Kuliner

Sega Leye, Rasa Lama dari Kaliwiro

Di Waroeng Mbah Bagong, pangan berbahan singkong membawa kembali cerita kuliner lama dari Wonosobo.

Oleh Narendra

Sega Leye, Rasa Lama dari Kaliwiro
Waroeng Mbah Bagong di Kaliwiro, Wonosobo, tempat Sega Leye dan pangan tradisional khas setempat tetap disajikan.
Diterbitkan

Di Kaliwiro, Wonosobo, ada pangan berbahan singkong yang dikenal dengan nama Sega Leye atau nasi leye. Makanan ini menyerupai tiwul dalam penampilannya, tetapi leye memiliki proses pengolahan tersendiri yang berkembang dalam kebiasaan masyarakat setempat.

Waroeng Mbah Bagong menjadi salah satu tempat yang memperkenalkan sajian ini kepada pengunjung. Dari sepiring Sega Leye, ada cerita tentang singkong, cara masyarakat mengolah hasil bumi, dan perubahan kebiasaan makan yang berlangsung dari masa ke masa.

Ketika Singkong Menjadi Pangan Pokok

Di sejumlah wilayah Wonosobo, singkong pernah menjadi bagian penting dari persediaan pangan keluarga. Kondisi pertanian, ketersediaan beras, dan hasil kebun ikut memengaruhi pilihan makanan masyarakat. Leye menjadi salah satu cara mengolah singkong agar dapat disimpan dan dikonsumsi sebagai pengganti nasi.

Sega Leye disajikan bersama sayur daun takas dan jengkol, perpaduan pangan lokal yang akrab dalam kuliner tradisional Kaliwiro, Wonosobo.

Bahan bakunya tidak langsung menjadi makanan siap santap. Pengolahan leye dapat melibatkan singkong yang diproses menjadi gaplek, kemudian diolah lebih lanjut hingga menghasilkan butiran atau tepung yang siap dimasak. Cara pembuatan dan hasil akhirnya dapat berbeda menurut bahan serta kebiasaan pembuatnya.

Kajian Retno Endrasari dan Dewi Sahara yang dipresentasikan pada 2018 mencatat bahwa leye telah dibuat secara turun-temurun di Kecamatan Kaliwiro. Penelitian tersebut juga membahas pengembangan leye dengan penambahan tepung kedelai dan kacang hijau untuk meningkatkan kandungan proteinnya.

Catatan itu menunjukkan bahwa leye bukan sekadar makanan lama yang tersisa dari kebiasaan masa lalu. Pangan ini juga pernah menjadi bahan kajian untuk melihat bagaimana makanan berbasis singkong dapat dikembangkan tanpa kehilangan peran dasarnya sebagai pangan lokal.

Bukan Sekadar Pengganti Nasi

Sega Leye mungkin terasa asing bagi orang yang terbiasa makan nasi putih setiap hari. Tekstur dan rasanya berbeda, tetapi cara penyajiannya dapat membuat leye menjadi bagian dari hidangan utama bersama lauk dan sayuran.

Di meja makan, makanan berbahan singkong biasanya dinikmati bersama bahan pangan lain. Paduan lauk yang disajikan bersama Sega Leye di Waroeng Mbah Bagong perlu dilihat langsung agar gambaran mengenai sajian khas warung ini tidak hanya didasarkan pada kebiasaan umum masyarakat Wonosobo.

Leye juga kerap dibandingkan dengan tiwul karena keduanya sama-sama berbahan singkong. Meski demikian, keduanya tidak selalu memiliki proses pembuatan dan tekstur yang sama. Nama makanan dan cara pengolahannya perlu mengikuti kebiasaan lokal yang benar-benar digunakan.

Perbedaan seperti ini menarik untuk dicatat karena kuliner daerah tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui bahan utamanya. Cara mengolah, menyajikan, dan menyantap makanan ikut membentuk identitas yang dikenal masyarakat.

Waroeng Mbah Bagong dan Cerita Kaliwiro

Waroeng Mbah Bagong memperkenalkan Sega Leye sebagai sajian yang memiliki hubungan dengan kuliner lama Kaliwiro. Keberadaan tempat makan yang menyajikan pangan lokal memberi kesempatan bagi orang untuk mengenal makanan yang mungkin tidak lagi sering dijumpai dalam menu sehari-hari.

Namun, cerita warung tidak cukup hanya bertumpu pada menu yang dijual. Riwayat pendirian, sosok yang merintis, asal resep, dan alasan Sega Leye tetap disajikan merupakan bagian cerita yang perlu digali langsung dari pengelolanya.

Informasi mengenai perjalanan usaha tersebut belum cukup untuk memastikan kapan warung mulai berdiri atau sejak kapan sajian ini menjadi menu andalannya. Karena itu, penyebutan warung sebagai tempat kuliner legendaris perlu didukung keterangan yang lebih lengkap sebelum dijadikan klaim utama.

Ada pula sisi ekonomi yang layak ditelusuri. Jika bahan baku berasal dari petani atau produsen lokal, hubungan tersebut dapat memperlihatkan bagaimana sebuah hidangan tradisional ikut menggerakkan kegiatan usaha di sekitarnya. Namun, keterlibatan pemasok lokal di warung ini masih perlu dikonfirmasi.

Mengenal Leye Tanpa Label Berlebihan

Belakangan, makanan berbahan singkong sering dibicarakan sebagai alternatif pangan selain nasi. Ketertarikan itu dapat membuka ruang bagi leye untuk dikenal kembali, tetapi penilaiannya tidak perlu bergantung pada klaim kesehatan yang belum teruji.

Singkong mengandung karbohidrat dan menjadi sumber energi. Kandungan kalori pada leye bergantung pada komposisi, kadar air, cara pengolahan, dan ukuran sajian. Karena itu, Sega Leye tidak bisa langsung disebut rendah kalori hanya berdasarkan bahan bakunya.

Begitu pula dengan klaim bebas gula. Singkong mengandung karbohidrat yang dapat diuraikan tubuh menjadi glukosa, sehingga istilah tersebut tidak tepat digunakan tanpa penjelasan dan data yang sesuai. Penilaian mengenai kandungan gizi memerlukan informasi yang relevan tentang produk yang benar-benar disajikan.

Sega Leye memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar perbandingan dengan nasi putih. Dari Kaliwiro, makanan ini memperlihatkan bagaimana singkong pernah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari dan tetap memiliki tempat dalam kuliner setempat. Mengenalnya kembali berarti memberi perhatian pada pangan lokal beserta orang-orang yang masih mengolah dan menyajikannya.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →