Pariwisata

Cerita Identitas Cirebon dari Pusaka Kanoman

Membaca sejarah, pertemuan budaya, dan identitas Cirebon melalui pusaka yang tersimpan di Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman.

Oleh Ridwan

Cerita Identitas Cirebon dari Pusaka Kanoman
Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman menyimpan berbagai pusaka dan artefak yang merekam jejak sejarah serta pertemuan budaya Cirebon. Foto: Kemenbud
Diterbitkan

Cirebon punya banyak cara untuk dikenali. Kota di pesisir utara Jawa Barat ini tumbuh dari pertemuan berbagai pengaruh budaya, yang jejaknya dapat ditemukan dalam tradisi, kesenian, kehidupan keraton, hingga benda-benda pusaka yang diwariskan lintas generasi.

Salah satu tempat untuk melihat lapisan sejarah itu adalah Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman. Berada di dalam Kompleks Kesultanan Kanoman, museum ini menyimpan berbagai benda yang membawa cerita tentang kehidupan keraton sekaligus memperlihatkan bagaimana beragam kebudayaan bertemu dan membentuk wajah Cirebon.

Di sini, Cirebon tidak hanya hadir sebagai sebuah kota, tetapi juga sebagai identitas yang dapat dibaca melalui benda-benda yang diwariskan.

Museum yang Menyimpan Ingatan Kanoman

Gedung Pusaka Keraton Kanoman diperkirakan telah berdiri sejak sekitar 1800-an. Pada awalnya, bangunan ini berupa bangunan sederhana dari bambu yang digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka milik keraton.

Bangunan tersebut kemudian mengalami sejumlah perubahan. Sumber Museum.co.id mencatat renovasi pada 1920 dan 1976 pada masa Sultan Kanoman VIII Sultan Zulkarnaen, kemudian pada 1980 pada masa Sultan Djalaludin. Pada 1997, bangunan direnovasi menjadi bangunan permanen dan dibuka sebagai museum pada masa Sultan Kanoman IX.

Kini, museum menjadi ruang untuk melihat berbagai peninggalan Kesultanan Kanoman. Koleksinya antara lain berupa gamelan, tombak, ukiran dinding, serta kereta-kereta kencana.

Bagi pengunjung, benda-benda tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah Cirebon dari sisi yang lebih dekat. Sejarah tidak hanya hadir dalam tanggal dan nama tokoh, tetapi juga melalui benda yang pernah digunakan, diwariskan, dan diberi makna oleh masyarakat pada masanya.

Pusaka yang Mempertemukan Berbagai Kebudayaan

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah Kereta Kencana Paksi Naga Liman.

Kereta ini disebut dibuat pada 1428 atas prakarsa Pangeran Losari, dengan kayu sawo sebagai material utamanya. Bentuknya memperlihatkan sosok hewan bersayap dengan kepala naga dan belalai gajah.

Tiga unsur tersebut kemudian dibaca sebagai pertemuan simbol dari kebudayaan yang berbeda: burung yang dikaitkan dengan tradisi Islam, naga dari kebudayaan Cina, dan gajah yang dikaitkan dengan tradisi Hindu.

Di titik ini, Paksi Naga Liman bukan hanya sebuah kendaraan kerajaan. Bentuknya memperlihatkan bagaimana Cirebon tumbuh sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan.

Ada pula kisah mengenai sayap kereta yang dapat bergerak ketika kereta berjalan. Gerakan tersebut berfungsi sebagai pendingin bagi orang yang berada di dalam kereta.

Paksi Naga Liman terakhir digunakan pada 1933 pada masa Sultan Raja Muhammad Dzulkarnaen atau Sri Sultan Kanoman VIII.

Melihat kereta ini, pengunjung seperti diajak membaca Cirebon melalui simbol-simbol yang melekat pada sebuah benda.

Kereta Kencana Paksi Naga Liman, salah satu pusaka Kesultanan Kanoman yang tersimpan di Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman, Cirebon. Foto: Kemenbud

Jempana dan Makna Sebuah Pengabdian

Koleksi kereta kencana lainnya adalah Kereta Jempana.

Kereta ini disebut dibuat pada tahun yang sama dengan Paksi Naga Liman. Fungsinya sebagai kendaraan kerajaan bagi Ratu Dalem atau permaisuri.

Nama Jempana berasal dari ungkapan Jemjeming Pengagem Manahayang, yang dimaknai sebagai keteguhan dalam menjalankan tugas.

Makna tersebut menunjukkan bahwa benda pusaka di lingkungan keraton tidak hanya memiliki fungsi praktis. Sebuah benda juga dapat membawa nilai dan pandangan hidup yang diwariskan bersama keberadaannya.

Karena itu, melihat Jempana bukan semata-mata melihat kendaraan kerajaan dari masa lalu. Ia juga menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana nilai tentang keteguhan dan tanggung jawab ditempatkan dalam kehidupan keraton.

Dari Paksi Naga Jalma hingga Kursi Gading Gilang Kencana

Pusaka Kanoman tidak berhenti pada kereta kencana.

Museum juga menyimpan ukiran dinding, salah satunya Paksi Naga Jalma. Ukiran ini menggambarkan makhluk mitologis dengan unsur manusia, burung, dan naga.

Ada pula sebuah peti dari Mesir yang dalam sumber yang digunakan untuk artikel ini disebut pernah digunakan oleh Sunan Gunung Jati dan ibunya, Nyai Mas Ratu Raransantang, ketika berpindah dari Mesir menuju Cirebon.

Koleksi lainnya adalah Kursi Gading Gilang Kencana yang disebut telah berusia hampir 700 tahun. Kursi tersebut dipamerkan bersama patung cupid yang disebut merupakan pemberian Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles.

Kursi ini dikaitkan dengan Pangeran Walangsungsang, salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Kesultanan Cirebon.

Berbagai benda tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Kanoman tidak berdiri dalam ruang yang terpisah. Di dalamnya terdapat pertemuan antara sejarah keraton, perjalanan tokoh, simbol keagamaan, pengaruh kebudayaan, hingga hubungan dengan kekuasaan kolonial.

Pada 17 November 2025, ruang pamer permanen Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Pembukaan ruang pamer tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan penyajian, perawatan, dan tata kelola koleksi museum.

Perubahan ruang pamer penting karena benda pusaka tidak cukup hanya disimpan. Agar dapat dipahami generasi berikutnya, benda-benda tersebut membutuhkan konteks: siapa yang menggunakannya, bagaimana fungsinya, apa maknanya, dan bagaimana benda tersebut sampai kepada kita hari ini.

Dengan cara itu, museum dapat menjadi ruang untuk bercerita, bukan sekadar tempat menyimpan benda lama.

Mengenali Identitas Cirebon dari Pusaka Kanoman

Jika Cirebon kerap dikenal melalui kuliner, batik, tradisi, dan kehidupan kotanya, pusaka Kanoman menawarkan cara lain untuk mengenali kota ini.

Paksi Naga Liman memperlihatkan pertemuan simbol Islam, Cina, dan Hindu. Jempana membawa gagasan tentang keteguhan dalam menjalankan tugas.

Ukiran Paksi Naga Jalma memperlihatkan percampuran unsur manusia dan makhluk mitologis. Sementara benda-benda lain membawa cerita tentang tokoh, perjalanan, dan hubungan kekuasaan pada masa lalu.

Semua itu membuat museum tidak hanya relevan bagi mereka yang ingin melihat benda bersejarah. Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman juga dapat menjadi bagian dari wisata budaya Cirebon, terutama bagi pengunjung yang ingin memahami kota ini melalui sejarah dan warisan budayanya.

Informasi Kunjungan Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman

Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman berada di Kompleks Kesultanan Kanoman, Jalan Merdeka No. 28, Kelurahan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Informasi mengenai jam buka dan tiket, Museum.co.id mencantumkan 09.00–17.00 dengan tiket masuk Rp15.000. Informasi tersebut perlu diverifikasi sebelum kunjungan.

Lokasinya juga relatif dekat dari pusat transportasi kota, sekitar 1,8 kilometer dari Stasiun Cirebon Prujakan dan sekitar 4 kilometer dari Stasiun Cirebon.

Pusaka sebagai Cara Membaca Cirebon

Pada akhirnya, mengunjungi Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman bukan sekadar melihat benda-benda dari masa lalu.

Pusaka membuat sejarah terasa lebih dekat. Sebuah kereta dapat bercerita tentang pertemuan kebudayaan. Sebuah ukiran dapat menunjukkan cara manusia membayangkan dunia dan kursi dapat membawa kita pada nama dan tokoh yang pernah hidup berabad-abad lalu.

Dari benda-benda itulah identitas Cirebon dapat dibaca perlahan: sebagai kota pesisir yang tumbuh dari pertemuan, menyerap berbagai pengaruh, lalu mewariskannya dalam bentuk budaya yang khas.

Di Kanoman, pusaka bukan hanya sesuatu yang ditinggalkan masa lalu. Ia menjadi cara untuk mengenali kembali cerita Cirebon.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait