I La Galigo merupakan salah satu karya sastra paling penting yang diwariskan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Kisahnya mencakup dunia para tokoh mitologis, hubungan keluarga, pelayaran, perkawinan, hingga pertentangan yang berlangsung dalam rangkaian cerita sangat panjang.
Karya yang juga dikenal sebagai Sureq Galigo ini tidak tersimpan dalam satu buku lengkap. Berbagai episode dan fragmennya tersebar dalam manuskrip yang diwariskan melalui keluarga, komunitas, serta koleksi lembaga penyimpanan naskah di Indonesia dan luar negeri.
Pada 2011, dua manuskrip penting I La Galigo dari Indonesia dan Belanda masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO. Pengakuan tersebut memperlihatkan kedudukan karya sastra Bugis dalam warisan dokumenter dunia, sekaligus menarik perhatian terhadap pengetahuan yang diperlukan untuk memahami isinya.
Dari Tradisi Lisan ke Sastra Bugis
I La Galigo berakar pada tradisi sastra masyarakat Bugis yang berkembang melalui penuturan dan penyalinan. UNESCO memperkirakan asal tradisi kesusastraannya sekitar abad ke-14, meskipun manuskrip yang masih dapat ditemukan berasal dari masa yang lebih kemudian.
Teksnya menggunakan bahasa Bugis dengan kosakata sastra khusus dan susunan metrum yang teratur. Perbedaan dengan bahasa percakapan sehari-hari membuat pembacaan I La Galigo memerlukan penguasaan bahasa dan pengetahuan tradisi yang tidak sederhana.
Dalam perkembangannya, kisah-kisah tersebut ditulis menggunakan aksara Bugis yang dikenal luas sebagai Lontaraq. Kehadiran manuskrip memperlihatkan bagaimana karya yang diwariskan melalui suara kemudian menjadi bagian dari kebudayaan tulis masyarakat Sulawesi Selatan.
Namun perubahan bentuk pewarisan tidak berarti seluruh cerita pernah dibakukan menjadi satu versi. Perbedaan episode, susunan, dan isi antarmanuskrip merupakan bagian dari sejarah panjang karya yang berkembang melalui berbagai generasi.
I La Galigo sering diperkenalkan sebagai epos terpanjang di dunia. UNESCO memperkirakan keseluruhan korpusnya dapat mencapai sekitar 6.000 halaman folio dan menempatkannya di antara karya sastra dengan volume yang sangat besar.
Angka tersebut merupakan perkiraan terhadap keseluruhan tradisi teks, bukan jumlah halaman sebuah manuskrip lengkap. Karena ukuran dan keadaan naskah berbeda-beda, klaim mengenai peringkat panjangnya perlu disampaikan secara hati-hati.
Keistimewaan I La Galigo pada akhirnya tidak hanya terletak pada jumlah halaman. Kekayaan bahasa, keluasan cerita, dan kemampuan masyarakat Bugis mempertahankan tradisi tersebut menjadi alasan penting mengapa karya ini terus diteliti.
Sawerigading dan Dunia dalam I La Galigo
Dunia yang digambarkan I La Galigo berbeda dari kehidupan sehari-hari yang dikenal sekarang. Dalam kosmologinya, terdapat hubungan antara dunia atas, dunia tengah tempat manusia hidup, dan dunia bawah.
Salah satu kisah penting menceritakan Batara Guru yang turun ke dunia tengah dan menjadi bagian dari asal-usul keturunan tokoh-tokoh utama. Cerita tersebut memperlihatkan cara keteraturan alam, kekuasaan, dan hubungan manusia dibayangkan dalam tradisi sastra Bugis.
Di antara tokoh yang paling dikenal adalah Sawerigading, sosok yang berkaitan erat dengan Luwu dalam dunia cerita I La Galigo. Berbagai episode mengisahkan perjalanan hidupnya, hubungan keluarga, serta pelayaran menuju negeri-negeri yang disebut dalam teks.
Salah satu rangkaian cerita menghubungkan Sawerigading dengan I We Cudai, perempuan dari negeri yang disebut Cina. Dari hubungan keduanya lahir La Galigo, tokoh yang namanya kemudian digunakan untuk menyebut keseluruhan tradisi epik tersebut.
Penyebutan Cina dalam kisah itu perlu dipahami melalui geografi dan penamaan yang hidup dalam tradisi sastra. Nama tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perjalanan Sawerigading berlangsung secara historis ke wilayah negara Tiongkok modern.
Pelayaran mempunyai tempat penting dalam rangkaian cerita Sawerigading. Kapal, perjalanan jauh, dan pertemuan dengan negeri lain menunjukkan betapa kuatnya gambaran tentang laut dalam dunia sastra masyarakat Bugis.
Bagi peneliti, bagian-bagian tersebut membuka kesempatan untuk mempelajari pandangan kemaritiman dalam kesusastraan Sulawesi Selatan. Akan tetapi, penggambaran sebuah pelayaran dalam karya mitologis tetap harus dibedakan dari bukti perjalanan sejarah.
Persoalan keluarga, kehormatan, kekuasaan, dan akibat tindakan para tokoh juga menjadi bagian dari I La Galigo. Kisah-kisah tersebut dapat dibaca untuk memahami gagasan sosial dalam tradisi sastra Bugis tanpa menjadikan setiap perilaku tokohnya sebagai teladan moral.
Colliq Pujié dan Jejak Manuskrip I La Galigo
Bertahannya I La Galigo hingga masa sekarang tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan para penutur dan penyalin naskah. Salah satu tokoh yang mempunyai peran penting dalam sejarah pendokumentasiannya adalah Colliq Pujié, perempuan bangsawan Bugis abad ke-19 yang dikenal pula sebagai Arung Pancana Toa.
Colliq Pujié memiliki pengetahuan mendalam mengenai bahasa dan sastra Bugis. Ia memegang peran penting dalam penyusunan dan penyalinan manuskrip besar I La Galigo pada pertengahan abad ke-19, dalam hubungan kerja dengan B.F. Matthes, peneliti bahasa Bugis dan Makassar.
Manuskrip yang dihasilkan dalam proses tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dengan kode NBG-Boeg 188. Koleksi yang terdiri atas 12 jilid dan 2.851 halaman folio itu memuat sekitar sepertiga bagian awal dari keseluruhan korpus I La Galigo.
Pentingnya peran Colliq Pujié terletak pada pengetahuan dan pekerjaannya dalam pendokumentasian karya tersebut. Ia tidak dapat disebut sebagai pencipta seluruh I La Galigo karena tradisi sastranya telah berkembang jauh sebelum masa hidupnya.
Manuskrip I La Galigo juga tersimpan di Indonesia, termasuk dalam koleksi Museum La Galigo di Makassar. Salah satu naskahnya, berkode 2610/07.114, terdiri atas 217 halaman dan memuat episode perjalanan Sawerigading bersama putranya menuju Senrijawa.
Koleksi Makassar dan Leiden itulah yang menjadi bagian dari pengakuan Memory of the World UNESCO pada 2011. Status tersebut merupakan pengakuan terhadap nilai dokumenter manuskrip, bukan penetapan bahwa kisah mitologis di dalamnya merupakan catatan peristiwa faktual.
Keberadaan manuskrip di berbagai tempat juga menghadirkan tantangan penelitian. Para ahli perlu membandingkan fragmen, memahami perbedaan versi, dan menelusuri sejarah penyalinan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai tradisi I La Galigo.
Massureq, Sastra yang Hidup Melalui Suara
I La Galigo tidak hanya bertahan sebagai manuskrip yang disimpan dalam koleksi perpustakaan atau museum. Di sejumlah lingkungan masyarakat Bugis, bagian-bagian teksnya masih dikenal melalui tradisi pelantunan yang disebut massureq.
Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan antara karya sastra dan kehidupan sosial masyarakat. Naskah tidak semata dibaca untuk mengetahui cerita, tetapi juga dapat hadir dalam kegiatan yang mempunyai makna tertentu bagi komunitas pelakunya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Lektur Keagamaan pada 2021 mendokumentasikan praktik massureq di Wajo, Sulawesi Selatan. Dalam konteks yang diteliti, pelantunan dapat berkaitan dengan kegiatan seperti maddoja bine, mappenre’ tojang, menre’ bola baru, dan tudang penni.
Praktik tersebut tidak boleh dianggap seragam di seluruh masyarakat Bugis. Cara pelantunan, kesempatan penyelenggaraan, dan kedudukan teks dapat berbeda menurut lingkungan serta tradisi komunitas yang mempertahankannya.
Keberadaan massureq juga memperlihatkan bahwa pelestarian karya sastra memerlukan manusia yang menguasai pengetahuannya. Manuskrip dapat bertahan sebagai benda, tetapi kemampuan melantunkan dan memahami bahasa sastranya membutuhkan proses pewarisan tersendiri.
Menjaga Warisan Sastra untuk Generasi Berikutnya
Pengakuan internasional membantu memperluas perhatian terhadap I La Galigo, tetapi tidak otomatis menjamin keberlanjutan pengetahuan yang menyertainya. Bahasa Bugis sastra, aksara, serta kemampuan membaca dan menafsirkan manuskrip tetap membutuhkan penelitian dan pembelajaran.
Digitalisasi koleksi menjadi salah satu langkah penting karena memungkinkan naskah diakses tanpa harus selalu menangani benda aslinya. Akses yang lebih luas juga membuka kesempatan bagi peneliti dan masyarakat untuk mempelajari fragmen yang tersimpan di tempat berbeda.
Meski demikian, gambar halaman digital tidak selalu mudah dipahami tanpa pengetahuan bahasa dan konteks budaya. Karena itu, penerbitan edisi teks, penerjemahan, pendidikan, dan dokumentasi tradisi pelantunan menjadi pekerjaan yang saling melengkapi.
I La Galigo memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis memiliki tradisi sastra yang kompleks dan telah diwariskan melalui berbagai bentuk. Karya tersebut menjadi sumber penting untuk mempelajari sejarah bahasa, pandangan tentang alam, hubungan sosial, dan imajinasi kemaritiman dalam kebudayaan Sulawesi Selatan.
Memahami I La Galigo berarti membaca karya sastra dengan menghormati dunia cerita dan sejarah pewarisannya. Dengan cara itu, manuskrip yang tersimpan di berbagai tempat tetap dapat menjadi sumber pengetahuan yang terbuka bagi generasi berikutnya.
CATATAN REDAKSI
I La Galigo atau Sureq Galigo merupakan karya sastra epik-mitologis masyarakat Bugis yang diwariskan melalui berbagai episode, versi, dan manuskrip. Kisah Batara Guru, Sawerigading, I We Cudai, serta tokoh lainnya dipahami dalam konteks tradisi sastra dan kosmologi Bugis, bukan sebagai bukti langsung mengenai peristiwa sejarah.
Pengakuan UNESCO pada 2011 diberikan melalui program Memory of the World terhadap dua manuskrip penting yang diajukan Indonesia dan Belanda. Status tersebut berbeda dari penetapan Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Penanggalan tradisi, perkiraan panjang korpus, dan pemaknaan budaya mengikuti sumber penelitian yang tersedia.






