Ada banyak alasan untuk datang ke Nias.
Lautnya luas, pantainya panjang, pulau-pulau kecil menawarkan lanskap yang berbeda, sementara budaya masyarakatnya memberi pengalaman yang tidak bisa ditemukan di banyak destinasi lain. Di sejumlah tempat, perjalanan ke Nias juga berarti bertemu dengan tradisi, kampung, kuliner, serta kehidupan masyarakat yang masih menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Di sisi lain, Nias bukan destinasi yang bisa selesai dinikmati dalam satu kunjungan singkat.
Ada laut yang perlu dijelajahi, desa yang perlu didatangi, budaya yang perlu dikenali, dan perjalanan antardestinasi yang membutuhkan waktu. Justru di situlah tantangannya: bagaimana membuat wisatawan tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang, tetapi tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di tempat yang mereka kunjungi.
Daya tarik itu tersebar di sejumlah sudut Kepulauan Nias. Di Nias Selatan, Lagundri dan Sorake dikenal sebagai kawasan yang menarik bagi peselancar, sementara Bawomataluo menawarkan pengalaman wisata budaya melalui lanskap desa dan tradisi megalitiknya.
Di Nias Barat, perjalanan dapat diarahkan ke kawasan kepulauan Hinako dan Asu, dengan laut dan pantai sebagai kekuatan utama wisata baharinya. Masing-masing tempat menawarkan pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya membutuhkan satu hal yang sama: bagaimana membuat wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, melainkan tinggal, beraktivitas, dan berinteraksi lebih lama dengan masyarakat setempat.
Pertanyaan itu menjadi semakin penting di Nias Barat.
Ketika Angka Wisatawan Tidak Selalu Naik
Data Kabupaten Nias Barat menunjukkan jumlah wisatawan pada 2024 mencapai 45.463 orang. Setahun kemudian, angkanya turun menjadi 15.435 orang—berkurang sekitar 66 persen.
Penurunan terutama terjadi pada wisatawan domestik, dari 45.310 orang pada 2024 menjadi 15.256 orang pada 2025. Pada saat yang sama, jumlah wisatawan asing justru meningkat dari 153 menjadi 179 orang. Data tersebut bersumber dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat dan tercantum dalam Kabupaten Nias Barat Dalam Angka 2026.
Angka itu tentu perlu dibaca hati-hati.
Penurunan kunjungan tidak otomatis berarti daya tarik Nias Barat berkurang. Pariwisata sangat dipengaruhi banyak hal, mulai dari akses, pola perjalanan, kondisi ekonomi, musim kunjungan, hingga kesiapan destinasi.
Dalam skala nasional pun, perjalanan wisatawan nusantara mengalami dinamika sepanjang 2024. BPS mencatat statistik wisatawan nusantara berdasarkan Mobile Positioning Data dan survei digital, dengan indikator yang mencakup tujuan perjalanan, akomodasi, lama perjalanan, hingga pengeluaran.
Pada periode Januari–Agustus 2024, jumlah perjalanan wisnus secara nasional sebenarnya masih tumbuh dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, beberapa bulan menunjukkan penurunan secara bulanan. Pelaku industri yang dikutip GoodStats menyebut melemahnya daya beli sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perjalanan wisatawan.
Artinya, penurunan wisatawan Nias Barat tidak tepat jika langsung dianggap semata-mata sebagai persoalan lokal. Tetapi konteks nasional juga belum cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Nias Barat.
Yang lebih penting, angka tersebut justru menunjukkan mengapa Nias Barat sedang berusaha membenahi pariwisatanya.
Dari Potensi ke Destinasi yang Siap
Pemerintah Kabupaten Nias Barat kini membawa agenda pariwisata dengan istilah yang cukup menarik: naik kelas.
Agenda pengembangan pariwisata 2027–2029 diarahkan untuk memperkuat daya saing destinasi, terutama wisata bahari, sekaligus membangun kerja sama dengan pemerintah pusat. Dalam pertemuan dengan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah membawa gagasan agar pengembangan wisata Nias Barat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Namun, naik kelas tidak cukup berarti membuat promosi lebih ramai. Destinasi harus lebih siap ketika wisatawan benar-benar datang.
Jalan, pelabuhan atau dermaga, air bersih, listrik, internet, sanitasi, kebersihan, fasilitas pendukung, hingga keselamatan wisatawan menjadi bagian dari pekerjaan yang tidak selalu terlihat dalam materi promosi.
Dengan kata lain, Nias Barat sedang berusaha membuat perjalanan menuju dan di dalam destinasi semakin mudah. Sebab destinasi yang indah saja tidak cukup.
Wisatawan membutuhkan alasan untuk datang, tetapi juga membutuhkan alasan untuk tinggal.
Potensi pariwisata Nias Barat juga tengah diarahkan untuk dikembangkan lebih terstruktur. Pada 10 September 2026 di Jakarta, Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu bertemu dengan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa untuk membahas pengembangan pariwisata daerah, dengan wisata bahari menjadi salah satu fokus utama.
Dalam pertemuan itu, turut dibicarakan penguatan desa wisata, infrastruktur dasar, kualitas sumber daya manusia, serta rencana pengembangan pariwisata Nias Barat untuk periode 2027–2029.
Jangan Promosi Lebih Cepat daripada Kesiapan
Di sinilah gagasan pengembangan pariwisata Nias Barat menjadi menarik.
Pemerintah daerah tidak hanya berbicara tentang jumlah kunjungan, tetapi juga tentang kesiapan desa wisata dan masyarakat yang akan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Nias Barat memiliki 16 desa wisata yang telah ditetapkan. Pengembangannya diarahkan pada peningkatan tata kelola, kualitas sumber daya manusia, akses pasar, dan promosi. Salah satu agenda yang dibawa pemerintah daerah adalah penguatan kawasan bahari Asu–Hinako melalui pendekatan pengembangan destinasi yang lebih terintegrasi.
Di tahap ini, promosi justru tidak boleh berjalan sendirian.
Jika wisatawan datang tetapi sulit mendapatkan penginapan yang memadai, informasi perjalanan yang jelas, transportasi lokal, makanan, sanitasi, atau aktivitas yang bisa dilakukan, pengalaman mereka akan berhenti pada pemandangan.
Padahal, nilai ekonomi pariwisata tidak hanya terletak pada banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga pada apa yang mereka lakukan selama berada di sebuah destinasi.
Ketika wisatawan menginap di penginapan lokal, makan di warung setempat, menggunakan jasa pemandu, menyewa kendaraan atau perahu, membeli kerajinan, hingga mengikuti aktivitas wisata, uang yang mereka belanjakan ikut bergerak dari satu usaha ke usaha lain di tengah masyarakat.
Pada titik itulah perjalanan wisata tidak lagi sekadar menjadi konsumsi pemandangan, melainkan menjadi bagian dari perputaran ekonomi lokal.

Naik Kelas, tetapi Manfaatnya Tinggal di Masyarakat
Ini bagian penting dari agenda Nias Barat.
Pariwisata tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa banyak orang yang datang. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa lama mereka tinggal, apa yang mereka lakukan, dan berapa banyak manfaat ekonomi yang berputar di masyarakat setempat?
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari rencana tersebut.
Pelatihan hospitality, kebersihan, pengelolaan homestay, pemanduan wisata, bahasa asing, pemasaran digital, hingga keselamatan wisata bahari menjadi kebutuhan ketika masyarakat lokal diposisikan sebagai pelaku, bukan sekadar penonton.
Pada akhirnya, wisatawan yang datang ke Nias tidak hanya berinteraksi dengan pantai atau pulau yang mereka kunjungi. Mereka juga bertemu dengan pemilik penginapan, pengemudi, pemandu wisata, pedagang makanan, nelayan atau operator perahu, hingga pelaku UMKM dan masyarakat desa.
Di situlah sebenarnya manfaat pariwisata mulai terasa. Setiap malam yang dihabiskan di penginapan, makanan yang dibeli, perjalanan dengan kendaraan atau perahu, jasa pemandu yang digunakan, hingga oleh-oleh yang dibawa pulang dapat menjadi bagian dari perputaran ekonomi di tengah masyarakat.
Karena itu, keberhasilan pariwisata Nias tidak hanya dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang masuk ke wilayah tersebut, tetapi juga dari seberapa besar aktivitas wisata menciptakan penghasilan bagi masyarakat yang tinggal di sana.
Membuat Wisatawan Punya Alasan untuk Tinggal Lebih Lama
Persoalan lain adalah bagaimana menghubungkan berbagai daya tarik Nias.
Wisata bahari tidak harus berdiri sendiri. Ia dapat bertemu dengan wisata budaya, desa wisata, kuliner, sejarah, maupun aktivitas masyarakat. Nias memiliki cukup banyak bahan untuk itu.
Di Nias Barat sendiri, Kabupaten Nias Barat Dalam Angka 2026 mencatat 51 objek wisata pada 2025, terdiri atas 30 objek wisata alam, 20 objek budaya, dan satu objek rekreasi. Publikasi yang sama juga mencatat 169 situs yang berkaitan dengan batu megalit dan rumah adat.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan berikutnya bukan semata mencari objek wisata baru, namun menghubungkan apa yang sudah ada.
Jika wisatawan datang untuk menikmati laut, apa lagi yang bisa mereka lakukan setelah dari pantai? Jika mereka datang untuk berselancar, di mana mereka menginap, apa yang mereka makan, dan desa mana yang bisa mereka kunjungi? Produk lokal apa yang bisa mereka bawa pulang, dan cerita budaya apa yang bisa mereka dengarkan?
Semakin banyak pertanyaan itu memiliki jawaban yang baik, semakin besar pula alasan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama. Dan semakin lama mereka tinggal, semakin besar peluang belanja mereka mengalir ke penginapan, warung, jasa transportasi, pemandu, pelaku UMKM, serta usaha-usaha lain di masyarakat lokal.
Di situlah pariwisata tidak hanya soal mendatangkan orang, tetapi bagaimana membuat kedatangan mereka memberi manfaat yang lebih luas bagi tempat yang dikunjungi.
Jadi, Mengapa Harus Datang ke Nias?
Mungkin karena Nias sedang berada pada tahap yang menarik. Nias bukan destinasi yang selesai dibangun. Nias adalah destinasi dengan potensi besar yang sedang berusaha memperbaiki banyak hal sekaligus.
Pemerintah daerah sedang mendorong konektivitas, fasilitas dasar, desa wisata, sumber daya manusia, promosi, dan kerja sama dengan pemerintah pusat. Pada saat yang sama, masyarakat lokal perlu semakin siap mengambil peran dalam ekosistem pariwisata yang sedang dibangun.
Tentu saja, pekerjaan itu masih panjang.
Dan justru karena itulah wisatawan memiliki peran yang lebih berarti daripada sekadar menjadi angka dalam statistik kunjungan.
Datang ke Nias berarti menikmati laut dan lanskapnya.
Tetapi jika perjalanan itu dirancang tinggal lebih lama, menggunakan jasa lokal, makan di usaha masyarakat, membeli produk setempat, atau mengenal kehidupan desa, kunjungan ini membantu menghidupkan ekosistem wisata.
Pada akhirnya, wisata yang benar-benar naik kelas bukan hanya wisata yang semakin ramai tetapi yang membuat pengalaman pengunjung semakin baik, masyarakat kian siap, usaha lokal hidup, dan semakin banyak tinggal di tempat yang dikunjungi.
Nias memiliki laut untuk dijelajahi, budaya untuk dikenali, dan masyarakat yang sedang menyiapkan diri. Mungkin karena itu, cara paling sederhana untuk ikut membuat wisata Nias naik kelas memang sederhana: datanglah!






