Arwana Super Red dikenal karena sisiknya yang merah menyala dan nilainya yang tinggi di pasar ikan hias. Namun, di sekitar Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ikan ini memiliki arti yang lebih luas.
Hubungannya dengan masyarakat setempat tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga dengan pengetahuan lokal tentang alam dan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.
Bagi sebagian masyarakat adat di sekitar Danau Sentarum, arwana telah lama dikenal sebagai bagian dari kehidupan setempat.
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), dalam laporannya pada Juli 2025, menyebut ikan ini dahulu dipandang sebagai penanda musim dan berkaitan dengan kejernihan air.
Pengetahuan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat mengenali lingkungan melalui keberadaan satwa yang hidup di sekitarnya. Kini, arwana Super Red juga menjadi komoditas bernilai ekonomi bagi masyarakat Kapuas Hulu. T
antangannya adalah memastikan pemanfaatan ikan yang dikenal sebagai siluk oleh masyarakat setempat ini tidak mengabaikan kelestarian populasinya di alam.
Pengetahuan Lokal dan Perlindungan Arwana
Danau Sentarum merupakan kawasan perairan penting di Kapuas Hulu yang memiliki kekayaan hayati dan berada dekat dengan perbatasan Indonesia–Malaysia. Lingkungan danau yang mengalami perubahan ketinggian air mengikuti siklus musim menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam kondisi tersebut, pengetahuan mengenai lingkungan bukan sekadar warisan cerita. Pemahaman tentang perubahan musim, kondisi perairan, dan kehidupan ikan dapat membantu masyarakat menentukan cara memanfaatkan sumber daya alam secara lebih bijaksana.
Laporan BNPP menyoroti keterlibatan warga setempat dalam menjaga arwana melalui kelompok masyarakat pengawas dan pengaturan zona penangkapan.
Yafet, seorang warga yang membudidayakan arwana, juga menceritakan pentingnya membatasi penangkapan, termasuk larangan menangkap pada hari-hari tertentu dan perlindungan terhadap ikan berukuran kecil.

Praktik yang didokumentasikan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian dapat tumbuh dari keterlibatan masyarakat yang berhadapan langsung dengan lingkungan tempat ikan hidup.
Aturan lokal, pengawasan, dan kesadaran untuk tidak mengambil ikan secara berlebihan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya.
Meski demikian, praktik tersebut perlu dipahami sesuai lokasi dan komunitas yang menjalankannya. Tidak semua masyarakat di Kalimantan Barat memiliki tradisi atau aturan yang sama.
Dari Habitat Alami ke Budidaya
Upaya menjaga arwana juga berkaitan dengan pilihan mata pencaharian masyarakat. Ketika ikan memiliki nilai jual tinggi, tekanan untuk mengambilnya dari alam dapat meningkat.
Budidaya menjadi salah satu cara untuk mengembangkan nilai ekonomi arwana tanpa terus-menerus bergantung pada penangkapan ikan liar.
Dalam laporan BNPP, Yafet menceritakan perjalanan budidayanya yang bermula dari tiga ekor hingga berkembang menjadi belasan ekor. Ia juga menjelaskan bahwa penjualan arwana secara resmi membutuhkan dokumen sertifikasi dan identitas ikan berupa cip atau microchip.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana budidaya dapat membuka peluang ekonomi bagi warga setempat. Namun, budidaya tidak serta-merta menggantikan kebutuhan untuk melindungi habitat dan populasi arwana di alam. Keduanya memerlukan pengelolaan yang saling mendukung.
Arwana Super Red (Scleropages formosus) merupakan ikan yang dilindungi penuh di Indonesia dan tercantum dalam Apendiks I CITES, konvensi internasional yang mengatur perdagangan spesies satwa dan tumbuhan liar.
Pemanfaatan dan perdagangan arwana ini pun arus mengikuti ketentuan perizinan serta aturan nasional dan internasional yang berlaku.
Legalitas menjadi penting agar perdagangan tidak mendorong pengambilan ikan dari alam secara tidak terkendali. Pada saat yang sama, kepatuhan terhadap aturan membantu menjaga kepercayaan pembeli dan keberlanjutan usaha budidaya.
Kebanggaan Lokal di Pasar Global
Nilai ekonomi Arwana Super Red turut membawa nama Kalimantan Barat ke pasar internasional. Warna merah yang khas, bentuk tubuh, dan karakter sisiknya membuat ikan ini diminati kolektor serta penggemar ikan hias di berbagai negara.
Pada Mei 2026, Pontianak menjadi tuan rumah APPS International Arowana Contest 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 21–24 Mei tersebut menghadirkan 192 arwana Super Red dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan China.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam keterangannya pada 1 Juni 2026, menyebut kontes tersebut sebagai salah satu upaya memperluas promosi arwana Indonesia sekaligus memperkuat komitmen terhadap konservasi dan perdagangan yang legal serta berkelanjutan.
Ajang itu memperlihatkan besarnya perhatian terhadap arwana sebagai komoditas ikan hias.
Di sisi lain, keberhasilan di pasar internasional tidak cukup diukur dari jumlah ikan yang diperdagangkan atau tingginya nilai jual. Keberlanjutan habitat dan kepatuhan terhadap ketentuan perlindungan spesies juga menjadi bagian penting dari pengelolaannya.
Bagi masyarakat di sekitar Danau Sentarum, arwana memiliki arti yang melampaui nilai ekonomi. Ikan ini berkaitan dengan lingkungan tempat mereka hidup, pengetahuan yang berkembang di masyarakat, serta peluang penghidupan yang dapat dikelola secara bertanggung jawab.
Pengalaman masyarakat Kapuas Hulu menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak hanya bergantung pada aturan pemerintah. Keterlibatan warga, pengawasan di tingkat lokal, dan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana juga memiliki peran penting.
Ketika Arwana Super Red semakin dikenal di pasar dunia, pengetahuan lokal yang membantu menjaga habitatnya patut mendapat perhatian yang sama. Sebab, kebanggaan terhadap ikan khas Kalimantan Barat akan lebih bermakna apabila keberadaannya tetap terjaga bagi generasi mendatang.








