Jari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bergerak di antara dawai bundengan.
Di hadapannya, Sri Mulyani, seniman sekaligus pengajar seni tradisional, memberikan petunjuk untuk memainkan alat musik khas Wonosobo, Jawa Tengah, tersebut.
Riefky mencoba mengikuti arahan Sri Mulyani. Bundengan berbahan bambu itu memiliki bentuk menyerupai cangkang kura-kura.
Di tengah proses belajar, Ananda Mikola, salah seorang murid Sri Mulyani, mulai bernyanyi mengikuti irama yang dimainkan sang menteri. Perpaduan petikan bundengan dan suara Ananda mengundang tepuk tangan orang-orang yang hadir.
Peristiwa itu berlangsung di Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, pada 1 November 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program Aktivasi Desa Kreatif yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat.
Di balik pertemuan singkat itu, ada cerita tentang orang-orang yang berupaya membuat seni tradisional tetap dikenal dan dimainkan.
Sri Mulyani mengajarkan bundengan kepada generasi muda, sedangkan Ananda menemukan ruang untuk mengekspresikan diri melalui seni pertunjukan.
Sri Mulyani dan Perjalanan Bundengan
Sri Mulyani mendirikan Sanggar Tari Ngesti Laras pada 1992. Melalui sanggar tersebut, Sri Mulyani mengembangkan pembelajaran seni tradisional, termasuk Topeng Lengger.
Sejak 2015, Sri Mulyani juga aktif memperkenalkan bundengan kepada generasi muda.
Upaya tersebut tidak hanya berlangsung melalui kegiatan belajar di sanggar. Bundengan diperkenalkan sebagai bagian dari pertunjukan seni yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal dan memainkan alat musik tradisional daerahnya.
Pengenalan kesenian kepada generasi muda membutuhkan ketekunan. Mereka perlu mendapat kesempatan belajar, berlatih, dan tampil agar tradisi tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu.
Sanggar menjadi salah satu tempat untuk menjalankan proses itu. Di sana, pengetahuan dan keterampilan diwariskan melalui pertemuan langsung antara pengajar dan murid.
Para peserta tidak sekadar mengenal bentuk alat musik atau gerak tari, tetapi juga memperoleh pengalaman mempraktikkan kesenian.
Bersama para muridnya, Sri Mulyani membawa kesenian yang dikembangkan sanggar ke berbagai panggung, termasuk di Australia, Thailand, dan Jerman.
Pengalaman tampil di luar negeri memperlihatkan bahwa kesenian daerah dapat menjangkau penonton yang lebih luas ketika memiliki ruang untuk berkembang.
Ananda Mikola Menemukan Ruang Berkarya
Di antara murid Sri Mulyani, Ananda Mikola menjadi salah satu sosok yang memperlihatkan arti seni di luar kemampuan memainkan alat musik atau tampil di panggung.
Sebagai penyandang disabilitas daksa, Ananda memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui seni pertunjukan.
Proses belajar dan keterlibatan dalam kegiatan seni membantunya membangun kepercayaan diri untuk tampil di hadapan orang lain.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sanggar seni dapat menjadi ruang belajar yang terbuka bagi beragam latar belakang dan kemampuan.
Seni memberi kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun keberanian dalam menampilkan diri.
Kehadiran Ananda dalam peristiwa ketika Riefky memainkan bundengan memperlihatkan hubungan antara proses belajar dan kesempatan tampil. Ananda tidak hanya hadir sebagai murid, tetapi ikut menghidupkan pertunjukan melalui suaranya.
Ruang berkesenian seperti ini memiliki arti penting bagi keberlanjutan tradisi.
Regenerasi tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan alat musik atau tari kepada anak-anak. Mereka juga perlu mendapat kesempatan untuk berlatih, berpartisipasi, dan menjadi bagian dari pertunjukan.
Dari Sanggar ke Ekosistem Kreatif Desa
Upaya Sri Mulyani melalui sanggar dan pengalaman Ananda dalam seni pertunjukan menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang belajar, kesempatan tampil, dan dukungan untuk mengembangkan karya.
Ketiganya menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem seni yang berkelanjutan. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Desa Kreatif di Wonosobo.
Program ini melibatkan pelaku usaha, seniman, komunitas, talenta digital, dan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi lokal.
Salah satu kegiatannya adalah Workshop Harmoni Seni Pertunjukan. Melalui kegiatan ini, para pegiat seni memperoleh pengembangan kapasitas dalam pengemasan artistik, koreografi, tata panggung, dan kostum.
Pengembangan pertunjukan diarahkan agar dapat menjangkau penonton yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai dan pakem tradisi.
Aspek pemasaran juga menjadi perhatian. Kelompok seni perlu membangun identitas pertunjukan, memanfaatkan media digital untuk promosi, serta memperluas jejaring dan peluang kemitraan.
Program tersebut juga mencakup pengenalan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk mendukung kegiatan usaha.
Pembekalan ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif desa tidak hanya bertumpu pada karya seni, tetapi juga pada kemampuan pelaku lokal mengelola dan memperkenalkan potensi mereka.
Upaya tersebut membuka ruang bagi seni tradisional untuk dikembangkan sebagai kegiatan kreatif yang berpeluang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Hasilnya tetap bergantung pada keberlanjutan pendampingan, keterlibatan pelaku lokal, serta kemampuan kelompok seni membangun kegiatan dan menjangkau pasar.
Tradisi yang Terus Dipelajari
Bundengan dan Topeng Lengger merupakan bagian dari kekayaan seni Wonosobo yang membutuhkan ruang untuk terus dipelajari dan dipentaskan.
Peran seniman seperti Sri Mulyani menjadi penting dalam meneruskan keterampilan kepada generasi muda, sedangkan pengalaman Ananda memperlihatkan bahwa kegiatan seni juga dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas.
Program pengembangan kapasitas dapat mendukung proses tersebut, terutama ketika kebutuhan para seniman dan komunitas menjadi bagian dari perencanaan.
Tradisi memiliki peluang untuk terus berkembang ketika pewarisan keterampilan berjalan seiring dengan kesempatan tampil dan pengelolaan karya.
Pertemuan antara Sri Mulyani, Ananda, dan Menteri Riefky melalui bundengan menjadi gambaran sederhana tentang proses itu.
Ada seniman yang mengajarkan, murid yang mengambil bagian, dan dukungan program yang berupaya memperluas kesempatan bagi pelaku kreatif.
Keberlanjutan bundengan pada akhirnya bergantung pada orang-orang yang bersedia mempelajari dan memainkannya.
Selama ruang belajar dan kesempatan berkarya tetap tersedia, alat musik tradisional ini memiliki peluang untuk terus hadir dalam kehidupan budaya Wonosobo.








