Ketika satu per satu majalah berbahasa Sunda berhenti terbit, Manglé tetap melanjutkan perjalanannya. Sejak pertama kali hadir di Bogor pada 21 Oktober 1957, majalah ini melewati berbagai perubahan dalam dunia pers dan kebiasaan membaca masyarakat.
Edisi pertamanya dicetak sebanyak 500 eksemplar. Dari awal yang sederhana itu, Manglé tumbuh menjadi salah satu majalah paling dikenal dalam sejarah pers dan sastra Sunda.
Selama puluhan tahun, Manglé menjadi bacaan masyarakat Sunda. Halaman-halamannya memuat cerita pendek, cerita bersambung, puisi, esai, serta berbagai tulisan tentang kehidupan sehari-hari dan kebudayaan.
Majalah ini bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menyediakan ruang bagi penulis untuk mengembangkan karya dalam bahasa Sunda.
Perjalanan panjang tersebut tidak selalu berjalan mulus. Perubahan kebiasaan membaca, perkembangan media digital, dan persoalan keberlangsungan penerbitan membawa Manglé ke fase yang menentukan.
Pada 20 Mei 2025, pengelolaan majalah ini resmi beralih kepada Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Pusat Budaya Sunda.
Peralihan tersebut melahirkan Manglé Anyar, versi baru yang mempertahankan penerbitan cetak sekaligus membawa perubahan pada tampilan dan orientasi isi.
Bagi majalah yang telah menjadi bagian dari sejarah literasi Sunda selama hampir tujuh dekade, perubahan ini menandai babak baru dalam perjalanan sebuah warisan budaya.
Dari Bogor, Ruang bagi Sastra Sunda
Kelahiran Manglé berangkat dari kepedulian sejumlah tokoh terhadap bahasa dan kebudayaan Sunda.
Tujuh nama tercatat sebagai perintis majalah ini: Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata.
Wahyu Wibisana, yang kemudian dikenal sebagai sastrawan Sunda, mengusulkan nama Manglé. Nama tersebut merujuk pada untaian bunga melati, rangkaian bunga yang juga dikenal dalam tradisi masyarakat Sunda.
Edisi perdana Manglé diedarkan pada 21 November 1957. Pada masa awal, majalah ini terbit secara bulanan sebelum berkembang menjadi terbitan berkala yang lebih sering.
Seiring pertumbuhan pembaca dan perubahan pengelolaan, Manglé kemudian dikenal sebagai majalah mingguan berbahasa Sunda.
Perjalanan tersebut berlangsung ketika media cetak menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan bahasa dan sastra daerah.
Penulis membutuhkan tempat untuk menerbitkan karya, sedangkan pembaca memerlukan bacaan yang dekat dengan bahasa dan pengalaman hidup mereka. Manglé mempertemukan kedua kebutuhan itu.
Kehadiran majalah ini juga memperlihatkan bahwa bahasa Sunda dapat digunakan untuk berbagai bentuk tulisan, mulai dari hiburan keluarga hingga karya sastra.
Bahasa daerah tidak hanya hidup dalam percakapan sehari-hari atau tradisi lisan, tetapi juga berkembang melalui kegiatan membaca dan menulis. Posisi tersebut menjadikan Manglé bagian penting dari perjalanan sastra Sunda modern.
Majalah ini menyediakan ruang bagi karya dan membantu mempertemukan penulis dari generasi yang berbeda dengan pembaca yang memiliki kedekatan bahasa dan budaya.
Manglé di Tengah Ramainya Pers Sunda
Manglé lahir ketika pers berbahasa Sunda berkembang setelah Indonesia merdeka. Tradisi penerbitan dalam bahasa Sunda telah berlangsung sejak akhir abad ke-19 dan berlanjut melalui berbagai majalah serta surat kabar pada masa berikutnya.
Dalam artikel Catatan dari Media Cetak Lawas (18): Majalah Mangle, Penjaga Warisan Bahasa dan Sastra Sunda, BandungBergerak.id menelusuri perjalanan Manglé dalam konteks sejarah penerbitan berbahasa Sunda yang lebih luas, termasuk kemunculan berbagai media yang menjadi ruang bagi bahasa dan kebudayaan daerah.
Pada era 1950–1970-an, sejumlah majalah berbahasa Sunda turut meramaikan dunia pers daerah. Nama-nama seperti Pajajaran, Panghegar, Warga, Candra, Kiwari, Sari, Sangkuriang, dan Campaka memperlihatkan beragamnya penerbitan yang pernah hadir.
Manglé, yang mulai terbit di Bogor pada 21 Oktober 1957, menjadi bagian dari perkembangan tersebut.
Keberadaan majalah-majalah ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda pernah memiliki ruang penerbitan yang beragam untuk menyampaikan informasi, gagasan, dan karya sastra kepada pembacanya.
Di antara media sezamannya, Manglé membangun tempat tersendiri melalui perpaduan informasi, hiburan, dan karya sastra.
Cerita pendek berbahasa Sunda atau carpon, esai, serta tulisan kebudayaan memberi ruang bagi para pengarang untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.
BandungBergerak.id juga mencatat besarnya oplah Manglé pada masa kejayaannya. Data oplah tersebut menggambarkan jangkauan pembaca yang pernah dicapai majalah ini dan memperlihatkan bahwa bacaan berbahasa daerah memiliki tempat penting dalam kehidupan literasi masyarakat Sunda.
Seiring berjalannya waktu, satu per satu majalah berbahasa Sunda berhenti terbit. BandungBergerak.id mencatat bahwa kini hanya Manglé dan Galura yang masih bertahan.
Sementara nama-nama seperti Cupumanik, Seni Budaya, Ujung Galuh, Sunda Midang, Bina Da’wah, Iber, Balebat, Hanjuang Bodas, Logay, Panggugah, dan Sampurasun menjadi bagian dari sejarah pers Sunda.
Berhentinya penerbitan tersebut menandai perubahan lanskap media berbahasa daerah yang pernah tumbuh dengan beragam karakter dan pembaca.
Di antara penerbitan yang telah berhenti, Manglé memiliki perjalanan tersendiri.
Majalah ini bukan sekadar bertahan melewati perubahan zaman, tetapi juga terus menyediakan ruang baca bagi bahasa, sastra, dan kebudayaan Sunda di tengah pergeseran industri media.
Sejarah penerbitan yang pernah ramai itu juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan pers berbahasa daerah membutuhkan pembaca, penulis, dan pengelolaan yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Ketika Majalah Menjadi Rumah bagi Penulis
Peran Manglé tidak dapat dilepaskan dari perkembangan para penulis Sunda. Majalah ini memberikan kesempatan bagi sastrawan untuk menerbitkan karya dan memperluas jangkauan pembaca.
Cerita pendek, cerita bersambung, puisi, serta tulisan kebudayaan menjadi bagian dari kehidupan penerbitannya.
Wahyu Wibisana merupakan salah satu tokoh yang memperlihatkan hubungan erat antara Manglé dan sastra Sunda.
Kiprahnya dalam penulisan puisi, cerita, dan naskah pertunjukan menunjukkan bagaimana bahasa Sunda dapat menjadi medium bagi berbagai bentuk ekspresi seni. Dalam sejarahnya, Manglé juga menjadi tempat tumbuhnya penulis dari generasi berikutnya.
Sejumlah nama, seperti Aam Amilia, Godi Suwarna, Usep Romli, dan Tatang Sumarsono, memiliki hubungan dengan perkembangan sastra Sunda yang mendapatkan ruang melalui majalah dan ekosistem penerbitan bahasa Sunda.
Pada masa kejayaannya, Manglé pernah mencapai sirkulasi sekitar 70.000 eksemplar. Angka tersebut menunjukkan besarnya jangkauan majalah ini pada periode ketika bacaan berbahasa daerah memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Keberhasilan Manglé bukan semata-mata soal jumlah eksemplar. Majalah ini turut membangun kebiasaan membaca dalam bahasa Sunda dan mempertemukan karya sastra dengan masyarakat di luar lingkungan akademik.
Tulisan-tulisan yang terbit di dalamnya menjangkau pembaca yang beragam, dari kalangan muda hingga keluarga. Fungsi tersebut menjadi bagian dari warisan Manglé.
Majalah ini memperlihatkan bahwa keberlangsungan bahasa tidak hanya bergantung pada penggunaannya dalam percakapan, tetapi juga pada tersedianya ruang untuk menghasilkan, menerbitkan, dan membaca karya dalam bahasa tersebut.
Babak Baru di Bawah Pengelolaan Unpad
Memasuki dekade terakhir, keberlangsungan Manglé menghadapi persoalan yang tidak ringan. Perubahan pola konsumsi informasi dan persaingan dengan media digital ikut memengaruhi kehidupan penerbitan cetak.
Majalah yang telah bertahan selama puluhan tahun itu memerlukan dukungan agar penerbitannya dapat berlanjut.
Pada 20 Mei 2025, Unpad melalui Pusat Budaya Sunda resmi mengambil alih pengelolaan Manglé. Langkah ini diumumkan bersamaan dengan peresmian Pusat Budaya Sunda di lingkungan universitas.
Kepala Pusat Budaya Sunda saat itu, Prof. Ganjar Kurnia, menjelaskan bahwa pengelolaan majalah tersebut berkaitan dengan mandat Unpad untuk mengembangkan pusat kebudayaan dengan kekhasan Sunda.
Peristiwa ini juga memiliki hubungan personal dengan sejarah pendirian majalah. Sukanda Kartasasmita, salah seorang pendiri Manglé, merupakan ayah dari Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita.
Ganjar Kurnia sendiri dikenal sebagai budayawan Sunda dan mantan Rektor Unpad. Pertemuan antara sejarah keluarga, kepedulian kebudayaan, dan mandat kelembagaan memberikan dimensi tersendiri bagi babak baru Manglé.
Di bawah pengelolaan baru, Manglé tetap diterbitkan dalam bentuk cetak. Perubahan yang tampak bukan hanya menyangkut pengelolaan, tetapi juga identitas visual dan arah editorialnya.
Sampul edisi baru perdana pada April 2026 tidak lagi menampilkan sosok perempuan Sunda yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas majalah tersebut.
Perubahan isi juga terlihat pada orientasi yang lebih menonjolkan kebudayaan dan pengetahuan dengan pembahasan yang relatif ilmiah.
Pergeseran itu memperlihatkan upaya menempatkan Manglé dalam peran baru. Bila sebelumnya majalah dikenal sebagai bacaan keluarga dengan kandungan sastra dan hiburan, versi baru memberikan perhatian lebih besar pada pengetahuan dan pembahasan kebudayaan.
Perubahan tersebut mendorong Manglé untuk menata kembali identitasnya, mempertahankan nilai-nilai yang menjadi dasar kelahirannya sekaligus menyesuaikan tampilan, isi, dan cara penyajian agar tetap relevan dengan kebutuhan pembaca masa kini.
Sejarah panjangnya menunjukkan bahwa majalah ini penah mengalami perubahan isi dan pengelolaan. Wajah baru pada 2026 menjadi babak berikutnya dari perjalanan tersebut.
Manglé Kembali Menemui Pembaca di Ruang Digital
Perjalanan Manglé tidak berhenti pada perubahan sampul dan pengelolaan majalah cetak. Kehadiran situs majalahmangle.com memperlihatkan perkembangan lain dalam upaya memperluas jangkauan bacaan berbahasa Sunda.
Situs tersebut memuat berbagai tulisan berbahasa Sunda dalam sejumlah rubrik, antara lain Tepas, Iber, Milang Kori, Sawangan, dan Lokatmala.
Isinya mencakup pemikiran kebudayaan, sastra, kehidupan masyarakat, hingga perkembangan media.
Melalui penerbitan daring, pembaca dapat mengakses tulisan Manglé tanpa harus memperoleh majalah cetaknya terlebih dahulu.
Kehadiran situs digital juga memperlihatkan bahwa bahasa Sunda memiliki ruang untuk berkembang di lingkungan media yang terus berubah. Jika majalah cetak menghubungkan pembaca melalui terbitan berkala, situs web memungkinkan tulisan ditemukan dan dibaca melalui internet.
Kedua format tersebut menawarkan cara berbeda untuk menjangkau pembaca, sekaligus membuka peluang agar tulisan berbahasa Sunda dapat diakses lintas wilayah dan generasi.
Perkembangan ini menarik jika ditempatkan dalam perjalanan panjang Manglé sejak 1957.
Majalah yang lahir ketika media cetak menjadi salah satu saluran utama penerbitan sastra dan pemikiran kini hadir di lingkungan digital yang mengubah cara masyarakat menemukan bacaan.
Perubahan medium tersebut tidak serta-merta menghapus nilai sejarahnya. Justru, keberadaan arsip tulisan dan artikel baru di internet dapat memperluas kesempatan pembaca untuk mengenal bahasa serta kebudayaan Sunda.
Manglé dari masa ke masa memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah media tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan bentuk lama.
Kemampuan beradaptasi, menyediakan bacaan yang relevan, dan membangun hubungan dengan pembaca juga menjadi bagian penting dari perjalanannya.
Bagi Manglé, masa depan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan majalah cetak atau perubahan desain sampul.
Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana bahasa Sunda terus mendapat ruang untuk menuturkan pengalaman masyarakat, membahas persoalan zaman, dan menghasilkan karya yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Menjaga Keberlanjutan Literasi Sunda
Keberadaan Manglé memiliki arti lebih luas daripada usia sebuah media.
Majalah ini merekam perjalanan bahasa Sunda dalam ruang penerbitan modern, sekaligus menunjukkan peran media cetak dalam menjaga hubungan antara penulis, karya, dan pembaca.
Pengelolaan oleh Unpad menghadirkan dukungan institusional bagi keberlanjutan penerbitan. Dukungan tersebut membuka peluang bagi Manglé untuk memperluas perannya sebagai ruang pengetahuan dan kebudayaan.
Keberhasilannya kelak juga bergantung pada kemampuan majalah menjangkau pembaca, membangun regenerasi penulis, serta mempertahankan kualitas isi.
Di tengah perubahan media, keberadaan majalah berbahasa daerah mengingatkan bahwa bahasa membutuhkan ruang untuk berkembang.
Bahasa Sunda tidak hanya memerlukan upaya pelestarian melalui pendidikan dan kegiatan kebudayaan, tetapi juga kesempatan untuk digunakan dalam karya yang dibaca masyarakat.
Sejak terbit di Bogor pada 1957, Manglé telah menempuh perjalanan panjang bersama pembaca dan penulisnya. Pengelolaan baru pada 2025 menandai perubahan penting dalam sejarah tersebut.
Kini, persoalannya bukan hanya bagaimana sebuah majalah legendaris dapat bertahan, melainkan bagaimana warisan literasi yang dibangunnya dapat terus memiliki arti bagi generasi berikutnya.








