Kedatangan seorang tamu kehormatan di Gorontalo tidak selalu dimulai dengan jabat tangan dan sambutan resmi. Dalam tata adat masyarakat setempat, ada Mopotilolo, sebuah prosesi yang menandai penerimaan tamu melalui rangkaian penghormatan adat.
Pada 31 Oktober 2026, tradisi ini kembali dilaksanakan untuk menyambut Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang tiba di Bandara Djalaluddin, Gorontalo.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menggelar prosesi tersebut dengan melibatkan unsur pemerintah dan pemangku adat.
Rangkaian penyambutan diawali tabuhan genderang serta Tari Longgo, kemudian dilanjutkan dengan persembahan adat, sajian makanan, doa, dan prosesi penutup yang disebut mongabi.
Mopotilolo bukan sekadar pelengkap acara kenegaraan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Gorontalo menempatkan adat sebagai bagian dari hubungan sosial.
Penerimaan tamu dilakukan melalui tata cara yang melibatkan pemangku adat, simbol penghormatan, dan doa untuk keselamatan selama tamu berada di daerah tersebut.
Adat untuk Menerima Tamu Kehormatan
Mopotilolo dikenal sebagai tradisi penyambutan pejabat tinggi negara atau tamu kehormatan yang baru pertama kali berkunjung ke Gorontalo.
Pelaksanaannya melibatkan pemangku adat yang mewakili lembaga adat setempat, termasuk U Duluwo Limo Lo Pohalaa, yang dalam sumber pemerintah daerah disebut sebagai dewan adat dari lima negeri adat Gorontalo.
Keterlibatan pemangku adat menempatkan Mopotilolo dalam ranah yang lebih luas daripada protokoler pemerintahan.
Penyambutan tidak hanya dilakukan oleh pejabat yang menerima kedatangan tamu, tetapi juga melalui tata adat yang mewakili masyarakat.
Dalam prosesi ini, penerimaan memiliki makna sosial. Tamu diperkenalkan kepada lingkungan adat setempat melalui rangkaian yang telah ditentukan.
Petuah, jamuan, dan doa menjadi bagian dari cara masyarakat menyatakan penghormatan sekaligus mengharapkan keselamatan bagi tamu selama menjalankan kegiatan di Gorontalo.
Pelaksanaan Mopotilolo dalam berbagai kunjungan pejabat pada 2026 memperlihatkan bahwa tradisi tersebut masih digunakan dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Gorontalo, misalnya, juga menggelar prosesi serupa untuk menyambut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat pada April 2026.
Penggunaan tradisi dalam konteks resmi tidak dengan sendirinya mengurangi kedudukan adat. Mopotilolo justru memperlihatkan perjumpaan antara tata pemerintahan modern dan aturan penerimaan yang hidup dalam kebudayaan lokal.
Tari Longgo dan Rangkaian Penghormatan
Salah satu unsur yang menonjol dalam Mopotilolo adalah Tari Longgo, tarian perang tradisional Gorontalo.
Dalam prosesi penyambutan, tarian ini hadir bersama tabuhan genderang adat dan menjadi bagian awal rangkaian penerimaan tamu.
Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam laporannya menyebut Tari Longgo sebagai lambang keberanian, kehormatan, dan kesiapan masyarakat menyambut tamu.
Kehadiran tarian perang dalam prosesi penyambutan memperlihatkan bahwa seni pertunjukan memiliki tempat dalam tata adat masyarakat.
Fungsinya tidak sebatas hiburan bagi pengunjung, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan penghormatan kepada tamu.

Setelah penyambutan awal, rangkaian Mopotilolo dapat dilanjutkan dengan persembahan dan jamuan tradisional.
Dalam laporan penyambutan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada April 2026, pemerintah daerah menyebut tahapan mopodungga lo adati, yaitu penyampaian kata-kata bijak dalam bahasa Gorontalo, serta mopodungga lo uyilumo, yakni penyajian minuman dan makanan sebagai bagian dari penghormatan kepada tamu.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa penerimaan tamu berlangsung melalui beberapa bentuk komunikasi adat.
Ada gerak dan bunyi dalam tarian, ada tuturan melalui petuah, serta ada jamuan sebagai bentuk keramahan. Setiap unsur mengambil tempat dalam rangkaian yang dipandu oleh pemangku adat.
Penjelasan tentang istilah dan urutan prosesi perlu tetap memperhatikan konteks pelaksanaannya.
Tidak semua laporan menggunakan uraian tahapan dengan susunan istilah yang sama. Oleh sebab itu, Mopotilolo lebih tepat dipahami melalui praktik yang benar-benar berlangsung dan penjelasan pemangku adat, bukan melalui anggapan bahwa setiap pelaksanaan selalu memiliki bentuk yang seragam.
Mongabi dan Pernyataan Penerimaan Adat
Salah satu bagian penting dalam Mopotilolo adalah mongabi.
Dalam laporan penyambutan Wakil Menteri Haji dan Umrah pada Oktober 2026, mongabi dijelaskan sebagai pernyataan resmi tokoh adat bahwa tamu telah memperoleh restu untuk berkunjung ke Gorontalo. Prosesi tersebut menjadi penutup rangkaian penyambutan.
Kedudukan mongabi memperjelas bahwa Mopotilolo bukan hanya serangkaian pertunjukan. Ada pernyataan penerimaan yang disampaikan melalui kewenangan adat. Tamu tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga diterima melalui tata cara yang diakui dalam tradisi setempat.
Dalam rangkaian lain yang dilaporkan pemerintah daerah, Mopotilolo juga mencakup pembacaan doa untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan kelancaran kegiatan tamu selama berada di Gorontalo.
Doa menjadi bagian dari penghormatan yang menyertai penerimaan adat. Hubungan antara petuah, jamuan, doa, dan mongabi memperlihatkan beberapa sisi tradisi ini sekaligus.
Mopotilolo mengatur tata cara menerima tamu, menempatkan pemangku adat sebagai pihak yang memandu prosesi, sekaligus menyampaikan harapan baik bagi orang yang datang.
Setiap unsur dalam prosesi ini memiliki makna yang perlu dipahami berdasarkan pengetahuan masyarakat pemilik tradisi.
Simbol, aturan, dan nilai spiritual yang menyertainya tidak cukup dijelaskan melalui penafsiran dari luar. Penuturan pemangku adat menjadi rujukan penting untuk memahami istilah, makna, serta kedudukan setiap tahapan Mopotilolo dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.
Mopotilolo dalam Kehidupan Budaya Gorontalo
Mopotilolo memperlihatkan bagaimana adat tetap hadir dalam ruang publik masa kini. Bandara, ruang VIP, dan kunjungan pejabat menjadi tempat berlangsungnya prosesi yang dipandu oleh pemangku adat.
Ruang modern tersebut tidak menghapus tata penerimaan tradisional, tetapi menjadi konteks baru bagi pelaksanaannya.
Penggunaan Mopotilolo dalam penyambutan sejumlah pejabat sepanjang 2026 menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat dalam kehidupan resmi Gorontalo.
Pemerintah daerah menggunakan prosesi tersebut untuk menyambut tamu yang baru pertama kali datang, sementara pemangku adat menjalankan peran dalam rangkaian penerimaan.
Keberlanjutan tradisi tidak cukup diukur dari seberapa sering prosesi ditampilkan. Pengetahuan mengenai bahasa adat, tata urutan, peran pemangku adat, serta makna setiap unsur juga perlu diwariskan.
Dokumentasi yang baik dapat membantu masyarakat memahami tradisi tanpa melepaskannya dari konteks budaya yang melahirkan dan mempertahankannya.
Mopotilolo memberi gambaran bahwa penghormatan kepada tamu dapat diwujudkan melalui tata cara yang memiliki aturan dan makna sosial.
Tari Longgo, petuah adat, jamuan, doa, dan mongabi membentuk rangkaian penerimaan yang melibatkan seni, bahasa, serta kewenangan adat.
Di Gorontalo, kedatangan tamu kehormatan dengan demikian tidak hanya menjadi agenda pemerintah.
Melalui Mopotilolo, masyarakat memperlihatkan bahwa menerima seseorang juga merupakan tindakan budaya—sebuah proses yang dijalankan dengan penghormatan, tata adat, dan harapan akan keselamatan selama kunjungan berlangsung.








