Rawa Belong dikenal luas sebagai kawasan pasar bunga di Jakarta Barat. Kehidupan budaya di kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan perdagangan bunga semata. Di tengah permukiman warga, tradisi silat, kesenian Betawi, dan keterampilan membuat golok masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi pengembangan Kampung Budaya Rawa Belong. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Kelurahan Sukabumi Utara bersama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menggelar inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong di Pasar Bunga Rawa Belong, Jalan Sulaiman, Jakarta Barat.
Pencanangan ini menandai langkah baru dalam upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan Betawi dengan melibatkan masyarakat. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada kebudayaan.
Bagi Rawa Belong, langkah ini bukan semata-mata penetapan kawasan. Ada tradisi dan aktivitas budaya yang telah lebih dahulu tumbuh di tengah masyarakat, mulai dari perguruan silat hingga kelompok seni yang mempertahankan kesenian Betawi.
Silat Cingkrik dan Identitas Kampung Jawara
Salah satu tradisi yang menonjol di Rawa Belong adalah silat Cingkrik. Seni bela diri Betawi ini menjadi bagian dari identitas kawasan yang dikenal sebagai Kampung Jawara.
Dalam tayangan Youtube Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang Kampung Budaya Rawa Belong, Robi Indra, ketua perguruan Cingkrik Rawa Belong, menjelaskan upaya generasi muda mempertahankan tradisi tersebut. Salah satu caranya adalah memperluas pengajaran silat Cingkrik hingga ke sekolah-sekolah.

Upaya ini menunjukkan bahwa pewarisan silat tidak hanya bergantung pada keberadaan perguruan atau pertunjukan dalam acara kebudayaan.
Tradisi juga perlu diperkenalkan kepada generasi yang lebih muda agar keterampilan dan pengetahuan di dalamnya dapat terus dipelajari.
Robi menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan silat Cingkrik. Bagi komunitas pendukungnya, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan nama atau gerakannya. Tradisi tersebut perlu terus dipraktikkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Kisah Si Pitung juga lekat dengan ingatan masyarakat tentang Rawa Belong dan tradisi jawara Betawi. Tayangan Pemprov DKI menyebut adanya petilasan yang dipercaya masyarakat setempat sebagai makam Si Pitung.
Keterangan ini merupakan bagian dari kepercayaan lokal, bukan kepastian mengenai lokasi pemakamannya. Hubungan antara kisah Si Pitung, tradisi jawara, dan silat Betawi memberi konteks bagi identitas budaya Rawa Belong.
Keberlangsungan silat Cingkrik hari ini juga bergantung pada kerja nyata para pelaku budaya yang mengajarkannya dan membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar.
Sanggar Seni Menjaga Kesenian Betawi
Kehidupan budaya Rawa Belong tidak hanya seni bela diri. Eksistensi budaya di kampung ini dibuktikan dengan sejumlah sanggar yang mengembangkan tari, musik, dan lenong Betawi.
Sanggar menjadi ruang bagi warga untuk mempelajari keterampilan seni, berlatih, dan mempertahankan kesenian yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan kehidupan kota, ruang belajar dan berlatih memberi kesempatan bagi kesenian tradisional untuk tetap dikenal oleh generasi muda.
Keterlibatan komunitas juga membuat pelestarian budaya tidak sepenuhnya bergantung pada agenda pertunjukan yang diselenggarakan pemerintah.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan pengembangan Kampung Budaya Rawa Belong, yakni memperkuat pelestarian dan pemanfaatan budaya melalui partisipasi masyarakat.
Pencanangan kawasan diharapkan dapat memberi arah bagi pengembangan potensi yang sudah ada, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara komunitas budaya dan pemerintah.
Rawa Belong sendiri telah melalui proses pengembangan Kampung Budaya selama empat tahun. Pada 2022, pemerintah mengidentifikasi lima kawasan yang berpotensi dikembangkan sebagai pusat kegiatan budaya, yaitu Rawa Belong, Marunda, Tanah Abang, Petukangan, dan Condet.
Tahap berikutnya mencakup pendampingan, penelusuran lapangan, inventarisasi potensi, pemetaan kekuatan budaya, serta penyusunan arah pengembangan.
Pada 2026, Rawa Belong diresmikan sebagai proyek percontohan. Penguatan dan replikasi program direncanakan berlanjut pada 2027.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pencanangan Kampung Budaya merupakan bagian dari proses yang lebih panjang. Tantangannya adalah memastikan program itu terhubung dengan kegiatan komunitas dan kebutuhan pelaku seni di lapangan.
Perajin Golok dan Kekayaan Budaya Sehari-hari
Selain silat dan kesenian pertunjukan, Rawa Belong memiliki keterampilan tradisional yang masih dijalankan perajin, yaitu pembuatan golok.
Membuat golok diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan budaya kawasan tersebut. Golok digunakan dalam konteks bela diri dan keperluan sehari-hari tertentu.

Harga golok dari Rawa Belong dapat mencapai Rp7 juta, bergantung pada tingkat kesulitan pembuatannya, serta menyebut pengiriman produk perajin hingga ke Jerman.
Keterampilan membuat golok memperlihatkan sisi lain dari warisan budaya. Pengetahuan tradisional tidak selalu hadir dalam bentuk tarian atau pertunjukan di atas panggung juga tersimpan dalam keterampilan mengolah bahan, membentuk benda, dan meneruskan cara kerja yang dipelajari dari pengalaman.
Kekayaan budaya Rawa Belong juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kuliner Betawi seperti nasi uduk dan asinan Betawi.
Beragam unsur ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak terpisah dari aktivitas masyarakat, melainkan tumbuh bersama ruang hidup mereka.
Pada inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong, rangkaian kegiatan mengangkat tema “Kampung Budaya Rawa Belong 2026: Melestarikan Silat, Menghidupkan Seni, Menjalin Silaturahmi.”
Acara yang berlangsung dari pagi hingga malam menampilkan beragam kesenian, antara lain orkes Melayu, lenong preman amatir, musik gambus, bodoran Betawi, tari, dan silat Betawi. Rangkaian pertunjukan itu menjadi penanda awal bagi pengembangan kawasan.
Rawa Belong memiliki sejumlah modal untuk itu: perguruan silat, sanggar seni, perajin, serta ingatan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pencanangan Kampung Budaya menjadi kesempatan untuk menghubungkan potensi-potensi tersebut dalam upaya pelestarian yang berkelanjutan.
Rawa Belong pun bukan hanya kawasan yang dikenal melalui pasar bunganya. Ia juga merupakan ruang tempat tradisi Betawi dipelajari, dipraktikkan, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.








