Sebuah jamuan makan dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kebudayaan kepada orang-orang dari berbagai negara. Hidangan yang tersaji memperkenalkan cita rasa, sedangkan cara menyambut tamu dan nilai yang menyertai perjamuan menyampaikan cerita tentang masyarakat yang menghidangkannya.
Nilai tersebut hadir dalam makan bajamba, tradisi makan bersama masyarakat Minangkabau yang lekat dengan kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan menyantap makanan dalam satu waktu, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang memiliki tata cara dan makna budaya.
Semangat kebersamaan itu menjadi salah satu inspirasi dalam Diplomatic Dinner: A Gathering in the Sky, bagian dari rangkaian The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta.
Jamuan yang mempertemukan delegasi internasional tersebut menghadirkan unsur budaya Indonesia melalui inspirasi arsitektur Rumah Gadang, seni pertunjukan tradisional, dan beragam sajian kuliner Nusantara.
Makan Bersama dan Nilai Kebersamaan
Dalam tradisi Minangkabau, makan bajamba mengandung makna sosial yang melampaui kegiatan menikmati hidangan.
Kebersamaan menjadi nilai penting yang menghubungkan orang-orang dalam satu perjamuan. Persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama juga menjadi bagian dari makna yang diwariskan melalui tradisi tersebut.
Ferry Nandarsyah, Manager Area Restoran Pagi Sore, menjelaskan nilai utama makan bajamba dalam berita Kementerian Ekonomi Kreatif yang terbit pada 30 Oktober 2026.
“Sebetulnya makan bajamba ini nilai utamanya adalah kebersamaan. Ada beberapa menu yang disajikan dan dinikmati oleh banyak kalangan atau banyak orang. Jadi, pada intinya, bajamba ini nilainya kebersamaan,” ujar Ferry.
Penjelasan itu menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi bagian dari cara masyarakat membangun hubungan sosial. Hidangan bukan satu-satunya unsur yang menentukan makna sebuah tradisi. Tata cara, nilai, dan hubungan antarmanusia turut membentuk pengalaman makan bersama.
Pemahaman tersebut penting ketika makan bajamba diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Tidak setiap jamuan yang menyajikan beragam makanan untuk banyak orang dapat disebut makan bajamba.
Tradisi ini memiliki konteks budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Dalam konteks WCCE 2026, nilai kebersamaan itu menjadi inspirasi untuk menghadirkan pengalaman bersantap yang juga membawa pesan kebudayaan Indonesia kepada para delegasi dari berbagai negara.
Rumah Gadang, Tari Pasambahan, dan Tari Piring
Nuansa Minangkabau dalam jamuan diplomatik WCCE 2026 tidak hanya hadir melalui kuliner. Konsep acara tersebut juga mengambil inspirasi dari Rumah Gadang, rumah adat Sumatera Barat yang merepresentasikan persatuan, kekerabatan, dan identitas kolektif.
Rumah Gadang menjadi pengingat bahwa arsitektur tradisional tidak hanya berbicara tentang bentuk bangunan. Rumah adat juga berkaitan dengan kehidupan bersama dan hubungan sosial dalam masyarakat yang mewariskannya.
Dalam konteks jamuan internasional, inspirasi tersebut memberi ruang bagi identitas budaya daerah untuk hadir di tengah pertemuan lintas negara.
Penyambutan para delegasi turut dimeriahkan Tari Pasambahan, tarian yang berkaitan dengan penyambutan tamu dalam tradisi Minangkabau. Sementara itu, Tari Piring menampilkan kekayaan seni pertunjukan daerah melalui gerak dan keterampilan para penarinya.

Kehadiran unsur arsitektur dan seni pertunjukan membuat pengenalan budaya berlangsung melalui beragam pengalaman. Para tamu tidak hanya menerima informasi tentang Indonesia, tetapi juga berjumpa dengan ekspresi budaya yang hadir dalam ruang jamuan.
Perpaduan tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi budaya dapat berlangsung melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Rumah adat, tarian, dan tradisi kuliner menjadi media untuk memperkenalkan identitas Indonesia tanpa harus membatasinya pada penjelasan formal.
Cita Rasa Nusantara di Hadapan Delegasi Dunia
Meja jamuan WCCE 2026 juga menghadirkan beragam hidangan dari sejumlah daerah di Indonesia.
Menu yang disajikan meliputi lotek, asinan Bogor, sop buntut, sayur asem, rendang, ayam pop, pepes tahu, dan sate. Es teler turut melengkapi sajian sebagai hidangan penutup.
Keragaman tersebut mempertemukan berbagai karakter kuliner dalam satu pengalaman bersantap. Setiap hidangan membawa bahan, racikan bumbu, dan kebiasaan memasak yang berkembang dalam lingkungan budaya masing-masing.
Kuliner Minangkabau menjadi salah satu bagian dari sajian tersebut melalui rendang dan ayam pop. Menurut Ferry Nandarsyah, kedua menu itu termasuk hidangan favorit pelanggan Restoran Pagi Sore yang turut disajikan dalam jamuan.
Kehadiran kuliner daerah dalam forum internasional membuka kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan gastronomi Indonesia kepada para tamu.
Makanan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh bahan pangan lokal, keterampilan mengolah masakan, serta tradisi yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat.
Bagi ekonomi kreatif, gastronomi juga berkaitan dengan karya dan pengetahuan yang diwariskan maupun dikembangkan oleh para pelakunya.
Resep, teknik memasak, pemilihan bahan, dan cara penyajian merupakan bagian dari kekayaan kreatif yang dapat memperkuat cerita tentang identitas suatu daerah.
Jamuan diplomatik WCCE 2026 mempertemukan unsur-unsur tersebut dalam satu acara. Kuliner Nusantara hadir bersama inspirasi Rumah Gadang dan seni pertunjukan tradisional, memperlihatkan beberapa cara kebudayaan Indonesia dapat diperkenalkan kepada audiens internasional.
Dari Tradisi Minangkabau ke Meja Diplomasi
Makan bajamba memberikan konteks budaya bagi pembicaraan tentang kebersamaan dalam sebuah jamuan.
Tradisi ini mengingatkan bahwa pengalaman makan bersama memiliki makna yang dibentuk oleh nilai, tata cara, dan kehidupan masyarakat. Pesan itulah yang relevan ketika Indonesia menyambut delegasi internasional melalui pengalaman kuliner dan kebudayaan.
Jamuan diplomatik WCCE 2026 bukan semata-mata peristiwa menyajikan makanan. Inspirasi Rumah Gadang, Tari Pasambahan, Tari Piring, serta beragam hidangan Nusantara membentuk ruang perjumpaan yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pengalaman langsung.
Tradisi daerah pun dapat hadir dalam percakapan global tanpa kehilangan konteks asalnya. Mengenalkan makan bajamba berarti menjelaskan nilai kebersamaan yang hidup dalam masyarakat Minangkabau, bukan sekadar menampilkan hidangan di atas meja.
Dari tradisi makan bersama masyarakat Minangkabau hingga jamuan diplomatik di Jakarta, makan bajamba membawa satu pesan penting: kebersamaan menjadi bagian dari kebudayaan yang dapat dikenalkan kepada dunia, selama makna dan masyarakat yang mewarisinya tetap mendapat tempat.








