Warisan Budaya

Pilar Beton yang Tertinggal di Senoboyo Sleman

Pilar beton Talang Air Senoboyo masih berdiri di persawahan Tempel, menyisakan jejak sistem pengairan lama yang riwayatnya belum sepenuhnya terungkap.

Oleh Ridwan

Lanskap persawahan di sekitar Talang Air Senoboyo di Tempel, Sleman, dilihat dari atas.
Lanskap persawahan di sekitar Talang Air Senoboyo, Tempel, Sleman. Dari sudut pandang atas, sisa struktur pengairan itu berada di tengah bentang lahan pertanian yang dahulu menjadi bagian dari kawasan layanan saluran air. (Tangkapan layar: YouTube Hoby Dolan)
Diterbitkan

Di tengah hamparan sawah di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah pilar beton masih berdiri tanpa lagi menyangga saluran air. Struktur yang tersisa itu merupakan bagian dari Talang Air Senoboyo, infrastruktur pengairan lama yang pernah mengalirkan air menuju lahan pertanian di wilayah Sleman bagian barat.

Talang tersebut tidak lagi berfungsi. Bagian yang dahulu membawa air melintasi Sungai Jlegong telah runtuh, sementara pilar-pilarnya tertinggal di antara lahan pertanian. 

Bentuknya mungkin tak banyak menarik perhatian orang yang melintas, tetapi struktur itu menyimpan petunjuk tentang cara air pernah dialirkan untuk menopang kegiatan pertanian di kawasan tersebut.

Warga setempat mengenalnya sebagai Talang Air Senoboyo. Meski kerap dikaitkan dengan peninggalan masa kolonial, tahun pasti pembangunannya belum diketahui.

Laman resmi Kalurahan Banyurejo mencatat bahwa struktur saluran air tersebut tergambar dalam peta Belanda berjudul Gagan: opgenomen door den Topografischen Dienst in 1922–1924. 

Peta itu menjadi petunjuk bahwa keberadaan saluran telah terdokumentasi pada periode tersebut. Namun, tahun pencatatan dalam peta tidak serta-merta menunjukkan kapan talang mulai dibangun.

Air dari Krasak untuk Lahan Pertanian

Menurut keterangan warga yang dihimpun dalam laporan mengenai Talang Air Senoboyo, saluran tersebut mengambil air dari Sungai Krasak. Alirannya melewati sejumlah padukuhan, antara lain Jetis, Celep, Pokoh, Mlinting, Karang, Kemusuh, dan Bulan, sebelum mencapai kawasan Senoboyo.

Jejak saluran lama masih dapat ditemukan di beberapa bagian. Keberadaan jalur tersebut memperlihatkan bahwa talang bukan bangunan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem pengairan yang menghubungkan sumber air dengan lahan pertanian.

Air yang dialirkan melalui struktur ini disebut digunakan untuk perkebunan tebu di wilayah Susukan, Somokaton, dan Bedilan, serta lahan pertanian di Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan. 

Laporan Merdeka.com juga mengaitkan fungsi talang dengan pengairan tanaman tebu, antara lain karena lokasinya tidak jauh dari bekas Pabrik Gula Sendangpitu di wilayah Minggir. Kaitan tersebut tetap perlu dibaca sebagai dugaan fungsi berdasarkan konteks wilayah, bukan kepastian mengenai seluruh peruntukan talang.

Saluran yang berada di atas penyangga beton itu memiliki lebar sekitar 50 sentimeter dan kedalaman 90 sentimeter, menurut informasi yang dihimpun dari sumber lokal. Ukuran tersebut memberi gambaran tentang bentuk fisik jalur air yang pernah melintas di atas permukaan tanah.

Tantangan konstruksi muncul ketika aliran harus melewati Sungai Jlegong. Untuk melintasi lembah sungai, air dibawa melalui pipa besi yang ditopang struktur penyangga. Dengan cara itu, jalur pengairan dapat diteruskan tanpa harus mengikuti kontur sungai di bawahnya.

Bangunan yang tersisa memperlihatkan bahwa sistem tersebut memadukan lebih dari satu jenis material. Laporan Merdeka.com juga menyebut bagian utara talang menggunakan batu bata dan batu kali yang direkatkan dengan semen. Bagian selatan memiliki penyangga batu dan plesteran semen, sementara saluran airnya menggunakan konstruksi besi.

Perbedaan konstruksi ini menjadi salah satu petunjuk fisik yang dapat ditelusuri lebih lanjut untuk memahami bagaimana talang dibangun dan bagaimana sistem pengairannya bekerja.

Struktur lengkung beton Buk Renteng menjadi bagian dari jejak infrastruktur pengairan lama di Sleman. Warisan teknik pengairan tersebut masih dapat dijumpai di tengah bentang lahan pertanian. Foto: InfoPublik.id

Keruntuhan yang Menghentikan Aliran

Talang Air Senoboyo akhirnya kehilangan fungsinya. Menurut penuturan warga yang dimuat dalam bahan mengenai sejarah setempat, arus sungai yang kuat pada sekitar 1970-an mengikis fondasi penyangga. Pergeseran tanah membuat struktur tidak lagi mampu menahan beban hingga bagian pipa besi yang melintasi sungai runtuh.

Sejak itu, sistem pengairan tersebut tidak lagi beroperasi. Bagian saluran yang tersisa di kawasan permukiman pun mengalami perubahan fungsi. Merdeka.com melaporkan bahwa saluran yang menuju Kampung Susukan telah ditutup dengan semen dan dimanfaatkan sebagai jalan kampung.

Keruntuhan itu mengubah fungsi talang dari infrastruktur yang mengalirkan air menjadi sisa bangunan yang berdiri di tengah persawahan. Pilar-pilarnya masih dapat dilihat, tetapi hubungan antara struktur tersebut, jalur air, dan lahan yang pernah dialiri tidak lagi bekerja sebagai satu sistem.

Kondisi ini juga menyisakan pertanyaan mengenai riwayat lengkap bangunan. Tahun pembangunannya belum diketahui secara pasti. Begitu pula, sejauh mana seluruh jalur saluran telah dipetakan dan bagian mana saja yang masih bertahan di bawah permukaan tanah atau di antara permukiman.

Pertanyaan itu penting karena sebuah bangunan pengairan tidak cukup dipahami hanya dari bagian yang masih tampak. Jalur air, sumber pengambilan, titik distribusi, dan lahan yang dilayani merupakan bagian dari sejarah teknisnya.

Jejak Pengairan di Luar Buk Renteng

Di Sleman, infrastruktur pengairan lama juga pernah diperkenalkan melalui kegiatan budaya. Festival Van der Wijck pada 2023 digelar di Buk Renteng dan menghadirkan kesenian lokal, kirab budaya, lomba, diskusi, kegiatan edukasi, serta pameran UMKM. Festival tersebut masuk dalam Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun itu.

Buk Renteng berkaitan dengan Saluran Van der Wijck, jaringan pengairan yang masih mendukung pertanian di wilayah Sleman dan Bantul. Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak mencatat bahwa saluran tersebut terus dirawat untuk menunjang kebutuhan irigasi.

Pengalaman Buk Renteng memperlihatkan salah satu cara infrastruktur lama dapat diperkenalkan kembali kepada masyarakat. Namun, Talang Air Senoboyo memiliki keadaan berbeda. 

Bagi Talang Air Senoboyo, langkah awalnya justru dapat dimulai dari pendokumentasian yang lebih menyeluruh: mencatat kondisi pilar, menelusuri jalur saluran, mengumpulkan kesaksian warga, dan memeriksa peta lama yang memuat keberadaan struktur tersebut. 

Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk memperjelas kronologi, teknik konstruksi, serta hubungan talang dengan sistem pertanian di sekitarnya.

Pilar-pilar beton itu masih berdiri di tengah sawah, tetapi keberadaannya belum menjawab semua pertanyaan tentang masa lalu. Peta lama dan cerita warga menyediakan titik awal untuk menelusuri sejarahnya. 

Selebihnya, dibutuhkan pencatatan dan penelitian agar bangunan yang tersisa tidak hanya dikenal sebagai reruntuhan, melainkan juga dipahami sebagai bagian dari sejarah pengairan di Sleman.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Warisan Budaya

Lihat semua →
Di Luar Pagar Candi Muara Takus

Di Luar Pagar Candi Muara Takus

Indikasi struktur percandian di luar pagar Candi Muara Takus membuka peluang penelitian baru, sementara bangunan utama membutuhkan konservasi.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →