Budaya

Bahasa Tamansari yang Hadir di Masjid Sela

Menelusuri kemiripan arsitektur Masjid Sela dan Pesanggrahan Tamansari sebagai bagian dari warisan budaya Yogyakarta.

Oleh Ridwan

Masjid Sela di Yogyakarta dengan arsitektur tradisional yang memiliki kemiripan dengan bangunan di Pesanggrahan Tamansari.
Masjid Sela di Kelurahan Panembahan, Yogyakarta, memiliki kemiripan pada sejumlah unsur arsitektur dengan bangunan di Pesanggrahan Tamansari. Foto: Dok Kemenbud
Diterbitkan

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, sejarah arsitektur tidak hanya tersimpan dalam bangunan besar yang dikenal luas. Masjid Sela, yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, menyimpan petunjuk tentang perkembangan estetika bangunan pada masa awal Kesultanan Yogyakarta.

Masjid yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I ini memiliki sejumlah kemiripan arsitektur dengan Pesanggrahan Tamansari. Kesamaan tersebut terlihat pada bentuk atap, hiasan di antara dinding dan atap, serta rancangan pintu dan jendela.

Kemiripan itu menarik karena kedua bangunan memiliki fungsi berbeda. Tamansari dibangun sebagai tempat rekreasi raja dan keluarga, sedangkan Masjid Sela merupakan bangunan ibadah. 

Keduanya memperlihatkan bahwa unsur arsitektur yang berkembang di lingkungan keraton dapat ditemukan pada bangunan dengan kegunaan yang berlainan.

Masjid dari Masa Awal Keraton Yogyakarta

Masjid Sela didirikan pada 1709 Saka atau 1787 Masehi, pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Bangunan ini merupakan bagian dari kompleks Dalem Kadipaten atau Dalem Putra Mahkota.

Pembangunannya dipimpin Tumenggung Mangundipuro di bawah pengawasan Raden Mas Sundoro, Pangeran Adipati Anom yang kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono II.

Nama Masjid Sela memiliki cerita tersendiri. 

Menurut keterangan yang dihimpun Kementerian Kebudayaan, bahan penyusun bangunan konon berupa campuran pasir dan gamping yang direkatkan dengan cairan legen, yakni nira. Setelah mengeras dan menghitam menyerupai batu, bangunan tersebut kemudian dikenal sebagai Masjid Sela.

Kisah penamaan ini menunjukkan salah satu cara masyarakat memberi nama pada tempat berdasarkan ciri fisik yang dikenali. 

Dalam bahasa Jawa, sela berkaitan dengan batu. Namun, cerita mengenai bahan bangunannya perlu dipahami sebagai keterangan yang diwariskan atau dicatat dalam sumber, bukan hasil pengujian material yang dipastikan dalam uraian tersebut.

Masjid Sela kini tercatat sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011. Keberadaannya menjadi bagian dari warisan arsitektur Islam di Yogyakarta yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.

Kesamaan yang Terlihat pada Atap

Salah satu kemiripan paling mudah dikenali terdapat pada bentuk atap. Masjid Sela memiliki atap limasan pada ruang utama yang mencakup mihrab, sementara bagian serambinya menggunakan atap berbentuk kampung. Kedua ruang tersebut dihubungkan oleh pintu selebar sekitar dua meter.

Bentuk atap limasan dan kampung juga ditemukan pada sejumlah bangunan di kompleks Pesanggrahan Tamansari. Atap limasan, misalnya, terdapat pada bangunan penghubung menuju Pulo Panembung dan Pulo Kenanga serta menara Pesiraman Umbul Binangun. 

Adapun atap kampung dijumpai pada bangunan Pasarean Ledhoksari.

Pesanggrahan Tamansari menyimpan jejak estetika arsitektur pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Sejumlah unsurnya memiliki kemiripan dengan Masjid Sela, memperlihatkan sisi menarik perkembangan arsitektur di lingkungan Keraton Yogyakarta. Foto: Dok.Kemenbud

Kesamaan itu tidak berhenti pada bentuk dasar atap. Pola hias yang menyerupai sirap dan ornamen badongan pada ujung bubungan Masjid Sela juga disebut memiliki kemiripan dengan pola hias pada bangunan di Tamansari.

Detail tersebut penting karena arsitektur tidak hanya dibentuk oleh struktur utama. Ragam hias dan cara menempatkan ornamen turut menentukan karakter visual sebuah bangunan. 

Dalam kasus Masjid Sela, bagian atap memberi petunjuk untuk membandingkannya dengan bangunan lain dari lingkungan keraton.

Ragam Hias, Pintu, dan Jendela

Kemiripan berikutnya terdapat pada bagian pertemuan dinding dan atap. Masjid Sela memiliki hiasan berupa pelipit yang dikombinasikan dengan bentuk padma. Pola serupa ditemukan pada salah satu bangunan di kompleks Tamansari, yakni Gedhong Temanten.

Bentuk padma dikenal dalam tradisi seni dan arsitektur di berbagai wilayah Asia. Namun, kesamaan motif saja tidak cukup untuk memastikan asal-usul atau makna khususnya pada kedua bangunan tersebut. 

Untuk menyimpulkan hubungan simbolis, diperlukan kajian yang secara khusus membahas konteks penggunaan motif itu.

Pintu dan jendela Masjid Sela juga memiliki kemiripan dengan bangunan Pasarean Ledhoksari. Pintu berbentuk persegi panjang dengan sudut tegas, sedangkan jendelanya berbentuk persegi dan menggunakan kusen kayu.

Salah satu detail yang dicatat ialah bentuk bukaan jendela yang lebih lebar pada sisi dalam dibandingkan sisi luar, dengan kontur miring. Rancangan ini memungkinkan cahaya masuk dan menyebar ke bagian dalam ruangan.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan visual antara Masjid Sela dan Tamansari dapat dibaca melalui beberapa unsur sekaligus. Bentuk atap, hiasan, serta rancangan bukaan menjadi bagian dari bahasa arsitektur yang sama-sama muncul pada kedua kompleks bangunan.

Dua Bangunan, Satu Lingkungan Sejarah

Apa yang menjelaskan kemiripan itu? Setidaknya ada dua hal yang patut diperhatikan. Masjid Sela dan Pesanggrahan Tamansari dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Selain itu, Tumenggung Mangundipuro disebut terlibat dalam pelaksanaan pembangunan keduanya.

Kesamaan waktu dan pelaksana pembangunan membuka kemungkinan adanya hubungan dalam penerapan bentuk arsitektur. Meski demikian, kedua hal tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa Tamansari secara langsung menjadi model bagi Masjid Sela. 

Kesimpulan semacam itu memerlukan dukungan sumber sejarah atau kajian arsitektur yang lebih spesifik.

Yang dapat ditelusuri dari materi yang tersedia ialah keberadaan sejumlah kesamaan bentuk pada dua bangunan yang tumbuh dalam lingkungan sejarah yang berdekatan. 

Perbandingan ini memperkaya pemahaman tentang arsitektur Yogyakarta pada masa Sultan Hamengku Buwono I, ketika pembangunan kompleks keraton melibatkan beragam bangunan dengan fungsi berbeda.

Masjid Sela juga memperlihatkan bahwa warisan arsitektur Islam di Jawa tidak selalu hadir melalui bentuk yang seragam. Bangunan ibadah dapat memiliki ciri yang berkaitan dengan tradisi arsitektur setempat dan lingkungan tempatnya berkembang.

Kini, nilai Masjid Sela tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai tempat ibadah atau statusnya sebagai cagar budaya. 

Bangunan ini juga menyimpan detail yang dapat membantu pembaca menelusuri sejarah arsitektur Yogyakarta. Dengan membandingkannya secara cermat dengan Tamansari, kita dapat melihat bagaimana bentuk bangunan menjadi salah satu sumber untuk memahami perkembangan kebudayaan pada masa lalu.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →