Warisan Budaya

Di Luar Pagar Candi Muara Takus

Indikasi struktur percandian di luar pagar Candi Muara Takus membuka peluang penelitian baru, sementara bangunan utama membutuhkan konservasi.

Oleh Ridwan

Di Luar Pagar Candi Muara Takus
Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, menjadi salah satu situs penting dalam kajian sejarah peradaban Buddha di Nusantara. Selain membutuhkan konservasi untuk mengatasi pelapukan bangunan, kawasan ini akan diteliti lebih lanjut untuk memastikan indikasi struktur percandian di luar pagar utama. Foto: Taufik Hadris/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)
Diterbitkan

Di luar pagar Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, ada area yang menarik perhatian para arkeolog. Kawasan yang kini menjadi kebun itu diduga menyimpan struktur percandian lain, sekitar 100 meter dari pagar utama situs.

Dugaan tersebut membuka kemungkinan bahwa kompleks yang selama ini dikenal melalui empat bangunan candi belum sepenuhnya menggambarkan sebaran peninggalan masa lalu. Kementerian Kebudayaan berencana melakukan ekskavasi untuk memastikan keberadaan struktur tersebut sekaligus menelusuri cakupan kompleks percandian secara lebih menyeluruh.

Rencana itu menjadi bagian dari upaya percepatan revitalisasi dan restorasi Candi Muara Takus. Selain meneliti kemungkinan adanya struktur tambahan, pemerintah menghadapi persoalan lain yang tidak kalah penting: material bangunan candi mengalami degradasi setelah puluhan tahun terpapar kondisi lingkungan.

Dalam kunjungan ke situs tersebut pada 18 Oktober 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau kompleks candi dan berdialog dengan para arkeolog mengenai kondisi bangunan serta kebutuhan penanganannya.

“Kompleks ini pernah dipugar pada tahun 1978 hingga 1987. Sejak pemugaran tersebut hingga sekarang, belum ada pemugaran lagi. Karena itu, kompleks ini memang memerlukan revitalisasi dan restorasi,” kata Fadli dalam keterangan Kementerian Kebudayaan.

Jejak yang Mungkin Melampaui Pagar

Kompleks utama Candi Muara Takus yang kini terlihat terdiri atas empat bangunan, yakni Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, dan Candi Palangka. Keempatnya memiliki bentuk dan karakter arsitektur yang berbeda, dengan kombinasi material bata merah dan batu pasir.

Namun, batas pagar yang mengelilingi bangunan-bangunan tersebut tidak serta-merta menunjukkan batas seluruh aktivitas atau struktur arkeologis pada masa lalu. Indikasi temuan di luar pagar utama menjadi alasan untuk meneliti kawasan yang lebih luas.

Menurut Fadli, penelitian sebelumnya menunjukkan kemungkinan adanya struktur lain pada jarak sekitar 100 meter di luar pagar. Lokasinya kini menjadi kebun, sehingga keberadaan dan bentuk struktur tersebut masih perlu dipastikan melalui penelitian lapangan.

“Area ini nantinya akan kita coba ekskavasi sehingga mungkin dapat ditemukan struktur-struktur lainnya,” ujarnya.

Ekskavasi diperlukan untuk mengonfirmasi apakah indikasi tersebut benar-benar merupakan struktur percandian, mengetahui persebarannya, serta memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk menentukan cakupan kawasan. Hasilnya juga berpotensi menjadi dasar penentuan batas situs dan strategi pelindungan pada masa mendatang.

Penelitian mengenai kawasan di luar kompleks utama bukan hal yang sama sekali baru. Dalam publikasi Riwayat Penelitian dan Pemugaran Kompleks Candi Muara Takus, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat mencatat bahwa penggalian pada 1973 menemukan sisa bangunan bata di luar kompleks. 

Pentingnya meneliti lingkungan di sekitar bangunan utama, meskipun temuan lama itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa struktur yang disebut dalam rilis terbaru merupakan bangunan yang sama.

Riwayat itu memberi konteks bagi rencana penelitian berikutnya. Pertanyaan mengenai seberapa luas kompleks Muara Takus dan bagaimana struktur-struktur di sekitarnya berhubungan dengan bangunan utama masih membutuhkan bukti arkeologis yang lebih lengkap.

