Pariwisata

Menjelajahi Indonesia melalui Wisata Wayang

Dari museum di Jakarta hingga rumah topeng di Bali, perjalanan wisata wayang membuka kesempatan untuk mengenal sejarah, ragam tradisi, dan seni pertunjukan Indonesia.

Oleh Ridwan

Koleksi wayang kulit dan wayang golek dalam perjalanan wisata budaya Indonesia.
Wayang memperlihatkan salah satu keragaman bentuk dan karakter seni pewayangan Indonesia yang dapat dikenal melalui wisata museum, desa perajin, dan pertunjukan budaya. Foto: Kemenekraf/ Badan Ekonomi Kreatif
Diterbitkan

Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang memiliki perjalanan panjang dalam kebudayaan Indonesia. Catatan mengenai pertunjukan wayang antara lain ditemukan dalam Prasasti Balitung dari abad ke-10. 

Kesenian ini kemudian berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang orang, hingga wayang potehi.

Pengakuan terhadap warisan tersebut semakin kuat ketika UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003. 

Pemerintah Indonesia juga menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018.

Mengenal wayang tidak harus berhenti pada pertunjukan. Sejumlah museum dan ruang kesenian di berbagai daerah membuka kesempatan bagi wisatawan untuk melihat koleksi, mempelajari proses pembuatannya, serta menyaksikan pertunjukan secara langsung.

Perjalanan wisata budaya ini dapat dimulai dari Jakarta, berlanjut ke sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemudian berakhir di Bali. Setiap tempat menawarkan pengalaman berbeda dalam mengenal kekayaan seni pewayangan Nusantara.

Memulai Perjalanan dari Museum Wayang Jakarta

Perjalanan dapat dimulai dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. 

Di tengah bangunan bersejarah kawasan tersebut berdiri Museum Wayang, tempat pengunjung dapat mengenal berbagai bentuk wayang dari Indonesia maupun mancanegara.

Museum ini menempati bangunan yang dahulu digunakan sebagai De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda pada 1640. 

Bangunan tersebut kemudian menjadi De Nieuwe Hollandsche Kerk pada 1732 sebelum mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada 1808. Museum Wayang diresmikan pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Koleksinya mencakup wayang kulit, wayang golek, hingga boneka tradisional dengan karakter yang beragam.

Pengunjung juga dapat menemukan tokoh populer seperti Si Unyil, Si Manis Jembatan Ancol, dan Dewi Sinta.

Selain melihat koleksi, museum menyelenggarakan kegiatan edukasi budaya, termasuk pertunjukan wayang dan pengenalan proses pembuatannya. Kunjungan ini menjadi pintu masuk untuk memahami ragam bentuk serta perkembangan seni pewayangan.

Masih di Jakarta, perjalanan dapat dilanjutkan ke kawasan Senen, Jakarta Pusat, untuk menyaksikan bentuk wayang yang berbeda.

Museum Wayang Jakarta
Destinasi Wisata Museum Wayang Jakarta. Foto: dinaskebudayaan.jakarta.go.id

Menyaksikan Wayang Orang di Jakarta

Di Gedung Kesenian Paguyuban Wayang Orang Bharata, pengunjung dapat menyaksikan cerita pewayangan yang dimainkan langsung oleh para seniman. 

Kelompok kesenian ini telah menjadi salah satu pusat pelestarian wayang orang di Jakarta sejak 1972.

Berbeda dari wayang kulit yang menggunakan boneka dan layar, wayang orang menghadirkan tokoh-tokoh pewayangan melalui pemain manusia. Kostum, tata rias, gerak tari, dialog, dan iringan gamelan membentuk pertunjukan yang memadukan seni teater dan tari.

Cerita yang dibawakan umumnya bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana. Melalui pertunjukan tersebut, pengunjung dapat mengenal karakter serta kisah pewayangan dalam bentuk pementasan langsung.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan pertunjukan, jadwal dan informasi tiket dapat dipantau melalui kanal resmi Paguyuban Wayang Orang Bharata.

Gedung Kesenian Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta
Gedung Kesenian Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta Pusat. Foto: jakarta.go.id

Mengenal Wayang Banyumasan di Banyumas

Dari Jakarta, perjalanan berlanjut ke Jawa Tengah. Salah satu tempat yang dapat dikunjungi adalah Museum Wayang Sendang Mas di kawasan Kota Lama Banyumas, kompleks pusat pemerintahan lama Kabupaten Banyumas.

Museum yang diresmikan pada 31 Desember 1983 ini menyimpan koleksi wayang dari berbagai daerah. 

Nama Sendang Mas merupakan singkatan dari Seni Pedalangan Banyumas, yang mencerminkan kekayaan tradisi pedalangan di wilayah tersebut.

Koleksinya meliputi wayang kulit purwa, wayang golek, wayang beber, serta Wayang Gagrag Banyumasan. 

Museum ini juga menyimpan perlengkapan pertunjukan seperti gamelan, calung, dan blencong atau lampu penerangan dalam pertunjukan wayang.

Museum Wayang Sendang Mas Banyumas. Foto: dolanbanyumas.banyumaskab.go.id

Salah satu hal yang menarik untuk dikenali adalah karakter Wayang Gagrag Banyumasan, termasuk tokoh Bawor yang menjadi ikon pewayangan setempat. 

Melalui koleksi tersebut, pengunjung dapat melihat kekhasan tradisi wayang Banyumas yang berkembang di tengah masyarakat.

Menonton Wayang Orang Sriwedari di Surakarta

Perjalanan berikutnya mengarah ke Surakarta. Di kawasan Taman Sriwedari, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari yang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya kota tersebut.

Pementasan ini menghadirkan cerita pewayangan melalui gerak tari, dialog berbahasa Jawa, kostum, tata rias, dan iringan gamelan. Kisah yang ditampilkan umumnya mengambil sumber dari Mahabharata dan Ramayana.

Menonton Wayang Orang Sriwedari memberikan kesempatan untuk mengenal seni pertunjukan Jawa secara langsung. 

Meskipun dialog menggunakan bahasa Jawa, gerak dan ekspresi para pemain membantu penonton mengikuti jalannya cerita.

Lokasinya juga berada tidak jauh dari sejumlah tujuan wisata budaya di Surakarta, seperti Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara. Kunjungan ke Sriwedari dapat menjadi bagian dari perjalanan mengenal kebudayaan kota ini.

Menemukan Tradisi Wayang Potehi di Gudo

Memasuki Jawa Timur, perjalanan dapat dilanjutkan ke Desa Tukangan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. 

Di kawasan ini terdapat Museum Potehi Gudo yang berada dalam satu kompleks dengan Kelenteng Tri Dharma Hong Sang Kiong.

Museum tersebut memperkenalkan wayang potehi, seni boneka tradisional yang berakar dari kebudayaan Tionghoa dan telah berkembang di Indonesia selama berabad-abad.

Wayang potehi memiliki bentuk berbeda dari wayang kulit maupun wayang golek. Boneka dibuat menggunakan kain, sedangkan bagian kepala dan tangan umumnya berbahan kayu. 

Pemain menggerakkan boneka dengan memasukkan tangan ke dalam bagian tubuhnya dari balik panggung kecil.

Cerita yang dibawakan biasanya bersumber dari kisah klasik Tiongkok dan diiringi musik tradisional. Pengunjung dapat melihat koleksi boneka sekaligus mengenal sejarah perkembangan kesenian tersebut di Indonesia.

Museum Potehi Gudo juga menjadi tempat pelestarian dan pembuatan boneka wayang. Keberadaannya memperlihatkan salah satu bentuk kekayaan tradisi yang tumbuh dari perjumpaan budaya di Indonesia.

Menjelajahi Museum Gubug Wayang Mojokerto

Dari Jombang, perjalanan dapat diteruskan ke Kota Mojokerto untuk mengunjungi Museum Gubug Wayang. 

Diresmikan pada 15 Agustus 2015, museum ini menghadirkan beragam koleksi seni dan budaya Indonesia dalam sebuah bangunan bergaya kolonial yang telah berdiri sejak 1912.

Koleksinya tersebar di tiga lantai, meliputi wayang kulit, wayang golek, wayang potehi, topeng, keris, dan alat musik tradisional. 

Keberagaman benda yang dipamerkan memberikan gambaran mengenai ragam ekspresi seni dan budaya yang berkembang di Nusantara.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah boneka Si Unyil karya Drs. Suyadi atau Pak Raden. 

Tokoh tersebut memiliki tempat tersendiri dalam sejarah hiburan anak-anak Indonesia dan dapat membangkitkan kenangan bagi pengunjung dari berbagai generasi.

Museum Gubug Wayang menjadi pilihan wisata edukasi bagi keluarga yang ingin mengenal koleksi wayang sekaligus benda budaya lainnya dalam satu kunjungan.

Perjalanan di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma

Perjalanan wisata wayang dapat diakhiri di Bali, tepatnya di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Kabupaten Gianyar.

Tempat ini menjadi ruang pelestarian berbagai jenis topeng dan wayang dari Indonesia maupun mancanegara.

Berbeda dari museum yang hanya berfokus pada satu jenis koleksi, Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma menghadirkan beragam bentuk seni tradisional dalam lingkungan yang asri. 

Bangunan rumah joglo, taman tropis, dan pepohonan rindang menjadi bagian dari suasana kunjungan.

Koleksinya berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara di Asia dan kawasan dunia lainnya. 

Pengunjung dapat berpindah dari satu ruang pamer ke ruang lainnya untuk melihat bentuk, karakter, dan ragam ekspresi topeng maupun wayang.

Selain ruang pamer, kawasan ini juga memiliki taman dan fasilitas pertunjukan seni. Perpaduan koleksi budaya dan lingkungan alam menjadikannya tempat yang menarik untuk mengakhiri perjalanan mengenal seni pewayangan.

Perjalanan Mengenal Ragam Wayang Indonesia

Tujuh destinasi tersebut memperlihatkan bahwa wayang hadir dalam bentuk dan tradisi yang beragam. 

Museum Wayang Jakarta dan Museum Sendang Mas menyimpan koleksi yang membantu pengunjung mengenal sejarah pewayangan. Wayang Orang Bharata dan Sriwedari menghadirkan pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung. 

Sementara Museum Potehi Gudo, Museum Gubug Wayang, dan Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma memperlihatkan kekayaan tradisi serta koleksi budaya dari berbagai latar.

Perjalanan wisata wayang bukan sekadar kunjungan dari satu museum ke museum lain. Setiap tempat menawarkan kesempatan untuk mengenal seniman, bentuk pertunjukan, dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui perjalanan tersebut, wisatawan dapat melihat bahwa wayang bukan hanya peninggalan masa lalu. Kesenian ini terus hadir melalui koleksi, pertunjukan, dan ruang-ruang pelestarian yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →