Sejarah Daerah

Sejarah Kendal dan Kiprah Tumenggung Bahurekso

Jejak Tumenggung Bahurekso dan Kesultanan Mataram menjadi bagian penting dalam penelusuran asal-usul serta perjalanan sejarah Kendal.

Oleh Ridwan

Sejarah Kendal dan Kiprah Tumenggung Bahurekso
Ilustrasi rekonstruksi suasana kawasan pesisir utara Jawa pada abad ke-17, menggambarkan aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat yang menjadi latar perjalanan sejarah Kendal. Visual dibuat dengan bantuan AI. Kredit: Ilustrasi AI/EMMANUS
Diterbitkan

Pengangkatan Tumenggung Bahurekso sebagai Bupati Kendal pada 1605 menjadi tonggak hari jadi daerah ini. Namanya juga tercatat dalam kisah ekspedisi Mataram ke Batavia pada abad ke-17.

Kendal memiliki tempat dalam sejarah Jawa melalui sosok Tumenggung Bahurekso. 

Tokoh yang dikenal sebagai penguasa Kendal pada awal abad ke-17 ini terhubung dengan pemerintahan Mataram Islam dan konflik kerajaan tersebut dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang memperluas kekuasaannya di Nusantara.

Dua peristiwa menonjol dalam perjalanan Bahurekso: pengangkatannya sebagai Bupati Kendal dan keterlibatannya dalam ekspedisi militer Mataram ke Batavia pada 1628. Kedua peristiwa itu pernah digunakan sebagai dasar penentuan hari jadi Kendal pada masa yang berbeda.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah daerah tidak hanya berkaitan dengan tokoh dan peristiwa masa lalu. Cara masyarakat memilih sebuah peristiwa sebagai tonggak sejarah juga mencerminkan upaya memahami perjalanan daerahnya.

Bahurekso dan Awal Pemerintahan Kendal

Pemerintah Kabupaten Kendal menetapkan 28 Juli 1605 sebagai hari jadi daerah melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006. 

Tanggal tersebut merujuk pada pengangkatan Tumenggung Bahurekso sebagai Bupati Kendal, yang dalam peraturan itu dikaitkan dengan 12 Rabiul Awal 1014 Hijriah.

Penetapan ini berangkat dari kajian ulang terhadap dasar hari jadi yang sebelumnya digunakan. 

Peraturan daerah tersebut menjelaskan bahwa penetapan terdahulu bertumpu pada peristiwa penyerangan pasukan Mataram ke Batavia pada 28 Agustus 1628. 

Pemerintah daerah kemudian menilai momentum pengangkatan Bahurekso lebih tepat untuk menandai awal pemerintahan Kendal.

Nama Bahurekso dalam sumber sejarah lokal juga muncul dengan sebutan Kyai Ngabehi Bahurekso dan Raden Tumenggung Bahurekso. 

Portal sejarah Pemerintah Kabupaten Kendal menghubungkan perjalanan tokoh ini dengan lingkungan kekuasaan Mataram dan kedudukannya sebagai adipati di Kendal.

Penetapan tahun 1605 bukan berarti seluruh riwayat Kendal bermula pada tahun tersebut. Sejarah suatu wilayah dapat jauh lebih panjang daripada sejarah pembentukan pemerintahan administratifnya. 

Legenda asal-usul nama Kendal, jejak permukiman, tradisi keagamaan, dan perubahan kekuasaan merupakan bagian-bagian berbeda yang perlu ditelaah berdasarkan jenis sumber masing-masing.

Tanggal 28 Juli 1605 secara khusus menandai momentum yang dipilih pemerintah daerah sebagai hari jadi kabupaten. 

Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2006 juga membuka kemungkinan peninjauan kembali apabila kelak ditemukan fakta atau bukti sejarah baru yang autentik.

Kendal dalam Lingkar Kekuasaan Mataram

Kedudukan Bahurekso tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Mataram Islam pada awal abad ke-17. 

Pada masa itu, Mataram memperluas pengaruh politiknya, sementara VOC berupaya menguasai perdagangan dan memperkuat kedudukan di sejumlah pelabuhan penting di Jawa.

Kendal berada di kawasan pesisir utara Jawa yang terhubung dengan jaringan politik dan perdagangan regional. 

Posisi ini membuat sejarah Kendal berkaitan dengan perkembangan pusat-pusat kekuasaan di pedalaman maupun kepentingan ekonomi dan militer di pesisir.

Portal sejarah Pemerintah Kabupaten Kendal menempatkan Bahurekso sebagai tokoh penting dalam hubungan Mataram dengan VOC. 

Narasi tersebut mengisahkan ketegangan yang meningkat setelah terjadi konflik antara pihak VOC dan para pedagang di Jepara. Pada 18 Agustus 1618, kantor dagang VOC di Jepara diserang oleh pasukan yang dikaitkan dengan Bahurekso.

Hubungan Kendal dengan Mataram memperlihatkan bahwa sejarah kabupaten tidak berdiri sendiri. 

Perjalanan pemerintahan lokal berlangsung di tengah perubahan kekuasaan yang lebih luas, termasuk persaingan atas perdagangan, pelabuhan, dan pengaruh politik di pesisir Jawa.

Dari Kendal ke Batavia

Nama Bahurekso semakin dikenal melalui ekspedisi Mataram ke Batavia pada 1628. Di bawah Sultan Agung, Mataram melancarkan serangan terhadap kedudukan VOC di Batavia. 

Ekspedisi itu merupakan bagian dari upaya Mataram menghadapi kekuatan VOC yang terus berkembang di Jawa.

Dalam sejarah Kendal, Bahurekso dikenang sebagai tokoh yang memimpin pasukan dalam ekspedisi tersebut. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kendal melalui peraturan daerah pada 1989.

Akan tetapi, ekspedisi militer dan pembentukan pemerintahan daerah merupakan dua jenis peristiwa yang berbeda. 

Penyerangan ke Batavia berlangsung dalam konteks perang Mataram melawan VOC, sedangkan pengangkatan Bahurekso sebagai bupati digunakan untuk menandai awal pemerintahan Kendal.

Pembedaan ini menjadi penting ketika menilai bagaimana sebuah peristiwa sejarah dipilih untuk mewakili identitas daerah. 

Kepahlawanan seorang tokoh dapat menjadi bagian penting dari ingatan masyarakat, tetapi tidak selalu menjadi penanda paling tepat bagi pembentukan suatu pemerintahan.

Dokumen resmi Kendal menyebut ekspedisi 1628 berakhir dengan kekalahan Mataram dan menjadikan gugurnya Bahurekso sebagai bagian dari narasi heroik yang berkembang. 

Detail mengenai nasib akhir Bahurekso tetap perlu diteliti dengan membandingkan sumber-sumber yang berbeda, sebab riwayat tokoh dalam tradisi lokal tidak selalu identik dengan keterangan dalam catatan sejarah tertulis.

Ketika Hari Jadi Ditinjau Kembali

Pada 15 Agustus 2006, Pemerintah Kabupaten Kendal menyelenggarakan seminar untuk meninjau kembali penetapan hari jadi. Kegiatan tersebut melibatkan akademisi dan tokoh masyarakat, termasuk Prof. Dr. Djuli Suroyo, Dr. Wasino, dan H. Moenadi.

Kajian itu menilai bahwa peristiwa penyerangan ke Batavia kurang tepat dijadikan penanda awal pemerintahan Kendal. 

Tim perumus kemudian menelusuri sumber-sumber sejarah, termasuk bahan dari Belanda serta naskah babad yang berada di Jakarta dan Yogyakarta. Hasilnya menjadi dasar penetapan 28 Juli 1605 sebagai hari jadi Kendal melalui Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2006.

Perubahan tersebut tidak menghapus arti ekspedisi Mataram atau peran Bahurekso dalam konflik dengan VOC. 

Peninjauan itu justru memisahkan dua makna sejarah yang sebelumnya bertumpuk: perjuangan militer seorang tokoh dan momentum awal pemerintahan sebuah daerah.

Kasus Kendal juga memperlihatkan bahwa penulisan sejarah daerah memerlukan pembacaan kritis terhadap sumber. 

Naskah babad, tradisi tutur, dokumen pemerintahan, dan arsip kolonial memiliki konteks serta tujuan penulisan yang berbeda. Setiap sumber dapat menyumbangkan informasi, tetapi klaim sejarah perlu dinilai berdasarkan asal-usul, isi, dan dukungan sumber lainnya.

Bagi Kendal, Bahurekso tetap menjadi figur penting dalam ingatan sejarah. Pengangkatannya sebagai bupati pada 1605 menjadi tonggak hari jadi resmi, sementara ekspedisi ke Batavia menempatkan namanya dalam kisah persaingan Mataram dan VOC.

Kedua jejak itu memperlihatkan hubungan antara sejarah lokal dan perubahan politik Jawa pada abad ke-17. 

Memahami Kendal melalui Bahurekso berarti menelusuri bukan hanya perjalanan seorang tokoh, melainkan juga cara sebuah daerah menentukan peristiwa yang dianggap penting bagi identitasnya.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Sejarah Daerah

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →