Perjalanan ke Yogyakarta tidak harus berhenti di tempat-tempat yang sudah dikenal wisatawan. Di balik jalanan kota, kampung-kampung, hidangan tradisional, dan bangunan bersejarah, ada cerita yang dapat ditemukan melalui perjalanan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pengalaman semacam ini menjadi perhatian Kementerian Pariwisata melalui program familiarization trip (famtrip) bertajuk Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi.
Berlangsung pada 16–20 Oktober 2026, kegiatan tersebut mengajak 10 perwakilan biro perjalanan dan asosiasi pariwisata menjelajahi potensi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta dan kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Program ini mengangkat tiga tema utama: mindfulness, gastronomi, dan sejarah budaya. Kemenpar berharap pengalaman yang diperoleh peserta dapat menjadi inspirasi untuk menyusun paket wisata baru yang berkualitas dan berkelanjutan.
Menelusuri Cerita dari Meja Makan
Makanan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah daerah. Bahan pangan, cara memasak, resep keluarga, dan kebiasaan menyajikan hidangan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat yang mewariskannya.
Pengalaman gastronomi menjadi salah satu agenda dalam famtrip Kemenpar. Peserta mengikuti kegiatan Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul bersama Dje Djak Rasa.
Dalam kegiatan ini, sajian ayam ingkung diperkenalkan bersama cerita mengenai resep tradisional.
Perjalanan kuliner berlanjut melalui Senja Gastronomy Walking Tour di kawasan Tugu dan Pecinan. Selain mencicipi jajanan lokal, peserta diajak mengenal jejak pertemuan budaya yang membentuk kehidupan kawasan tersebut.
Wisata gastronomi memberi kesempatan kepada pengunjung untuk memahami makanan lebih jauh daripada rasa dan penyajiannya.
Hidangan dapat mengantar wisatawan mengenal bahan lokal, kebiasaan masyarakat, serta pengaruh berbagai tradisi yang berkembang di suatu tempat.
Bagi pelaku perjalanan, pengalaman semacam ini juga membuka peluang untuk menyusun rute yang menghubungkan kuliner dengan cerita kampung dan sejarah kawasan. Kegiatan mencicipi makanan menjadi bagian dari perjalanan yang memiliki konteks budaya.
Sejarah di Sepanjang Perjalanan
Yogyakarta memiliki lapisan sejarah yang dapat dikenali melalui bangunan, kawasan permukiman, tradisi, dan cerita yang diwariskan masyarakat.
Pengalaman wisata sejarah memberi kesempatan kepada pengunjung untuk memahami hubungan antara tempat-tempat tersebut dan perjalanan masyarakat yang membentuknya.
Dalam rangkaian famtrip, peserta mengikuti perjalanan bertajuk Tiga Wajah Mataram bersama Remen Jawi. Agenda ini menghadirkan penelusuran sejarah dan perjamuan lintas masa sebagai cara mengenal warisan budaya Yogyakarta.
Sejarah dalam perjalanan wisata tidak hanya hadir melalui keterangan di bangunan atau penjelasan pemandu.
Cerita mengenai suatu tempat juga dapat memperlihatkan perubahan kehidupan masyarakat, kebiasaan yang bertahan, serta pertemuan budaya yang membentuk identitas kawasan.
Kawasan Borobudur dan sekitarnya menawarkan konteks berbeda melalui kekayaan warisan sejarah dan budaya.
Penggabungan destinasi dengan pengalaman tematik memungkinkan perjalanan dirancang berdasarkan minat tertentu, bukan semata-mata daftar tempat yang harus dikunjungi.
Bagi wisatawan, cara ini dapat membuat kunjungan terasa lebih terarah. Bagi pengelola destinasi dan pelaku usaha lokal, cerita sejarah dan budaya dapat menjadi bagian penting dalam merancang pengalaman yang memiliki ciri khas.
Berjalan Kaki dan Menikmati Suasana
Tidak semua pengalaman wisata harus berlangsung melalui perjalanan cepat dari satu objek ke objek lain.
Berjalan kaki memberi kesempatan untuk memperhatikan lingkungan, melihat detail yang mudah terlewat, dan berinteraksi dengan masyarakat di sepanjang rute.
Dalam famtrip tersebut, wisata jalan kaki menjadi bagian dari pengalaman gastronomi dan penelusuran kawasan. Peserta dapat mengenal suasana kampung, jajanan lokal, serta cerita yang menyertai ruang-ruang kota.
Kegiatan ini sejalan dengan gagasan slow tourism, yakni menikmati perjalanan dengan memberi waktu lebih banyak untuk memahami tempat yang dikunjungi.
Nilainya bukan sekadar berjalan lebih lambat, melainkan memberi perhatian pada lingkungan dan pengalaman selama perjalanan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup meditasi berkesadaran bersama Selaras Jiwo Journey. Sesi ini memadukan relaksasi dengan penuturan cerita budaya.
Kehadiran kegiatan tersebut memperluas pengalaman wisata dari penjelajahan tempat menuju kesempatan untuk beristirahat dan memberi perhatian pada diri sendiri.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menjelaskan perubahan minat wisatawan dalam rilis kementerian.
Menurut Made, wisatawan, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, semakin mencari pengalaman yang memberi ketenangan dan narasi sejarah yang kuat, bukan sekadar destinasi untuk berfoto.
“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” tambah Made.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan wisata tematik.
Pengalaman perjalanan dirancang agar pengunjung tidak hanya datang dan pergi, tetapi memiliki kesempatan untuk memahami karakter destinasi melalui kegiatan yang saling berkaitan.
Dari Famtrip Menjadi Paket Wisata
Famtrip Kemenpar bukan hanya kegiatan pengenalan destinasi. Program ini juga mempertemukan biro perjalanan dengan pengelola atraksi lokal melalui pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B).
Melalui pertemuan tersebut, para pelaku usaha dapat menjajaki kerja sama dan menyusun paket perjalanan yang sesuai dengan minat wisatawan.
Kemenpar menargetkan kegiatan ini mendorong terciptanya paket tur komersial baru, baik berupa open trip maupun perjalanan untuk kelompok privat.
Kementerian juga berharap paket-paket tersebut dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja di Yogyakarta serta Borobudur.
Manfaat ekonomi yang diharapkan tidak hanya menyentuh penyelenggara perjalanan, tetapi juga pengelola atraksi dan pelaku usaha lokal yang terlibat dalam rangkaian pengalaman wisata.
Hasilnya tetap bergantung pada tindak lanjut para pelaku usaha, kesiapan layanan, serta kemampuan mereka menyusun perjalanan yang menarik dan layak dipasarkan.
Famtrip menyediakan kesempatan untuk mengenali potensi dan membangun hubungan bisnis; paket yang benar-benar tersedia membutuhkan proses pengembangan berikutnya.
Yogyakarta dan Borobudur memiliki kekayaan kuliner, sejarah, dan tradisi yang dapat dikenali melalui beragam pengalaman.
Melalui wisata tematik, potensi tersebut dirangkai menjadi perjalanan yang lebih terarah, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk berperan dalam kegiatan pariwisata.
Wisata tematik akan membantu wisatawan mengenal Yogyakarta dan Borobudur lebih dekat, bukan hanya melalui tempat yang dikunjungi, tetapi juga melalui rasa, sejarah, dan tradisi yang memberi makna pada perjalanan.








