Bunyi gamelan Sekaten menjadi salah satu penanda perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan keraton Jawa. Instrumen tradisional ini tidak dimainkan setiap hari.
Di Yogyakarta dan Surakarta, kehadirannya terikat pada rangkaian tradisi yang mempertemukan peringatan keagamaan, tata upacara keraton, dan kehidupan budaya masyarakat.
Di balik bunyinya yang kuat, gamelan Sekaten menyimpan kisah tentang hubungan Islam dan kebudayaan Jawa. Tradisi ini kerap dikaitkan dengan strategi dakwah para wali yang memanfaatkan kesenian untuk menarik perhatian masyarakat.
Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi ruang perjumpaan antara ajaran agama dan kebiasaan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.
Di sisi lain, sejarah Sekaten tidak seluruhnya bersandar pada catatan tertulis yang dapat memastikan setiap kisah asal-usulnya. Sejumlah penjelasan diwariskan melalui tradisi lisan, termasuk cerita tentang peran Sunan Kalijaga dalam penggunaan gamelan untuk penyebaran Islam.
Sejarah dan cerita yang menyertainya pun perlu dibaca dengan membedakan bukti tertulis, tradisi tutur, dan penafsiran simbolik.
Gamelan sebagai Sarana Dakwah Kultural
Dalam kajian Gamelan Sekaten dan Penyebaran Islam di Jawa, Joko Daryanto menjelaskan bahwa gamelan Sekaten merupakan salah satu sarana pendukung penyebaran Islam di Jawa.
Artikel yang terbit dalam Jurnal Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian tentang Bunyi pada 2014 itu menguraikan pendekatan kultural melalui penggunaan kesenian yang telah dikenal masyarakat.
Menurut kajian tersebut, tradisi lisan menghubungkan gagasan penggunaan gamelan untuk dakwah dengan Sunan Kalijaga. Gamelan ditempatkan sebagai daya tarik agar masyarakat berkumpul di sekitar masjid.
Dari pertemuan itu, dakwah dapat berlangsung melalui medium yang akrab dengan kehidupan budaya setempat. Kisah ini menjadi salah satu penjelasan yang bertahan dalam ingatan kolektif mengenai Sekaten.
Pendekatan tersebut penting dalam memahami hubungan agama dan kebudayaan di Jawa. Penyebaran ajaran tidak hanya berlangsung melalui penyampaian lisan, tetapi juga dapat melibatkan kesenian dan perayaan bersama.
Gamelan menyediakan ruang pertemuan, sedangkan peringatan Maulid Nabi memberi tradisi itu konteks keagamaan.
Meski demikian, kisah tentang Sunan Kalijaga dan awal penggunaan gamelan Sekaten perlu ditempatkan sebagai tradisi yang dikenal luas, bukan kepastian sejarah yang seluruh rinciannya telah terbukti melalui sumber sezaman.
Pembedaan ini tidak mengurangi nilai budayanya. Sebaliknya, cara tersebut membantu menjelaskan bagaimana masyarakat mewariskan pemahaman tentang masa lalu melalui cerita dan praktik budaya.
Dari Tradisi Islam ke Lingkungan Keraton
Sekaten berkembang dalam lingkungan kerajaan Islam di Jawa. Dalam kajian Joko Daryanto, tradisi ini dikaitkan dengan masa Demak dan perkembangan kerajaan-kerajaan sesudahnya.
Akan tetapi, penelusuran sejarahnya menghadapi keterbatasan sumber untuk beberapa periode, sehingga perjalanan tradisi tersebut tidak dapat disusun sebagai kronologi yang sepenuhnya pasti.
Dalam perkembangannya, gamelan Sekaten menjadi bagian dari upacara keraton untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di Surakarta, perangkat ini dibunyikan selama rangkaian Sekaten di Bangsal Pagongan, di depan Masjid Agung. Penempatannya di lingkungan masjid memperlihatkan hubungan antara ruang keagamaan dan tata upacara kerajaan.
Tradisi Sekaten juga berkembang dengan ciri khas masing-masing di Yogyakarta dan Surakarta.
Di Yogyakarta, Museum Sonobudoyo mencatat keberadaan dua perangkat gamelan Sekati, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo. Keduanya digunakan dalam rangkaian Hajad Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Menurut penjelasan Museum Sonobudoyo, sejarah perangkat gamelan tersebut berkaitan dengan pembagian warisan budaya Mataram setelah Perjanjian Giyanti.
Versi yang dipaparkan museum menyebut Yogyakarta menerima Kyai Guntur Madu, sedangkan Surakarta memperoleh Kyai Guntur Sari. Keraton Yogyakarta kemudian membuat perangkat lain yang dikenal sebagai Kyai Nogo Wilogo.
Riwayat tersebut merupakan bagian dari penjelasan sejarah yang dipelihara di lingkungan kebudayaan Yogyakarta.
Untuk menyusun sejarah Sekaten secara lebih lengkap, kisah pembagian gamelan perlu dibaca bersama sumber sejarah keraton lainnya, terutama karena penjelasan mengenai perkembangan perangkat Sekaten tidak selalu disampaikan dengan rincian yang sama dalam setiap sumber.
Makna yang Hidup dalam Bunyi
Selain memiliki fungsi dalam upacara, gamelan Sekaten juga memperoleh berbagai penafsiran simbolik. Salah satunya menghubungkan istilah Sekaten dengan kata syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
Dalam kajian Joko Daryanto, penafsiran ini dikaitkan dengan keberadaan dua perangkat gamelan dan penempatannya di dua bangsal yang berbeda.
Penafsiran tersebut merupakan bagian dari cara masyarakat memahami hubungan antara bentuk kesenian dan ajaran Islam. Namun, etimologi Sekaten tidak dijelaskan secara tunggal dalam berbagai sumber.
Karena itu, hubungan dengan syahadatain sebaiknya dipahami sebagai salah satu penjelasan yang hidup dalam tradisi, bukan satu-satunya asal-usul nama yang telah dipastikan.
Joko Daryanto juga membahas unsur musikal gamelan Sekaten yang ditafsirkan memiliki hubungan dengan ajaran Islam.
Dalam pembacaan simbolik yang dikemukakan di dalam kajiannya, susunan bunyi dan respons antarinstrumen dihubungkan dengan praktik doa bersama. Penafsiran seperti ini memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi musik dapat memperoleh lapisan makna keagamaan di luar fungsi musikalnya.
Sementara keberadaan gamelan Sekaten sebagai pusaka keraton menunjukkan bahwa tradisi tersebut juga terkait dengan tata upacara dan kewibawaan kerajaan.
Gamelan tidak diperlakukan semata-mata sebagai perangkat hiburan, melainkan sebagai benda budaya yang memiliki tempat khusus dalam penyelenggaraan hajatan keraton.
Makna Sekaten pun tidak hanya terletak pada satu simbol atau satu cerita asal-usul. Tradisi ini terbentuk melalui pertemuan fungsi keagamaan, praktik musikal, penafsiran masyarakat, dan sejarah keraton yang berkembang dari masa ke masa.
Tradisi yang Terus Dijalankan
Di Yogyakarta, pelaksanaan Sekaten melibatkan rangkaian upacara yang memperlakukan gamelan sebagai pusaka.
Museum Sonobudoyo mencatat prosesi jamasan, yaitu pembersihan gamelan, serta Miyos Gongso, yakni keluarnya gamelan dari lingkungan keraton untuk ditempatkan di kawasan Masjid Gedhe Kauman.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan Sekaten tidak hanya bergantung pada musik yang dimainkan, tetapi juga pada tata cara yang menyertainya.
Praktik di Yogyakarta dan Surakarta memiliki perbedaan dalam perangkat, penamaan, dan pelaksanaan upacara.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa sebuah tradisi dapat tumbuh dalam lebih dari satu lingkungan budaya tanpa harus kehilangan kaitan historisnya dengan peringatan Maulid Nabi dan kehidupan keraton.
Bagi masyarakat, Sekaten menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan warisan budaya yang terus hadir dalam kalender tradisi. Bagi keraton, pelaksanaannya mempertahankan tata upacara yang diwariskan lintas generasi.
Sementara itu, bagi kajian kebudayaan, Sekaten membuka ruang untuk memahami bagaimana kesenian, agama, dan kekuasaan saling berhubungan dalam sejarah Jawa.
Jejak Islam dalam gamelan Sekaten karena itu tidak hanya dapat dicari melalui cerita tentang para wali. Jejak tersebut juga terlihat dalam peringatan Maulid Nabi, penggunaan gamelan dalam upacara, dan cara tradisi ini dipelihara oleh keraton.
Di antara catatan sejarah dan kisah yang diwariskan, Sekaten memperlihatkan bahwa kesenian dapat menjadi bagian penting dari perjalanan kebudayaan sekaligus kehidupan keagamaan masyarakat Jawa.