Material Candi yang Terus Mengalami Pelapukan

Di tengah rencana ekskavasi, kondisi empat bangunan utama juga memerlukan perhatian. Hasil peninjauan Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa material bata merah dan batu paras mengalami degradasi akibat pelapukan, pertumbuhan lumut, kelembapan, serta penggaraman.

Kerusakan tersebut membuat material bangunan menjadi rapuh. Penanganannya tidak cukup dengan memperbaiki bagian yang rusak, tetapi perlu mempertimbangkan karakteristik bahan penyusun dan kondisi lingkungan tempat candi berdiri.

Kementerian Kebudayaan merencanakan penanganan konservasi yang mencakup pengaturan tata air, pengendalian kelembapan, serta kajian stabilisasi kimiawi material untuk mengatasi dampak penggaraman dan memperlambat pelapukan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau Candi Muara Takus di Kampar, Riau, pada 18 Oktober 2026 untuk membahas revitalisasi dan rencana penelitian arkeologis. Foto: Kementerian Kebudayaan/Vidhy Fellizano Sfinoza

Pendekatan ini sejalan dengan persoalan yang dibahas dalam penelitian arsitektur Candi Muara Takus. Ari Siswanto dan Ardiansyah, melalui artikel “Struktur Unik Candi Muaro Takus, Riau” yang terbit dalam Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia pada 2020, menguraikan perbedaan karakter empat candi serta penggunaan bata dan batu pasir dalam susunan bangunannya.

Perbedaan material dan konstruksi tersebut penting diperhitungkan dalam konservasi. Penanganan yang tepat perlu didasarkan pada kondisi masing-masing bagian bangunan, bukan sekadar menerapkan perbaikan fisik yang seragam.

Revitalisasi Muara Takus ini memiliki dua kebutuhan yang berjalan beriringan: merawat struktur yang sudah terlihat dan memperluas pengetahuan mengenai peninggalan yang mungkin masih terpendam di sekitarnya.

Peradaban Buddha yang Belum Sepenuhnya Terjelaskan

Candi Muara Takus merupakan salah satu situs arkeologi penting untuk memahami perkembangan tradisi Buddha di Sumatra. Kompleks ini kerap dikaitkan dengan Sriwijaya, tetapi hubungan historis dan politiknya dengan kedatuan tersebut masih menjadi bagian dari kajian arkeologi.

Penelitian “Spiritual Landscape Characterization of Muara Takus Temple Compound and Surroundings Area”, yang diterbitkan dalam SPAFA Journal pada 2023, menyoroti pentingnya memahami kompleks candi bersama lanskap di sekitarnya. Penelitian itu juga mencatat keterbatasan sumber sejarah dan perubahan lanskap yang menyulitkan penelusuran konteks kawasan pada masa lalu.

Artinya, bangunan candi tidak dapat dipahami hanya dari bentuk yang masih berdiri. Lingkungan sekitarnya, sisa struktur, dan temuan arkeologis lain turut berperan dalam menyusun gambaran mengenai sejarah situs.

Rencana ekskavasi di luar pagar utama pun menjadi penting bukan semata-mata untuk mencari bangunan tambahan. Penelitian tersebut juga dapat membantu menjelaskan persebaran peninggalan dan hubungannya dengan kompleks yang sekarang dikenal.

Kementerian Kebudayaan menyatakan akan melibatkan pemerintah daerah, arkeolog, dan tenaga ahli konservasi dalam penanganan situs. Kajian lanjutan juga diarahkan untuk memperdalam bukti sejarah, menelaah keterkaitan Candi Wajra dengan tradisi Buddhis setempat, serta merumuskan strategi pelindungan kawasan bersama masyarakat.

Pada akhirnya, pekerjaan di Muara Takus tidak hanya menyangkut bangunan yang mengalami pelapukan. Ada pula lanskap sejarah yang perlu diteliti agar jejak masa lalu tidak dipahami sebatas bagian yang masih tampak di permukaan.

Pagar kompleks menjadi batas yang terlihat hari ini. Namun, sejauh mana peninggalan peradaban Buddha itu membentang di luar batas tersebut masih harus dijawab melalui penelitian. Ekskavasi dan konservasi akan menentukan seberapa jauh pertanyaan itu dapat dijelaskan dengan bukti, sekaligus bagaimana warisan Muara Takus dapat dilindungi untuk generasi berikutnya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Warisan Budaya

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →