Tradisi

Merti Desa, Ketika Orang Jawa Merawat Tanah Kehidupannya

Syukur, gotong royong, dan ingatan kepada leluhur bertemu dalam tradisi merawat desa.

Oleh Narendra

Merti Desa, Ketika Orang Jawa Merawat Tanah Kehidupannya
Merti Desa merupakan tradisi masyarakat Jawa yang mempertemukan rasa syukur, gotong royong, ingatan kepada pendahulu, serta tanggung jawab merawat lingkungan tempat hidup bersama.
Diterbitkan

Ada masa ketika sebuah desa berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari. Jalan dibersihkan, warga berkumpul, makanan disiapkan, doa dipanjatkan, dan pada beberapa tempat kesenian kembali dimainkan hingga malam.

Orang Jawa mengenal salah satu tradisi semacam itu sebagai Merti Desa. Bentuknya berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ada satu gagasan yang terus berulang: manusia tidak hanya tinggal di sebuah desa, ia mempunyai tanggung jawab untuk merawatnya.

Di situlah Merti Desa menjadi lebih dari sebuah perayaan. Ia mempertemukan manusia dengan tanah tempat hidupnya, tetangga yang hidup bersamanya, orang-orang yang datang sebelumnya, serta rasa syukur atas kehidupan yang masih dapat diteruskan.

Apa yang Dimaksud Merti Desa?

Kata merti dalam bahasa Jawa berhubungan dengan tindakan memelihara, merawat, atau membersihkan. Ketika disandingkan dengan kata desa, pengertiannya mengarah pada kegiatan bersama untuk merawat ruang kehidupan sebuah masyarakat.

Di sejumlah wilayah, tradisi serupa dikenal sebagai Merti Dusun, Bersih Desa, Merti Kampung, atau mempunyai nama lokal tersendiri. Penyebutannya dapat berbeda, begitu pula rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.

Karena itu, Merti Desa tidak tepat dibayangkan sebagai satu upacara dengan tata cara baku untuk seluruh Jawa. Sebuah desa dapat menggelarnya dengan kenduri dan kesenian, sementara desa lain mempunyai kirab, doa bersama, membersihkan lingkungan, mengunjungi tempat tertentu, atau membawa hasil bumi.

Perbedaan itu bukan penyimpangan dari tradisi. Justru dari sana terlihat bahwa Merti Desa tumbuh di dalam masyarakat, mengikuti sejarah, lingkungan, kepercayaan, dan pengalaman masing-masing desa.

Berakar pada Kehidupan Masyarakat Agraris

Sulit menunjuk satu tanggal ketika Merti Desa pertama kali dilakukan. Tradisi ini tumbuh dalam perjalanan panjang masyarakat Jawa, terutama dalam kehidupan agraris yang menggantungkan penghidupan pada tanah, air, musim, tanaman, dan hasil panen.

Bagi masyarakat pertanian, bumi bukan sekadar permukaan tempat rumah didirikan. Dari tanah datang padi dan berbagai tanaman, sementara air menentukan apakah sawah dapat menghasilkan sesuatu untuk dibawa pulang.

Ketergantungan itu membentuk hubungan yang dekat antara manusia dan lingkungan. Setelah panen, rasa syukur tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi dapat diwujudkan sebagai kegiatan bersama seluruh masyarakat.

Sejumlah penelitian mengenai Merti Desa masih menemukan hubungan tersebut hingga masa sekarang. Di beberapa daerah, pelaksanaannya berhubungan dengan hasil panen atau siklus pertanian, meskipun di tempat lain tradisi telah berkembang jauh melampaui konteks pertanian.

Merawat, Bukan Hanya Membersihkan

Arti merti memberi petunjuk penting untuk memahami filosofinya. Merawat desa tidak berhenti pada menyapu jalan, membersihkan sumber air, atau memperbaiki lingkungan fisik.

Yang dirawat juga hubungan antarmanusia. Warga bertemu, bekerja bersama, menyiapkan kegiatan, mengumpulkan kebutuhan, berbagi makanan, menyelesaikan pekerjaan, dan berada dalam ruang sosial yang sama.

Penelitian mengenai Merti Desa di Kemranggen, Purworejo, menemukan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dapat membangun kerukunan melalui partisipasi, kerja sama, dan gotong royong. Menariknya, kebersamaan tersebut berlangsung melampaui perbedaan agama, etnis, strata sosial, dan profesi.

Maka desa dalam pengertian Merti Desa bukan hanya kumpulan rumah dan jalan. Desa adalah hubungan antara orang-orang yang membuat sebuah tempat dapat terus disebut sebagai rumah bersama.

Syukur Setelah Bumi Memberi Kehidupan

Rasa syukur menjadi salah satu makna yang paling konsisten ditemukan dalam berbagai pelaksanaan Merti Desa. Masyarakat bersyukur atas keselamatan, kesehatan, ketenteraman, rezeki, serta hasil bumi yang menopang kehidupan.

Dalam masyarakat agraris, rasa syukur itu mempunyai bentuk yang sangat konkret. Padi yang dipanen, air yang tetap mengalir, ternak yang hidup, dan tanah yang dapat ditanami adalah sesuatu yang menentukan keberlangsungan sebuah keluarga.

Karena itu, hasil bumi kerap hadir dalam rangkaian Merti Desa di sejumlah wilayah. Ia dapat disusun, dibawa dalam kirab, dimasak, didoakan, kemudian dibagikan atau dimakan bersama.

Makanan akhirnya mempunyai makna sosial yang penting. Sesuatu yang semula berasal dari tanah dan kerja masing-masing keluarga kembali dipertemukan dalam ruang bersama.

Manusia Tidak Hidup Sendiri

Di balik rasa syukur terdapat kesadaran sederhana: tidak seorang pun membangun kehidupan desa sendirian. Sawah membutuhkan air, jalan membutuhkan orang yang merawatnya, kegiatan masyarakat membutuhkan tenaga bersama, dan sebuah keluarga tetap membutuhkan keluarga lainnya.

Gotong royong karena itu bukan sekadar tambahan dalam Merti Desa. Pada banyak tempat, ia sudah dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan ketika warga membentuk kepanitiaan, membersihkan lingkungan, menyiapkan makanan, mengatur pertunjukan, dan memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan.

Penelitian mengenai Merti Desa sebagai tradisi masyarakat agraris juga menemukan fungsi untuk menumbuhkan gotong royong dan kepedulian. Tradisi menjadi tempat nilai sosial dipraktikkan, bukan sekadar diceritakan kepada generasi berikutnya.

Seorang anak mungkin belum memahami seluruh filosofi Merti Desa. Namun ketika ia melihat orang tuanya bekerja bersama tetangga, ia sedang menyaksikan bagaimana sebuah nilai diwariskan melalui tindakan.

Mengingat Mereka yang Datang Lebih Dahulu

Pada sejumlah Merti Desa terdapat penghormatan kepada leluhur atau cikal bakal, orang yang dalam ingatan masyarakat dianggap mempunyai hubungan dengan pembukaan atau perjalanan awal suatu permukiman. Bentuk penghormatannya berbeda-beda mengikuti sejarah dan tradisi masyarakat setempat.

Ada masyarakat yang mengunjungi makam, mengadakan doa, atau mengingat nama tokoh pendahulu desa. Di tempat lain, unsur tersebut tidak terlalu menonjol dan kegiatan lebih berpusat pada syukuran, lingkungan, kesenian, atau kebersamaan warga.

Menghormati leluhur dalam konteks kebudayaan dapat dibaca sebagai cara masyarakat mempertahankan ingatan kolektif. Desa tidak dipandang lahir bersama generasi yang hidup hari ini, tetapi mempunyai perjalanan yang telah dimulai jauh sebelumnya.

Kesadaran tersebut membawa pesan mengenai keberlanjutan. Generasi sekarang menerima sebuah tempat dari orang-orang sebelumnya, lalu mempunyai tanggung jawab menyerahkannya kepada mereka yang datang kemudian.

Hubungan Manusia dengan Alam

Merti Desa juga menyimpan pandangan mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Tanah, mata air, pepohonan, sawah, dan ruang hidup bukan sekadar sumber yang dapat digunakan tanpa batas.

Dalam kehidupan agraris, kerusakan alam segera mempunyai akibat bagi manusia. Air yang hilang memengaruhi pertanian, tanah yang rusak mengurangi hasil, sementara lingkungan yang tidak dirawat pada akhirnya kembali menjadi persoalan bagi masyarakat.

Karena itu, praktik membersihkan lingkungan dalam Merti Desa mempunyai makna yang sangat nyata. Merawat tempat hidup adalah bagian dari merawat keberlangsungan manusia sendiri.

Pesan ekologis tersebut terasa semakin relevan hari ini. Tradisi lama ternyata menyimpan pertanyaan yang sangat modern: setelah mengambil begitu banyak dari bumi, apa yang dilakukan manusia untuk merawatnya kembali?

Doa, Kenduri, dan Hasil Bumi

Bentuk Merti Desa sangat bergantung pada masyarakat yang melaksanakannya. Kenduri, doa bersama, tumpeng, hasil bumi, kirab, pertunjukan wayang, kesenian rakyat, hingga kegiatan bersih lingkungan dapat menjadi bagian dari rangkaian.

Di Gunungkidul, penelitian mencatat Merti Desa sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen sekaligus sarana mewariskan tradisi. Wayang kulit juga dapat hadir sebagai bagian dari rangkaian yang membawa unsur tontonan sekaligus tuntunan.

Di wilayah lain bentuknya dapat berbeda sama sekali. Ada desa yang menonjolkan kirab budaya, kesenian lokal, gunungan hasil bumi, kegiatan keagamaan, atau pertemuan warga.

Karena itulah memahami Merti Desa sebaiknya selalu dimulai dari masyarakat yang menyelenggarakannya. Satu desa tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menjelaskan seluruh tradisi Merti Desa di Jawa.

Tradisi yang Bertemu Agama

Perjalanan Merti Desa juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berubah ketika masyarakat pendukungnya berubah. Sebuah penelitian di Dusun Celengan, Tuntang, Semarang, misalnya, mencatat pergeseran pemaknaan tradisi setelah Islam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Unsur-unsur lama tidak selalu hilang sekaligus, tetapi dapat mengalami penafsiran kembali. Doa, tujuan kegiatan, dan cara masyarakat memahami ritual berubah melalui proses panjang perjumpaan antara tradisi lokal dan kehidupan keagamaan.

Proses semacam itu menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu bergerak dengan cara mengganti yang lama dengan yang baru. Ada negosiasi, penyesuaian, pengurangan, penambahan, dan pemberian makna baru terhadap praktik yang telah dikenal masyarakat.

Karena itu, Merti Desa hari ini dapat memiliki wajah keagamaan yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Perbedaan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari sejarah masyarakat masing-masing, bukan dipaksakan menjadi satu versi yang dianggap paling asli.

Tontonan yang Membawa Tuntunan

Kesenian sering memperoleh tempat dalam Merti Desa. Wayang, tari, musik tradisional, kirab, atau bentuk kesenian lokal lainnya bukan hanya menghadirkan hiburan setelah masyarakat menyelesaikan rangkaian kegiatan.

Pertunjukan menciptakan ruang tempat warga berkumpul dan generasi muda berjumpa dengan kesenian daerahnya. Melalui ruang semacam itulah sebuah tradisi memperoleh kesempatan untuk dikenal kembali oleh orang yang tidak mengalami kehidupan desa seperti generasi sebelumnya.

Dalam sejumlah kajian mengenai Merti Desa muncul gagasan tentang tontonan dan tuntunan. Orang datang untuk menikmati pertunjukan, tetapi di dalamnya dapat tersimpan cerita, etika, ingatan sejarah, serta pesan mengenai kehidupan bersama.

Tradisi dengan demikian tidak diwariskan hanya melalui penjelasan. Ia juga diwariskan melalui pengalaman berada di dalamnya.

Pesan Moral tentang Rasa Cukup

Rasa syukur dalam Merti Desa menyimpan pesan yang lebih dalam daripada perayaan setelah mendapatkan hasil. Manusia diajak menyadari bahwa kehidupan yang dinikmatinya lahir dari banyak hal yang tidak dikerjakannya seorang diri.

Petani dapat mengolah sawah, tetapi ia tidak menciptakan hujan. Seseorang dapat membangun rumah, tetapi kehidupan yang aman juga bergantung pada hubungan dengan orang-orang di sekelilingnya.

Kesadaran semacam itu menahan manusia dari perasaan bahwa semua keberhasilan sepenuhnya merupakan hasil dirinya sendiri. Ada alam, keluarga, tetangga, generasi sebelumnya, dan banyak tangan yang ikut memungkinkan kehidupan berjalan.

Syukur akhirnya berdekatan dengan kerendahan hati. Manusia boleh bekerja keras dan menikmati hasilnya, tetapi tetap mengingat bahwa dirinya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Pesan Moral tentang Gotong Royong

Merti Desa juga mengingatkan bahwa hidup bersama membutuhkan pekerjaan yang tidak selalu dapat dibayar dengan uang. Ada saat ketika tenaga, waktu, perhatian, dan kesediaan hadir menjadi sesuatu yang jauh lebih penting.

Gotong royong membuat warga mempunyai kepentingan yang sama terhadap keberhasilan kegiatan. Orang tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari sesuatu yang mereka kerjakan bersama.

Di tengah kehidupan yang semakin individual, nilai tersebut mempunyai tantangan baru. Hubungan manusia dapat menjadi semakin praktis dan transaksi perlahan menggantikan sebagian pekerjaan yang dahulu dilakukan secara kolektif.

Merti Desa mempertahankan ingatan bahwa masyarakat tidak dibentuk hanya oleh orang-orang yang tinggal berdekatan. Masyarakat tumbuh ketika orang merasa mempunyai sesuatu bersama dan bersedia ikut merawatnya.

Pesan Moral tentang Alam

Ada pelajaran sederhana dari masyarakat agraris yang terkadang terlupakan ketika manusia semakin jauh dari sumber makanannya. Apa yang ada di meja selalu mempunyai hubungan dengan tanah, air, tanaman, hewan, cuaca, dan pekerjaan manusia.

Merti Desa mengembalikan perhatian kepada hubungan tersebut. Hasil bumi yang dibawa dalam perayaan adalah pengingat bahwa kehidupan manusia mempunyai ketergantungan nyata terhadap alam.

Karena itu, merawat bumi tidak seharusnya berhenti menjadi simbol dalam sebuah upacara. Nilainya menemukan arti ketika diteruskan dalam cara manusia memperlakukan sumber air, tanah pertanian, pepohonan, sampah, dan lingkungan tempat tinggal.

Jika lingkungan hanya dihormati ketika upacara berlangsung tetapi dirusak sepanjang tahun, sebagian makna merti justru kehilangan tempatnya. Merawat adalah pekerjaan yang berlangsung setelah perayaan selesai.

Ketika Merti Desa Berubah

Merti Desa tidak berada di luar perubahan zaman. Penelitian di Kadilobo, Sleman, menemukan perubahan prosesi dan pemaknaan yang antara lain berkaitan dengan berkurangnya antusiasme, keadaan ekonomi, internalisasi budaya, pembagian tugas, dan pola pikir masyarakat yang berubah.

Di tempat lain, Merti Desa justru berkembang menjadi festival budaya dan daya tarik wisata. Kesenian diperbesar, kirab dibuat lebih meriah, dokumentasi disebarkan melalui media sosial, dan orang dari luar desa mulai datang menyaksikan.

Perubahan tidak selalu berarti tradisi telah kehilangan makna. Sebuah tradisi memang harus mempunyai ruang untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat yang terus bergerak.

Namun ada batas yang perlu dijaga. Ketika kemeriahan menjadi tujuan utama, masyarakat dapat mengingat panggung dan gunungan tetapi perlahan melupakan mengapa desa dahulu merasa perlu melakukan merti.

Desa yang Dirawat Bersama

Pada akhirnya, Merti Desa tidak hanya berbicara mengenai masa lalu. Tradisi ini menyimpan sebuah gagasan yang sangat sederhana tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan tempat yang memberinya kehidupan.

Bersyukur atas apa yang diterima. Mengingat orang-orang yang datang sebelumnya, menjaga hubungan dengan tetangga, merawat alam, serta meninggalkan tempat hidup yang layak bagi generasi sesudahnya.

Barangkali bentuk Merti Desa akan terus berubah. Gunungan dapat berbeda, pertunjukan dapat berganti, cara berdoa dapat berkembang, dan generasi berikutnya mungkin mempunyai cara sendiri untuk merayakannya.

Namun selama makna merti masih dipahami sebagai kesediaan untuk merawat, sesuatu yang paling penting belum hilang. Sebab desa bukan hanya tempat seseorang dilahirkan atau mempunyai alamat, melainkan ruang kehidupan yang tidak akan bertahan apabila tidak ada orang yang merasa ikut memilikinya.

Mungkin itulah pesan moral paling sederhana dari tradisi ini. Sebelum meminta sebuah tempat terus memberi kehidupan kepada manusia, manusia terlebih dahulu harus bersedia merawat tempat yang memberinya kehidupan.

Tradisi04 OKT 2026

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT