Sejarah Daerah

Selayar dan Jejak Panjang Peradaban Maritim

Temuan arkeologi, jalur perdagangan, dan sejarah Islam memperlihatkan perjalanan panjang Kepulauan Selayar dalam jaringan kehidupan Nusantara.

Oleh Ridwan

Selayar dan Jejak Panjang Peradaban Maritim
Taman Pusaka Selayar menjadi salah satu ruang publik yang merepresentasikan wajah kawasan Kepulauan Selayar, wilayah dengan sejarah panjang kehidupan masyarakat dan budaya maritim. Foto: Alif Fajrin Channel/Google Maps
Diterbitkan

Jauh sebelum Kepulauan Selayar dikenal sebagai kabupaten di Sulawesi Selatan, pulau-pulau di kawasan ini telah menyimpan jejak kehidupan manusia dan hubungan antardaerah. 

Gua-gua prasejarah, artefak tulang, tradisi penguburan, serta catatan perdagangan memperlihatkan bahwa sejarah Selayar tidak bermula dari pembentukan pemerintahan atau kedatangan bangsa Eropa. 

Jejaknya menjangkau masa ketika manusia memanfaatkan sumber daya alam dan menjalin hubungan melalui lingkungan kepulauan.

Posisi Selayar di antara daratan Sulawesi dan jalur pelayaran menuju kawasan timur Nusantara turut membentuk perjalanan sejarahnya. Laut bukan sekadar batas geografis, melainkan ruang pergerakan manusia, barang, pengetahuan, dan kepercayaan.

Penelitian arkeologi membantu membuka bagian sejarah yang tidak selalu terekam dalam naskah tertulis. Sementara itu, sumber pemerintah daerah, naskah kuno, dan kajian sejarah memberikan gambaran tentang perkembangan Selayar pada masa yang lebih kemudian. 

Bila dibaca bersama dengan tetap memperhatikan batas setiap sumber, semuanya memperlihatkan perjalanan masyarakat kepulauan yang panjang dan berlapis.

Jejak Prasejarah di Gua dan Pesisir

Salah satu pintu masuk untuk memahami masa lampau Selayar adalah penelitian arkeologi di situs-situs gua. 

Pada Juni 2026, Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin berkolaborasi dengan National Museum of Ethnology Jepang dan Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam ekspedisi bertajuk Prehistoric Human Migration: Maritime Networks and Resources Use in Sulawesi and East Indonesia. 

Penelitian lapangan tersebut mencakup situs gua di Kabupaten Kepulauan Selayar dengan perhatian pada migrasi manusia, jaringan maritim, dan pemanfaatan sumber daya.

Penelitian itu menunjukkan bahwa Selayar memiliki potensi penting untuk memahami kehidupan manusia prasejarah di kawasan kepulauan. Namun, kegiatan ekskavasi dan rencana publikasi hasil penelitian perlu dibedakan dari kesimpulan ilmiah yang sudah diterbitkan. 

Pola migrasi, jalur perpindahan, dan hubungan antarkelompok manusia baru dapat dijelaskan secara lebih terperinci setelah bukti-buktinya dianalisis.

Petunjuk lain datang dari Situs Baloiya 1 di Kecamatan Bontosikuyu. Penelitian Nurul Sofiya Ahmad dari Universitas Hasanuddin mengkaji artefak tulang yang ditemukan melalui ekskavasi arkeologis. 

Kajian tersebut mengidentifikasi dua tipe utama, yakni unipoint dan bipoint, dengan jumlah tipe unipoint lebih dominan. Analisis juga menelaah teknik pengerjaan dan jejak penggunaan artefak.

Artefak tulang memperlihatkan bahwa bahan organik menjadi bagian dari teknologi masyarakat masa lalu. Bentuk, teknik pembuatan, dan jejak pemakaian dapat membantu peneliti memahami keterampilan serta aktivitas manusia yang meninggalkan benda-benda tersebut. 

Penelitian Baloiya 1 juga menemukan persamaan tipologi dan teknologi dengan artefak dari kawasan karst Maros–Pangkep, disertai variasi yang menunjukkan kemungkinan adaptasi lokal.

Persamaan itu menjadi petunjuk untuk penelitian komparatif, bukan bukti otomatis bahwa masyarakat di kedua kawasan memiliki identitas atau asal-usul yang sama. Kesimpulan mengenai hubungan antarkelompok harus mempertimbangkan konteks temuan, kronologi, dan bukti pendukung lainnya.

Tradisi penguburan memberikan sudut pandang berbeda. 

Artikel Wood Coffins in Selayar and Their Counterparts in Several Regions in the Provinces of South Sulawesi and Southeast Sulawesi membahas wadah kubur kayu di gua-gua Selayar dan membandingkannya dengan temuan dari sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Perbandingan tersebut membuka peluang untuk mengkaji variasi praktik penguburan dan persebaran tradisi budaya di kawasan itu.

Temuan arkeologi seperti ini penting karena benda-benda peninggalan tidak sekadar menunjukkan keberadaan manusia pada masa lampau.

Melalui penelitian yang cermat, artefak dapat membantu menjelaskan cara manusia mengolah bahan, memanfaatkan lingkungan, dan memperlakukan orang yang meninggal. Akan tetapi, penafsiran mengenai kepercayaan atau hubungan antarmasyarakat tetap perlu didasarkan pada konteks arkeologis yang memadai.

Laut, Perdagangan, dan Nama Selayar

Dalam sejarah yang dicatat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, wilayah ini dikenal sebagai tempat persinggahan pedagang yang berlayar menuju pusat rempah-rempah di Maluku. 

Para pelaut singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu kondisi dan musim yang sesuai untuk melanjutkan perjalanan. 

Letak Selayar membuat kawasan ini relevan dalam jaringan pelayaran yang menghubungkan Sulawesi dengan wilayah lain di Nusantara. Laut dengan demikian memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Selayar. 

Hubungan maritim memungkinkan terjadinya pertukaran barang dan pengetahuan, sekaligus mempertemukan penduduk setempat dengan pelaut dari kawasan lain. 

Akan tetapi, intensitas dan bentuk hubungan tersebut berubah mengikuti periode sejarah, jalur perdagangan, serta perkembangan kekuatan politik di kawasan Nusantara.

Laman pemerintah daerah menghubungkan nama Selayar dengan kata cedaya dari bahasa Sanskerta, yang dimaknai sebagai satu layar. Penjelasan setempat mengaitkannya dengan perahu-perahu yang singgah di pulau tersebut. 

Nama Selayar juga muncul dalam pembahasan mengenai Nagarakretagama, karya Mpu Prapanca dari abad ke-14 yang menggambarkan wilayah-wilayah dalam cakrawala kekuasaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. 

Penyebutan tersebut menjadi salah satu petunjuk untuk menelusuri bagaimana Selayar dikenal dalam catatan geografis dan politik pada masa itu.

Keterangan dalam naskah kuno tersebut perlu dibaca sesuai konteks zamannya. Penyebutan Selayar tidak serta-merta menjelaskan apakah armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah langsung di wilayah itu. 

Jejak perjalanan semacam itu memerlukan dukungan sumber sejarah lain agar hubungan antara nama tempat dan peristiwa yang dikisahkan dapat dipahami secara lebih utuh.

Selain Selayar, masyarakat mengenal sebutan Tana Doang, yang dimaknai sebagai tanah tempat berdoa. Tradisi setempat menghubungkannya dengan kebiasaan pelaut memohon keselamatan sebelum melanjutkan pelayaran ke arah barat maupun timur. 

Nama ini menghadirkan dimensi lain dari kehidupan maritim: perjalanan laut tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga dengan harapan akan keselamatan dan keyakinan masyarakat.

Kedudukan Selayar dalam jalur niaga juga tercatat dalam Amanna Gappa, naskah hukum pelayaran dan perdagangan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Bugis pada abad ke-17.

Menurut catatan pemerintah daerah, naskah tersebut menyebut Selayar dalam konteks perjalanan niaga dari Makassar menuju sejumlah tujuan, termasuk Malaka dan Johor. 

Keterangan ini menunjukkan bahwa Selayar dikenal dalam cakrawala pelayaran niaga yang menghubungkan berbagai wilayah di Nusantara dan kawasan sekitarnya.

Dalam jaringan tersebut, Selayar menjadi bagian dari sistem perdagangan maritim yang melibatkan banyak pelabuhan, pedagang, dan komunitas pelaut. 

Kedudukannya dapat dipahami melalui hubungan antardaerah yang membentuk jalur niaga, bukan semata-mata dari besarnya kegiatan perdagangan yang berlangsung di satu tempat.

Gantarang, Islamisasi, dan Perubahan Kekuasaan

Memasuki masa klasik, sejarah Selayar tidak hanya berkaitan dengan perdagangan. Perkembangan permukiman dan pemerintahan lokal juga menjadi bagian dari perjalanan masyarakatnya. 

Kajian Suwedi Montana yang terbit dalam Berkala Arkeologi pada 1988 membahas kepurbakalaan Pulau Selayar, penyebutan Gantaran dalam naskah Lontara, serta hubungan masa klasik dengan proses Islamisasi.

Artikel tersebut juga menyinggung Benteng sebagai kota tua yang tercatat dalam laporan VOC.

Temuan tersebut memperkuat posisi Gantarang sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah Selayar.

Tradisi sejarah setempat menghubungkan penyebaran Islam dengan kedatangan Datuk ri Bandang dan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Alauddin. Pemerintah daerah menempatkan peristiwa tersebut pada 1605.

Islamisasi merupakan perubahan penting dalam kehidupan masyarakat karena berkaitan dengan kepercayaan, kepemimpinan, dan hubungan antarkawasan. 

Meski demikian, proses penyebaran agama tidak seharusnya dipahami sebagai satu kejadian yang langsung mengubah seluruh masyarakat secara serentak. 

Perlu dibedakan antara kisah mengenai masuk Islamnya seorang penguasa, perkembangan lembaga keagamaan, dan penerimaan Islam di berbagai komunitas.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menetapkan 29 November 1605 sebagai hari jadi daerah dengan mengaitkannya pada masuknya Islam.

Tanggal tersebut juga memiliki hubungan dengan peristiwa lain dalam sejarah Selayar, yakni pengambilalihan kantor polisi kolonial oleh sekelompok pemuda pada 29 November 1945. 

Kedua peristiwa itu berada dalam konteks berbeda: yang pertama berkaitan dengan tradisi Islamisasi, sedangkan yang kedua merupakan bagian dari perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

Pengaruh kolonial Belanda semakin nyata dalam sejarah pemerintahan Selayar. Menurut laman resmi pemerintah daerah, Belanda mulai memerintah Selayar pada 1739. 

Wilayah ini kemudian berada di bawah sistem keresidenan, dengan sejumlah pejabat kolonial memimpin pemerintahan. 

Pada tingkat lokal, pemerintahan terbagi ke dalam wilayah yang disebut regentschappen, dipimpin oleh penguasa pribumi bergelar Opu. Jabatan lain, seperti Opu Lolo, Balegau, dan Gallarang, turut menjadi bagian dari struktur pemerintahan setempat.

Pemerintah kolonial memanfaatkan struktur lokal tersebut untuk menjalankan administrasi wilayah. Para pemimpin pribumi tetap memegang jabatan, tetapi kewenangannya semakin berada dalam kendali kolonial.

Pada masa pendudukan Jepang, susunan pemerintahan kembali mengalami perubahan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, perjuangan mengambil alih kekuasaan berlangsung di berbagai daerah, termasuk Selayar. 

Menurut catatan pemerintah daerah, pada 29 November 1945, sekitar 200 pemuda yang dipimpin Rauf Rahman mengambil alih kantor polisi kolonial.

Peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjuangan masyarakat Selayar untuk melepaskan diri dari kekuasaan kolonial dan menegakkan kemerdekaan di daerah mereka.

Dari Wilayah Historis Menjadi Kabupaten Kepulauan

Pembentukan pemerintahan daerah menjadi bagian penting dalam perkembangan Selayar pada masa Indonesia merdeka. 

Kabupaten Selayar dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi. Pada 2008, namanya berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2008.

Nama baru tersebut mencerminkan karakter wilayah Selayar yang terdiri atas pulau-pulau. Wilayah administrasinya mencakup kecamatan di Pulau Selayar dan sejumlah kecamatan kepulauan di sekitarnya.

Laut yang sejak lama menghubungkan masyarakat Selayar dengan daerah lain tetap menjadi bagian penting dari kehidupan wilayah ini.

Sejarah Selayar terbentuk melalui perjalanan panjang. Situs prasejarah menyimpan petunjuk tentang kehidupan manusia pada masa lampau, sedangkan *Amanna Gappa* memberikan gambaran mengenai pelayaran dan perdagangan dalam tradisi Bugis. 

Jejak perkembangan Islam dapat ditelusuri melalui sejarah Gantarang, sementara catatan kolonial dan peristiwa menjelang kemerdekaan memperlihatkan perubahan kekuasaan yang dialami masyarakat Selayar.

Berbagai peninggalan tersebut memperlihatkan sisi sejarah yang berbeda.

Artefak prasejarah berkaitan dengan kehidupan dan teknologi masa lampau, naskah perdagangan menggambarkan hubungan antardaerah, sedangkan catatan pemerintahan merekam perubahan dalam tata kekuasaan. Tradisi lisan turut mewariskan kisah yang hidup di tengah masyarakat.

Dari jejak-jejak itu, Selayar tampil sebagai wilayah dengan sejarah masyarakat, teknologi, kepercayaan, perdagangan, dan pemerintahan yang terus berkembang. Laut bukan sekadar pemisah antarpulau, melainkan jalur yang menghubungkan Selayar dengan dunia maritim yang lebih luas.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Sejarah Daerah

Pemandangan kawasan pusat Kota Bandung yang merepresentasikan perkembangan sejarah kota.

Evolusi Bandung Menjadi Kota Modern

Dari pemindahan pusat pemerintahan pada 1810 hingga perkembangan kota kolonial, Bandung tumbuh melalui perubahan kekuasaan, transportasi, dan kehidupan masyarakat.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →