Kuliner menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia. Melalui bahan pangan, racikan rempah, teknik memasak, dan cara penyajian, sebuah hidangan membawa pengetahuan tentang tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Upaya tersebut terlihat dalam jamuan Soul of Indonesia yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif pada 21 Oktober 2026 di Akasta, kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian pembuka World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 dan menghadirkan kuliner serta seni pertunjukan Nusantara bagi delegasi internasional.
Dalam jamuan tersebut, para tamu menikmati sejumlah hidangan yang berangkat dari kekayaan kuliner daerah. Ikan Kalio, Sate Maranggi, Tempe Bakar dengan Saus Kailan, Wingko Babat, hingga minuman Kunyit Asem Gembira menjadi bagian dari sajian malam itu.
Pemilihan hidangan tersebut memperlihatkan upaya memperkenalkan cita rasa Indonesia melalui menu yang menggabungkan kuliner tradisional dan interpretasi kontemporer.
Kuliner tidak hanya hadir sebagai pelengkap pertemuan internasional, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman mengenal Indonesia.
Hidangan Daerah Membawa Cerita Budaya
Setiap hidangan Nusantara berkembang dalam lingkungan sosial dan geografis yang berbeda. Bahan pangan yang tersedia, kebiasaan masyarakat, pengaruh perdagangan, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi turut membentuk karakter kuliner daerah.
Ikan Kalio, misalnya, berkaitan dengan tradisi memasak masyarakat Minangkabau. Olahan berbumbu rempah dan santan ini memiliki hubungan dengan tradisi kuliner Sumatera Barat yang dikenal melalui berbagai masakan berbahan daging maupun ikan.
Sementara itu, Sate Maranggi dikenal sebagai kuliner khas Purwakarta, Jawa Barat. Hidangan berbahan daging yang dibumbui sebelum dibakar ini memiliki karakter rasa yang membedakannya dari berbagai jenis sate di Indonesia.
Wingko Babat juga memperlihatkan hubungan antara makanan dan identitas daerah. Kudapan berbahan kelapa dan tepung ketan ini dikenal luas sebagai salah satu oleh-oleh khas kawasan Babat, Lamongan, Jawa Timur, serta berkembang dalam tradisi kuliner yang lekat dengan Semarang.
Ketiga hidangan tersebut memperlihatkan keragaman bahan, teknik pengolahan, dan cita rasa yang tumbuh di berbagai daerah.
Ketika disajikan kepada tamu internasional dalam satu jamuan, kuliner daerah dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia.
Pengenalan kuliner tentu tidak cukup hanya dengan menyebut nama hidangan dan asal daerahnya.
Cerita mengenai bahan pangan, proses pengolahan, kebiasaan penyajian, serta konteks sosialnya dapat membantu pengunjung memahami bahwa makanan merupakan bagian dari kebudayaan yang terus berkembang.
Tradisi Kuliner dalam Kreasi Kontemporer
Jamuan Soul of Indonesia juga menghadirkan sajian dengan interpretasi yang lebih kontemporer. Rempeyek Tartar Semangka dan Kunyit Asem Gembira menjadi contoh bagaimana unsur kuliner yang akrab dalam tradisi Indonesia dapat diolah dalam bentuk penyajian baru.
Rempeyek dikenal sebagai kudapan renyah yang dibuat dari adonan tepung berbumbu dan beragam bahan pelengkap. Dalam jamuan tersebut, rempeyek dihadirkan melalui kreasi tartar semangka.

Sementara itu, Kunyit Asem Gembira mengangkat inspirasi dari minuman tradisional kunyit asam dengan sentuhan penyajian yang berbeda.
Pengolahan semacam ini memperlihatkan kemungkinan pengembangan kuliner melalui kreativitas. Bahan, rasa, dan teknik penyajian dapat dieksplorasi untuk menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen, termasuk mereka yang belum mengenal makanan Indonesia.
Pembaruan penyajian itu tetap perlu disertai pemahaman terhadap karakter hidangan yang menjadi sumber inspirasinya.
Pengetahuan mengenai bahan, teknik memasak, dan latar budaya membantu memastikan bahwa pengembangan kuliner tidak berhenti pada penampilan, tetapi tetap memiliki hubungan dengan tradisi yang melahirkannya.
Dalam konteks industri kreatif, pengembangan tersebut juga mempertemukan pengetahuan kuliner dengan keterampilan profesional, mulai dari pengolahan bahan pangan hingga penyusunan menu dan pengalaman bersantap.
Kuliner tradisional pun berpeluang hadir dalam berbagai konteks baru tanpa harus kehilangan keterkaitannya dengan budaya daerah.
Kuliner sebagai Diplomasi Budaya
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa kreativitas memiliki kekuatan untuk membentuk perekonomian, memberdayakan masyarakat, dan menceritakan identitas Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada jamuan Soul of Indonesia.
Kementerian Ekonomi Kreatif menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kuliner dan seni pertunjukan Indonesia kepada delegasi internasional. \
Jamuan tersebut juga memperlihatkan potensi gastrodiplomasi, yakni pemanfaatan makanan sebagai sarana membangun pengenalan dan hubungan antarnegara.
Dalam konteks ini, makanan memiliki keunggulan sebagai medium perkenalan budaya karena dapat dinikmati secara langsung.
Pengalaman mencicipi hidangan membuka kesempatan bagi tamu untuk mengenal bahan, rasa, dan kebiasaan kuliner yang mungkin berbeda dari tradisi mereka sendiri.
Meski demikian, satu jamuan tentu belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan kekayaan kuliner Indonesia.
Keragaman makanan Nusantara terbentuk dari tradisi masyarakat yang berbeda-beda, sehingga pengenalannya membutuhkan kesempatan yang berkelanjutan dan penjelasan yang menghormati konteks asalnya.
Potensi kuliner juga berkaitan dengan pengembangan ekonomi kreatif. Pengolahan bahan pangan, inovasi menu, jasa penyajian, dan pengembangan usaha makanan melibatkan beragam keterampilan.
Apabila dikembangkan melalui kemitraan yang tepat, promosi kuliner dapat membuka peluang bagi pelaku usaha sekaligus memperluas pengenalan terhadap tradisi pangan daerah.
Jamuan Soul of Indonesia menunjukkan salah satu cara kuliner ditempatkan dalam pertemuan internasional.
Hidangan daerah disajikan bersama kreasi kontemporer untuk memperkenalkan cita rasa Indonesia dalam konteks yang dapat dinikmati delegasi dari berbagai negara.
Kuliner Nusantara memiliki kekayaan yang tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada pengetahuan, sejarah, dan kebiasaan masyarakat yang membentuknya.
Memperkenalkannya kepada dunia berarti membuka kesempatan bagi orang lain untuk mengenal Indonesia melalui salah satu unsur kebudayaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.






