Di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Setiap tahun, masyarakat kembali berkumpul untuk menjalankan Nyadran Gunung, sebuah ritual turun-temurun yang menjadi ungkapan rasa syukur, doa keselamatan, sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Rangkaian tradisi ini berlangsung selama dua hari. Warga mengawali kegiatan dengan ider-ider desa, yakni prosesi mengelilingi desa sambil memanjatkan doa agar masyarakat terhindar dari berbagai marabahaya. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan perangkat desa ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pada hari berikutnya, prosesi berlanjut menuju lereng Gunung Ronggokusumo. Di kawasan ini, masyarakat menjalankan salah satu bagian penting Nyadran Gunung, yaitu penyembelihan kambing kendit. Hewan tersebut memiliki ciri khas bulu hitam dengan lingkaran putih pada bagian dada.
Bagi masyarakat Silurah, kambing kendit merupakan bagian dari warisan ritual yang terus dipertahankan. Prosesi dipimpin sesepuh adat, kemudian dilanjutkan dengan doa di kawasan petilasan leluhur.
Nyadran Gunung memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan tradisi yang diwariskan para pendahulu. Di tengah perubahan kehidupan desa, ritual ini tetap menjadi bagian dari identitas budaya Silurah.
Cerita Pagebluk dalam Memori Masyarakat
Asal-usul Nyadran Gunung tersimpan dalam cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah seorang warga Silurah, Rohim (60), dikutip dari berita.batangkab.go.id menuturkan bahwa tradisi tersebut berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi pagebluk atau wabah penyakit pada masa lalu.
Menurut cerita yang diterimanya dari para sesepuh, pernah terjadi wabah yang menyebabkan banyak warga jatuh sakit dan meninggal dalam waktu singkat. Masyarakat kemudian memohon petunjuk dan menggelar selamatan dengan menyembelih kambing kendit.
Setelah selamatan dilaksanakan, keadaan masyarakat disebut berangsur-angsur membaik. Cerita tersebut terus diwariskan dan menjadi salah satu penjelasan masyarakat mengenai asal-usul ritual Nyadran Gunung.
Rohim mengakui tidak mengetahui secara pasti makna setiap perlengkapan maupun sajian yang digunakan dalam prosesi. Pengetahuan tersebut merupakan bagian dari tradisi lama yang diterimanya dari generasi sebelumnya.
Penuturan itu memperlihatkan bahwa ingatan tentang Nyadran Gunung tidak hanya tersimpan dalam rangkaian kegiatan, tetapi juga dalam cerita keluarga dan masyarakat.
Sebagian pengetahuan adat masih diwariskan melalui praktik langsung, sementara penjelasan mengenai asal-usul dan simbol ritual memerlukan penelusuran lebih jauh kepada para sesepuh.
Bagi masyarakat Silurah, melaksanakan Nyadran Gunung merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
Kambing Kendit, Gunungan, dan Ruwat Bumi
Selain penyembelihan kambing kendit, Nyadran Gunung memiliki rangkaian kegiatan yang memperlihatkan kuatnya kebersamaan masyarakat.
Pada pelaksanaan 2026, tradisi ini juga diisi kirab budaya dengan enam gunungan hasil bumi yang berasal dari berbagai dukuh di Desa Silurah.
Gunungan tersebut diarak sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi. Setelah doa bersama, warga memperebutkan hasil bumi yang dibawa dalam kirab. Panitia juga menyiapkan hidangan selamatan untuk disantap bersama.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ritual ruwat bumi setelah salat Jumat. Kehadiran kegiatan tersebut memperlihatkan hubungan tradisi dengan kehidupan agraris masyarakat.
Hasil bumi tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari ungkapan syukur yang diwujudkan melalui kegiatan bersama.
Nyadran Gunung juga memiliki siklus prosesi tertentu. Kepala Desa Silurah, Suroto, menyebutkan bahwa pada putaran ketujuh terdapat prosesi penyembelihan kerbau bule. Sementara pelaksanaan pada 2026 masih berada pada putaran ketiga.
Informasi mengenai siklus tersebut memperlihatkan adanya aturan dan tahapan adat yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi masyarakat.
Makna lebih jauh mengenai hitungan putaran dan prosesi kerbau bule masih perlu digali melalui keterangan sesepuh adat.
Kepala Desa Suroto menegaskan bahwa rangkaian prosesi sakral Nyadran Gunung harus dipertahankan sesuai warisan leluhur. Sejumlah kegiatan pendukung dapat berkembang, tetapi waktu dan tata cara ritual utama tetap dijaga.
Warisan Sejarah di Sekitar Gunung Ronggokusumo
Kekayaan budaya Silurah tidak hanya terlihat dalam Nyadran Gunung. Desa ini juga memiliki sejumlah peninggalan yang dikaitkan dengan masa Hindu-Buddha, antara lain Lingga Yoni, patung Ganesha, dan struktur Punden Berundak.
Keberadaan peninggalan tersebut menambah dimensi sejarah kawasan Silurah. Tradisi yang masih dijalankan masyarakat hadir berdampingan dengan tinggalan arkeologis yang menyimpan jejak kehidupan masa lalu.
Menurut Suroto, situs Punden Berundak belum dibuka secara luas untuk kunjungan publik. Selama ini, kawasan tersebut lebih banyak diketahui oleh kalangan tertentu.
Pemerintah desa berupaya menjaga situs-situs tersebut agar tidak mengalami kerusakan dan sejarah yang melekat pada kawasan itu tidak hilang.
Potensi sejarah dan budaya tersebut perlu ditangani dengan kehati-hatian. Pendataan, penelitian arkeologi, serta pelibatan masyarakat menjadi bagian penting sebelum situs-situs tersebut diperkenalkan lebih luas sebagai tujuan wisata.
Silurah memiliki kekayaan yang tidak berdiri sendiri. Nyadran Gunung memperlihatkan tradisi yang masih hidup, sementara peninggalan sejarah memberikan ruang untuk menelusuri perjalanan kebudayaan di kawasan tersebut.
Menyiapkan Festival tanpa Kehilangan Makna
Potensi budaya Silurah kini mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Batang. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan berencana mengembangkan Nyadran Gunung menjadi agenda festival budaya dan wisata berskala lebih besar mulai 2027.
Rencana tersebut disertai pembenahan akses menuju Desa Silurah. Pemerintah daerah menargetkan pelebaran jalan sekitar dua kilometer, pengaspalan jalan baru sekitar 500 meter, serta pemasangan penerangan jalan umum.
Pembangunan infrastruktur itu diupayakan masuk dalam perubahan APBD 2027. Jika belum memungkinkan, pelaksanaannya dapat dilanjutkan pada 2028.
Pemerintah desa juga diminta menyiapkan lahan yang mampu menampung sedikitnya 7.000 orang untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tahunan.
Rencana pengembangan tersebut membuka peluang bagi masyarakat Silurah untuk memperkenalkan tradisi dan potensi sejarah desanya kepada pengunjung dari berbagai daerah.
Kegiatan wisata juga berpotensi memberikan ruang bagi produk lokal, kesenian, dan usaha masyarakat. Akan tetapi, pengembangan festival budaya memerlukan perhatian terhadap batas antara kegiatan wisata dan ritual adat.
Nyadran Gunung bukan semata-mata atraksi yang dapat dikemas mengikuti kebutuhan hiburan pengunjung. Ada prosesi yang oleh masyarakat sendiri dipandang sakral dan harus dijalankan sesuai ketentuan warisan leluhur.
Pelibatan masyarakat, terutama sesepuh adat dan generasi muda, menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut.
Pemerintah desa berharap anak-anak mengenal tradisi melalui keterlibatan langsung sehingga pengetahuan budaya tidak terputus ketika generasi sebelumnya tidak lagi mampu menjalankannya. Silurah memiliki kesempatan memperkenalkan warisan budayanya kepada khalayak lebih luas.
Keberhasilan pengembangan wisata nantinya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemegahan festival, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan tradisi, menjaga situs sejarah, dan meneruskan pengetahuan leluhur kepada generasi berikutnya.
Di lereng Gunung Ronggokusumo, Nyadran Gunung tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Silurah. Tradisi ini mengingatkan bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang dikenang, melainkan pengetahuan dan praktik yang terus dijaga oleh masyarakat pemiliknya.








