual pada zamannya.

Berbeda dari perjalanan wisata yang mengandalkan banyak aktivitas, kunjungan ke candi mengajak kita memperlambat langkah. 

Berjalan mengitari bangunan, memperhatikan pola hias, dan membaca keterangan situs bisa menjadi bagian penting dari pengalaman.

Arca Totok Kerot dan Cerita Rakyat Kediri

Tujuan berikutnya adalah Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu. Berbeda dari dua candi sebelumnya, situs ini menghadirkan sosok batu berukuran besar dengan bentuk yang mudah dikenali.

Arca tersebut memiliki tinggi sekitar 2,98 meter. Dalam penjelasan pada sistem informasi Pusaka Kediri, arca ini diidentifikasi sebagai Dwarapala, sosok penjaga yang dikenal dalam tradisi Hindu sebagai pelindung pintu masuk atau kawasan penting.

Bentuk tubuhnya yang besar, posisi jongkok, serta wajah dan ragam hiasnya memberikan kesan kuat. Bagi pengunjung, melihat arca ini secara langsung menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan mengamati foto atau ilustrasi di buku.

Totok Kerot juga hidup dalam cerita rakyat Kediri. Salah satu kisah menghubungkannya dengan seorang putri dari Blitar yang hendak melamar Raja Jayabaya, tetapi kemudian dikutuk menjadi arca.

Arca Totok Kerot di Kabupaten Kediri dikenal sebagai arca penjaga berukuran besar yang menyimpan jejak seni pahat masa lampau dan lekat dengan cerita rakyat setempat. Foto: Pusakakediri.com

Cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur setempat, bukan keterangan sejarah yang dapat diperlakukan sebagai fakta arkeologis.

Pembedaan ini penting ketika mengunjungi situs bersejarah. Legenda memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan dengan tempat dan benda yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Sementara itu, kajian arkeologi membantu menjelaskan bentuk, fungsi, dan perkiraan masa pembuatan benda tersebut.

Di Totok Kerot, pengunjung dapat mengenal keduanya tanpa harus mencampuradukkan cerita rakyat dengan hasil penelitian.

Merencanakan Perjalanan Wisata Budaya

Candi Tegowangi, Candi Surowono, dan Arca Totok Kerot dapat menjadi rangkaian perjalanan untuk mengenal sebagian warisan budaya Kabupaten Kediri. Ketiganya menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga perjalanan tidak terasa seperti mengunjungi bangunan serupa berulang kali.

Jika memiliki waktu lebih panjang, wisatawan dapat mencari informasi mengenai Situs Tondowongso di Desa Gayam, Kecamatan Gurah. Situs ini dikenal melalui temuan struktur bangunan dan arca yang memberikan petunjuk tentang kegiatan keagamaan pada masa lampau. 

Sebelum memasukkannya ke dalam rencana perjalanan, pastikan informasi kunjungan dan kondisi akses terkini melalui pengelola atau instansi terkait.

Untuk menjelajahi beberapa lokasi, kendaraan pribadi dapat memberikan keleluasaan berpindah dari satu kecamatan ke kecamatan lain. 

Sebelum berangkat, periksa kembali titik lokasi dan rute perjalanan, serta pastikan tempat yang dituju dapat menerima kunjungan pada hari tersebut. Waktu tempuh sebaiknya disesuaikan dengan jarak antarsitus dan durasi yang ingin digunakan di setiap tempat.

Kenakan alas kaki yang nyaman, bawa air minum, dan siapkan waktu untuk membaca informasi yang tersedia di lokasi. Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga situs dengan tidak memanjat bangunan, mencoret permukaan batu, memindahkan benda, atau menyentuh bagian yang rentan rusak.

Kabupaten Kediri menyimpan warisan budaya yang jauh lebih luas daripada tiga situs dalam perjalanan ini. Sistem informasi Pusaka Kediri mencatat ratusan objek cagar budaya, meskipun jumlah tersebut mencakup beragam jenis warisan dan tidak seluruhnya merupakan candi atau destinasi yang terbuka untuk kunjungan umum.

Menjelajahi Kediri melalui situs-situs bersejarah memberi kesempatan untuk melihat daerah ini dari sudut yang berbeda. 

Perjalanan bukan semata-mata tentang menemukan bangunan tua, melainkan juga mengenali keterampilan para pembuatnya, cerita yang diwariskan, dan cara masyarakat masa kini merawat peninggalan tersebut.

Di antara desa, jalan penghubung, dan aktivitas sehari-hari, jejak masa lampau itu masih dapat dijumpai. 

Dengan persiapan yang baik dan sikap menghormati warisan budaya, kunjungan ke Kediri bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan sekaligus memperluas pengetahuan tentang sejarah Nusantara.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →