Di pesisir Kepulauan Kei, menangkap ikan tidak selalu dilakukan dengan peralatan yang dioperasikan sendiri-sendiri.
Ada tradisi yang mengharuskan banyak orang bekerja bersama, mengikuti gerak tali yang dibentangkan ke laut dan ditarik kembali menuju daratan. Tradisi itu dikenal sebagai Wer Warat, atau tarik tali.
Wer Warat merupakan cara tradisional masyarakat Kei untuk menggiring ikan ke perairan dangkal dengan memanfaatkan tali panjang yang dililit janur kelapa. Ketika air laut surut, masyarakat menjalankan proses penangkapan secara bersama-sama.
Setiap orang memiliki peran dalam menggerakkan tali hingga ikan bergerak menuju area penangkapan di dekat pantai.
Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Wer Warat juga diperkenalkan kepada pengunjung melalui Festival Pesona Meti Kei, sebuah perhelatan yang mengangkat kekhasan budaya dan fenomena pasang surut laut di kawasan tersebut.
Namun, nilai Wer Warat tidak berhenti pada teknik memperoleh ikan. Di dalamnya terdapat aturan, pembagian peran, dan tuntutan untuk bekerja bersama. Hasil tangkapan menjadi bagian dari kegiatan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan tradisi.
Tali Janur dan Pengetahuan tentang Laut
Dalam tradisi Wer Warat, tali panjang berbalut janur menjadi alat untuk menggiring ikan ke perairan dangkal. Di Ohoi Elaar Lamagorang, masyarakat menyiapkan tali sepanjang sekitar 150–200 meter untuk pelaksanaan tradisi ini pada Festival Pesona Meti Kei 2025.
Persiapannya melibatkan kerja bersama sebelum tali dibawa ke laut dan dibentangkan.
Peralatan yang digunakan juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya tali dibuat dari bahan alami, termasuk serat tumbuhan hutan, kini sebagian masyarakat menggunakan tali nilon yang lebih kuat dan tahan lama.
Perubahan bahan tersebut memperlihatkan penyesuaian dalam penggunaan alat, sementara cara kerja bersama tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaan Wer Warat.
Ketika tali dibentangkan dan ditarik menuju pantai, setiap peserta perlu menjaga koordinasi. Gerakan tali membantu menggiring ikan ke perairan yang lebih dangkal. Proses ini membutuhkan kerja bersama agar penarikan berlangsung sesuai dengan tujuan.
Pelaksanaan Wer Warat juga berkaitan dengan kondisi pasang surut laut. Tradisi ini umumnya dilakukan pada musim Meti Kei, sekitar Oktober hingga November, ketika air laut surut dan hamparan pesisir menjadi lebih terbuka.
Hubungan dengan laut tampak dalam cara masyarakat menyiapkan alat, menentukan waktu, dan menjalankan penangkapan secara bersama-sama.
Wer Warat bukan hanya tentang memperoleh ikan, tetapi juga tentang pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat pesisir dalam memanfaatkan lingkungan tempat mereka hidup.
Dari Kehidupan Pesisir ke Festival Budaya
Wer Warat mendapat ruang pengenalan yang lebih luas melalui Festival Pesona Meti Kei. Pada 2025, tradisi ini menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian pengunjung di Pantai Hoar, Ohoi Danar Sare, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan.
Setahun kemudian, Wer Warat kembali menjadi bagian dari rangkaian festival yang mengangkat budaya pesisir Kepulauan Kei.
Penyelenggaraan festival memberi kesempatan kepada masyarakat di luar Kepulauan Kei untuk mengenal cara penangkapan ikan tradisional tersebut. Pengunjung dapat menyaksikan bagaimana tali disiapkan, dibentangkan, dan ditarik bersama-sama.
Di sisi lain, masyarakat setempat memiliki ruang untuk memperkenalkan tradisi yang mereka pertahankan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara, Budi Toffi, menyebut Wer Warat mencerminkan gotong royong, kebersamaan, tanggung jawab, serta kearifan masyarakat pesisir dalam memanfaatkan hasil laut. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang Festival Pesona Meti Kei 2026.
Meski menjadi atraksi wisata, Wer Warat tetap perlu dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat yang menjalankannya. Tradisi ini tidak lahir untuk memenuhi kebutuhan pertunjukan semata.
Cara kerja, aturan, dan nilai yang menyertainya berhubungan dengan pengetahuan serta pengalaman masyarakat Kei dalam kehidupan pesisir.
Karena itu, pengenalan melalui festival idealnya berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tata cara adat dan peran masyarakat pendukungnya.
Pengunjung tidak hanya melihat proses menarik tali, tetapi juga memahami mengapa kegiatan tersebut dilakukan bersama dan mengapa nilai tradisinya tidak semata-mata ditentukan oleh hasil tangkapan.
Wer Warat memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat tersimpan dalam praktik sehari-hari, termasuk cara masyarakat bekerja dan memanfaatkan lingkungan. Tali berbalut janur menjadi alat untuk menggiring ikan, tetapi pelaksanaan tradisi membutuhkan lebih dari sekadar alat.
Ada pengetahuan tentang laut, koordinasi antarpeserta, dan nilai yang diwariskan lintas generasi.
Di pesisir Kei, kebersamaan itu menjadi bagian penting dari Wer Warat. Tradisi ini mengingatkan bahwa laut bukan hanya tempat memperoleh hasil, melainkan juga ruang kehidupan yang menghubungkan pengetahuan, adat, dan kerja bersama masyarakatnya.








