Pariwisata

Labuan Bajo Membuka Jalan ke Daratan Flores

Pengembangan paket wisata Labuan Bajo membuka peluang menjelajahi daratan Flores, dari kampung adat dan sejarah Manggarai hingga tenun, kopi, dan ekowisata.

Oleh Ridwan

Pelabuhan Labuan Bajo
Pelabuhan Labuan Bajo menjadi pintu pergerakan wisatawan menuju pulau-pulau di sekitarnya sekaligus bagian penting dari aktivitas maritim yang menghidupkan pariwisata Flores. Foto: Dok. Kemenpar
Diterbitkan

Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Wisatawan datang untuk menyaksikan komodo, menjelajahi pulau-pulau, menikmati pantai, dan melihat perbukitan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. 

Di sisi lain, perjalanan ke ujung barat Pulau Flores tidak harus berhenti pada wisata bahari.

Di daratan Flores, perjalanan dapat berlanjut menuju kampung adat, persawahan dengan bentuk yang khas, perkebunan kopi, rumah tenun, hingga kawasan pesisir yang mengembangkan ekowisata. 

Berbagai tempat itu menawarkan pengalaman berbeda, sekaligus memperlihatkan hubungan masyarakat dengan lingkungan dan tradisi setempat.

Peluang memperluas pengalaman perjalanan tersebut menjadi salah satu perhatian Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). 

Pada Oktober 2026, kedua lembaga memperkenalkan potensi wisata daratan Flores melalui perjalanan pengenalan destinasi dan pertemuan bisnis dengan pelaku industri pariwisata.

Upaya tersebut menyasar pasar wisatawan nusantara maupun mancanegara. Salah satu langkahnya ialah mempertemukan pelaku usaha lokal dengan agen perjalanan asal Tiongkok untuk menjajaki pengembangan paket wisata Labuan Bajo dan Flores.

Memperluas Pasar, Mengembangkan Perjalanan

Pada 23 Oktober 2026, Kementerian Pariwisata, BPOLBF, dan China Southern Airlines menggelar Wonderful Indonesia Business Matching for Chinese Travel Agents di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Kegiatan mempertemukan tujuh agen perjalanan dari Tiongkok dengan 14 pelaku industri pariwisata lokal. Pertemuan bisnis itu menjadi bagian dari rangkaian perjalanan pengenalan destinasi atau familiarization trip (famtrip) dan jejaring bisnis. 

Melalui kegiatan tersebut, agen perjalanan diharapkan dapat mengenal produk wisata secara langsung dan menjajaki kerja sama dengan penyedia layanan di daerah.

Menurut data yang disampaikan Kementerian Pariwisata, kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia mencapai 1,3 juta pada 2025. 

Hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan dari negara tersebut telah melampaui satu juta, meningkat 16,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka itu memperlihatkan besarnya peluang pasar, tetapi pemasaran destinasi tidak cukup hanya mengandalkan promosi. Pelaku perjalanan juga membutuhkan produk yang jelas, menarik, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.

Di sinilah pengembangan paket perjalanan menjadi penting. 

Labuan Bajo dapat berperan sebagai titik awal untuk mengenalkan pilihan wisata yang lebih luas, sementara pelaku usaha lokal berpeluang menawarkan pengalaman yang tidak terbatas pada perjalanan laut dan kunjungan ke pulau-pulau.

Paket tersebut masih perlu disesuaikan dengan minat pasar, waktu perjalanan, akses antardestinasi, serta kesiapan layanan di lapangan.

Pertemuan bisnis membuka peluang kerja sama, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada tindak lanjut dan produk yang benar-benar dapat dipasarkan.

Dari Wae Rebo hingga Lingko Cancar

Potensi daratan Flores telah diperkenalkan melalui famtrip yang berlangsung pada 12–16 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengunjungi sejumlah destinasi yang memperlihatkan keragaman pengalaman wisata di sekitar Labuan Bajo dan wilayah Flores.

Waterfront Marina Labuan Bajo
Pertunjukan tari tradisional di Waterfront Marina Labuan Bajo memperlihatkan ruang perjumpaan antara seni budaya Manggarai dan aktivitas pariwisata di pesisir Flores. Foto: Dok.Kemenpar

Desa Adat Wae Rebo, misalnya, menawarkan pengalaman mengenal arsitektur rumah adat, tradisi penyambutan, serta kegiatan masyarakat, termasuk menenun. Berada di kawasan pegunungan, Wae Rebo juga menghadirkan pengalaman perjalanan yang berbeda dari wisata bahari di Labuan Bajo. 

Perjalanan menuju kampung ini membutuhkan persiapan tersendiri karena pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju permukiman adat.

Di Desa Todo, wisatawan dapat mengenal sejarah Kerajaan Manggarai. Kunjungan ke tempat ini membuka ruang untuk memahami sejarah lokal melalui peninggalan budaya dan lingkungan masyarakatnya. 

Pengalaman tersebut dapat melengkapi perjalanan yang sebelumnya lebih banyak berpusat pada bentang alam.

Sementara itu, Lingko Cancar memperlihatkan hamparan sawah dengan pola menyerupai jaring laba-laba. Bentuk tersebut berkaitan dengan sistem pembagian lahan dalam tradisi masyarakat Manggarai. 

Lanskap ini bukan sekadar pemandangan untuk difoto, melainkan juga pintu masuk untuk mengenal hubungan antara tata ruang, pengelolaan tanah, dan kehidupan masyarakat.

Rangkaian perjalanan juga mencakup De Lawa Coffee untuk mengenal perkebunan serta pengolahan kopi, Desa Wisata Cunca Plias dengan kegiatan budaya dan trekking menuju air terjun, serta Warloka Pesisir yang memperkenalkan potensi ekowisata dan pelestarian mangrove. 

Kunjungan ke Rumah Tenun Baku Peduli memberi kesempatan untuk mengenal kerajinan tekstil lokal. Beragam destinasi tersebut menunjukkan bahwa Flores memiliki pilihan pengalaman yang dapat dirangkai dalam satu perjalanan. 

Wisatawan tidak hanya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga berkesempatan mengenal sejarah, pengetahuan lokal, keterampilan, dan kehidupan masyarakat.

Budaya Menjadi Bagian Perjalanan

Mengembangkan paket wisata daratan Flores memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah destinasi. 

Pengalaman yang ditawarkan perlu menjelaskan alasan sebuah tempat layak dikunjungi dan bagaimana wisatawan dapat berinteraksi secara bertanggung jawab dengan masyarakat setempat.

Di kampung adat, misalnya, pengalaman wisata perlu memperhatikan aturan kunjungan, tata cara berinteraksi, serta batas antara ruang yang terbuka untuk pengunjung dan ruang yang memiliki fungsi khusus bagi masyarakat. 

Tradisi tidak seharusnya diperlakukan sekadar sebagai tontonan untuk memenuhi agenda perjalanan.

Hal serupa berlaku untuk kerajinan tenun, perkebunan kopi, dan kegiatan ekonomi lokal. Kunjungan dapat memberikan nilai lebih apabila wisatawan memperoleh penjelasan mengenai proses produksi, pengetahuan yang diwariskan, dan peran masyarakat dalam mempertahankan keterampilan tersebut.

Strategi ini membuka peluang bagi pemandu lokal, pengelola desa wisata, perajin, petani, penyedia akomodasi, dan pelaku kuliner untuk terlibat dalam rantai perjalanan wisata. 

Agar manfaatnya menjangkau masyarakat setempat, keterlibatan tersebut perlu didukung koordinasi antarpelaku, standar layanan, dan pembagian manfaat yang jelas.

Bagi agen perjalanan, keragaman pengalaman di Flores dapat menjadi dasar untuk menyusun paket wisata dengan karakter berbeda. 

Pilihannya dapat berupa perjalanan singkat yang memadukan Labuan Bajo dengan satu destinasi daratan, atau perjalanan lebih panjang yang berfokus pada budaya, alam, dan kehidupan masyarakat.

Pengembangan setiap paket perlu mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan, termasuk jarak antardestinasi, waktu tempuh, akses transportasi, kapasitas akomodasi, serta kesiapan pengelola. 

Dengan perencanaan yang sesuai, keragaman destinasi Flores dapat diterjemahkan menjadi pengalaman wisata yang menarik sekaligus memberi ruang lebih besar bagi pelaku lokal.

Memperluas Manfaat bagi Masyarakat

Pengembangan wisata daratan Flores berkaitan dengan upaya memperluas persebaran kunjungan dan manfaat ekonomi pariwisata. 

Jika perjalanan wisatawan lebih beragam dan berlangsung lebih lama, peluang belanja dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha di luar pusat wisata yang telah dikenal.

Akan tetapi, perluasan manfaat tidak terjadi secara otomatis. Destinasi yang diperkenalkan melalui promosi perlu memiliki akses yang memadai, informasi perjalanan yang akurat, pengelola yang siap menerima pengunjung, serta produk lokal yang dapat dibeli atau dinikmati wisatawan.

Kementerian Pariwisata dan BPOLBF telah mengadakan famtrip daratan Flores untuk memperkenalkan potensi destinasi sekaligus menjajaki pengembangan produk perjalanan. 

Pertemuan dengan agen perjalanan Tiongkok menjadi langkah lain untuk memperluas pasar Labuan Bajo dan Flores. Tantangan berikutnya ialah mengubah pengenalan destinasi menjadi paket yang benar-benar dapat diakses wisatawan. 

Kerja sama antara pemerintah, pelaku perjalanan, pengelola destinasi, dan masyarakat menjadi penentu apakah peluang tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

Labuan Bajo tetap memiliki daya tarik utama sebagai pintu masuk menuju kawasan Komodo. Namun, perjalanan dari tempat ini dapat membuka pemahaman yang lebih luas mengenai Flores—pulau dengan lanskap, sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang beragam.

Ketika daratan Flores menjadi bagian penting dari rancangan perjalanan, wisata tidak lagi hanya berpusat pada destinasi yang sudah populer.

Peluangnya terbuka untuk memperkenalkan lebih banyak tempat dan memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk menjadi bagian utama dari pengalaman wisata tersebut.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →